
Sorenya, Zidan dan Siska berpamitan pada keluarga Om Robet. Mereka kemudian menuju bandara dengan diantar supir Om Robet. Dan sekitar 1 jam 30 menit perjalanan naik pesawat, akhirnya Siska dan Zidan pun sampai di Sydney.
"Wooowww ... welcome to Sydney."
Dengan hati riang gembira Siska menyabek gorden hotel yang ditempatinya.
Sebuah pemandangan pantai berpasir putih bersih langsung tersaji dihadapannya.
Desiran suara ombak juga tampak langsung menyapanya dengan cahaya matahari yang kurang setengah jam lagi mau tenggelam itu.
"Ayo kita kesana, bentar lagi sunset." Siska mendekati Zidan sambil ngerengek. Padahal suaminya itu lagi sibuk membereskan barang - barangnya yang baru diantar pegawai hotel.
"Kamu gak capek, kita baru aja nyampek lo sayang."
"Enggak, aku gak capek. Ayo cepetan, keburu sunsetnya ilang."
"Sunsetnya itu masih lama ilangnya. Mending kita istirahat dulu tiduran dulu, sini." Zidan mendorong tubuh Siska dan menghempaskannya diatas kasur sambil memeluknya dan mulai memposisikan wajahnya diceruk leher Siska.
"Ih kamu ini, jarang - jarang kita bisa liat sunset di Australia tahu. Ayo dong ah, masak mau rebahan sih?." pintah Siska dengan mulut manyunnya.
"Tapi aku capek, aku masih pengen tiduran. Kamu tahu 'kan aku semalam gak tidur gara - gara ngobrol sama Om Robet sama Ery."
"Tapi kamu udah tidur seharian tadi, masak masih kurang?." tanya Siska, yang bener saja kalau Zidan beneran masih ngantuk.
"Ya namanya ngantuk masak bisa dipaksa. Lagian ini malah romantis lo Sis, kita bisa rebahan di kasur sambil pelukan, sambil mesrah - mesrahan ditemanin sunset." Dari ucapan dan nadanya saja sudah pasti arah ucapan Zidan kemana.
"Ish! kalau urusan begitu aja ilang capeknya. Kalau buat nemenin aku kepantai liat sunset kamu susah banget!." Dengan pandangan nyalang Siska ngomong, bahkan tubuhnya juga langsung terduduk merasa kesal karna Zidan gak mau menuruti keinginannya.
"Ya udah ayo, kita ke pantai liat sunset." Denagn terpaksa, Zidan langsung ngalah, ya dari pada ngeliat macan ngamuk.
"Gitu dong, gak pakai drama - dramaan tolak - tolakan, enggak - enggakan. Pokoknya selama haneymoon ini kamu harus nurut aku. Kalau enggak, gak ada jatah geprek - geprekan." Masih sambil manyun dan melirik tajam Siska ngomong, memberi ancaman hal yang paling Zidan takutkan.
"Waduh, ya jangan dong sayang. Iya deh iya tuan putri. Oke, siap selama honeymoon mulai sekarang aku siap jadi pesuruh kamu, aku turutin semua keinginan kamu. Pokoknya kamu bahagia, tapi kalau bisa geprek - geprekannya yang dobel - dobel banyak ya?." Zidan ngarep dengan tingkah manja seperti kucing yang lagi ngusuk - ngusuk wajahnya di lengan Siska.
Siska tertawa kecil, liat Zidan yang manja rasa kesalnya tiba - tiba jadi hilang diganti rasa geli. "Ngarep banget ya bapak bisa dapat jatah dobel?."
"Iya, banget. 'Kan lagi honeymoon tuan putri. Kalau gak dobel nanti rugi kitanya. Ini hotelnya mahal, kasurnya juga empuk banget, pasti rasanya bakalan beda."
__ADS_1
"Ya, pokoknya itu tergantung sama bapak memperlakukan aku kayak apa."
"Sudah pasti akan aku perlakukan kayak tuan putri dong. Maka dari itu, mari tuan putri, kakanda gandeng tangannya untuk menuju pantai liat sunset." Bak seorang pangeran yang hendak mengajak putri mahkotanya Zidan bersikap. Bahkan sampai berlutut juga demi mendalami peran.
"Ih, geli aku kakanda kalau kamu kayak gini." Siska pun terkikik tak tahan melihat sikap konyol Zidan yang gak tahu belajar dari mana cara seperti ini. Soalnya ini pertama kalinya dia rada - rada begini. "Tapi ya udah yok, ayo. Awas jangan sampai lepas gandengannya. Disana banyak orang nanti aku dibawah lari lagi sama pangeran lain."
"Tenang saja tuan putri, tak akan kubiarkan orang lain mengambil dirimu dariku." Dan kemudian Zidan ikut terkikik, merasa geli pada dirinya sendiri karna merasa lebay juga.
Sambil bergandengan tangan Zidan dan Siska berlari kebibir pantai. Keduanya menikmati sunset dengan cara bermain air pantai. Mengejar air laut saat surut dan segera berlari menghindar saat ombak datang agar tak terkena air.
