
Karna rasa kesalnya yang sedang teramat, Siska pun berjalan tak tentu arah mengitari kapal fery hanya untuk pergi dari hadapan Zidan.
Siska kemudian berhenti dan duduk disalah satu kursi yang ada di dalam kapal. Dia kemudian mengeluarkan pil kb dari dalam kantong jaketnya.
Pil itu, memang sudah sengaja dibawahnya tadi. Karna sudah memasuki jam untuk meminumnya.
Glek!.
Dalam sekali tegukan, pil kb tersebut pun masuk kedalam perutnya dibarengi rasa berang yang masih tersisa didalam hatinya akibat pertengkaran yang tak seharusnya terjadi disaat bulan madu begini.
"Kamu minum apa?." Suara Zidan dari belakang sedikit mengangetkan Siska.
Cepat - cepat Siska langsung menyembunyikan pil kb tersebut dalam kantong jaketnya lagi.
"Bukan urusan kamu." jawab Siska dengan nada sewot dan dinginnya.
"Kamu lagi sakit?." Tanpa tahu apa - apa, Zidan pun jadi khawatir takut - takut Siska betulan lagi sakit.
"Aku bilang bukan urusan kamu!." Bahkan nada bicara Siska pun sekarang naik beberapa oktaf.
"Yang," Zidan menatap Siska dengan wajah khawatir, bahkan sampai memosisikan diri berjongkok dihadapan Siska demi memeriksa keadaan Siska.
Tapi Siska mana peduli. Wajahnya langsung dibuang kesamping malas menatap Zidan.
Zidan mencoba menyentuh kening Siska.
"Ish! apaan sih!." Dan Siska menepis tangan Zidan.
Seketika Zidan langsung menghembuskan nafas beratnya, merasa menyesal akan ucapannya tadi yang memang dirasa sangat keterlaluan.
"Yang, maaf. Aku beneran minta maaf, tadi aku kelepasan bicara, nuduh kamu sama ngatai kamu yang enggak - enggak karna tiba - tiba ingat masalalu kita dulu."
Sebagai tanggapan, Siska pun ,tersenyum sinis. Enak sekali minta maaf setelah ngatain orang kegatelan sama keganjenan.
"Yang, maafin aku, aku ngaku aku salah. Maaf, maaf banget karna aku udah ngatain kamu ganjeng, gatel. Padahal semua itu jelas adalah salah. Harusnya aku gak ngomong gitu ke kamu. Tadi aku cuma emosi aja, semua itu sebetulnya karna aku gak mau kehilangan kamu, karna akh terlalu sayang sama kamu."
Tapi Siska masih tersenyum sinis sebagai tanggapan.
__ADS_1
"Kamu mau kan maafin aku? ya ..."
Sekali lagi Siska tak bergeming. Jadi Zidan pun meraih jemari Siska dan menggenggamnya.
"Please yang maafin aku. Aku beneran nyesel. Nyesel banget. Terserah kamu mau hukum aku apa asalkan kamu mau maafin aku. Kamu mau cubit aku sampai gosong, atau mau pukul aku sampai bonyok, aku terima yang. Asal kamu mau maafin aku. Apa pun mau kamu terserah, ya ..."
"Sorry, tapi untuk saat ini aku gak mau maafin kamu. Soalnya kamu ternyata masih aja sama kayak dulu. Masih suka nuduh - nuduh aku, kamu bahkan tega ngatain aku ganjen sama kegatelan. Padahal yang gatel sama keganjenan itu bukan aku tapi kamu. Kamu jangan lupa kemarin pas di Jogja sikap kamu kayak gimana sama cewek lain? Kamu biarin wanita lain gandeng tangan kamu. Biarin seret - seret kamu, habis itu nempel - nempel juga." Siska sengaja nyindir dan mengingatkan kelakuan Zidan kemarin yang tak bisa tegas menghadapi calon pelakornya.
"Iya, maaf, sekali lagi aku minta maaf. Aku akui semua itu adalah kesalahanku. Jadi tolong maafin aku ya? Aku memang gak seharusnya gitu ke kamu. Aku terlalu over protektif ke kamu. Aku beneran nyesel sekarang. Jadi please maafin aku ya.." Dengan sabar Zidan kembali memohon permintaan maaf Siska.
"Udahlah, rasanya aku capek ngomong sama kamu. Jadi mending kamu sekarang minggir deh jangan deket - deket sama aku." Siska menampik genggaman tangan Zidan.
