
Zidan mulai gusar dan frustasi. Disampingnya Siska sudah mengemasi semua barang - barangnya. Sepertinya istrinya ini tidak main - main dengan ucapannya yang akan pulang ke Jakarta.
"Yang, kita baru aja ketemu kemarin. baru aja menikmati momen kebersamaan kita juga. Masak kamu udah mau pulang? ini juga masih hari sabtu masih ada sisa waktu besok. aku ini juga masih kangen sama kamu, masak kamu tega ninggalin aku sekarang?."
"Bodo! kamu juga tega gandengan sama Bian sama nempel - nempel juga!." jawab Siska sambil terus fokus mengemasi barang - barangnya.
"Oke, aku minta maaf sama kamu yang. Aku salah. Aku janji aku akan jauhin Bian, aku gak akan deket - deket sama dia lagi. Jadi please, tolong jangan pulang ya, kita masih punya waktu sehari besok buat sama - sama jadi please, tetap disini." Zidan masih sibuk merayu agar istrinya itu tidak pergi.
"Iya, mau jauhin tapi aku harus nunggu sampai sebulan lagi!." Sindir Siska yang mana sudah selesai berkemas dan sudah memegang gagang kopernya dengan sikap arogannya.
"Yyyaaaaaaannnngggggg." Kali ini Zidan bahkan merengek. Semoga dengan rengekannya ini bisa membuat Siska luluh.
Tapi sayang, Siska tak akan dengan mudanya luluh begitu saja. Dia bahkan sudah menarik koperanya itu dan berjalan menuju pintu.
"Siska!."
BRAK!!
Siska menutup pintu apartemen kasar. Sementara Zidan cuma bisa menghela nafasnya panjang. Bukannya dia tak mau menghentikan istrinya itu pergi. Tapi dia sungguh tahu bagaimana tempramennya Siska yang sangat keras kepala dan tak mau mengalah. Jadi Zidan pun memilih menunggu sampai dirinya dan Siska tenang dulu baru membujuknya lagi.
Dan Jakarta - Jogja rasanya seperti mainan saja. Berangkat kemarin pulang sekarang. Dan pulangnya juga dalam keadaan keluh, membawa perasaan asing yang menyebalkan. Yang susah sekali hilangnya. Jadinya Siska pun cuma bisa memajang wajah lesu diraut wajahnya.
"Loh, Sis?." Feby yang baru masuk loby apartemen bersama Firman jadi kaget melihat penampakan Siska. Pasalnya yang dia tahu Siska 'kan lagi Jogja.
"Feby ..." Siska langsung merengek dan memeluk sahabatnya itu. Sungguh kebetulan sekali, Siska memang butuh teman curhat. Niatnya memang mau meminta kedua sahabatnya itu datang ke apartemennya. Tapi sekarang malah ketemu disini.
Feby menerima pelukan Siska dengan tampang heran. Saling melirik sama Firman yang sepertinya ikut heran melihat Siska yang tiba - tiba pulang dan langsung merengek seperti itu.
Feby dan Firman akhirnya mengikuti Siska kedalam apartemennya. Ya gak mungkin juga mereka meninggalkan Siska yang kayaknya lagi galau. Kalau boleh ditebak, pasti ada masalah saat di Jogja.
"Kamu kenapa? Bukannya kamu harusnya ada di Jogja?." Tanya Feby saat mereka sudah duduk disofa bersama. Dimana Feby disebelah Siska, sementara Firman memilih duduk disofa yang lain yang masih berhadapan dengan kedua perempuan itu.
"Iya harusnya. Tapi semuanya gak sesuai rencana." Jawab Siska dengan tampang cemberut dan murung.
"Kenapa? berantem? atau gimana?." tanya Feby lagi.
__ADS_1
"Feby, gue kesel banget sama Zidan pokoknya. Ternyata dia selama ini ada deket sama cewek Feb, ada yang suka godain dia disana..."
"Deket gimana? sama godainnya gimana maksudnya?" tanya Feby dengan wajah mengernyit.
Siska mulai menceritakan semua kronologi yang terjadi tadi pada Feby dan Firman.
...
...
