Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
21. Naif


__ADS_3

Siska berjalan dengan langkah anggun memasuki gedung pernikahan. Hari ini dia tampil sangat cantik dengan gaun berwarna pink sedikit diatas lutut dengan highheel yang tak terlalu tinggi. Make upnya juga tak terlalu mencolok dan lebih terlihat natural. Tak lupa juga scarf yang berwarna senada juga dipakai dilehernya demi menutupi kissmark yang masih juga belum hilang.


"Feby ..." Siska langsung menghampiri sang sahabat yang tengah duduk dengan gaun pengantinnya di ruang tunggu.


"Uhm, Feby lo cantik banget ..." puji Siska setelah duduk disebelah Feby.


"Iya dong harus. Jangan sampai cantikan lo dari pada gue, entar dikira lo lagi yang jadi pengantinnya."


"Hahaha, Ya gak apa - apa, kapan lagi bisa ngalahin kecantikan pengantin kalau gak sekarang. Tapi serius lo cantik banget."


"Ih, dasar lo. Oh ya lo sama siapa? Zidan atau Raya?."


"Sendiri."


"Kok sendiri? Emang Zidan gak jemput?."


"Ngapain dia jemput? dia bukan siapa - siapa gue."


"Hem," Feby malah menyenggol Siska sambil mencebik. Bersikap seolah tahu sebuah rahasia.


"Apaan sih lo gak jelas!."


"Lo, kemarin, pas selesai party, lo pulang kemana?" tanya Feby menyelidik. Dia memang sudah ingin mengintrogasi Siska begitu ketemu.


"Emangnya kemana? ya pulang ke kontrakan lah." Siska berusaha menutupi.


"Jangan bohong lo! Gue sama Firman liat lo pagi - pagi keluar dari apartemen pakai bajunya si Zidan."


"Ishh!! dimana - mana ada CCTV." gerutu Siska, sekaligus memberi jawaban jujur atas pertanyaan Feby.


"Hm, baru ngaku lo kalau udah dikasih clue."


"Ya, ya, ya..."


"Terus - terus, gimana? lo ngapain aja di apartemennya Zidan?" Ini Feby jadinya kepo.


"Emang mau ngapain?."


"Ya gak tahu, ngapain. Ayo cepet lo ngapain aja?."

__ADS_1


"Emang lo kira gue ngapain?. Eh, Feb. Ini lo bentar lagi mau nikah 'kan Feb? Ini lo bukannya gugup, tapi kenapa malah kepo jadinya?."


"Ya gue 'kan udah penasaran mulai kemarin. Jadi wajar dong kalau gue tanya. Ya mungkin, siapa tau lo udah duluin gue, menikmati malam pertama." Seloroh Feby, jelas langsung membuat Siska speechlees dengan jalan pikiran Feby.


"Feb, lo yang bener aja, gue masih belum stres, ya!."


"Hahaha, ya siapa tahu, namanya juga lagi berduaan semalam suntuk, kalau gak begitu terus mau ngapain."


"Lo kira gue ini cewek apaan, Feby!. Lo kira gue gampang banget buat digituin, terus langsung mau, gitu maksud lo?."


"Hahaha biasa aja kali gak usah ngegas. Gue 'kan cuma tanya tadi. Namanya juga khawatir. Apa lagi lelakinya masuk dihati. Jadinya gas aja lah dari pada ditahan - tahan." Feby tertawa jail. Dia jelas - jelas sedang bahagia karna bisa menggoda Siska.


"Masuk dihati, masuk dihati, maksud lo?? gak ada ya yang kayak gitu."


"Udahlah Sis, lo jangan naif. Akuin aja perasaan lo kalau sebenernya lo keganggu dengan kehadiran Zidan lagi. Lo itu sebetulnya masih ada rasa cuma lo lagi menutup diri aja. Atau masih belum siap terima dia lagi. Karna lo itu trauma. Takut disakiti lagi sama Zidan. Iya 'kan?"


"Aaiiisshhh!! lo ya, kayak beneran tau aja perasaan gue gimana. Udah ah, males jangan bahas itu."


"Gue tahu lah, karna gue sahabat lo. Gue yakin lo lagi gengsi. Jadi karna itu lo gak mau ngakui perasaan lo."


"Feby, udah deh gak usah sibuk jadi mbah dukun. Dan please jangan bahas itu, bahas yang lain! bahas perasaan lo yang mau nikah aja."


"Em, males kalau bahas gue, cuma gitu - gitu doang. Gue maunya bahas yang ditutupin scarf aja." Hem, ternyata Feby ini peka juga. Sedari tadi dia udah curiga. Dan tepat pembahasan ini, si Raya datang. Auto deh yang meledek jadi dobel.


"Gimana, gimana perasaan lo hari ini? bahagia? seneng? semangat? tegang? gugup? atau ada lagi yang lain?."


"Hu'um, semuanya gue rasain tadi. Tapi setelah Siska datang, gue jadi biasa aja, hahaha."


