Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
89. Badai Rumah Tangga


__ADS_3

BRAKKK!!!.


Suara pintu kamar apartemen dibanting dengan kasar oleh Zidan setibanya mereka disana.


Siska tampak tak bergeming menatap pintu kamar yang dibanting tadi. Perasaannya sedang kacau. Dengan pandangan sedikit menerawang.


Sejak tadi, sejak kepulangan mereka dari Australia yang mendadak. Keduanya masih bungkam dan belum berdebat sama sekali. Dan ini yang membuat Siska jadi begitu takut. Siska merasa bahwa dirinya sudah sangat mengecewakan suaminya itu.


Tapi entah kenapa, hanya untuk sekedar mengucap kata maaf atau pun menjelaskan alasannya saja. Mulut Siska seolah tercekat.


Suara pintu kamar kembali di buka. Dan Zidan keluar dari dalam kamarnya. Tangannya terlihat menenteng jaket, melewati Siska begitu saja menuju pintu apartemen.


Siska menatap punggung Zidan dengan pandangan ragu. Ingin rasanya menghentikan Zidan yang hendak pergi meninggalkannya begitu saja, tapi entah kenapa dirinya tak sanggup dan hanya bisa pasrah.


BRAKKK!!!.


Lagi, pintu apartemennya dibanting oleh Zidan, meskipun tak sekasar bantingan yang awal.


Dan setelahnya, Siska langsung jatuh terduduk di sofa. Merasa menyesal karna sudah membuat Zidan murka dan kecewa padanya.


Sehari, dua hari, tiga hari. Zidan tak ada kabar. Entah kemana perginya suaminya itu yang jelas sampai sekarang suaminya itu belum mau pulang juga.


Dicari dirumah mertuanya, tapi Zidan tak pulang kesana. Tanya Krisna maupun Firman ternyata hasilnya juga nihil. Hingga akhirnya Siska pun tahu keberadaan suaminya itu kalau ternyata selama ini dia tidur di kantornya.


Seminggu kemudian. Bel apartemennya berbunyi. Dan dari interkom pun terlihat wajah Egi muncul.


"Mbak Sis." Egi menyapa Siska begitu pintu apartemennya terbuka. Wajahnya terlihat meringis menahan beban tubuh Zidan yang dalam keadaan tak sadar itu.


"Loh, dia kenapa Gi?." tanya Siska yang sedang terpengarah melihat keadaan Zidan. Dari baunya saja sudah bisa dipastikan kalau suaminya itu sedang mabuk.


"Haduh kacau mbak, tiap hari teler mulu dia." keluh Egi.


"Hah?." Siska masih tergelak karna mendapati fakta kalau Zidan mabuk setiap hari.


"Ini mau dibawah kemana mbak? berat dia ini mbak."


"Oh iya, langsung ke kamar aja Gi." seru Siska membantu Egi membopong Zidan menuju kamar dan menidurkan suaminya itu di atas ranjang.


"Haduh, akhirnya." Dengan rasa leganya Egi mencoba melemaskan badannya selepas membopong Zidan tadi.


"Makasih ya Gi, udah mau nganterin dia pulang. Maaf juga ngerepotin kamu." kata Siska setelah membetulkan posisi tubuh Zidan dan menyelimutinya juga.

__ADS_1


"Iya mbak sama - sama. Santai aja cuma ke aku juga."


"Eh, ayo keluar, aku buatin teh dulu."


"Oh gak usah mbak, aku langsung balik aja. Gak usah repot - repot."


"Tapi kamu gak capek tadi habis bopong dia. Santai aja dulu, aku bikinnya cuma bentar kok."


"Gak usah mbak beneran gak apa - apa. Soalnya ini juga udah malem takut istriku nanti malah nyariin kalau aku gak cepet pulang."


"Oh, ya udah kalau gitu. Sekali lagi makasih ya Gi."


"Iya mbak, sama - sama. Aku pamit dulu ya mbak. Terus mbak kalau bisa, sorry ya bukannya aku mau ikut campur. Kalau bisa kalau lagi berantem jangan lama - lama mbak, cepet selesaiin. Mas Zidan udah meresahkan soalnya mbak, kerja gak konsen, bikin beberapa proyek jadi kacau, bawaannya ngamuk mulu. Terus tiap malem teler terus." Ungkap Egi sebelum pergi sambil sedikit mengeluh juga.


"Iya Gi, maaf." jawab Siska seolah sedang mati kutu.


"Jangan minta maaf ke aku mbak, yang penting cepet baikan aja sama mas zidan udah cukup."


"Iya Gi,"


"Ya udah mbak aku pamit dulu ya, semangat mbak."


Esoknya.


Sayup - sayup Zidan mulai membuka matanya. Kepalanya terasa pening dan perutnya juga terasa mual. Dan badannya terasa remuk.


Zidan menghela nafasnya berat. Dia mendapati dirinya yang terbangun didalam kamar apartemennya.


Untuk sejenak, karna rasa tak nyaman itu, Zidan pun memutuskan untuk duduk dipinggir ranjang lebih dulu.