Beberapa foto dan video juga sengaja direkam keduanya. Berbagai macam pose dilakukan juga. Bergandengan, berpelukan, ciuman juga. Dan juga ada juga yang terlihat seperti sedang berantem atau berebut gara - gara rebutan pasir.
"Gimana seneng gak tuan putri?." tanya Zidan diselah aktifitas mereka membuat istana dari pasir.
"Belum."
"Belum?." Zidan jadi heran kenapa jawabannya belum.
"Iya belum. Soalnya suamiku ini gak peka ternyata." Jawab Siska dengan nada mengeluh ditengah aktifitasnya membuat istana juga.
"Gak peka?." Zidan makin heran.
Zidan sontak langsung mengarahkan pandangannya pada si penjual gulali.
"Bilang dong tuan putri, jangan pakai kode - kode. Aku 'kan bukan agen CIA yang langsung paham sama kode - kode rahasia."
"Ya katanya tadi mau bahagiain aku, jadi aku kira cuma di kode aja kamu bisa langsung ngerti. Ternyata enggak. Kamu lola sama gak niat bahagiainnya ternyata." Lagi - lagi Siska ngomongnya sambil manyun.
"Ya ampun tuan putriku yang cantik, jangan berprasangka buruk dong sama kakanda. Padahal ini udah dibuatin istana lo sesuai keinginan tuan putri. Masak perkara gulali terus disangkah gak niat? ya udah sebentar aku beli dulu gulalinya. Tuan putri jangan ngambek lagi."
Demi menuruti sang istri yang lagi ngambek - ngambekan Zidan pun beranjak membelikan Siska gulali tersebut.
"Ini gulalinya." Zidan memberikan 1 gulali besar dari tangannya dan Siska pun menerima dengan senang hati.
"Terima kasih kakanda. Terus sekarang duduk sini. Aku mau makan gulali sambil nyender di bahu kakanda." kata Siska menepuk pasir disampingnya tapi bukannya nurut untuk duduk disampingnya, Zidan memilih duduk dibelakang Siska supaya Siska lebih bisa bersandar didada bidangnya. Dan lebih romantis lagi juga maksudnya. Pumpung pas sunset juga.
"Enak?." tanya Zidan.
__ADS_1
"Kamu mau?."
"Mau, tapi dari ini."
Dari mulut Siska maksudnya. Yang langsung di eksekusi dengan luma*ttan bibir Siska sedikit lama bahkan. Sampai bibir keduanya serasa kebas.
"Kakanda ini modus juga ya ternyata." kata Siska setelah luma*ttan yang panjang itu terjadi.
"Soalnya lebih enak yang itu dari pada gulalinya." Dengan tampang polos Zidan jawab.
"Untung aja lagi diluar negeri. Coba aja di Indonesia udah masuk lambe turah kali ya kita karna ada yang ngerekam udah berbuat mesum ditempat umum." kata Siska sambil terkekeh.
"Mangkannya itu pumpung diluar negeri, kita puas - puasin berbuat mesum ditempat umum. Nanti kalau udah di Indonesia udah gak bisa lagi."
Dan sekali lagi Zidan melayangkan ciuman panjangnya lagi. Dan setelah ciuman itu dilepas keduanya sama - sama saling tersenyum, tersipu bahagia. Merasa sukses berbuat mesum ditempat umum.
"Seneng ya tuan putri, aku cium ditempat umum?." tanya Zidan yang padahal dari wajahnya saja sudah bisa tahu.
"Iya, ternyata bayanganku kemarin jadi kenyataan sekarang."
"Bayangan apa?."
"Bayangan bisa liat sunset dipinggir pantai, duduk berdua sama kamu nyender ke kamu terus ciuman romantis." kata Siska dengan jujur dengan ekspresi malu - malu tapi sambil terkekeh juga.
"Kamu bayangin kejadian ini?." Zidan gak nyangkah.
"Iya." Siska masih terkekeh.
"Berarti kalau gitu, hari ini aku beneran bikin kamu bahagia dong?."
"He'e, aku bahagia banget. Selamat kamu berhasil dapat jatah geprek - geprek dobel."
Denger kata geprek - geprek apa lagi dobel, jelas Zidan bahagia gak ketulungan dong. Bahkan sekarang dia langsung ngakak sangking bahagianya. "Hahaha, berarti kalau gitu ayo kita balik ke hotel."
"Eh, jangan dulu, sunsetnya belum sepenuhnya tenggelam. Sabar dulu dong bapak jangan buru - buru."
Tapi sayangnya Zidan sudah gak sabar. Jadinya tanpa aba - aba dia pun langsung menggendong Siska gitu aja.
__ADS_1
"Aaahhh, Zidan!." Siska memekik karna tiba - tiba digendong ala bride style. Tangannya juga secara otomatis mengalung ke leher Zidan karna takut jatuh.
"Masih ada besok pagi, sunrise. Sekarang kita harus cepet balik ke hotel."