
Ciuman penuh gairah dilepas secara tiba - tiba oleh Siska.
"Hahahaha!!!."
Siska tiba - tiba juga tertawa terbahak - bahak, membuat Zidan mengernyit heran.
"Hahahaha! Lo, hahahahaha."
"Lo lucu, Dan. Hahahahaha!!!."
"Maksud lo?."
"Gue, gue bisa ngerasain, hahahaha. Ini, adek lo yang dibawah, lagi tegang. hahahha.."
Oh My God Siska mulutmu! kenapa kalau lagi mabuk gak bisa di kontrol?.
"Aisshhh! ****!!!." Zidan merasa harga dirinya jatuh. Dia pun langsung melempar tubuh Siska ke sofa. Sumpah! dia sekarang jadi malu karna ucapan Siska.
"Huh! Dasar lo!" Ya gimana gak tegang kalau Siska terus saja mancing keperkasaannya sedari tadi.
"Hahahaha, sekarang gue tahu. Ternyata lo itu tertarik sama gue, ternyata lo suka juga, kalau gue lagi seksi gini."
"Aiishh! Mending sekarang kita pulang Sis. Pikiran lo udah kemana - mana." Zidan mencoba meraih lengan Siska, tapi Siska menghindar dengan gerakan terhuyung.
"Ehmm em, enggak! gue gak mau pulang!." Siska menolak dengan geleng - geleng seperti anak kecil.
"Gue masih mau party! gue juga masih mau cium lo lagi."
"Siska!." Zidan berusaha menarik Siska lagi. Tapi Siska malah berontak dengan gerakan sempoyongan sampai dia terjatuh dilantai.
"Emm em, gue gak mau pulang, gue masih mau cium lo, please cium gue lagi..." Kali ini Siska malah ngerengek, persis kayak anak kecil lagi minta uang.
"Sis, gue jamin, besok kalau lo inget kejadian sekarang, lo pasti bakalan malu setengah mati."
Gubrak!.
"Ck!." Kan? Siska akhirnya tumbang. Dia sudah tak sadarkan diri. Sementara Zidan cuma bisa mendecak dan menghembuskan nafasnya kasar.
Zidan menghubungi Krisna dan Firman. Yang tak lama keduanya datang dan membopong para wanitanya untuk dibawah pulang.
"Bro! gue titip Siska, ya? tolong lo bawah pulang. Langsung pulang! jangan di apa - apain!." ucap Krisna tegas, menitipkan Siska pada Zidan.
"Aiiishhh!! iya, iya!."
Mau ngapain emangnya? Siska lagi mabuk. Dan dia bukanlah tipe orang yang mencuri kesempatan dalam kesempitan. Seandainya gak mabuk pun, Zidan tetap akan berusaha menahannya.
Zidan membawa Siska pulang ke kontrakannya. Tapi sayangnya dilingkungan sekitarnya sedang ramai dan ada pengajian. Gimana jadinya kalau tiba - tiba ada dia dan Siska yang lagi pakai baju seksi datang? Apa lagi ini tengah malam. Dan Siska juga lagi mabuk. Bisa - bisa digruduk nanti mereka. Jadi opsi yang paling aman adalah membawa Siska ke apartemennya.
Zidan menidurkan Siska diatas ranjangnya. Begitu tubuh Siska menyentuh kasur, Siska langsung mengeliat dan mendusel ke guling yang ada didekatnya.
Ck! gerakan itu lagi - lagi membuat pikiran Zidan jadi traveling kemana - mana. Sumpah! Siska yang lagi mabuk bikin kepalanya jadi pening.
"Aiiishhh!!"
__ADS_1
Ini Zidan dengan kasar menarik selimut dan menutup tubuh Siska.
"Huhh!!"
Dan bahkan karna masih belum puas, Zidan menggulung tubuh itu sampai seperti pocong. Ya, semoga dengan tindakannya ini bisa mengusir bayangan Siska dari otaknya.
Paginya.
Siska merasakan kepalanya yang pening hingga rasa ingin muntah. Posisinya saat ini masih tertidur diatas kasur.
Semakin lama, rasa mual itu semakin terasa. Hingga akhirnya tak bisa ditahan.
"Hue!!" Dalam mata terpejam dan wajah mengernyit, Siska masih berusaha menahan rasa mualnya.
"Hue!"
Tak bisa menahan lagi, Siska pun kemudian bergegas bangun dan berlari ke kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti saat arah kamar mandi yang biasa digunakan tidak ada disana.
Ini rumah siapa?.
"Kenapa?" suara Zidan terdengar.
What?? ini apartemennya Zidan?.
"Hue!!"
"Lo mau muntah? itu kamar mandinya." Zidan menunjuk letak kamar mandi dengan polos. Dan Siska pun langsung berlari. Sabar, sekarang yang penting muntah dulu baru setelahnya minta penjelasan.
