
Acara prosesi pernikahan dimulai.
Feby tersenyum bahagia menatap Firman yang sudah menunggunya di altar. Begitu juga dengan Firman yang ada disana. Dia juga tak melepaskan pandangannya pada sosok Feby yang terlihat begitu cantik hari ini.
Dengan digandeng sang papa, Feby mulai menghampiri Firman dengan tepuk tangan riuh dari para tamu yang hadir.
Firman menyambut tangan Feby dari sang mertua, dan kemudian menggiring Feby untuk menghadap pada pendeta.
Ditengah prosesi pernikahan yang sedang khidmat. Zidan duduk bergabung dimeja yang berisi Siska, Krisna dan Raya.
"Loh, datang lo bro? katanya lo lagi di jogja?" tanya Krisna heran pada Zidan yang baru saja duduk disebelahnya, dimana saat itu karna kursinya ditata memutar jadinya dia berhadapan dengan Siska.
"Iya, kabetulan meeting ditunda nanti jam 3, jadi lebih baik langsung terbang kesini dari pada gak datang."
"Oh ..."
"Emang lo dari mana, Dan?." Raya yang disebelahnya ikut nimbrung.
"Jogjja yang, dia dapat proyek pelebaran jalan 50km disana, kaya raya dia sekarang." Krisna malah menyaut sambil moyokin.
"Woow, keren dong lo, banyak duit dong lo..." Raya nyaut.
"Ya iya lah yang, selain dapat proyek pelebaran jalan dia juga dapat proyek rehab stadion juga. Milyader dia sekarang."
"Ck! apaan sih lo!."
"Woow, kalau gitu harusnya lo traktir kita dong seenggaknya. Eh, jangan! ajakin kita jalan - jalan aja. Kalau cuma traktir palingan habisnya cuma sejuta doang. Gak sebanding itu namanya." Raya malah narget.
"Hm, lo kira dapat proyek gitu terus langsung dapat duitnya milyaran gitu? yang milyaran itu anggarannya, tapi kalau labanya yang gak segitu juga kali." ralat Zidan.
"Ck! pelit lo! dimintain dikit aja, banyak alesan." Raya mencebik dan kemudian melengos mengembalikan arah pandangnya pada 2 pasangan pengantin yang sedang mengucapkan janji suci.
"Hahaha, gitu aja langsung sewot lo. Iya - iya tenang meskipun gak sampai milyaran, entar kalau lo liburan gue boyong lo semua ke jogja. Sekalian temenin gue kerja dan kalian bisa jalan - jalan." Saat bilang ini, Zidan diam - diam memperhatikan Siska yang tampak khusuk memandang pengantin dialtar. Ya, dia bilang begitu karna Siska. Lebih tepatnya pengen ngajakin Siska jalan - jalan ke luar kota.
"Hm, beneran ya, serius. Lo jangan bohong!." kata Raya.
"Iya, iya gue serius."
"Oke deal."
"Oke."
Acara janji suci antara Firman dan Feby selesai. Keduanya tengah melingkarkan cicin dijari manis masing - masing. Suasana ruangan juga terdengar riuh karna tepuk tangan dari semua tamu yang hadir lagi.
Firman dan Feby mulai berciuman. Suasana semakin riuh karna melihat kemanisan yang disuguhkan keduanya. Dan ditengah rasa antusias itu, Siska malah pergi ke toilet. Yang mana kemudian Zidan pun menyusulnya di belakang.
__ADS_1
"Ahhh!! astaga, ngagetin aja lo!." Siska memekik sesaat setelah dia keluar dari kamar mandi. Saat itu Zidan yang berdiri ditembok tiba - tiba muncul dan menghentikan langkahnya.
"Ngapain lo kesini? lo mau ngintipin gue di toilet?." tanya Siska penuh curiga.
"Ckckc! pikiran lo nih, negatif terus."
Tanpa peringatan, Zidan kemudian menyentuh scarf yang dipakai Siska. Sejujurnya scarf itu terus mengganggunya sejak tadi saat dirinya baru datang.
"Ih! ngapain lo!." Siska mencoba menghindar tapi terlambat.
"Em, masih ada, tapi udah mulai memudar." kata Zidan mengomentari bekar kissmarknya.
"Hm, masih pengen tahu aja lo!."
"He'em, banget. Tapi salepnya trus lo olesin 'kan?."
Siska tak menggubris. Dia malah memberikan pandangan menyelidiknya pada Zidan sambil melipat tangannya didada.
"Zidan, lo sadar gak sih kalau lo itu aneh?."
"Aneh? maksud lo?".
"Lo aneh, lo kepikiran ke gue karna bekasnya ini, tapi pas bikin ini lo lupa akan resikonya."
Zidan tersenyum simpul. "Oh itu, kalau yang itu gue kan udah bilang kalau itu reflek."
"Hahaha emang. Kalau sama lo gue pasti mesum. Soalnya sikap lo yang selalu mancing gue buat begitu."