"Oh, Jadi sekarang lo cemburu gitu?." tanya Firman, tapi kemudian saat Siska mau jawab, Feby nyererobot dulu.
"Ya jelaslah cemburu. Aku juga kalau kamu deket - deket sama sekertaris kamu yang itu juga pastinya cemburu!. Nih liat nih! Siska juga sakit hati gara - gara ada suaminya deket sama cewek lain. Jadi kamu jangan macem - macem mau deket - deket lagi sama sekertaris ganjen kamu itu. Atau kalau enggak aku juga bakalan kabur kayak Siska!." Tunjuk Feby dengan pincingan mata kearah Firman, yang mana Firman jadi mendesis sambil garuk - garuk pelipisnya. Ini kok jadinya si Feby ikutan marah lagi ke dirinya.
"Emang dia kenapa Feb? suka deket - deket sama cewek juga?." Siska jadi tak menyangkah. Psalnya si Firman ini kayaknya mukanya muka polos gak neko - neko.
"Sama! kayak Zidan! suka deket - deket sama cewek seksi, depan belakang oke! bilangnya kerja nyatanya nyuri kesempatan dalam kesempitan!." Feby masih tak mau melepaskan pincingan matanya pada Firman.
"Ckckck!." Siska mendecak dengan tampang ilfeelnya. Penilaiannya sudah berubah 180 derajat pda Firman.
"Astaga yang, kok kamu malah jadinya bahas itu lagi? aku 'kan udah janji sama kamu. Dia bahkan udah langsung aku pindahin bagian lo, yang. Jadi stop dong bahas itu lagi?."
"Ckckck, tampang sok polos lo. Ternyata lo doyan juga sama yang seksi - seksi." Lagi - lagi Siska mendecak.
Firman pun hanya menghela nafasnya kasar. Kalau sudah begini mending dia diam. Atau kalau enggak malah semakin diungkit sampai ke tulang - tulangnya meskipun itu bukanlah kesalahannya.
"Berarti sekarang gue harus gimana?." tanya Siska kembali kepembahasannya pada Feby.
"Lo harus teges. Jangan mau maafin. Biar deh dia tahu rasa. Kasih Zidan efek jera biar dia gak macem - macem lagi. Apalagi kayaknya Bian itu ada rasa sama Zidan. Jadi kalau bisa setelah urusan proyeknya selesai di Jogja mereka harus bener - bener putus hubungan. Gak ada yang namanya kerjasama, biar deh meskipun dia katanya pinter atau gimana. Didunia ini yang pinter juga bukan Bian aja 'kan?." Saran Feby.
"Gitu ya Feb? tapi kalau sekarang gimana? gue harus gimana? Ini gue, jujur kepikiran. Mereka disana lagi berdua gak ada gue. Sedangkan gue?." Satu hal yang Siska sesalkan sekarang setelah dia balik ke Jakarta. Pikirannya jadi nething kemana - mana takut Zidan beneran menghianatinya.
"Ah udah deh Sis, jangan di pikirin. Kalau Zidan disana seneng - seneng sama cewek lain. Berarti disini lo juga harus seneng - seneng juga. Kalau disana dia punya cewek, berarti disini lo juga harus punya cowok. Jadi, siapa pun yang deketin lo, welcome aja deh, gak usah dipikir. Ini demi kesehatan mental lo, oke? kasih Zidan pelajaran biar tahu rasa!." Saran Feby lagi yang bisa dibilang malah menjerumuskan. Yang mana jelas Firman jadi frustasi sekaligus khawatir dibuatnya.
"Sayanggg! kamu kok malah ngasih sarannya gitu sih?." Firman menginterupsi.
__ADS_1
"Ya terus harusnya gimana? Siska harus ngalah, gitu? ih, kok enak? aku gak mau ya kalau Siska malah dibuat mainan sama Zidan!." Feby menimpal.
"Yang, ingat, mereka ini udah nikah, bukan pacaran lagi. Pernikahan itu bukan mainan yang. Zidan juga gak mungkin mau mainin Siska. Dan kamu kalau ngasih saran jangan pakai emosi. Nanti,kalau ada apa - apa sama hubungan mereka, kamu mau yang disalahin? karna kamu udah ikut campur urusan mereka?." Firman menasehati sang istri.
