Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
53. Jogja


__ADS_3

Pesawat yang dinaiki Siska baru saja mendarat dibandara adisutjipto Jogja. Bersama dengan penumpang yang lain Siska turun dari pesawat kemudian menuju tempat pengambilan bagasi dan setelahnya langsung berjalan ke gate kedatangan.


Beberapa saat clingak - clinguk. Akhirnya Siska dan Zidan pun bertemu. Lihatlah wajah mereka yang tampak berseri saat mata mereka beradu pandang. Semuanya dengan jelas menggambarkan kalau keduanya saling merindu satu sama lain. Ya gimana tak rindu, sudah sebulan mereka gak bertemu.


Zidan merentangkan tangannya agar Siska segera datang padanya dan masuk dalam pelukannya. Tapi dasar Siska bukannya menurut, dia malah sengaja menggoda sang suami dengan tetap berjalan santai sampai membuat si suami jadi tak sabar.


"Hm, dasar makhluk tuhan satu itu." gerutu Zidan yang akhirnya memutuskan untuk dia saja yanh berlari menghampiri Siska lebih dulu.


"Aagggrrrhhhhh! Zidan!."


Suara pekikan Siska cukup kencang sampai beberapa orang menatap kearahnya. Ini Zidan tiba - tiba memeluk dirinya erat sampai membuat tubuh mungilnya itu terangkat tinggi. Karna sangking kangennya.


"Aaahhhh! Zidan turunin." Siska memukul kecil punggung Zidan agar segera menurunkannya dan melepas pelukannya.


"Aku kangen..."


"Iya, tahu. Tapi malu di liatin orang."


"Hehehe. Iya lupa."


Zidan melepas pelukannya dan membuat sedikit jarak agar bisa menatap Siska.


"Udah makan?." tanyanya kemudian.


"Belum. Laper..." Dengan nada manja Siska jawab pertanyaan Zidan sampai membuat Zidan jadi gemas.


"Mau makan apa? gudeg? sate? bakmi? nasi kucing? atau ada yang kamu pengen?." Zidan menawarkan beberapa masakan khas Jogja.


"Em, McD aja gimana?." Eh, Siska malah minta McD.


"Kok jadi McD, padahal aku nawarinnya masakan khas sini."


"Biar cepet aja, kita belinya di drive thru terus langsung pulang. Aku rasanya udah gerah pengen mandi. Tadi gak sempet mandi soalnya habis dari kantor aku langsung buru - buru kebandara takut ketinggalan pesawat." jelas Siska.


"Ya udah deh kalau gitu, masih ada besok juga. Tapi kalau aku, aku sekarang maunya cium kamu dulu."


Cup.


Zidan mengecup Siska posesif diseluruh sudut wajahnya. Mulai dari kening, turun ke mata, ke pipi kanan dan kiri dan berakhir di bibir. Sampai - sampai membuat Siska jadi bersemu merah karna perlakuan suaminya itu.


"Zidan, dilihatin orang."


"Hehehe, biarin. Aku udah kangen berat soalnya sama kamu."


"Udah ah, ayo kita cepet pulang."


Siska dan Zidan pun segera beranjak dari bandara. Tangan Zidan tampak merangkul lengan Siska seraya membawakan koper milik Siska ditangan yang satunya.


Sampai dimobil, Zidan meletakkan koper tersebut di dalam bagasi dan kemudian segera membukakan pintu mobil dengan cara yang romantis. Dimana tangannya ditenggerkan diatas pintunya agar bisa melindungi kepala Siska dari benturan.


Perhatian yang diberikan Zidan itu, jelas tak luput dari Siska. Ah, harusnya sudah sejak dulu Siska datang menghampiri sang suami. Kenapa baru sekarang dia punya keberanian. Kemana aja dia selama ini padahal sebetulnya hatinya sendiri sangat senang kalau diperlakukan manis seperti ini.


Perjalanan ke apartemen tempat tinggal Zidan cuma butuh 15 menit dari bandara. Tadi mereka juga sempat mampir ke drive thru seperti permintaan Siska. Dan sekarang akhirnya kedua pasangan LDR itu pun sudah sampai di apartemen tempat tinggal Zidan selama di Jogja.