"Iiishh!! omongan lo, stres!. Awas! minggir! gue mau lewat!."
Pastinya Zidan tak akan membiarkan Siska lewat. Dia malah melipat tangannya didada dan menghadang Siska tepat di depannya.
"Minggir gak?."
Zidan tak bergeming. Jadinya Siska bergerak melangkah kekanan. Tapi Zidan malah ikut ke kanan.
"Zidan, minggir!!."
Kali ini Siska mencoba melangkah ke kiri. Tapi Zidan ngikut lagi.
"Zidan!! lo ngerti bahasa manusia gak sih?."
Tapi Zidan malah mengangkat bahunya sambil tersenyum smirk. Aish! benar - benar menyebalkan.
Sekali lagi Siska mencoba bergerak ke kiri dan ke kanan tapi Zidan tetap mengikutinya.
__ADS_1
"ZIDAN!! mau lo apa sih??." Siska sudah emosi. Matanya sudah menatap tajam pada Zidan yang terus saja menghalanginya.
"Mau gue, liat ekspresi lo yang kayak gini." jawab Zidan polos tak merasa bersalah.
"Aisshh!! lo mau cari ribut ya? lo mau gue hajar lagi?."
"Silahkan kalau bisa, khusus buat hari ini lo gak akan bisa mukul gue. Lo mukul sekali gue cium lo 2 kali. Lo mukul dua kali, gue cium lo 4 kali. Lo tahu 'kan kalau gue udah candu sama lo?." Ini kata - kata Zidan bener - bener membuat Siska jadi kesal setengah mati. Pengen dia ngelawan tapi mengingat Zidan orangnya nekat jadi dia pun memilih untuk menahan.
"Huft!!!." Siska menghembuskan nafasnya kasar, matanya terlihat melirik Zidan dengan sangat kesal. Untuk hari ini, dia benar - benar gak mau ciuman sama Zidan. Cukup, ucapan Raya dan Feby sudah berhasil menyadarkannya.
"Oke, cukup. To the point aja, gak usah basa basi. Lo mau apa? karna gue mau balik. Bentar lagi acara pelemparan bunga. Gue gak mau ketinggalan."
"Boleh gue cium lo?." 'Kan? lagi? Zidan ini bener - bener muka tembok. Padahal Siska sudah menuruti keinginannya agar tak di cium tapi dia malah minta cium.
"Huft!!! ENGGAK!!!."
"Dikit aja, di kening. Soalnya bentar lagi gue harus balik ke jogja dan kita gak bakalan ketemu selama 2 minggu." Zidan malah nawar.
"Terus apa hubungannya sama gue? Kenapa jadi minta cium ke gue?." Jelas disini Siska jadi kesal.
"Hubungannya, biar gue bisa kerja dengan tenang dan gak kepikiran sama lo lagi."
"Zidan, lo semakin lama semakin ngelunjak ya. Lo sadar gak sih apa yang lo lakuin ini udah sangat mengganggu gue? Jadi please, kalau lo cuma mau main - main mending jangan lo terusin sebelum gue makin benci sama lo."
"Yang mau main - main itu siapa sih Sis? lo ngerasa gue cuma main - main doang sama lo? gitu?."
"Iya! gue ngerasa lo cuma main - main. Dan gue udah gak mau lo mainin lagi. Jadi, jangan pernah lagi minta cium ke gue karna gue bukan cewek murahan yang gampang banget buat lo cium!."
Setelah mengucapkan itu, Siska pun pergi. Tapi sebelumnya tak lupa dia menyenggol bahu Zidan saat melewatinya.
"Sis, gue belum selesai ngomong. Ini kayaknya kita harus ngelurusin deh, apa yang terjadi diantara kita." Zidan berusaha mengejar Siska. Tapi sayang yang dikejar malah lari dan masuk kedalam kerumuman.
Rupanya kerumunan itu adalah kerumunan untuk sesi lempar bunga. Otomatis, Zidan sudah tak bisa lagi untuk memaksa Siska agar bisa bicara dengannya. Jadinya dia pun masuk juga dalam kerumunan itu.
Acara lempar bunga sudah di mulai. Dari tatapannya aja Siska udah berharap kalau dia harus menangkap bunga itu. Jadi, Siska pun memasang mood konsentrasi diwajahnya.
1...2...3...
Bunga di lempar oleh Feby dan Firman.
Siska konsentrasi menatap pergerakan bunga yang sedang melesat.
Sssrreeeeettt...
Bunga itu ditangkap oleh seseorang yang tangannya lebih besar dan lebih tinggi. Siska pun berbalik untuk melihat siapa si penangkap bunga.
__ADS_1
Yap, itu Zidan. orang yang menangkap bunga. Sekarang Zidan lagi tersenyum smirk ke arah Siska setelah bunga itu ditangannya. Sementara Siska menanggapinya dengan wajah speechlees. Ini maunya Zidan apa, kenapa malah menangkap bunganya dan tersenyum gitu kearahnya.