
"Dan satu lagi Sis, yang kamu kecewain itu bukan aku aja. Kamu juga udah ngecewain orangtua kita. Padahal kamu sendiri tahu apa yang mereka harapkan dari kita. Aku harap kamu sekarang paham akibat perbuatan kamu itu."
Dan sekali lagi Zidan menohok hati Siska dengan ucapannya. Dan ucapan ini semakin memperdalam rasa penyesalannya.
Siska semakin tertunduk dalam tangisnya. Otaknya mendadak blank. Tak berani membela dirinya lagi. Tak berani menatap Zidan. Suaranya mendadak tercekat dalam tenggorokan. Rasanya jadi malu pada dirinya sendiri juga pada Zidan. Penyesalannya sekarang sudah sangat dalam. Hingga secara perlahan, Siska pun berbalik. Melangkah gontai keluar dari kantor Zidan membawa segala perasaan kacaunya itu. Sudah tak ada harapan lagi untuknya, kali ini mungkin dia harus beneran rela melepaskan pernikahan ini, itu yang kini dirasakan Siska.
"Aiishhh!!! fuc*!!."
Zidan pun mengumpat. Punggung Siska yang bergetar dan langkah gontainya jelas membuat hatinya perih tak tega. Dunianya jadi hancur melihat istrinya seolah tak bernyawa akibat ucapannya tadi. Dan mendadak rasa marah dan kecewa jadi luntur begitu aja. Karna bukan sikap seperti inilah yang diharapkan Zidan dari Siska.
"Ayo aku antar pulang." Zidan meraih tangan Siska, pandangannya sudah melunak dan bahkan tangannya mengusap lembut air mata yang keluar dari pipi Siska.
"Gak usah, aku bisa pulang sendiri." Sambil menyingkirkan tangan Zidan secara perlahan Siska menolak. Rasanya tak pantas saja dapat perlakuan baik dari Zidan setelah dirinya memberi kekecewaan yang begitu dalam padanya dan juga pada orang - orang yang disayangi.
Tapi dengan tegas Zidan menolak. "Enggak biar aku antar pulang."
Mobil yang dikendarahi Zidan pun melesat menuju apartemen. Sepanjang perjalanan keduanya sama - sama bungkam tapi sedang diselimuti dengan pikiran masing - masing. Siska yang sudah merasa insecure dan Zidan yang merasa khawatir karna Siska yang menangis dalam diamnya itu.
"Aku kerja dulu. Hari ini aku ada rapat penting sama investor jadi aku gak bisa ninggal. Kamu jangan kemana - mana, kita lanjutin dan selesaian pembahasan kita nanti setelah aku pulang. Kamu tunggu aku ya .." pesan Zidan, setelah keduanya sampai di apartemen dan siap pergi lagi.
"Zidan," Siska meraih ujung lengan Zidan dengan wajah menunduk. Air matanya kembali jatuh dengan deras membuat langkah dari suaminya itu jadi tertahan.
"Aku beneran minta maaf. Aku udah jadi istri yang gak baik buat kamu. Aku udah ngecewain kamu. Aku udah ngecewain mama sama papa. Aku udah jadi orang yang egois yang gak tahu diri. Aku juga selalu berprasangka jelek sama kamu. Jadi sekali lagi aku minta maaf."
"He'em, aku maafin kamu. Tapi sekarang aku harus pergi, jadi kita bahas nanti." Zidan melepaskan genggaman tangan Siska.
__ADS_1
"Tapi, seandainya - kamu gak mau maafin aku, aku gak apa - apa, aku pasrah. Dan seandainya juga kalau kamu mau kita -"
Tapi belum selesai ngomong, Zidan langsung nyerobot. Tiba - tiba saja hati yang sudah sedikit melunak mendadak jadi emosi lagi karna Siska yang mendadak ngomong seperti itu. Sudah jelas bukan? kemana arah pembicaraan Siska ini.