"Kamu udah bangun?." Suara Siska yang baru saja masuk kedalam kamar seolah memancing emosi Zidan lagi. Wajahnya yang pucat pun langsung berubah dingin dan langsung berpaling kesisi lain karna tak ingin bertatapan dengan Siska.


"Aku udah bikin bubur buat kamu. Mau aku bawain kesini atau kamu mau makan di meja makan?." tanya Siska lagi, yang berusaha untuk bersikap biasa saja. Tapi rupanya hal itu malah membuat Zidan jadi muak.


Zidan tersenyum sinis. Dia kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar dengan gerakan sedikit sempoyongan.


"Kamu mau kemana?." Siska berusaha menghentikan Zidan dengan cara mencekal lengan Zidan.


"Bukan urusanmu!." Dengan kasar Zidan menghempaskan cekalan tangan Siska.


"Zidan. Wajah kamu pucat, kamu habis mabuk jadi kamu harus makan kalau enggak kamu nanti sakit." Dengan nada khawatirnya Siska ngomong.

__ADS_1


"AKU BILANG BUKAN URUSANMU!."


"ZIDAN!." Tapi Siska tak mau kalah, dia juga ikut menaikkan nada bicaranya.


Zidan menghembuskan nafas kasarnya. Jantungnya sedang berpacu kencang akibat berusaha menahan emosinya.


"Kamu harus makan dulu. Tolong, biar kamu gak sakit."


"AISHHH!!! SHI*!!!." umpat Zidan kemudian. "Peduli apa kamu sama aku? entah aku sakit atau entah aku sekarat, aku rasa semua itu bukan urusanmu!."


"Kamu itu suamiku, jadi kalau kamu sakit semua itu jadi urusanku. Dan sekarang aku gak pengen kamu sakit."


Zidan tersenyum sinis. "Suami? suami kata kamu? sejak kapan kamu nganggep aku suami kamu? bukannya kamu gak pernah nganggep aku sebagai suami kamu selama ini?."


"Kata siapa aku gak nganggep kamu suamiku? Aku selalu nganggep kamu suamiku. Kamu jangan salah paham."


"Bullshit! itu cuma dimulutmu aja tapi dihatimu enggak! buktinya kamu tega ngancurin harapanku gitu aja dengan minum pil sialan itu!."


"Maaf, aku minta maaf karna udah minum pil kb itu. Tapi aku minum pil kb itu bukannya tanpa alasan. Aku punya alasan."


"Kalau gitu apa alasan kamu minum pil kb itu?."


"Aku belum yakin." Siska pun tertunduk saat menjawab.


Zidan tergelak, senyuman getir kembali menghiasi wajahnya. "Belum yakin ..." Ada rasa kosong tersendiri saat mengucapkan kalimat ini.


"Maaf." Dan sekarang Siska meminta maaf.


Zidan kembali tergelak dengan senyum getirnya lagi.


"Maaf karna aku masih belum bisa yakin. Aku gak tahu kenapa aku bisa punya perasaan kayak gini. Aku, aku takut sama diriku sendiri. Aku takut sama kamu. Aku takut sama pernikahan kita. Pernikahan kita ini terlalu mendadak. Dan kamu juga selalu bilang sayang ke aku. Padahal harusnya gak gitu. Kita ini baru ketemu lagi beberapa waktu kemarin. Jadi semuanya ini masih gak masuk akal buat aku. Kamu gak mungkin semuda itu sayang sama aku lagi. Aku rasa kamu salah menafsirkan perasaan kamu ke aku. Kamu cuma penasaran sama aku. Karna diotak kamu setiap bareng sama aku isinya cuma tentang seex dan seex, gak ada yang lain." Akhirnya Siska pun mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Dan air mata yang sudah tertahan selama seminggu ini juga ikut jatuh juga.


Zidan mengusap kasar wajahnya. Rasa kecewanya semakin bertambah setelah mendengar pengakuan Siska tadi. "Jadi selama ini itu yang kamu pikirin? Jadi selama ini kamu masih ngeraguin perasaanku sama kamu? padahal aku udah berusaha nunjukin semua parasaanku buat kamu? Dan kamu masih aja ragu?."


Siska menunduk, hanya menangis tak mau menjawab pertanyaan Zidan. Karna kini dirinya sedang diliputi rasa bimbang dalam hatinya. Disatu sisi Siska yakin kalau Zidan tulus padanya tapi disisi lain egonya masih begitu tinggi.


Zidan kemudian beranjak dadi tempatnya. Dia kemudian masuk dalam walk in closet dan menyeret sebuah koper dan meletakkan koper tersebut dihadapan Siska sedikit kasar.


Siska menatap koper tersebut. Tak perlu dijelaskan lagi apa isi didalam koper tersebut karna Siska sudah pernah membukanya.


"Kamu lihat koper ini. Setelah kamu tahu isinya, aku harap kamu tahu gimana sebetulnya perasaanku sama kamu. Tapi kalau kamu masih belum yakin, terserah kamu. Mungkin memang pernikahan ini gak seharusnya terjadi." Dan Zidan pun kemudian pergi lagi dari apartemen meninggalkan Siska yang masih menerawang menatap koper dihadapannya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2