"Yang." Dan Zidan kembali berusaha menggenggam tangan Siska lagi.
Tapi Siska lagi - lagi menampiknya. "Ih! apaan sih!."
"Siska, sayang." Zidan mohon - mohon lagi.
"Aku mau balik ke hotel. Aku udah gak mood jalan - jalan." Siska pun beranjak. Dia kemudian berjalan kembali ke dek kapal di sisi dimana tadi dia masuk dalam kapal fery.
"Bodo! aku udah gak mood!."
Siska menghempaskan tangan Zidan denan kasar. Sangking kasarnya sampai membuat pil kb yang ada dikantong jadi jatuh.
Siska membeku sejenak menatap pil kb yang jatuh itu. Sementara Zidan langsung memungutnya.
"Ini?."
Satu kata pertanyaan dilayangkan Zidan dengan tatapan curiganya.
"Apa? mana." Dan secepat kilat Siska langsung merampas pil kbnya dan mengantonginya kembali.
"Itu tadi obat apa?."
"Bukan urusan kamu!." Siska jawab, masih dengan nada ketus tapi sebetulnya dalam hatinya sudah tercipta rasa gusar dan gelisah.
"Itu? itu, cuma obat sakit kepala atau obat sakit perut biasa 'kan?." Zidan berusaha untuk mempercayai Siska. Tak ingin berprasangka buruk dan curiga kalau istrinya itu sedang mengkonsumsi pil setan yang bisa menghambat kehamilan.
__ADS_1
Siska tak jawab. Dia malah memalingkan wajahnya.
"Coba aku mau liat lagi. Itu pasti cuma obat untuk sakit kepala 'kan? atau obat sakit perut? atau kamu lagi sakit gigi. Mana, aku mau lihat, jadi kamu gak perlu takut." pintah Zidan dengan sabar.
Siska masih diam diposisinya. Didalam saku tangannya tampak menggenggam erat pil kb tersebut. Dalam hati, ada rasa bersalah yang teramat karna melihat Zidan yang tak langsung marah padanya dan malah memilih untuk mempercayai dirinya.
"Siska, tolong jangan diam. Itu cuma pil sakit kepala 'kan?." Sekali lagi Zidan mengulangi pertanyaannya. Tapi tak tak bisa menyembunyi kan rasa kecewanya.
"Sis,"
Tak tahan Siska pun mengembalikan arah pandangnya pada Zidan dan menatap lekat pada Zidan yang menatapnya penuh harap seolah tak ingin dia kecewakan.
"Ini pil KB." Siska mengakuinya. Ngakunya dengan wajah datar, seolah hal ini bukanlah masalah besar. Padahal dalam hatinya sudah menjerit gusar takut dan merasa sangat bersalah karna selama ini tanpa sepengetahuan Zidan dia mengkonsumsi pil ini.
"Pil kb? jadi bener?." Zidan memastikan jawaban Siska.
"He'em, pil kb." aku Siska lagi, kembali memalingkan wajahnya takut menatap Zidan.
Zidan tampak speechless. Nafasnya tiba - tiba jadi memburu. Raut wajahnya berubah merah padam. Rasa kecewa dan marah langsung menghujani seluruh perasaannya. Dan hal itu juga langsung ditunjukkan dengan tawa getir yang langsung tersaji disudut bibirnya.
"Jadi ... kamu ..." Zidan menutup matanya demi mengembalikan kewarasannya. Perasaannya benar - benar kacau. Pantas saja selama ini tak ada tanda - tanda kehamilan sama sekali. Ternyata, tak disangkah selama ini istrinya itu diam - diam minum pil kb.
Tanpa perlu dilanjutkan pun, Siska sudah tahu Zidan akan tanya apa pada dirinya.
Siska terdiam. Wajahnya mulai menunduk gelisah tapi masih berusaha menutupinya.
"Kenapa? kenapa kamu minum pil itu? buat apa?." Masih berusaha menahan ledakan emosinya Zidan tanya dengan tatapan tajamnya diselah tawa getirnya.
Siska semakin menunduk. Perasaannya sudah tak karu - karuan. Apa lagi ekspresi Zidan yang seperti ini belum pernah dia jumpai sebelumnya. Ekspresi yang menakutkan yang dengan tatapannya saja sudah mampu menaklukkan lawan.
"JAWAB!!."
"Udah lama. Mulai pertama kita menikah." jawab Siska akhirnya.
Zidan kembali tertawa getir.
"Kita pulang ke Indonesia hari ini."
__ADS_1