
Perang dingin antara Siska dan Zidan masih berlanjut bahkan saat diperjalanan pulang. Keduanya bungkam seribu bahasa dan saling membuang muka. Malas rasanya mau bicara atau bertegur sapa. Pokoknya saat itu, keduanya sedang di selimuti rasa kesal yang teramat dihati masing - masing.
40 menit perjalanan, akhirnya mobil Zidan sampai di kontrakan milik Siska. Dan baru saja Zidan menghentikan mobilnya, Siska dengan kasar langsung melepas seatbelnya dan keluar dari mobil.
BRAK!!!
Lagi, Siska membanting pintu mobilnya kasar diiringi muka masam yang sejak tadi sudah menghiasi wajahnya.
"Aiiishhh!!!." Zidan mengumpat.
Hentakan kaki Siska yang terdengar kasar masuk ditelinga bu Irna yang sedari tadi sudah menunggu kepulangan keduanya. Awalnya Bu Irna tersenyum sumringah menyambut kedatangan keduanya. Tapi setelah melihat peragaian Siska yang tampak tak sabar, ukiran senyum itu langsung berganti dengan tatapan heran.
"Loh, kamu kenapa Sis?." Bu Irna menegur Siska, Tapi Siska tak bergeming dan tetap berjalan menuju arah kamar.
"Sis, ada apa? kok mukamu gitu?." Bu Irna tanya lagi. Karna dasarnya Siska sudah tak sabar, jadinya dia pun berbalik.
"Mam, aku mau batalin pernikahan, aku udah gak mau nikah sama dia!." Yap, kata itu meluncur dengan khidmat dari mulut Siska dibarengi pincingan mata tajam ke arah Zidan yang mengikutinya dari belakang.
"Loh??." Bu Irna pastinya kaget denger Siska bilang gitu.
"Sis.!!" Begitu juga dengan Zidan.
"Maksud dibatalin gimana? jangan mengada - ngada kamu!." Bu Irna menimpal.
"Pokoknya yang jelas aku udan gak mau nikah sama dia! terserah mama setuju atau enggak. Yang pasti keputusanku udah bulat!."
BRAKK!! setelah berkata seperti itu, Siska memutuskan untuk mengurung dirinya dalam kamar.
"Sis!!." Dengan muka speechleesnya Zidan berusaha mengejar Siska, tapi apa daya Siska keburu menutup pintu kamarnya. "Huft!."
"Zidan, ini sebenarnya ada masalah apa? kok tiba - tiba datang terus marah - marah gitu? kalian berantem?." Bu Irna mengintrogasi.
"Huft!. Tadi ada sedikit salah paham ma, terus saya sama Siska jadi sedikit cekcok."
"Salah paham gimana? bukannya kalian baru ketemu?."
"Iya, ya gitu ma, saya jadi bingung jelasinnya." Entahlah, pikiran Zidan tiba - tiba jadi ngeblank bingung mau cerita dari pada pada ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Ya udah, namanya cekcok atau salahpaham dalam hubungan itu bisa saja terjadi. Mama paham. Mama gak mau ikut campur sama masalah kalian. Tapi mama minta, tolong cepet selesaikan kesalahpahaman diantara kalian. 3 hari lagi, kalian sudah mau menikah, jadi jangan sampai masalahnya berlarut - larut. Nanti malah gak baik."
"Iya ma. Pasti, kalau gitu saya bujuk Siska dulu ya ma."
"Iya, coba kamu rayu."
Ya apa yang dikatakan Bu irna itu benar adanya, mereka sebentar lagi akan menikah. Jadi gak etis aja kalau sebelum menikah malah berantem. Jadinya pun Zidah berusaha menurunkan egonya untuk meminta maaf pada Siska agar wanitanya itu tak marah lagi padanya.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Sis, gue minta maaf, gue nyesel udah marah - marah gak jelas ke lo. Gue juga udah nuduh lo yang enggak - enggak. Maafin gue ya Sis..."Zidan mulai bicara dari balik pintu kamar Siska.
"Siska, sayang. Please maafin gue, gue beneran khilaf, tadi gue terlalu cemburu sama lo, jadinya mulut gue kalau ngomong gak kekontrol. Lo mau 'kan maafin gue?."
"Siska, please keluar Sis."
Sia - sia. Tak ada sautan dari Siska dari dalam. Jadinya Zidan pun meraih gagang pintu kamar Siska. Dan beruntungnya, ternyata Siska tak mengunci pintu kamarnya, jadi Zidan pun bisa melenggang masuk kedalam dengan muda.