"Selamat datang, nyonya Zidan. Mau makan dulu atau mau mandi dulu?." Tawar Zidan yang pastinya bukan sekedar tawaran.


"Em, makan dulu. Soalnya udah kelaparan."


"Oke, pilihan yang bagus. Soalnya disini gak ada air angat sama bathup, jadi mandinya pakai bak mandi biasa terus airnya harus ngerebus dulu."


"Ya kalau gitu, aku mandi air biasa aja. Gak usah air hangat deh, aku juga lagi gerah."


"Oke, itu juga lebih baik. Soalnya aku sebetulnya juga malas mau ngerebus air." jawab Zidan sambil nyengir.

__ADS_1


"Hem, ternyata." Siska mencebik tapi masih mengurai senyum.


"Hehehe. Kalau gitu lebih baik ayo kita makan. Karna aku juga laper."


Zidan dan Siska kemudian duduk disofa ruang tengah sekaligus juga ruang tamu apartemennya.


"Aaakkkk, ayo aku suapin." Zidan bersiap menyuapi Siska.


"Gak ah, kelamaan. Aku udah kelaperan." Siska tak mau dan memilih makan sendiri saja.


"Tapi aku mau nyuapin kamu."


"Tapi aku gak mau!."


"Tapi aku mau."


"Zidan!." Siska melayangkan tatapannya untuk memberikan peringatan.


"Berarti kalau gitu, kamu yang nyuapin aku, mendadak aku jadi pengen kamu suapin. Aaakkk..." Bukannya takut, Zidan malah berubah haluan jadi manja.


"Zidan!."


"Aakkkk..." Zidan bertahan.


Siska mendecak.


"Aaakkkkkkk..." Eh malah semakin lebar.


Siska menghembuskan nafas kasarnya. Kelakuan suaminya ini ada - ada aja. "Hem, buka mulutnya." Siska pun menuruti permintaan si suami.


Jelas, Zidan dengan senang hati langsung membuka mulutnya dan kemudian mengunyah makanannya dengan hati riang gembira sambil menatap penuh cinta pada Siska yang duduk disampingnya.


"Yang, boleh tanya gak?." Ditengah sesi suap - suapan Zidan tanya.


"M, apa?."


Tiba - tiba ide terlintas dipikiran Siska. Kayaknya asik kalau bisa ngerjain Zidan. Jadi Siska pun sekarang langsung merubah ekspresi wajahnya. Raut wajahnya itu dibuat seolah sedang menyesal. Dan membenarkan pertanyaan Zidan.


Zidan terpaku beberapa saat. Matanya memperhatikan ekspresi wajah Siska. "Jangan bilang kamu beneran lagi datang bulan sekarang?."


Dan Siska pun mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. Tapi dalam hatinya jelas lagi ketawa.


"Beneran?."


"He'e."


Seketika Zidan menghela nafas berat. Dia termakan kebohongannya Siska. Wajahnya langsung lesu dan tak bersemangat lagi. Sungguh Zidan sepertinya lagi meratapi nasibnya yang sungguh berat sekali menurutnya. Bikin Siska jadi pengen ketawa geli tapi berusaha ditahan. Lumayan, malam ini dia punya hiburan ngerjain Zidan. Kwkwkw.


Siska berdiri didepan cermin yang ada didalam kamar mandi. Saat itu dia sudah selesai mandi. Sudah pakai dres tidur seksi dengan model tali singlet dimana bagian dadanya yang rendah berhasil mempertontonkan sang belahan dada dan pastinya juga diatas lutut.


"Seksi banget sih gue." Siska ngomong sendiri. Dia puas dengan dirinya yang tampak menggoda. Jiwa mesum Siska sudah kembali dan sekarang udah siap menggoda Zidan sampai suaminya itu klepek - klepek pokoknya.


Ceklek.


Pintu kamar mandi dibuka. Siska keluar dari sana dan langsung masuk ke kamar dimana Zidan ternyata sudah lebih dulu disana dan sekarang berbaring diatas kasur sambil memainkan ponselnya.


"Yang." Zidan langsung bersuara begitu matanya mengarah pada Siska yang baru masuk.


