Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
48. Tukang pijit plus - plus


__ADS_3

Sepasang pengantin sudah turun dari podium setelah mengucapkan janji suci sehidup sematinya. Keduanya kini berjalan menghampiri para mama yang masih belum bisa menghentikan tangis harunya walaupun prosesi pernikahan sudah selesai. Ya spontan saja Siska yang lihat pun langsung melayangkan pelukannya pada kedua mamanya.


"Kok mama berdua nangis sih? bikin Siska jadi sedih aja." Siska memeluk Bu Irna lebih dulu.


"Jangan sedih sayang, tangisnya mama ini bukan tangis sedih tapi tangis bahagia." Jawab Bu irna yang langsung membalas pelukan sang anak. Ya, siapa yang tak menangis ketika melihat sang anak yang dirawat dengan penuh kasih sayang sejak kecil, kini sudah besar dan sudah harus segera dilepas untuk menjalani kehidupannya yang selanjutnya.


"Tapi mama nangis. Harusnya kan senyum kalau bahagia."


"Ini tangis haru sayang. Sangking bahagianya. Karna mama jadi lega. Sekarang kamu udah ada yang jagain. Ada yang nemenin, ada yang melindungi. Kamu gak perlu tinggal di kontrakan sendirian lagi yang buat mama jadi kepikiran kamu terus. Apa lagi Zidan sayang sama kamu, jadi mama rasanya bersyukur. Paling enggak mama ngelepasin kamu ke orang yang tepat meskipun pernikahannya ini dadakan. Jadi Zidan, tolong ya kamu jaga Siska baik - baik. Siska emang kalau ngomong suka kasar, dia juga suka marah - marah. Tapi sebetulkan dia ini penyayang. Kamu tahu itu 'kan?." Ya, sebelum - sebelumnya Bu Irna memang belum pernah berpesan sama sekali ke Zidan. Bu Irna kemarin terlalu sibuk dengan persiapan pernikahan. Dan ditambah lagi Zidan yang kemarin langsung berangkat ke Jogja jadi belum sempet ngomong seperti ini pada menantunya itu.


"Iya ma, Siska pasti aku jaga baik - baik. Aku pasti bahagiakan dia, jadi mama gak perlu khawatir. Meskipun dia suka marah - marah sama omong kasar. Tapi sebetulnya itulah pesonanya Siska ma. Dia ini galak, tapi galak - galak manja. Buat aku jadi cinta." Ya jelas jawaban Zidan ini membuat Bu Irna jadi menyungging senyum. Sementara yang diomongi langsung mencebik, karna besar kepala.


Sekarang beralih ke Bu Resti. Siska juga memberikan pelukan pada Bu Resti. Dan Bu Resti membalas pelukan dari Siska, bahkan mertuanya itu melayangkan sebuah ciuman hangat di pipi kanan dan pipi kiri Siska. Kemudian mengusap lengan Siska lembut.


"Terima kasih ya, Sis. Kamu udah mau terima Zidan terlepas dari masalalu dia. Mama beneran gak menyangkah kalau berkat kamu Zidan bisa kembali merasakan cinta. Padahal kemarin mama kira dia udah down, udah gak mau menikah lagi. Jadi sekarang mama juga lega, akhirnya anak mama itu bisa menemukan kebahagiaannya sama kamu. Makasih ya sayang."


"Iya ma. Bagiku masalalunya Zidan itu bukanlah masalalu yang buruk kok ma. Mungkin kalau gak karna itu, aku sama Zidan juga gak akan ketemu lagi. Jadi biarin itu jadi kenangan saja. Sekarang yang penting masa depan dimana ada aku sama Zidan. Jadi mama jangan kepikiran sama kisah yang udah - udah. Mama doain aja biar aku sama Zidan bisa bahagia, langgeng sampai kakek nenek. Atau cuma maut yang memisahkan kita." Siska menjawab, yang mana jawaban ini bukan cuma Bu Resti aja yang dibuat tersentuh, tapi Zidannya juga.


