Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
100. Saling jujur


__ADS_3

Zidan dan Siska saling menatap penuh cinta satu sama lain. Ciuman tadi baru saja berakhir di atas ranjang. Rasanya permainan panas mereka tadi sungguh berbeda dari biasanya. Mungkin karna efek kangen dan juga karna keduanya sudah saling terbuka akan perasaan satu sama lain. Jadi kenikmatan yang dihasilkan pun bisa berpuluh - puluh kali lipat.


"I love you."


Ditambah ungkapan cinta ini juga mengisi kegiatan mereka tadi. Sungguh hari yang samgat indah setelah kemarau yang panjang kemarin.


"Zidan."


"Hm."


"Mau ke dokter?."


"Buat?."


"Periksa, terus kita program hamil."


Zidan tergelak, matanya semakin menatap lekat mata Siska karna sedikit tak menduga dengan apa yang dikatakan Siska yang malah ingin ikut program hamil.


"Soalnya aku takut, aku bisa lama hamilnya gara - gara kemarin minum pil laknat itu." Ada raut merasa bersalah lagi diwajah Siska saat mengatakan ini.


Zidan mengumbar senyum hangatnya. Tangannya kemudian bergerak untuk mengusap lembut rambut Siska dengan sayang.


"Gak apa - apa meskipun kamu gak cepet hamil. Jadi gak usah buru - buru."


"Tapi 'kan kamu udah pengen kita punya anak, mama sama papa juga udah ngarep banget bisa cepet punya cucu. Jadi kalau sampai ketunda lagi, aku jadi tambah ngerasa bersalah."


"Gak apa - apa sayang, calm down. Gak usah dipikir, oke?." Zidan mencoba menenangkan.


"Tapi 'kan kalau lama nanti gimana?."


"Sssttt, biar masalah keturunan apa kata yang diatas. Lama atau cepet bagiku sekarang sama aja. Sekarang yang penting prioritas kita itu kita bisa bahagia berdua saling terbuka dan gak kayak kemarin. Jadi, intinya yang penting kita usaha dan sekali lagi kita buat hasilnya kita pasrahkan semuanya sama Tuhan, oke?."


"Maaf..." Sekali lagi hanya kata maaf yang bisa Siska ucapkan untuk suaminya itu.


"Udah jangan bilang maaf terus. Aku kesel dengernya kalau kamu minta maaf terus."


"Tapi aku ngerasa ucapan maafku masih aja belum bisa ngapus dosa aku ke kamu."


"Kamu gak perlu merasa berdosa sama aku sayang. Kemarin itu, yang salah bukan cuma kamu aja. Aku sendiri juga salah. Kemarin, aku sempat gelap mata. Kemarin aku lebih ngutamain perasaanku dari pada perasaan kamu. Aku pikir kemarin dengan aku udah sayang sama cinta sama kamu itu udah cukup buat modal aku bisa bahagiain kamu. Tapi nyatanya, semua itu salah, aku malah bikin kamu tertekan dan gak yakin sama aku." Dan hal yang sama juga dirasakan Zidan. Dirinya seakan merasa ikut berdosa pada istrinya itu. "Maaf, maafin aku juga karna terlalu mementingkan perasaanku ketimbang perasaan kamu. Maaf juga karna aku udah ingkar janji mau bikin kamu bahagia tapi nyatanya malah bikin kamu merasa tertekan sama pernikahan ini. Tapi meskipun gitu, aku harap kamu masih mau terima aku dan gak minta cerai." lanjut Zidan, memohon hal yang paling dia takutkan tak pernah terjadi untuk kedua kalinya.


Siska mengangguk. Matanya tampak berkaca - kaca karna ucapan maaf dari Zidan. Hatinya serasa dihuni desiran hangat yang menyeruak keseluruh jiwanya. Rasa sayang dan cintanya untuk suaminya itu sepertinya lebih dari apa yang dia kira.

__ADS_1


Zidan dan Siska kemudian berpelukan. Demi bisa melepas perasaan bersalah satu sama lain. Setelah ini pastinya kehidupan keduanya akan jauh lebih indah lagi dari pada kemarin. Akan mereka jadikan pelajaran berharga masalah ini.


"Oh iya ada lagi yang pengen aku tanyain ke kamu." tanya Siska mengurai pelukannya dan menatap Zidan.


"M, apa?."


"Kamu kok bisa sih masih nyimpen barang - barang kita pas pacaran dulu? emang kamu gak bisa move on ya dari aku? secinta itu ya kamu sama kamu?." todong Siska aling - aling.


