
Siska baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Badannya sudah segar dan bau harumnya sudah semerbak masuk kedalam hidungnya Zidan. Ditambah lagi baju dres minim bahan yang sepertinya sengaja dipilih istrinya buat menggodanya. Membuat Zidan langsung melayangkan senyum genitnya sambil menghampiri Siska yang juga berjalan kearahnya.
"Wah, istriku udah mandi, harum, cantik." puji Zidan, yang mana tangannya langsung melayang merangkul pinggang istrinya. Tak lupa juga mencium beberapa kali pipi dan bibirnya singkat.
"Ih, kamu jangan deket - deket, kamu belum mandi." tolak Siska sambil mendorong tubuh Zidan.
"Berarti kalau udah mandi boleh dong aku deket - deket kamu?." Jawaban Siska tadi diartikan begini sama Zidan.
"Terserah. Tapi aku mau makan dulu." Sekarang jawaban Siska seolah memberi lampu hijau pada Zidan.
"Yes, beneran ya? kalau habis mandi kamu gak akan nolak aku deketin?."
"Iya, yang penting sekarang kamu mandi."
"Oke, aku mandi. Pokoknya sehari ini kamu jadi tawananku."
"Iya, terserah kamu. Mau kamu jadiin tawanan atau mau kamu jadiin sandra terserah deh. Yang penting kamu cepet mandi dulu. Bau kamu gak enak, bau dapur."
"Hehehe. Oke, siap laksanakan bu bos." Dengan semangat 45 Zidan langsung meraih handuk dan masuk kedalam kamar mandi. Tapi sebelum itu mencuri satu kecupan di pipi dulu biar afdol mandinya. Bikin Siska jadi geli karna tingkah sang suami. Tapi juga seneng, saat Zidan mintanya nempel terus kayak prangko gini.
Namun, sepertinya acara romantis - romantisan itu harus ditunda dulu. Ini sekarang bel apartemennya sedang berbunyi. Dan saat dilihat dari intercom, ada wajahnya Caca yang nongol dilayarnya. Yap, Siska lupa kalau hari ini dia sudah janji mau keluar bareng Caca.
"Mbak," Caca menyapa sang kakak ipar yang baru saja membukakan pintu, tapi sepertinya sapaan itu tertahan karna pakaian yang dikenakan sang kakak ipar yang terkesan sangat terbuka dan juga sensual.
"Masuk Ca, kamu udah sarapan?." Sapa Siska, sekaligus langsung menawari Caca sarapan sambil jalan menuju pantry.
"Udah tadi mbak di asrama." jawab Caca masih sibuk menelisik tubuh sang kakak ipar yang dibalut dengan dres seksinya itu. Ya maklum karna baru sekarang Caca melihat Siska pakai baju yang terkesan seperti wanita penggoda.
"Oh udah ya? Kalau gitu, kamu tunggu aku sarapan dulu gak apa - apa 'kan? Mbak, belum sarapan soalnya Ca." Siska duduk disalah satu kursi pantry dan kemudian mulai bersiap makan.
"No problem mbak. Sarapan aja. Lagian juga masih jam setegah 8. Toko - toko juga belum ada yang buka. Jadi santai aja." kata Caca mengikuti Siska yang duduk dipantry.
"Oh iya, hari ini kita mau belanja apa aja?."
Belum sempat menjawab pertanyaan sang kakak ipar, dari arah kamar mandi keluarlah sang kakak kandung yang cuma pakai boxer aja.
"M!." Caca langsung mendecak. Pantes aja Siska pamer body seksi. Ternyata ada suaminya yang lagi datang.
"Loh Ca, kok lo ada disini?." tanya Zidan saat matanya menangkap bayangan sang adik.
"Iya, emangnya kenapa? gue gak boleh mampir kesini?." Jawab Caca dengan nada ketus. Aslinya dia lagi jengah melihat tampilan 2 orang dihadapannya ini yang terkesan lagi adu seksi. Apa lagi gak ada risi - risinya meskipun ada dirinya yang masih dibawah umur.
__ADS_1
"Eh, aku bentar lagi mau keluar sama Caca. Aku mau anterin dia belanja buat party ultahnya dia." Siska mengambil ahli pembicaraan.
"Loh kok malah keluar sama Caca? Terus aku gimana?." Zidan jelas tak mau ditinggal. Tadi Siska udah janji kalau mau jadi tawanannya hari ini.
"Ya, gimana aku udah janji duluan sama Caca kemarin mau temenin dia belanja."
"Enggak! pokoknya kamu gak boleh pergi. Hari ini kamu udah janji mau jadi tawananku. Jadi jangan berani - beraninya kamu ngelanggar janji kamu sama aku."
"Zidan, besok Caca ulang tahun loh? sweet seventeen lagi. Masak kamu gak ngebolehin?."
"Enggak, gak boleh! mau ulang tahun atau apapun itu, pokoknya hari ini kamu gak boleh kemana - mana. Kamu udah jadi tawananku jadi kamu harus tetep sama aku." kata Zidan dengan sikap posesifnya
"Ih, Mas Zidan. Lo tega banget sih sama gue! Masak Mbak Siska gak boleh keluar?." Caca protes. Kakaknya ini kadang ngadi - ngadi.
"Ca, Mas Zidan ini juga baru tadi pagi ketemu sama Mbakmu ini. Mas ini lagi pengen kangen - kangenan sama dia, pengen berduaan. Jadi mending kamu aja yang pulang, jangan ganggu kita. Kamu kalau mau belanja lebih baik ajak mama. Kan lumayan kalau sama mama nanti mama yang bayarin belanjaan kamu."
"Ih, mana bisa ngajakin mama! Enggak pokoknya aku sama Mbak Siska. Kemarin kita udah janjian duluan sebelum Mas Zidan dateng." kata Caca sambil cemberut. Kalau ngajak mamanya jelas Caca pasti kena marah.