"Kalau doa meskipun kalian gak meminta, mama pasti selalu doain yang terbaik buat kalian berdua." Saat mengatakannya Bu Resti menggenggam tangan Siska.


"Ya udah kalau gitu, sekarang mama - mama sekalian jangan nangis lagi. Momen harunya cukup sampai sekian. Sekarang kita senyum malu diliatin sama orang - orang kalau nangis terus." Zidan turun tangan, agar momen haru ini segera berakhir.


"Hm, padahal yang pertama ciptain suasana haru juga kamu dulu tadi. Gara - gara kamu nangis, semuanya jadi ikut nangis." Siska menimpal.


"Kamu?." Eh, tapi pikirannya Zidan bukan fokus ke tudingan Siska tapi malah fokus di kosa kata 'kamu', Siska akhirnya mulai manggil dia 'kamu.'


"Ish! gagal fokus lagi!."


"Hahaha, aku kalau ke kamu selalu gagal fokus terus sayang." Meskipun dihadapan orang tuanya Zidan tak sungkan menggoda istrinya. Membuat Bu Irna dan Bu Resti jadi tersenyum bahagia melihat kelakuan kedua anaknya.


Momen haru sudah berakhir. Menyapa para tamu undangan juga. Lempar bunga juga sudah. Acara makan - makan juga sudah. Semua rentetan acara pernikahan sekarang beneran sudah selesai. Dan gedung pernikahan juga sudah tampak sepi hanya menyisakan beberapa anggota keluarga inti saja dan sepasang pengantin yang bersiap untuk ikut pulang juga.


"Huft, kakiku pegel banget rasanya." Siska menghempaskan bokongnya di kursi ruang tunggu pengantin, kakinya juga langsung bergerak - gerak melepas highheels yang sedari pagi sudah nempel di kakinya. Setelah itu, tangannya juga bereaksi memijat - mijat tungkak kakinya.


"Capek?." Zidan langsung berlutut dihadapan sang istri untuk memberi servis gratis sebuah pijatan pada telapak kaki Siska.

__ADS_1


"Banget. Berdiri seharian bikin telapak kaki sama betisku nyilu."


"Ya udah kita diem dulu disini, istirahat sebentar, sambil aku pijitin." Zidan mulai memijat - mijat kaki Siska dengan khidmat. "Gimana enak gak?."


"He'em, cocok kayaknya kamu kalau jadi tukang pijet. Bisa deh kayaknya kalau kamu mau ganti profesi jadi tukang pijet gini."


"Boleh, tapi tukang pijetnya, tukang pijet plus - plus yang mana pelanggannya cuma kamu aja, gimana?." Zidan mulai nakal nih, tangannya bahkan ikutan bergerak yang tadinya sibuk memijat jadi memberi sentuhan lembut di kaki Siska sampai ke paha.


"Eeehhh!! Zidan! tangan kamu! ngapain sih? minggir sana!." Reflek Siska langsung menyelamatkan diri dengan cara menangkis tangan Zidan dan langsung berdiri. Asli gerakan tangannya Zidan itu bikin geli, bergidik.


"Hahahaha, kenapa sih? 'kan aku lagi pijitin kamu. Kok kamu malah menghindar?."


"Pijit apaan sampai ke paha segala? modus kamu!."


"Kan pijit plus - plus sayang. Katanya kamu mau aku jadi tukang pijit plus - plus jadi langsung aku praktekin tadi."


"Ih! pensiun aja, jangan jadi tukang pijit. Pijitan kamu meresahkan!."


"Meresahkan? atau mendesahkan? yang mana yang bener? jangan bikin aku bingung dong.Goda Zidan dengan wajah yang beneran dibuat bingung seolah keduanya adalah sebuah pilihan yang sulit.


"Betul, emang setiap sama kamu otakku ini pasti kotor. Tapi bukannya ini wajar, kita baru nikah, apa salahnya kalau pikiranku kesana?." Secara blak - blakan Zidan malah ngaku. Dan ngakunya ini diikuti dengan gerakan tangan yang mendorong pinggang Siska agar mereka bisa lebih dekat. Selain itu wajahnya juga tak kalah bergerak kearah ceruk leher Siska untuk mencium aroma khas wangi parfum sang istri. Zidan kayaknya udah gak sabar nih pengen segera unboxing.