Zidan tertawa renyah dapat pertanyaan ini dari Siska. Gak perlu juga sepertinya dia menampik perasaannya pada Siska. Biar sekalian Siska tahu. "Iya, emang, baru tahu 'kan kamu kalau sayang aku ke kamu gak pernah ilang."


Siska tersenyum lebar. Malu rasanya dapat pengakuan sayang dari suaminya ini. Wajahnya langsung merona merah. "Tapi kok bisa sih gak bisa move on dari aku?."


"Ya karna sespesial itu kamu buat aku, sayang." Sekali lagi Zidan membuat hati Siska jadi melambu g tinggi.


"Eh, tunggu. Tapi kamu kemarin sempet menikah sama wanita lain loh? itu gimana hayo?" Siska tiba - tiba ingat si Mega.


Zidan jadi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Seketika dia bingung sendiri mau jawab gimana.


"Em, mungkin dulu perasaanku ke Mega cuma perasaan kagum? Karna dia baik? karna dia ngerawat nenek?." Zidan jadi bertanya - tanya juga.


"Dan kamu bisa nikah dengan perasaan kamu yang kayak gitu?." Siska mengernyit.


"Ah, udah yang, jangan ngomongin masalalu. Puyeng kepalaku. Lebih baik sekarang kita happy - happy aja, lakuin yang harus kita dilakuin."


Zidan menyibak kasar selimut yang sedari tadi menutup tubuh polos keduanya. Dia kemudian merangkak menindih Siska lalu mengedipkan satu matanya.


"Ish!." Siska jelas tahu apa yang Zidan mau.


"Are you ready?."


"Ready apa?." Siska pura - pura tanya.


"Ready aku anuin lagilah sayang."


"Cih! Ready!." Jawab Siska dengan semangat.


Dan akhirnya bergulatan kembali terjadi.


1 bulan kemudian.


"Dari mana lo?." Si Raya tanya.

__ADS_1


Saat itu, Siska, Raya dan Feby sedang ada di sebuah cafe. Lagi nongki cantik di sore hari selepas pulang kerja.


Tanpa menjawab Siska menetakkan sebuah tes kehamilan di meja.


"Wes, udah bunting lo Sis?." Feby tanya.


"Belum. Cuma mau gue cek aja. Moga - moga bisa cepet isi juga, biar dia punya sahabat juga." Dengan nada riang dan mengelus perut Feby Siska jawab.


"Cih! ngarep juga lo akhirnya punya anak?." Raya menimpal.


"Ya iyalah Raya sayang. Kalau bisa yang banyak." celetuk Siska sambil terkikik, membuat kedua sahabatnya jadi geli yang ngeliat.


"Aish!."


"Tapi Ray, lo sendiri gimana? si Krisna masih gak mau punya anak?." tanya Feby yang langsung dapat gelengan kepala dan helaian nafas panjang. Dan Siska menepuk pundak Raya.


Ketiganya kemudian secara bersama - sama meneguk minuman masing - masing.


"Tapi nanti gue mau coba ngomong ke Krisna kalau gue pengen punya anak juga." kata Raya tiba - tiba.


"Gue doain lo cepet isi juga. Jadi gue makin bisa manas - manasin Krisnanya." kata Raya lagi kali ini pada Siska.


"Dan gue doain semoga Krisna bisa luluh. Entar kalau dia gak luluh biar tiap ketemu gue panas - panasin juga."


"He'em gue bantuin juga, biar anak kita bisa sahabatan juga, pasti seru 'kan kalau mereka lairnya gak jauh - jauh terus nanti bisa sahabatan kayak kita." Membayangkan saja Feby sudah terlampau seneng.


"He'e pasti bakalan seru tuh." Siska jadi ikutan semangat.


"Iya kali kalau yang keluar jenis kelaminnya samaan. Kalau anak gue cewek terus anak lo pada cowok gimana mau sahabatan." Dan si Raya malah mematahkan semangat 2 orang dihadapannya.


"Aish! Ya emang kenapa cewek, cowok sama aja, masih tetep bisa temenan, sahabatan." jawab Siska sewot.


"Mana ada juga pertemenan dan persahabatan antara laki - laki sama perempuan. Yang ada mah jadinya nanti pasti ada yang punya rasa." tampik Raya.


"Ya biarin, kawinin aja sekalian!." Siska jawab.


"Ih, enggak! ogah gue besanan sama lo!." timpal Raya.


"Ish! terus emang gue mau besanan sama lo? gue ogah juga, level jodoh anak gue levelnya anak konglomerat ya." Siska jadi kesal.


"Astaga, kenapa kalian malah bahas - bahas perjodohan anak sih? pada bunting juga belum." Feby ngikut berkomentar, sekaligus menyadarkan pada kenyataan hidup keduanya.

__ADS_1


__ADS_2