
"Mbak, Mas Desta itu orangnya asik, ya?." Celetuk Caca saat keduanya sudah kembali kedalam mobil dan bersiap pulang. Caca sepertinya beneran penasaran tentang Desta.
"He'em, dia emang asik, kocak juga suka bercanda" jawab Siska sambil bersiap mengemudikan mobilnya.
"Iya, tadi itu dia dagelan terus. Aku yang denger sampai sakit perut mbak gara - gara gak bisa berhenti ketawa."
Dan Siska pun tersenyum menanggapinya. Karna fokusnya sudah pada stir mobil dan gas yang mulai dijalankan.
"Tapi temennya Mbak Siska kayaknya emang seru semua sih, mulai dari Mbak Raya, Mbak Feby sama suami - suaminya juga semuanya seru. Apa karna Mbak sama yang lain udah temenan dari SMA ya Mbak? Mangkannya bisa akrab gitu?."
"Ya bisa jadi karna itu juga. Karna kita udah kenal dari dulu. Tapi kalau sama Desta sih sebenernya? Mbak baru kenal beberapa bulan yang lalu."
"Oh ya? berarti Mas Desta bukan temen SMAnya Mbak Siska dong?."
"Bukan. Dia itu temen sekantornya Krisna suaminya Raya. Kebetulan dulu dikenalin sama Mbak."
"Oh, aku kira juga temen SMA. Soalnya juga keliatan akrab banget." Caca sedikit berprasangka mendengar penjelasan Siska. Apa mungkin kakak iparnya ini dan Desta sempat dekat dalam hal yang lain?.
"Bukan kok, dia cuma kenalan. Tapi karna emang orangnya gampang akrab jadi ya bisa cepet akrab."
"Oh..." Caca manggut - manggut. Apa yang dikatakan Siska masuk akal.
"Tapi, Ca," Siska menatap Caca secara bergantian dengan jalanan didepannya dengan pandangan sedikit intens.
"Iya Mbak kenapa?."
"Jangan cerita sama Masmu kalau kita ketemu sama Desta. Tolong pertemuan hari ini diskip ya? Soalnya Masmu itu suka cemburu buta sama Desta. Dia bahkan gak segan - segan mukul Desta kalau tahu Ca. Padahal Mbak Siska sama Desta juga gak ada hubungan apa - apa. Kita cuma temen. Kamu tahu sendirikan tadi kita cuma bercanda aja. Ya Ca, ya?." Siska bahkan memohon, karna takutnya Zidan malah ngamuk lagi kayak waktu itu.
"Ih, masak sih Mas Zidan gitu? sampai mukul - mukul?."
"He'e, kamu inget gak dulu pas kurang beberapa hari kita nikah terus masmu minta mbak datang ke cafe? lah itu 'kan sebetulnya mbak sama Mas Zidan lagi berantem. Dan berantemnya gara - gara si Desta ini. Karna dia cemburu cuma karna mbak gak sengaja ketemu terus ngobrol sebentar sama desta kayak tadi ini."
"Oh, ya? Ih! pantes mbak waktu itu Mas Zidan ngasih aku bayaran banyak asalkan bisa bawah mbak ke cafe."
"He'em, jadi please tutup mulut, ya? demi kelangsungan pernikahan Mbak sama Masmu yang baru seumur jagung ini. Dan lagian mbak siska juga cuma temenan biasa sama si Desta. Kamu tahu sendiri 'kan?." Siska harus menekankan kata itu lagi pada Caca agar Caca bisa benar - benar paham dan gak punya pemikiran yang aneh - aneh juga tentangnya.
__ADS_1
"Oke mbak, tenang aja. Sampai mati cerita ketemu sama Mas Desta hari ini bakalan aku simpen rapat - rapat." Huft! Siska jadi lega. Caca berhasil dibujuknya.
"Makasih ya Ca kalau gitu, udah mau bantuin mbak."
"Iya, sama - sama. Pokoknya aman deh. Yang penting cintanya mbak suma ke masku seoranglah."
"Hehehe, ya pastilah Ca, kalau itu gak perlu diragukan lagi." Jawab Siska mantap.
Perjalanan mereka berdua masih berlanjut dan sedikit lama karna memang jalanan yang ramai dan sedikit macet. Dan ditengah - tengah perjalanan itu, beberapa kali ponsel Siska berdering.
Kalau yang pertama panggilannya itu dari sang suami yang terus tanya kapan mau pulang, dan kapan selesai. Tapi kalau sekarang yang telpon bikin sedikit tegang.
"Sis, kamu bisa gak sekarang kerumah? mama lagi butuh bantuan kamu ini Sis?." suara Bu Resti terdengar daei balik telpon.
"Sekarang Ma? emang ada apa ma?."
"Ini lo, Om Robet sama keluarganya mau datang, jadi mama bingung sendiri ini mau dibikinin apa buat nyambut mereka. Nanti juga ada Caca. Caca juga mama suruh pulang biar bantuin juga." Bu Resti menjelaskan.