"Dan lo Sis, harusnya lo jangan cemburu buta gitu. Harusnya lo tahu lebih dari siapa pun rasa sayangnya Zidan ke lo gimana. Dia udah berbuat banyak 'kan sama lo. Tiap hari kayaknya dia selalu kasih kabar sama lo duluan. Apa yang dia lakuin selalu laporan sama lo. Begitu dia ditelpon perempuan dia langsung punya inisiatif ngenalin ke lo. Dia udah begitu menjaga hatinya ke lo Sis, masak lo gak sadar?. Dan lo tahu gak sih? Zidan itu tiap hari telpon gue Sis. Dia itu sebetulnya frustasi gara - gara harus LDR sama lo. Tiap hari dia ngeringik, tanyain lo, takut lo kesepian, takut lo ada apa - apa, takut lo sakit, takut lo gak makan pokoknya ngeringiknya semuanya tentang lo sampai gue capek yang dengerin. Kalau dia udah kayak gitu, apa mungkin dia mau nyimpang buat nyelingkuhin lo? apa lagi sama cewek modelan gitu. Jadi udahlah, kenapa harus mikiri cewek yang bahkan didalam otak suami lo aja gak ada bayangannya sama sekali."
Siska terdiam mendengar setiap perkataan Firman. Hatinya sedikit terketuk. Apa iya dia terlalu cemburu buta sampai lupa sama semua fakta itu?.
"Nah, kan? liat, nih." Ponsel Firman yang mode senyap dilayarnya menunjukkan kalau Zidan sedang menghubunginya. Membuat Siska jadi sedikit terjengkat, tak mendunga. "Ini pasti mau tanya lo udah sampai apa belum." tebak Firman bebarengan dengan jari yang menggeser layarnya untuk menerima panggilan dari Zidan.
"M, ada apa bro?." Firman mengawali obrolan.
"Bro, bisa minta tolong gak bro? tolong Feby suruh liatin Siska, dia udah sampai apa belum di apartemen? sedari tadi gue hubungin dia belum respon."
"Siska, ada disini, lagi nangis. Katanya lo selingkuh." timpal Firman dengan mata yang melirik pada Siska yang saat itu juga langsung dibalas dengan plototan mata. Kapan Siska nangis, perasaan sangking jengkelnya dia sampai tak gak bisa nangis rasanya tadi.
"Hah? ish! huft!." Zidan sampai tak tahu harus ngomong apa.
"Bro, cepet deh lo pulang, susulin nih si Siska. Atau kalau enggak katanya dia bakalan minta dipulangin ke rumah orangtuanya. Mau minta cerai dia katanya." kata Firman bohong.
"Firman!." Siska protes. Ini Firman jadinya malah ngada - ngada.
"Hah? lo yang bener bro?." Jelas Zidan langsung gusar.
"Iya, jadi sekarang lo putusin. Pulang atau enggak. Oke?."
Dan Firman sengaja mematikan sambungan telponnya agar Zidan tak banyak bertanya lagi. Serta Siska bisa berhenti memberi plototan matanya.
"Eh, kok lo gitu sih?" Siska melayangkan protesnya lagi.
"Sis, dengerin gue. Sekarang ada 2 opsi. Zidan, pulang atau enggak. Kalau dia pulang berarti itu artinya dia sayang sama lo dan gak pengen pisah sama lo. Tapi kalau dia gak pulang, berarti dia gak sayang sama lo dan lebih memilih cewek itu dari pada lo."
Siska terdiam lagi.
"Tapi, gue yakin dia pasti bakalan pulang malam ini juga. Jadi gue harap lo sambut dia. Jangan ngambek lagi jangan marah lagi. Lupain kejadian tadi dan ajak dia ngomong baik - baik. Oke?."
__ADS_1
Meskipun Siska tak menjawab. Siska paham betul apa yang dikatakan Firman padanya. Firman sedang berusaha membuktikan perasaan Zidan yang sesungguhnya padanya.
"Oke, karna gue rasa lo udah ngerti, kalau gitu, kita pulang dulu. Ayo, sayang ..." Ajak Firman pada sang istri, Feby.