Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
11. Bertemu Mama, Papa


__ADS_3

Selepas pulang kerja. Demi membujuk sang mama, agar tak terus merajuk, Siska hari itu pulang kerumah. Jarak dari kantor ke rumah sekitar 90 km dan memakan waktu sekitar 2 jam lebih. Lumayan menyita waktu dan tenaga kalau seumpama harus setiap hari pulang pergi dari rumah ke kantor.


Maka dari itu, Siska lebih memilih tinggal dirumah kontrakan yang awalnya dulu dia tinggali bersama Raya dan Feby. Tapi seiring berjalannya waktu, sekarang rumah kontrakan itu hanya ditinggali Siska seorang diri. Ya itu semua karna Raya yang menikah dengan Krisna dan Feby yang sebulan lalu pindah, tinggal kembali bersama dengan kedua orang tuanya lagi karna hendak menikah.


Siska baru saja turun dari bus yang dia tumpangi. Kebetulan rumah Siska letaknya di pinggir jalan raya. Jadi begitu turun dari bus, dia tak perlu repot - repot lagi untuk jalan kesana kemari. Dia cukup membuka pagar rumahnya yang tak terlalu besar dan juga tak terlalu kecil.


Tapi, saat itu, ada sebuah mobil yang tak asing dihalaman rumahnya. Mobil itu, seperti milik Zidan yang entah mulai kapan sudah terparkir disana.


"Mama ..." Siska memasuki rumah dengan meneriakkan nama sang mama. Berharap dengan suaranya yang lantang sang mama akan segera keluar dan menghampirinya.


"Oh My God!." Tiba - tiba Siska speechlees. Saat dia sudah sampai dapur, Siska mendapati sang mama lagi ketawa ketiwi. Dan itu dengan Zidan. Pemandangan macam apa ini. Dan ngapain juga si cunguk itu dirumahnya.


"Eh, kok ada anak mama, kok kamu gak bilang kalau mau datang?." Bu Irna langsung melenggang mendekati sang anak.


"Mam, kok dia ada disini?" Siska tak menggubris pertanyaan Bu Irna, baginya dia lebih penasaran dengan penampakan Zidan dirumahnya hari ini.


"Oh, ini tadi, si Zidan datang, terus ngasih penjelasan soal kalian semalam."


"Hah? jadi?" Siska mengernyit, ini mamanya beneran sudah gak marah 'kah? atau gimana?.


"Ya udah, gitu aja, emangnya kenapa, kan sekarang mama udah tahu yang sebenarnya. Jadi kamu gak udah heran gitu mukanya. Lebih baik kamu sekarang mandi dulu, terus ganti baju bentar lagi kita makan, itu si Zidan udah masak buat kita semua hari ini." kata Bu Irna menghentikan tatapan intimidasi anaknya pada Zidan yang tengah berdiri didepan kompor.


Selesai memasak. Masih dengan sikap bak menantu idaman. Zidan membantu Bu Irna menyiapkan makan malam.


"Wah, ini kamu tadi yang masak, Dan?." Pak Leo, papa Siska bertanya saat dia dan Siska baru saja bergabung di meja makan selepas mandi.


"Iya, Om, silahkan dicoba. Moga aja Om bisa suka."

__ADS_1


Selain hati sang Mama ternyata Zidan juga sudah berhasil mengambil hati sang Papa. Dan itu, tak luput dari perhatian Siska yang sedari tadi terus mengawasi pergerakan Zidan dengan pandangan kesalnya.


"Kalau ini, mama berani jamin, papa pasti suka, masakannya si Zidan ini ternyata lebih enak dari masakan mama, gimana betulkan?."


"Hm," Pak Leo manggut - manggut, setelahnya juga seolah langsung bersemangat untuk makan. Dari gelangatnya itu sudah bisa menjawab pertanyaan Bu Irna tadi soal rasa masakan Zidan.


"Cih!." Siska tak habis pikir, kenapa Mama, Papanya jadi suka sama Zidan?.


"Hmm, ini kamu, belajar dari mana? masakan kamu ini, gak kalah sama masakan hotel bintang 5." puji Pak Leo setinggi langit.


"Cih!." Siska mengerlingkan matanya jengah. Puji aja terus, sampai kepalanya pecah, biar cepet mati.


Tapi nyatanya Siska yang baru saja menyicipi masakan Zidan tak bisa mengelak kalau makanan ini memang lezat. Bahkan bisa langsung merubah sikapnya yang tadinya meremehkan terkesan begitu menikmati.


"Gimana? enak 'kan masakan gue?" tanya Zidan dengan nada bangga.