"Oh, sama Caca juga ya ma?."
"Iya, ini tadi papanya udah mama suruh jemput dia. Tapi kamu gimana, bisa 'kan kamu kesini sekarang? mama gak ada yang bantuin soalnya Sis, kebetulan Mbak Asih juga kemarin ijin pulang kampung seminggu." Bu Resti menjelaskan.
"Oh, iya deh ma kalau gitu. Siska kesana." jawab Siska dengan mata membelakak pada menepuk - nepuk udara sangking paniknya.
"Oke Pa, sekarang papa sampai mana?." Begitu juga dengan Caca yang lansung berwajah panik juga sambil ikut - ikut menepuk udara.
"Oh, oke Pa, kalau gitu Caca tunggu didepan deh kalau gitu. Iya, ati - ati Pa. He'em." Dan setelahnya Caca pun memutus panggilannya begitu juga dengan Siska.
"Aaaahhhh!!." Caca dan Siska jadi sama - sama teriak karna panik.
"Aduh Mbak, gimana dong mbak? Kalau sampai papa sama mama tahu aku keluar diam - diam dari asrama. Mereka pasti ngamuk mbak?." Caca jadi takut, jangan sampai hal itu beneran terjadi.
"Iya, bentar. Ini gimana caranya biar cepet? jalannya rame Ca. Lagian kamu ngapain harus tinggal diasrama kampus segala sih Ca? ada - ada aja." Si Siska malah jadi menyalahkan Caca ditengah situasi yang mencemaskan itu.
"Ih! kalau bisa juga aku pengennya tinggal diapartemen aja sama mbak sama mas biar bisa lebih bebas. Tapi mama sama papa mana bisa dilawan?. Ish! ini mah gara - gara Goldi sama Mbak Mega yang buat salah mereka ngefeknya ke aku sampai aku harus diasingkan!." Caca ngomel sendiri sambil cemberut.
__ADS_1
"Oke, oke, terserah deh, bentar. Ini kita harus pakai jalan pintas, kira - kira kita enaknya lewat mana?."
"Gak tahu! lewat gang aja deh Mbak."
"Ya gangnya yang mana?."
"Aduh! Mbak, putar balik aja deh mbak, lewat daerah Ahmad Yani. Aku tau trabasannya."
Oke, Siska menuruti ucapan Caca. Dia langsung putar balik dan langsung menginjak gas mobilnya. Ya meskipun ada sedikit takut dihati Siska karna bawah mobil sedikit ngebut. Bahkan beberapa kali juga dia terlihat menginjak rem dadakan karna ada aja halangan melintang. Akhirnya beberapa waktu kemudian, Caca sampai di depan asramanya sebelum Pak Sony datang.
"Huft!." Siska bernafas lega dan langsung menyandarkan dirinya di kursi kemudinya. Tadi Caca sudah akting berdiri didepan asramanya dan kemudian lansung masuk kedalam mobil Pak Leo.
Sekarang Siska yang sudah lega juga harus segera pergi kerumah sang mertua. Tapi sebelum itu, Siska harus menghubungi Zidan dulu.
"Hallo."
"Hm, ngapain kamu telpon aku? masih inget kamu sama aku?." Zidan langsung melayangkan sindirannya , gara - gara tadi ditinggal dipinggir jalan.
"Ya ingetlah masak aku lupa sama suami sendiri."
"Cih! ngakuin aku suami kamu, tapi kamu tega tadi ninggalin aku dipinggir jalan!."
"He, maaf. Tapi tadi bukan aku lo yang ninggalin kamu di jalan, Si Caca tuh yang ninggalin." Siska membela diri.
"Tapi kamu anteknya!."
Siska tertawa kecil. "Aku kakaknya yang bener. Mana ada kakaknya dijadiin antek sama adiknya. Hebat bener adiknya kalau gitu. Tapi, udah ah, jangan marah lagi. Ini soalnya aku udah selesai, tapi ini aku sama mama disuruh datang kerumah Dan, katanya nanti malam mau ada keluarganya Om Robet datang, aku disuruh bantuin masak."
"Om Robet mau kerumah?." Zidan mengulang ucapan Siska. Sedikit heran tumben - tumbennya keluarga Omnya itu datang kerumah.
"He'em, jadi sekarang aku disuruh bantuin mama buat masak nanti malam."
"Oh, terus kamu mau kerumah?."
"iyalah, disuruh mama kesana masak aku gak kesana?."
__ADS_1
"Lah terus aku gimana? kamu mau ninggalin aku sendirian lagi?." Zidan mulai protes lagi dan mau ngambek lagi.
"Lah terus aku gak boleh kerumah kamu gitu? sama bantuin mama kamu? jangan aneh - aneh deh, Dan!. Udah ah, entar kamu susulin aku, terus aku bawahin juga baju ganti karna sampai malam gak mungkin aku gak ganti baju. Sama dalemannya juga jangan lupa!." Siska menimpal. Kadang suaminya ini ada - ada aja. Bener sih pengen deket terus tapi kadang gak tahu situasi juga.