
Salah gak sih kalau seandainya Siska jadi besar kepala sekarang? salah gak sih kalau Siska berpikir kalau Zidan sebenarnya tak bisa melupakannya?. Yang jelas karna barang - barang dihadapannya itu perasaan Siska jadi melayang tinggi. Jadi merasa dicintai dan disayang seperti yang di katakan Caca.
Apa lagi ditambahi sikap Zidan yang selalu perhatian meskipun lagi LDRan. Zidan yang selalu memvideocall dirinya pagi dan malam seperti waktu itu. Kirim pesan saat senggang, foto atau video yang lain tentang suasana disana. Selalu laporan kalau lagi ada kegiatan atau kalau dia mau kemana. Kalau udah kayak gini, siapa sih yang gak baper.
"Mana fotonya? gue pengen liat."
"Sabar, masih milih."
"Hm, lama amat. Gue udah gak sabar, pengen liat cantiknya lo kalau pakai baju pengantin."
"Sabar - sabar, padahal sekalipun gue gak pakai baju pengantin, gue juga tetep cantik!."
"Hahaha, iya sih, bener. Kamu pakai baju apa aja tetep cantik, tapi lebih cantik lagi kalau gak pakai baju kayaknya."
"Iish! mulai deh mesumnya!."
"Hahaha mesumnya 'kan cuma sama lo doang, sayang. Kalau ke yang lain gue gak berani."
"Hm, dasar pengecut."
"Hahaha, emang kenapa meskipun gue pengecut? yang penting 'kan semua itu gak mengurangi rasa sayang sama cintanya gue ke lo."
"Hm, habis mesum, sekarang gombal."
"Hahaha, sama gombalnya juga sama lo doang beraninya. Ah 'kan, jadi kangen lagi gue sama lo."
"Sis..."
Pekikan Bu Resti membuyarkan kegiatan Siska yang lagi berkirim pesan bersama Zidan. Dan otomatis Siska langsung menyimpan ponselnya itu didalam tas.
"Iya Ma."
"Sis, kayaknya itu mending kamu coba satu - satu deh, itu mama kok jadinya bingung sendiri yang milih."
"Semuanya?." Siska tanya untuk lebih menyakinkan. Mereka ini sedang ada dibutik untuk fitting gaun pengantin. Dan gaun pengantin yang dimaksud mertuanya itu bukan cuma 1 atau 2 stel tapi bersetel - setel.
"Iya, kayaknya harus kamu coba semua Sis, mama sendiri juga bingung mau pilih yang mana, bagus - bagus semua soalnya." Bu Irna ikut - ikutan nyaut.
"Mam, biar gak bingung, aku pakai gaun yang direkomendasikan mbaknya aja deh Mam." Siska benaran malas buat mencoba semua gaun itu.
"Jangan dong sayang, harus dicoba semua biar kita tahu mana yang terbaik. Emang kamu gak mau apa jadi wanita paling cantik saat pernikahan besok?." Bu Resti menimpali.
"Ya, bukannya gitu sih ma, cuma kalau sebanyak itu nanti bisa - bisa sampai sore baru kelar. Kita 'kan belum ke WO."
"Ke WO bisa besok, sekarang yang penting dapat gaun pengantin yang cetar membahana dulu. Biar si Zidan kalau liat kamu itu kira - kira gak kedip gitu lo Sis." saut Bu Irna.
__ADS_1
Ya, mau tak mau, karna pasti tak akan bisa melawan kehendak 2 orang mamanya itu, dengan sikap malasnya, Siska pun berjalan menuju kamar pas dengan diikuti mbak - mbak pegawai butik.
"Gimana?." tanya Siska, yang tirainya baru aja dibuka mbak pegawai butik setelah berhasil mencoba sebuah gaun.
"Em, kurang cetar." Komen Bu Irna yang duduk di kursi depan kamar pas.
"Gimana?." Percobaan gaun kedua. Tapi dua sesepuhnya masih memberi komentar jelek.
"Gimana?."
"Gimana?."
"Gimana?."
"Gimana?."
Entah sudah berapa kali Siska tanya gitu dengan sikap malas dan tak semangatnya. Dan keduanya masih aja geleng - geleng kepala serta ada aja yang dikomentari. Terus maunya gaun pernikahannya ini seperti apa?. Rasanya Siska beneran lelah dengan segala sesuatu yang menyangkut persiapan pernikahan. Pokoknya ribet.
Kriinggg ...
Kebetulan sekalian, yang mau diajak keluh kesah videocall.
"Huft! bisa gak sih lo bawah gue kabur sekarang juga dari sini." Kalimat pertama yang meluncur dari mulut Siska itu dibarengi dengan wajah malas dan tak bersemangatnya.
"Emang kenapa sih sayang, kok mukanya ditekuk gitu?."