Sayangnya, orang yang bertanya bisa membaca glagat. Zidan pun mengukir senyum puas diwajahnya. Dasar Siska, bilang enak aja apa susahnya sebetulnya.


"Makan yang banyak." Zidan memberikan beberapa lauk ke piring Siska sebagai tanda perhatiannya. Tapi kemudian dia mencondongkan badannya mendekat ke Siska, Dia lalu membisikkan sesuatu. "Biar badan lo tambah montok. Biar kalau dipegang lebih enak."


Siska ngelag. Itu tadi Zidan ngomong apa?? dia gak salah denger 'kan?.


"Aaarrgggghhhh!!!" pekik Siska dalam hati. Kali ini, Zidan sudah keterlaluan. Dia secara sadar sedang melecehkannya.


"Aiiishhhh!!!" Kalau saja gak sedang bersama orang tuanya. Udah pasti Siska bakalan mengumpat sarkas.


"Oh, ya, Dan, jadi kamu ini selain jadi arsitek sama insiyur sipil sekarang kamu sudah punya perusahaan sendiri?." tanya Pak Leo, ditengah rasa kesal Siska yang sedang memuncak.

__ADS_1


"Iya, Om, masih baru ngerintis sebetulnya, pendapatan juga masih kecil."


"Ya, tapi itu sudah bagus kalau menurut Om, di usia kamu yang masih muda, kamu sudah bisa mendirikan perusahaan sendiri itu sudah nilai plus. Apa lagi ditambah skill yang mempuni, pastinya nanti perusahaan kamu bisa berkembang pesat."


"Doain saja Om, semoga bisa lebih berkembang lagi. Nanti 'kan kalau saya lebih mapan lagi, pastinya hidup Siska juga lebih sejahtera." ucap Zidan, yang pastinya sengaja dilakukan untuk semakin mamancing emosi Siska.


"What? kenapa jadi bawah - bawah gue, lo? emang lo ini siapa? lo bukan siapa - siapa, tahu gak lo! dasar brengsek lo!!." Siska meledakkan amarahnya. Persetan meskipun ada sang mama dan papa. Kalau Zidan sedang berusaha memancing emosinya. Dia berhasil.


"Siska, kamu kok jadi gitu ngomongnya? mama perhatiin muka kamu kesel banget sama dia sedari tadi. Jangan gitu dong sayang." pintah Bu Irna sekaligus mengingatkan sang anak.


"Ya emang dia sengeselin itu Mam! Mama aja yang udah kepincut sama dia, dimasakin gitu aja udah seneng. Kalau tau aslinya dia kayak apa, mama pastinya juga bakalan kesel!."


"Kamu ini, kok jadinya malah marah - marah. Jaga sikap dong Siska."


"Mam, kok malah jadi belain dia sih?."


"Aduh, udah - udah, ini kok malah jadi berantem. Udah ayo sekarang semuanya pada makan, jangan berantem dimeja makan. Sayang ini makanannya." Pak Leo akhirnya menengahi.


"Aku udah gak nafsu! Mama makan aja sama dia. Yang Mama anggap lebih berharga." Siska merajuk. Menghentakkan kakinya, beranjak dari meja makan dan masuk ke dalam kamar. Membuat sang Mama cuma bisa geleng - geleng kepala dengan tingkah anaknya yang sudah dewasa tapi masih saja kayak anak kecil.


"Jangan diambil ati ya, Dan. Dia itu emang gitu, emosinya meledak - ledak. Gampang banget sewot sama marah." ucap Bu Irna.


"Iya, tante, bagi saya itu malah jadi pesonanya Siska. Jujur, saya malah suka kalau Siska gitu. Dia jadi keliatan imut. Hehehe." Itu tadi adalah isi hati Zidan yang sebetulnya. Ya, bisa dibilang, Zidan sudah jatuh cinta lagi pada Siska. Meskipun dalam tahap penyangkalan.


"Berarti selera kamu itu sama seperti Om, dulu Mamanya Siska juga gitu, sukanya marah - marah, ngomel - ngomel terus. Tapi gak tahu kenapa Om malah suka. Akhirnya Om godain terus dia, akhirnya luluh juga 'kan sekarang sama Om."


"Ih, Papa, siapa juga yang suka marah - marah, kayaknya dulu yang suka marah itu papa deh bukan mama."

__ADS_1


Itulah akhir perbincangan mereka dimeja makan. Bu Irna dan Pak Leo jadi nostalgia dengan kisah cinta mereka. Sedangkan Zidan menjadi pendengar setia untuk keduanya.


__ADS_2