"Zidan! kamu ini, beneran deh. Awas! ih!. Tahan dikit kenapa sih? jangan kayak kucing kelaparan sama cicak yang nempel di dinding. Perasaan sedari tadi pagi kamu nempel terus ke aku. Risih tahu!." Siska mendorong sedikit tubuh Zidan agar bisa lepas dari sang suami. Badannya udah lengket, baju pengantinnya berat bikin gerah sekaligus gatal. Jadi kalau ditempel - tempel terus rasanya kesel bawaannya.


"Aku emang udah gak tahan. Apa lagi sekarang kamu udah jadi istriku. Jadi semakin gak tahan, jadi ayo kita cepet pulang."


Zidan membuktikan omongannya, sepersekian menit kemudian, dia minta ijin sama para mama dan papa kalau mau pulang dulu. Bahkan tadi Zidan ijin pulangnya bilang mau lembur bikin cucu. Sampai buat semua orang jadi cie - cie dan sibuk menggoda bahkan memberi wejangan untuk posisi yang enak. Pokoknya bikin Siska jadi malu setengah mati.


"Udah dong jangan asem gitu mukanya. Kalau aku gak ngomong gitu kita jadinya gak bakalan bisa cepet pulang tadi." Zidan mencoba membujuk Siska yang lagi ngambek setelah keduanya sampai di apartemen.


"Sumpah, kamu bikin malu aku setengah mati tadi didepan mama sama papa. Padahal masih banyak alasan lain yang bisa dipakai tapi kenapa harus bilang lembur bikin cucu?."


"Ya 'kan gak boleh bohong sama orang tua. Kita kan emang mau lembur bikin cucu. Biar sekalian juga didoain, biar anak kita jadi anak baik."


"Ish! selalu aja ada jawabannya!."

__ADS_1


"Hahaha, udah deh, jangan ngambek gitu. Ayo jangan buang waktu. Sekarang kamu pilih, aku dulu yang mandi atau kamu dulu yang mandi, atau kita langsung mandi bareng?." Lagi - lagi Zidan bertindak genit. Membuat Siska jadi melayangkan pukulannya sangking gregetennya.


"Aaarrrgghh!!! aduh, kenapa jadi mukul lagi!."


"Ya kamu minta aku pukul terus!."


"Ya udah deh, aku dulu yang mandi."


Demi menyelamatkan diri dari serangan Siska. Zidan pun berangsut kedalam kamar mandi.


Singkat cerita, Zidan yang sudah selesai mandi sekarang sudah tinggal menunggu Siska yang juga sedang mandi.


Saat itu demi menciptakan suasana romantis. Sambil menunggu Siska mandi, Zidan sengaja mengganti penerangan lampu dengan lilin aroma terapi yang di letakkan dibeberapa sudut kamarnya. Setelahnya, Zidan juga sengaja menabur kelopak bunga mawar merah diatas kasur yang berseprei putih miliknya.


Ceklek!


Siska datang dan membuka pintu kamarnya.


"Surprise ..." Sambil senyum - senyum Zidan menyambut kedatangan Siska.


Untuk beberapa saat, Siska sedikit terpana dibuatnya. Suaminya ini sumpah terniat banget cuma untuk mendalami malam pertama sampai seperti ini. Sampai - sampai Siska cuma bisa mengangah dibuatnya tapi sekaligus tersentuh juga.


"Gimana? kamu suka?." Zidan mulai bergelantung manja dengan memeluk pinggang Siska.


"Suka, tapi ..."


"Tapi apa?."


"Tapi aku lagi dapet ..."


****


Dan pembaca pun kecewa... sesi unboxing akan ada dibab selanjutnya. kwkwkw


Authornya masih mikir gimana cara buat adegannya.

__ADS_1


__ADS_2