Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
81. Wanita Penggoda


__ADS_3

"Mau pakai baju apa?." tanya Siska begitu melihat Zidan keluar dari dalam mandi.


"Pakai kaos ini ya?" Siska mengacungkan kaos lengan pendek pada Zidan.


"Eh, tapi diluar dingin. Pakai yang lengan panjang aja ya." ralatnya kemudian dan meletakkan kaos lengan panjangnya itu di atas kasur, tak lupa juga celana pendek serta celana dallamnya juga.


Tak ada reaksi yang diberikan Zidan pada Siska. Wajahnya masih masam meskipun sudah terlihat jauh lebih segar karna baru selesai mandi. Dan dalam diamnya, Zidan juga meraih baju yang sudah disiapkan Siska untuknya dan kemudian memakainya.


"Masih ngambek?." tanya Siska walaupun sebetulnya dari wajahnya saja sudah kelihatan kalau masih ngambek.


Zidan tak menjawab. Dan malah melempar handuknya ke kursi begitu saja.


"Beneran masih ngambek?." tanya Siska lagi. Tapi Zidan masih tak bergeming, dan malah meraih ponselnya dan mengantonginya didalam saku celana.


"Zidaaann." Siska mulai melancarkan aksinya, agar Zidan tak lagi ngambek padanya.


"Zidan, jangan ngambek." Siska mulai bergelantung manja dilengan Zidan.


"Kamu belum mandi, jangan deket - deket. Risih.!." Zidan membalas Siska persis seperti apa yang tadi diucapkan Siska padanya.


"Tapi aku mau deket - deket kamu, aku kangen sama kamu." Dan Siska juga membalas ucapan Zidan dengan cara Zidan tadi.


"Tapi aku udah gak mau deket - deket sama kamu. Sana cepet mandi, kamu bau asem." Zidan mendorong Siska agar menjauh dirinya dan melangkah keluar.


Siaka menghadang langkah kaki Zidan. Dia kemudian berdiri didepan pintu supaya Zidan gak bisa keluar.


"Beneran gak mau deket - deket sama aku?." tanya Siska dengan nada memancing.


"Ck! jangan dikira aku bakalan luluh kalau kamu rayu gini." Zidan seolah sudah memantapkan hatinya agar kali ini tak luluh dengan rayuan istrinya, yang sudah pasti kearah mana nantinya rayuannya ini.


"Masak sih? seriusan kamu gak akan luluh?." tanya Siska dengan jari yang mulai membuka kancing bajunya sendiri.


Kan benar, Siska sengaja memancing hasrat Zidan.


"Zidaan, beneran kamu gak akan luluh?."


"Iya, gak akan!"


"Beneran?." Kancing kedua mulai dibuka Siska.


"Ck! minggir sana, kamu belum mandi."


"Ini udah aku buka lo, emang gak sayang?."


Zidan mendengus kesal. Ya sayanglah. Sayang banget. Tapi untuk sekarang harus ditahan dulu. Jangan sampai terpancing dengan tingkah nakal Siska. Biarlah Siska tahu rasa gak enaknya kalau ditolak saat ingin bersentuhan.


"Kamu kira aku bakalan gampang kepancing? Aku udah apal akal - akalannya kamu ya. Kamu cuma suka mancing, habis aku kepancing kamu pasti tinggalin aku terus ketawain aku. Jadi sekarang kamu mending mandi aja soalnya aku gak nafsu sama orang yang belum mandi dan bau asem."


"Ah, masak sih, kamu gak kepancing, aku kok gak percaya sih. Aku bahkan udah nurunin harkat sama martabatku ini demi jadi wanita penggodanya kamu." Kancing baju Siska sudah terlepas semuanya. Tapi untuk saat ini Siska masih memegang erat bajunya agar tubuhnya tak tak ekspos.


"Ya kalau gitu, sekalian aja, karna kamu udah nurunin harkat sama martabat kamu, jadi tunjukin ke aku, gimana kamu kalau lagi jadi wanita penggoda akh pengen tahu."


Zidan bersendepan menanti aksi Siska yang katanya mau jadi wanita penggodanya. Sejujurnya dalam hati Zidan udah seneng gak ketulungan waktu denger ini. Tapi ingat tujuan awalnya. Jangan mau kalah harus bikin Siska menyesal.


"Em, kamu maunya aku gimana?."

__ADS_1


"Terserah kamu, kamu mau goda akunya gimana."


"Em, kamu mau aku lepasin baju?."


Zidan mencebik dan mengendikkan bahunya sebagai tanda jawaban terserahnya.


"Em, atau mau liat aku telanjang?."


Zidan kembali mencebik dan mengendikkan bahunya lagi.


"Em, mau aku pose erotis sambil telanjang?."


"Terserah."


"Em, atau aku joget aja?."


"Terserah apapun boleh." Sudah ada nada tak sabar dari Zidan.


"Oh, atau kamu mau langsung aku peluk sama cium aja gitu?."


"Ck! Kok kamu jadi banyak mikir sih?."