"Seandainya apa? kamu mau kita pisah? kamu mau kita cerai? gitu? itu yang kamu mau, hah??!!."
"Kalau itu yang emang kamu mau aku rela. Aku gak apa - apa, karna memang aku udah ngecewain kamu, ngecewain mama sama papa. Jadi, aku gak apa - apa ..."
"kita ngomong lagi nanti!." Zidan hendak pergi lagi, tapi lagi - lagi langkahnya ditahan.
"Maaf... udah ngecewaian kamu, maaf udah nyakitin kamu, nyakitin mama papa. Aku memang bukan orang yang tepat buat kamu, Zidan. Aku gak pantes bersanding sama kamu."
"Siska!!."
"Aku bahkan sadar selama ini aku memang gak pernah ngomong sayang ke kamu. Aku selalu ngeraguin kamu. Apa yang kamu omongin ke aku tadi itu semuanya bener. Kamu gak salah." Siska tak mengidahkan pekikan Zidan.
"Aku memang yang terlalu egois. Jadi gak apa - apa seandainya kamu mau kita pisah, aku bakalan terima." Siska masih meruntuki dirinya sendiri.
"SISKA!." Dengan nada frustasi Zidan menghardik.
"Aku udah gak ada harapan lagi Dan buat kamu. Aku beneran istri yang jahat dan gak layak buat kamu. Bahkan ngasih keturunan aja aku harus mikir - mikir. Aku jahat banget. Aku ... aku beneran gak pantes buat kamu. Kamu terlalu baik buat aku."
BUGGHH!!!.
Zidan menghantamkan bogemnya ke tembok. Dan darah segar pun terlihat di buku - buku tangannya setelah itu. Zidan sudah terlanjur emosi. Harusnya Siska paham kalau dirinya tak mau membahas masalah perpisahan. Jangankan membahas. Terbesit sedikit pun untuk berpisah jangan sampai muncul.
__ADS_1
"Sekali lagi kamu ngomong kayak gitu. Maka aku anggep kamu yang memang pengen kita cerai, Sis!." Bahkan tatapan mata Zidan terlampau menusuk memperlihatkan urat merahnya.
Siska tergelak. Badannya spontan membeku dan mendadak jadi gemetar. Tak disangkahnya Zidan bisa bertindak impulsif seperti ini. Sungguh membuatnya semakin tak berdaya dan semakin merasa bersalah lagi dan lagi. Terlebih setelahnya, suaminya itu juga langsung pergi begitu saja. Meninggalkan dirinya lagi seorang diri, tanpa memberinya ucapan penerimaan maaf.
Dan sejak kejadian di pagi itu. Siska yang sudah insecure malah menjadi lebih insecure lagi. Siska masih terus meruntuki dirinya sendiri. Berkubang dengan rasa bersalah dalam hati. Tak berani ngomong atau pun menatap Zidan. Sementara Zidan juga begitu. Masih dikuasai oleh amarahnya sendiri merasa Siska benar - benar tega hingga memintanya berpisah. Padahal dihatinya tak sedikit pun terbesit adanya kata perpisahan. Dan karna itu, hubungan keduanya juga semakin dingin dari hari ke hari.
Merasa sudah tak kuat membendung sendiri. Akhirnya Siska pun mendatangi kedua sahabatnya. Apa yang dipendamnya selama berminggu - minggu dilepaskan dengan cara cerita pada kedua sahabatnya itu. Berharap hatinya bisa sedikit tenang dengan begitu.
"Udah Sis, stop nangisnya. Sekarang lebih baik kita pikirin solusinya gimana biar lo sama Zidan bisa baikan." Feby yang duduk disamping Siska mencoba memberi saran sekaligus menenangkan Siska yang mulai datang belum juga berhenti menangis.