"Siska? kok bisa?" Si Raya malah tanya dengan polosnya. Sementara Siska yang disindir langsung melengos jengah.


"Hahaha, ya ... you know lah." jawab Feby dengan tatapan jail sambil memberi kode pada Raya agar ikut godain Siska.


"Oh ..." Yap Raya paham.


Sesuai intruksi sang pengantin wanita. Raya pun dengan gaya samarnya tiba - tiba menarik scarf yang dipakai oleh Siska.


Sreeettttt!!!


Berhasil. Tampaklah bekas kissmark dileher Siska yang mana langsung memancing amarahnya si Siska.

__ADS_1


"RAYA!!!."


"Hahahaha!!!." Ini si Raya sama Feby bener - bener tertawa bahagia karna bisa jailin Siska.


"Ya ampun Siska, Niat banget lo buatnya. Ini gue beneran kalah telak deh sama lo." Feby nyeletuk sambil tertawa bebas.


"Hahaha, benerkan kata gue, ada banyak. Ini belum lagi yang di dada pastinya juga gak kalah banyak." Raya nyeletuk.


"Huh, brengsek lo pada! balikin gak?" dengus Siska sangat kesal sambil berusaha merebut scarfnya kembali.


"Ets! jangan dulu, gue masih mau liat maha karyanya si mantan yang berhasil merobohkan pertahanan. Hahahaha." ledek Raya.


"Kasih gak? kalau gak dikasih gue bakalan pergi dari sini!." ancam Siska dengan mata memincing.


"Emang lo berani pergi dari sini?." Si Raya malah semakin meledek. Ya jelaslah Siska gak berani secara pasti malu diliatin orang.


"Aiiishhh!! brengsek lo pada!!."


"Hahahaha."


"Sis, lo mending cepet nikah juga deh. Gue jadi khawatir sama lo, lo kayaknya kalau udah sama Zidan bawaannya nafsu mulu." Yang ini Feby yang ngomong, nadanya seperti benar - benar khawatir.


"Yap betul tuh Sis, atau kalau enggak cepetan deh lo resmiin hubungan lo sama Zidan. Pertegas deh, jangan gantung gini. Kalau balikan ya balikan, kalau enggak mending sepenuhnya lo jauhin." Raya ikut menimpali.


"Eh, ini kenapa kalian jadi ngurusin hidup gue sih?."


"Ya semua ini karna kita peduli sama lo Siskaku sayang. Gue gak mau temen gue dengan gampangnya dicium tanpa hubungan yang jelas, apa lagi sampai diambil perawannya."


"Eh, mulut lo Ray!." Siska langsung memotong. Enak banget Raya kalau ngomong.


"Ini fakta Siska. Lo harus ingat. Dulu lo pacaran sama Zidan gimana pas SMA. Dulu lo beruntung karna lo cepet putus. Kalau enggak mungkin lo udah gak perawan. Setelah itu, habis lo pacaran sama Zidan lo menutup diri sama pacar - pacar lo. Dan sekarang lo ketemu lagi sama Zidan. Baru aja ketemu plus gak ada status yang jelas, lo dengan gampangnya ngasih diri lo kayak gini. Jadi, sekarang mending lo pikir baik - baik gimana perasaan lo ke dia. Masih cinta atau enggak. Tapi kalau menurut gue, lo masih cinta cuma lo masih naif, gak mau ngakui perasaan lo." ucap Raya telak.


"Gue setuju sama Raya, Sis. Gue tadi kan juga udah bilang. Mungkin lo masih trauma takut Zidan nyakitin lo lagi. Jadinya lo masih membangun benteng pertahanan diri." tambah Feby.


Untuk sejenak Siska terdiam. Ucapan kedua sahabatnya ini rasanya benar - benar menampar dirinya. Sejujurnya didalam hatinya yang paling dalam, memang benar Siska mulai terganggu dengan kehadiran Zidan. Tapi masalahnya dia tidak benar - benar yakin pada Zidan.


"Oke, gue bakalan jujur sama kalian. Mungkin bener apa yang kalian bilang, gue memang udah keganggu sama kehadiran Zidan. Gue masih ada rasa dan gue juga pengen balikan beneran sama dia. Tapi, gue gak yakin sama Zidan. Dia suka gangguin gue karna juga masih ada rasa atau cuma buat main - main doang. Dan karna itu, gue gak mau mempermalukan diri gue sendiri."


"Oh, jadi karna itu. Karna lo gak tahu gimana perasaannya Zidan sebenarnya? Oke kalau gitu, serahin itu semuanya ke gue. Kita cari tahu, gimana perasaan Zidan sebenarnya." kata Raya mantap sekali. Sepertinya dia sudah punya rencana besar.

__ADS_1


"Maksud lo?." Siska yang gak ngerti tanya.


"Serahkan sama gue. Gue jamin, dalam waktu dekat ini, hubungan lo sama Zidan pasti bakalan punya status yang jelas." kata Raya penuh keyakinan.


__ADS_2