"Ya aku 'kan bingung mau godain kamunya gimana." jawab Siska sok polos.


"Lakuin semua yang tadi kamu omongin." kata Zidan tegas, karna memang semau yang dikatakan Siska sudah menggoda imannya sebetulnya.


"Ya jangan dong, harus pilih salah satunya."


"Ish! kamu kok malah nawar?."


"Tuh 'kan emang kamu gak niat mau godain aku, dari tadi banyak alasannya kamu." Yap, Zidan bisa membaca gerak gerik Siska. Sudah bisa dipastikan kalau tadi itu cuma omong doang.


"Hehehe, tahu aja sih kamu." jawab Siska dengan tampang tanpa dosanya. Dan kemudian menjatuhkan diri memeluk Zidan dengan erat.


"Cih! ngapain peluk - peluk?."


"Biar gak ngambek lagi kamunya."


"Aku gak butuh pelukan kamu. Kamu bau belum mandi."


"Tapi aku pengen peluk kamu. Besok deh aku godain kamu nya yang bener. Untuk hari ini intermeso dulu disimpen buat besok pas honeymoon, oke?." kata Siska sambil sedikit menengadakan kepalanya agar bisa menatap wajah Zidan.


"Jangan janji kalau nanti mau kamu langgar."


"Aku gak janji kok. Aku cuma ngomong."


"Ngomong pun harus kamu pikir biar orang yang terlanjur denger ini gak ngarep."


"Duh, cup, cup, cup, jangan manyun - manyun terus suamiku, udah mandi lo kamu, entar jelek lagi." Siska kembali memeluk Zidan erat.


Zidan tergelak melihat tingkah Siska. Sudahlah Zidan terlalu sayang dan cinta untuk menolak Siska lebih lama jadinya pun Zidan membalas pelukan erat Siska "Udah sana mandi, kamu bau asem."


"Nyuruh mandi tapi kamu meluknya makin kenceng."


"Hehehe reflek, soalnya kamu suka bikin aku kesel." Zidan akhirnya melepas pelukannya. Sebelum itu tak lupa tangannya bergerak jahil meremas salah satu dada Siska.

__ADS_1


"Zidan!."


"Biar gak sayang, kamu tadi udah capek - capek buka kancingnya kalau gak aku sentuh."


"Ih! Itu emang maunya kamu aja megang - megang."


"Maunya kamu juga. Kalau kamu gak mau, kamu gak akan genit kayak tadi sampai rela jadi wanita penggoda."


"Ish! kita baru baikan loh?, kamu jangan mancing perkara lagi sama aku." Siska mengingatkan agar tak kembali memulai perdebatan.


"Hehe, iya sorry, sorry, udah sana cepet mandi. Kalau gak aku yang mandiin kamu."


"Kan?."


"Hehe, Iya, iya enggak. Silahkan mandi tuan putri, yang bersih ya ..."


Layaknya seorang pesuruh Zidan membukakan pintu kamar mandi dan mempersilahkan Siska untuk masuk. Setelah Siska masuk, Zidan juga kembali menutupnya. Dan setelah 15 menit kemudian, Siska pun keluar dengan tubuhnya yang segar.


"Loh, kok masih disini? katanya mau ngobrol sama Ery?" Siska tanya, pasalnya Zidan masih terlihat santai tiduran diatas kasur.


"Ery masih nidurin Javina."


"Oh." jawab Siska sambil mengeluarkan beberapa skin care perawataan wajahnya dimalam hari.


"Yang."


"Hm."


"Biasanya disini, kalau lagi ngobrol itu sambil minum." Dengan sedikit hati - hati Zidan berkata.


"M, terus?."


"Aku boleh 'kan ikut minum?."


"Kalau aku bilang gak boleh emang kamu bakalan nurut?." tanya Siska yang sebetulnya cuma iseng. Baginya meskipun Zidan minum pun tak masalah.


Zidan mengangguk.


"Serius mau nurut?." Siska jadi gak nyangkah dengan jawaban Zidan.


"Iya." Zidan mengangguk mantap. "Pada dasarnya aku juga gak begitu suka minum sih kalau gak sangking pikiran lagi stres."


"Terus kalau sekarang lagi pengen minum?."


"Kalau sekarang lebih ke menghargai Ery sama Om Robet. Tapi diatas itu ada kamu yang jadi pemegang kendaliku."


Seketika Siska langsung tersenyum. Batinnya lagi tersentuh dengan ucapan Zidan yang bilang kalau dia jadi pemegang kendali.


"Jadi gimana boleh atau enggak aku minum?"


"Terserah kamu aja. Aku bebasin kamu kalau mau minum selama dalam tahap wajar."


"Oke berarti boleh ya hari ini aku minum?."


"He'em boleh. Tapi jangan sampai mabuk kalau bisa. Inget besok kita harus honeymoon, kamu harus jaga stamina kamu kalau kamu mau aku godain."

__ADS_1


"Siap, tenang aja kalau buat urusan besok, aku selalu siap." jawab Zidan dengan nada jumawanya.


__ADS_2