"Bener kata Feby, Sis. Sekarang lebih baik kita cari solusinya gimana. Biar permasalahan lo ini gak berlarut - larut. Jadi udah, jangan nangis lagi ya .. "Raya mendukung ucapan Feby. Ya meskipun menurutnya memang disini pihak yang salah adalah Siska. Tapi sebagai sahabat Raya tak ingin menghakimi sikap Siska.
"Apa masih ada solusi buat gue Ray, Feb? Hubungan gue sama Zidan udah diambang kehancuran Ray, Feb. Kita udah gak bertegur sapa lebih dari 2 minggu. Zidan selalu berangkat kerja pagi terus pulang malam cuma buat ngindari gue. Dia diemin gue. Dan itu bikin gue jadi takut buat ngomong duluan ke dia. Gue takut, gue salah ngomong lagi dan malah memperkeruh keadaan." Rasanya Siska sudah sangat frustasi dengan kemelut rumah tangganya yang sulit sekali menemukan titik solusi.
"Tapi meskipun begitu lo tetep harus ajak omong Zidan Sis. Jangan pada diem - dieman gini. Lo harus berani. Lo harus minta maaf lagi ke Zidan secara tulus dan ikhlas dan terlebih jangan ulangi lagi perbuatan lo ini." kata Raya.
"Gue udah minta maaf berkali - kali Ray, tapi berkali - kali itu pula Zidan bilang iya maafin gue. Tapi nyatanya sampai sekarang sikapnya masih dingin ke gue. Jadi gue bingung gue harus gimana lagi?."
"Mungkin Zidan masih butuh waktu, Sis. Karna emang menurut gue kesalahan lo ini juga udah termasuk fatal sih, ini udah menyangkut keberlangsungan hidup dalam satu keluarga. Keluarga yang cakupannya besar bukan cuma keluarga lo sama Zidan aja tapi juga mama papa lo sama mama papanya Zidan. Jadi harusnya lo bisa maklum sama sikap dinginnya Zidan ini." Sekarang Feby yang ngomong, dan kata - kata Feby ini bikin Siska jadi bungkam.
"Tapi Sis, kalau gue boleh tahu. Emang kenapa lo kok bisa minum pil kb tanpa sepengetahuannya Zidan? emang lo gak pengen punya anak atau gimana?." tanya Raya ada nada kehati - hatian dipertanyaannya ini.
"Gue gak tahu Ray, kemarin gue cuma ragu. Gue juga takut. Gue ngerasa kalau pernikahan ini itu gak nyata karna terlalu mendadak sama terlalu tergesah - gesah. Jadi gue ngerasa gue gak siap dan gak yakin sama diri gue sama Zidan." jawab Siska yang dapat angguk anggukan dari Raya.
"Ya udah kalau emang itu yang kemarin lo rasain, itu masuk akal. Memang kemarin lo nikahnya bisa dibilang dadakan. Tapi sebelum itu gue mau tanya Sis sama lo. Kemarin, lo nikah sama Zidan sebetulnya ngerasa dipaksa atau enggak? atau dalam lubuk hati lo yang terdalam lo emang mau juga?." Feby nyeletus lagi, yang sejujurnya pertanyaannya Feby ini sedikit menyentil perasaannya. Karna pada dasarnya Siska tak merasa sedikit pun terpaksa menikah sama Zidan. Dia juga menginginkannya.
__ADS_1
"iya, gue emang mau." Siska menunduk mengakui perasaannya sekaligus merasa malu pada dirinya sendiri karna kenyataan ini.
"Berarti kalau gitu kesimpulannya adalah. Lo itu juga sayang dan cinta sama Zidan tapi karna ego lo, lo jadi ragu. Tapi tunggu, lo ini gak lagi trauma 'kan? lo bertindak sejauh ini sampai minum pil kb bukan karna lo takut Zidan bakalan nyakitin lo lagi dengan sikap over protektifnya dan juga takut diselingkuhin lagi 'kan?." Raya, seolah baru saja tersadar akan sesuatu hal yang besar.