"Sabar, namanya juga memilih yang terbaik. Jadi maklumin aja."
"Ya lo sih enak gak perlu ngikut ngurusin, gue nih yang jadi korban."
"Iya sorry, karna gue gak bisa ngikut. Terus sekarang tinggal berapa potong lagi yang mau dicoba?."
"Gak tahu mbaknya masih ambil."
Dan yang lagi diomongin ternyata sudah datang dengan membawa gaun terakhir ditangannya.
"Mbak ini udah gaun terakhir, dicoba yuk." Si mbaknya dengan cekatan hendak membantu Siska melepas gaun yang sedang dikenakan Siska.
"Sebentar mbak, saya taru hp dulu."
"Eh, jangaan ditaruh, gue 'kan juga pengen liat." Siska jelas tak peduli, dan tetap menelungkupan layar ponselnya kebawah.
"Gue mau ganti baju Zidan, lo jangan bawel!."
"Tapi 'kan gue pengennya liat yang pas waktu ganti, bukan pas selesai terus udah dipakai." Ucapan Zidan ini jelas mengundang tawa dari mbak - mbak pegawai.
__ADS_1
"Eh, jangan bikin malu. omongan lo didenger sama mbak pegawainya."
"Hahaha, ya biarin emangnya kenapa? emang salah kalau gue mau liat lo ganti baju? lo 'kan calon istri gue. Lagian juga gue udah pernah liat lo naked 'kan, masak lo masih malu." Astaga Zidan, mulutnya emang gak ke kontrol. Mbak - mbak pegawai jadi ketawa lagi kan.
"Zidan, gue timpuk lo!. Mbak - mbak jangan didengerin, dia ini emang gini, kalau ngomong suka mesum." Siska sampai harus klarifikasi pada mbak - mbak pegawai.
"Hahaha."
"Hehehe, santai aja mbak gak apa - apa. Malahan yang suka mesum gini ini yang bisa buat langgeng hubungan pernikahan. Soalnya 'kan bisa mesrah - mesrahan terus. Gairahnya tinggi mbak. Pasti seru." Mbak pegawai nyaut.
"Tuh, mbaknya bahkan lebih ngerti dari pada lo." Si Zidan menyauti omongan mbak - mbak pegawai.
"Si mbak mah, malah belain dia." Siska jadi bedmood. Tapi yang ditegur malah cengengesan.
"Udah nih mbak bajunya, bisa ditunjukin dulu sama masnya." Kata mbak pegawai lagi.
Seperti perkataan mbak pegawai, Siska pun memungut hpnya lagi dan kemudian mengarahkan kamera belakang pada cermin dihadapannya. Maksudnya biar Zidan lebih bisa melihat keseluruhan gaun itu lewat pantulan cerminnya
"Gimana? bagus gak?."
Sejenak Zidan jadi terpaku. Dia lagi terpesona. Bahkan diam - diam dia menelan ludahnya untuk mengurai rasa gugupnya. Dimatanya Siska benar - benar tampak cantik sekaligus anggun.
"Gimana? bagus gak sih? kok diem?:"
"Lo, cantik banget. Sumpah cantik banget. Gue sampai speechlees. Bentar, gue screenshot dulu."
"Hem, ngapain juga di screenshot, entar juga bisa gue kirim fotonya."
"Ya kelamaan, gue kan pengen punya sendiri fotonya."
"Jadi gue pakai yang ini aja ya entar?."
"Iya pakai yang ini aja. Tapi masih harus ada yang dibenerin dulu itu."
"Apa? kayaknya udah perfect semua deh." Siska tak menemukan kejanggalan sedikit pun pada gaunnya itu.
"Di bagian dada minta permak sama Mbaknya. Jangan sampai belahan dada lo keliatan gitu, gue gak suka."
"Ih emang kenapa? ini 'kan seksi." Siska mendengus dan malah semakin melorotkan sedikit gaunnya itu, biar keliatan tambah seksi. Biasalah buat goda si Zidan.
"Ish! lo tuh ya, malah di ploroti. Tadi gue minta liat pas waktu gantilo gak mau, sekarang lo malah mau godain gue." Jelaslah Zidan jadi kebakaran jenggot.
"Ih apan sih, orang gue cuma beneran gaunnya, iya 'kan mbak?." Siska malah minta dukungan pada mbak pegawai. Dan mbak pegawai cuma ketawa aja liat tingkah 2 orang mesum yang ada didepannya itu.
"Ish, pokoknya mbak saya minta, nanti tolong di permak itu, jangan sampai pokoknya kelihatan. Saya gak suka kalau istri saya dilihatin banyak orang. Biarin saya aja yang tahu kalau dia itu seksi."
__ADS_1
"Hehehe, iya Mas tenang aja, nanti saya permak kok." saut mbak - mbak pegawai.
"Ish! curang, dasar posesif!."