"Huek!!"
"Huek!!"
"Huek!!"
"Huek!!."
"Huft!." Siska sudah mengeluarkan semua muntahannya. Kemudian membersihkan mulut sekaligus mencuci mukanya. Badannya sungguh lemas, jadi setelahnya Siska bersandar di westafel kamar mandi lebih dulu.
"Ayo cepet keluar, gue udah masak, kita sarapan dulu." perintah Zidan dengan langkah menuju pantry.
Siska duduk disalah satu kursi pantry, matanya menatap tajam mengikuti gerak Zidan kemanapun dia pergi saat sibuk menyiapkan sarapan.
"Ngomong aja, gak usah ngeliat gue gitu, lama - lama bisa mati gue kalau lo terus liatin gue gitu."
"Ini, kenapa gue bisa disini? Lo, lo semalem gak aneh - aneh 'kan?"
Zidan menghentikan sejenak aktifitasnya untuk menatap Siska. "Yang aneh - aneh itu lo, bukan gue!."
"Mak, maksud lo?"
"Lo lupa? atau pura - pura lupa?"
Siska berfikir. Dia beneran lupa kejadian semalam.
__ADS_1
"Ok, lo emang lupa. Jadi, mending jangan diinget." Simpul Zidan karna memang sudah bisa dibaca lewat ekspresi Siska.
"Ish!!."
"Udah, jangan emosi masih pagi, mending sekarang lo cepet sarapan. Gue mau mandi dulu. Habis ini lo gue anter pulang."
Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. Itu tandanya Zidan lagi mandi seperti katanya tadi. Sedangkan Siska, dia lagi asik sarapan di pantry.
Sepersekian menit kemudian, Siska selesai sarapan dan Zidan selesai mandi.
Dengan santai Siska melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Tapi langkahnya langsung terhenti ketika melihat Zidan yang baru keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada dan cuma pakai celana pendek.
"Ih!! Zidan!!!" Siska memekik, tubuhnya langsung di putar membelakangi Zidan.
"Apaan sih lo, gini aja lo balik badan."" saut Zidan enteng, dan malah melewati Siska begitu saja menuju bufet TV.
"Ih, lo! kenapa lo gak pakai baju?"
"Lah terus? emang sekarang lo lagi pakai baju?"
Yap, bagi Zidan, Siska sama saja sedang telanjang. Siska masih memakai rok mini dan baju yang hanya menutupi bagian dadanya. Itu pun tak sempurna, karna belahan dada Siska masih bisa dilihat jelas.
"Ishh!! terus ini apa?." Siska memegang rok mini dan crop topnya seolah menunjukkan kalau itu jugalah baju.
"Ckckck! bagi gue sama aja lo telanjang."
"Isshhh!! pikiran lo aja itu yang kotor!."
"Ya sama, pikiran lo juga kotor. Liat gue telanjang dada langsung lo timpal!." Dimana saat ngomong ini, Zidan mengeluarkan beberapa obat dari laci bufet TV. Dan kemudian berusaha mengoles lukanya yang dijatuhi balok kayu kemarin. Seolah langsung mematahkan pemikiran Siska tentang Zidan yang lagi telanjang dada.
"Ehem." Siska salah tingkah. Ini jelas barusan dia sudah salah sangkah ke Zidan yang lagi telanjang dada.
"Sini, gue bantuin." Siska mendekat dan meraih obat dari tangan Zidan, dan langsung membantu mengoleskan obatnya dan memakaikan kasa.
"Hm, berani juga lo deket - deket gue? padahal gue lagi gak pakai baju." Zidan nyindir.
"Diem gak usah nyindir! gue tahu, kalau gue udah salah paham."
"Gitu tuh, kalau pikirannya negatif thinking terus. Ada orang gerak dikit udah curiga bawaannya."
"Ya salah lo sendiri, kan lo emang gitu, kalau deket gue maunya nyosor mulu. Otomatis gue jadi negatif thinkinglah."
"Ya habisnya, bibir lo bikin gue candu, jadi lo harus tanggungjawab dong."
"Ih, rumus dari mana tuh? yang kecanduan lo yang tanggungjawab gue?."
"Ya, rumus dari gue sendiri dong."
"Dasar lo, brengsek!."
Zidan tiba - tiba berbalik. Matanya seketika menatap sayu Siska dengan tangannya meraih pergelangan tangan Siska yang tadi sibuk mengoles luka.
Gerakan tangan Zidan itu terlihat lembut dan pelan. Hingga memicu debaran yang tiba - tiba dijantung Siska. Apa lagi tatapan sayu itu begitu lekat serta penuh perasaan. Dimana Siska baru kali ini melihatnya.
__ADS_1
"Lo mau apa? kenapa tiba - tiba natap gue gitu?." Siska jadi gugup. Tapi dia sadar, ini jelas Zidan lagi menginginkan sesuatu darinya.