"Yang." Zidan duduk dipinggir ranjang disamping Siska yang tengah berbaring. Tangannya bahkan menyurai rambut Siska yang menutupi wajah, walaupun gerakan itu langsung ditepis begitu saja oleh Siska.
"Maaf."
"Maaf yang banyak, udah salah paham sama kamu. Kamu mau 'kan maafin aku?." Lagi, Zidan menyurai rambut Siska dan Siska lagi - lagi langsung menepisnya. Bahkan tubuhnya yang tadinya berbaring kearah Zidan kini membelakanginya.
"Aku akui aku salah. Aku udah nuduh kamu ketemuan sama Desta. Aku ngaku khilaf, aku tadi terlalu cemburu jadi sampai mulutku ini gak bisa ke kontrol. Jadi please, maafin aku, ya ..."
"Yang, kamu mau 'kan maafin aku?."
Zidan mencoba membalik tubuh Siska.
"Isshh!! apaan sih lo! ganggu aja! keluar lo! gue gak kenal sama lo!." Ini adalah balasan Siska atas percobaan Zidan yang tadi berusaha membalik tubuhnya agar bisa saling berhadapan.
"Aku harus gimana biar kamu maafin aku?."
"Sis, please, jangan marah lagi. Sebentar lagi kita mau nikah. Jadi ayo kita baikan, ya ..."
"Yang, lebih baik kamu pukul aku, atau kamu hajar aku aja dari pada kamu diemin aku kayak gini."
__ADS_1
Untuk kedua kalinya Zidan mencoba membalik tubuh Siska yang membelakanginya.
"Iih!! lo ini gak sopan banget sih! kalau gue suruh keluar ya keluar. Lo gak paham bahasa manusia?." Kali ini Siska jadi bangun dan menatap Zidan tajam.
"Please Sis, maafin aku. Aku ngaku salah, aku udah nuduh kamu yang enggak - enggak. Aku khilaf, aku janji gak akan kayak gini lagi, sumpah ... tadi itu reflek karna aku terlalu cemburu sama kamu. Dan aku juga takut kehilangan kamu."
"Gue gak peduli! Keputusan gue udah bulat, pokoknya gue gak mau nikah sama lo!."
"Sis, ayo pukul aku aja, ayo. Jangan marah kayak gini. Aku lebih baik kamu pukul dari pada kamu harus marah ke aku kayak gini! ayo pukul. Pukul! pukul!." Dengan gerakan frustasi karna tak segera dimaafkan Siska. Zidan menganyun - ngayunkan tangan Siska untuk memukul wajah dan kepalanya.
"Zidan!!! berhenti!!."
"Berhenti Zidan!."
"Zidan!."
Zidan masih tetap menganyunkan tangannya frustasi.
"IISHH! GUE BILANG BERHENTI!!."
Sekuat tenaga Siska melepaskan cengkraman tangan Zidan hingga rasanya sampai terpental.
"LO!." Siska menatap muak akan tindakan Zidan. Benar - benar muak.
"Lo bahkan gak bisa percaya sedikit aja sama gue tadi. Dan sekarang lo minta gue maafin lo dengan muda? Lo, lo seharusnya sadar diri kalau pernikahan kita terjadi cuma karna lo jebak gue. Jadi lo gak ada hak buat ngatur - ngatur gue. Sekarang, gue beneran muak sama lo! lo sama aja dari dulu, lo gak pernah berubah!." Setelahnya Siska langsung menenggelamkan seluruh tubuhnya didalam selimut. Rasanya kali ini Siska sudah benar - benar kecewa dengan Zidan.
Kali ini Zidan tak berani membantah lagi karna takut Siska lebih marah lagi. Zidan memilih diam dan setia menatap Siska yang berada dalam selimut. Bagaimana caranya biar Siska gak marah lagi?.
Tapi kemudian Zidan mendekatkan tubuhnya untuk merangkul tubuh Siska begitu saja.
"Maaf."
"Aku ada didepan, nanti kalau kamu butuh aku. Kamu bisa panggil aku." Bisik Zidan ditelinga Siska dan sekali lagi dia mencium kepala Siska sebelum benar - benar keluar dari kamar Siska.
****
happy eid mubarak
__ADS_1
Minal 'Aidin wal-Faizi
mohon maaf lahir dan batin...