"Zidan, biarin aku pergi ya? bentaran doang gak lama. Nanti setelah sama Caca, aku janji langsung pulang terus gak kemana - mana. Aku temenin kamu sampai kamu bosan deh. Gimana?." Siska mencoba membujuk.
"Enggak pokoknya aku gak ngijinin. Hari ini kamu udah jadi tawananku. Jadi kamu gak boleh kemana - mana." Zidan tetep kekeh pada pendiriannya.
"Zidan, ini adik kamu mau ulang tahun, loh? masak kamu tega sih? ngalah sedikit aja kenapa, sih?."
"Mas, tapi gue butuhnya Mbak Siska. Kalau gak sama Mbak Siska gue gak ada temen. Lo jangan tega - tega dong sama gue." Caca pun ngerengek. Ini Masnya kenapa posesif banget gak mau ngelepas istrinya cuma buat diajak belanja aja.
"No, no, no!."
"Zidan." Siska ikut protes.
"Mas!!!."
"No!."
"Zidann!!." Lebih menekan lagi.
"Yang, kamu udah janji. Habis kamu mandi terus aku mandi, kamu jadi tawananku. Terus kalau sekarang kamu pergi aku sama siapa?." kata Zidan seolah Siska akan pergi jauh entah kemana.
"Cuma ditinggal belanja bentaran aja ini Mas, bukan ke hongkong!." Caca menimpal karna geli mendengar ucapan Zidan barusan.
"Kamu gak akan ilang meskipun sendirian, lagian yang mau culik kamu juga pasti mikir - mikir." Sekarang gantian Siska yang menimpal.
__ADS_1
"Tapi aku butuh kamu, kamu udah janji sayang mau sama aku seharian ini." Bahkan rengekan anak kecil pun kalah dengan rengekannya Zidan.
"Ish! ngedrama jadinya." Gerutu Caca.
"Ya tapi 'kan aku udah janji sama Caca. Aku bentar doang deh perginya. Nanti 'kan habis pergi aku udah sama kamu lagi. Ini kamu juga kenapa tiba - tiba ngerengek - ngerengek gini, gak malu apa sama Caca."
"Caca biarin aja, jangan dipikir. Yang dipikir sekarang aku aja. Aku yang mau sama kamu sekarang. Yang, aku ini kangen banget sama kamu. Tadi pagi kamu udah nolak aku, masak sekarang aku harus nunggu lagi sampai nanti. Jahat itu namanya kamu." Zidan malah membahas masalah tadi didepan sang adik.
"Zidan! Ih! udah ah! jangan ngerengek - ngerengek lagi." Siska akhirnya bangkit dari duduknya, takut Zidan bahasannya melenceng kemana - mana. Eh, tapi si Zidan malah narik dan membuat Siska duduk dipangkuannya dan memeluknya posesif.
"Zidan!." Siska memekik karna perlakuan Zidan. Malu juga karna ada Caca.
"Uhm, em. Pokoknya jangan pergi. Kamu udah janji hari ini mau sama aku. Jadi kamu harus tetap sama aku."
Caca yang melihat kelakuan kakaknya langsung melengos jijik. Huekkk.
"Zidan! lepasin, kamu gak malu sama Caca?." Siska memincingkan matanya. "Lepas!." Semakin dia bergerak melepaskan diri semakin kuat pula Zidan merangkulnya.
"Enggak, biarin. Cuma Caca doang, diaduin ke mama sama papa pun mereka pasti tambah doain kita biar cepet jadi cucu." Dengan entengnya Zidan malah ngomong gini dihadapan adiknya. Astaga.
"Iiissshhh!!." Caca langsung mengumpat kesal.
"Zidan kamu yang bener!."
"Oke deh, kamu boleh pergi, asalkan sekarang kamu tunaiin kewajiban kamu sebagai istri dulu, gimana? biar aku lega meskipun kamu tinggal." tawar Zidan.
"Zidan, kamu jangan gila!." Siska jelas langsung protes. Gila aja mau begituan saat ada Caca. Pikiran suaminya ini gimana coba.
"Mas!." Begitu juga sama Caca. Dia juga terlalu mengerti sama maksud dari sang kakak itu.
"Ca, tunggu sebentar, Setelah ini kamu bebas mau bawah dia kemana aja, oke?."
"Aiiishhh!!! Mas Zidan! masak gue harus nungguin lo begituan? gila lo! gue masih 16 tahun Mas, jangan ngajarin gue yang aneh - aneh!." Caca langsung melayangkan protes.
"Besok udah 17 tahun, udah dewasa. Ini juga bukan pembelajaran gak baik. Mas sama Mbak Siska udah nikah. Jadi wajar. Biar kamu juga cepet dapat ponakan yang lucu. Jadi, tunggu sebentar, nanti Mas kasih kamu uang yang banyak. Mas bayarin semua belanjaan kamu."
"Enggak! gue gak mauuuuu!!!!." Bahkan uangpun Caca tolak. Gila apa bisa - bisanya menyuruhnya nunggu orang asik bikin baby. Ilfeel tahu rasanya!.
"Zidan kamu jangan gila beneran deh! Kamu kenapa sih? kok jadi aneh - aneh gini?."
Tak peduli dengan protesan adik maupun istrinya. Pokoknya Zidan langsung bergerak cepat menggendong sang istri dan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Aku emang udah gila. Dan gilanya karna kamu, jadi kamu harus tanggungjawab. Kita ini udah terlalu lama LDRan, jadi aku gak bisa nahan lagi."
"Aaarrrggghhhh!!." Caca pun berteriak frustasi. Astaga. Sumpah! kakaknya ini laknat banget jadinya.