Tuh 'kan, apa yang Siska bilang. Zidan langsung klepek - klepek karna penampilan seksinya. Mata suaminya itu tak bisa lepas yang natap dirinya. Bahkan sampai menelan ludah beberapa kali.


"M, apa?." jawab Siska dengan gerakan menggoda, duduk disisi ranjang sampingnya.


"Yang,"

__ADS_1


Zidan gagal fokus. Cuma bisa yang, yang aja.


"Iya apa?."


Sekali lago Zidan menelan ludahnya. Entah kenapa rasanya sulit sekali mengeluarkan kalimat lainnya. Zidan terlalu fokus pada Siska yang tampak begitu seksi malam ini. Wajah cantik, dengan leher jenjangnya, belahan dada yang sangat rendah, dan pahanya yang mulus ditambah baunya wangi merupakan kombinasi yang pas. Sungguh istrinya ini lagi - lagi menguji imannya. Sampai membuat sesuatu yang seharusnya tak tegang jadi tegang dan merasa sesak dibawah sana.


"Apa sih? kamu mau ngomong apa?." Siska tanya yang aslinya dalam hati udah pengen ketawa ngakak karna rencananya yang berhasil.


"Kamu, seksi. Tapi ..."


"Tapi apa?."


"Tapi ganti baju ya. Kamu lagi datang bulan." Ucap Zidan dengan wajah begitu memohon.


"Enggak ah, aku udah nyaman pakai baju ini." Siska semakin menggoda. Malahan sedikit mengangkat dresnya sampai pahanya yang mulus terekspos sempurna.


"Yaaaannnggg ..." Zidan yang melihat gerakan Siska protes dengan nada cacing kepanasan.


"Apa sih?."


"Kenapa malah diangkat dresnya?."


"Siapa yang ngangkat? orang tadi aku cuma benerin."


"Ya tapikan paha kamu jadi keliatan." Zidan menutup pahanya dengan selimut.


"Ih, apaan sih kok malah ditutup. Gerah tahu!."


"Ya kalau gak mau ditutup cepet ganti baju sama."


"Ih enggak. Aku udah nyaman sama baju ini." Eh, sekarang Siska malah sedikit mengarahkan kedepan dresnya, yang mana tadi paha yang terekspos sekarang ganti belahan dada.


"Siska! kamu ini sengaja ya? mau bikin aku tegang?." kata Zidan dengan rasa frustasinya.


"Ih, enggak kok. Ngapain juga aku bikin kamu tegang."


"Ya tapi sikap kamu gitu, main - main sama baju kamu!."


"Eh, enggak kok. Kalau tegang ya berarti kamu aja yang lagi pengen."


"Ya kalau pengen, emang aku udah pengen dari dulu. Tapi meskipun kepengen juga gak bisa. Kamu lagi datang bulan." Zidan mulai gusar dan merajuk.


"Oh, gitu." Dengan senyum tanpa dosanya Siska ber oh ria.


"Aish! kamu ini. Ya udah kamu tidur aja dulu. aku mau ke kamar mandi." Dengan langkah gontai Zidan mau menuntaskan sesuatu yang sudah tegang itu sendirian dikamar mandi. Untuk hari ini, rasanya dia sudah tak sanggup menahan lagi. Harus dikeluarkan meskipun pakai sabun.


"Mau ngapain dikamar mandi?." Siska tanya. Padahal sebetulnya dia udah paham Zidan mau ngapain. Rencana godain suaminya itu, sukses besar.


"Gak ada, mau mandi lagi. Gerah!."


"Hehehe. Udah ah sini, mending sama aku aja, lebih enak." Siska menghentikan langkah kaki Zidan.


"Sama kamu?." Zidan mengulang perkataan Siska. Matanya tampak sedang menyelidik.


"Iya sama aku."


Zidan mengernyit. Maksudnya sama aku itu, begitu sama dia beneran, gitu 'kan?.


"Tadi aku bohong, aku gak lagi datang bulan." Siska pun ngaku sambil nyengir. Kasian juga kalau lama - lama di prank. Zidan sudah sangat frustasi soalnya.


Zidan masih diam ditempat. Dia masih meresapi apa yang Siska bilang tadi. Tapi kemudian dia tersenyum smirk. Astaga. istrinya ini ternyata lagi ngajak bercanda ternyata.


"Hem, kamu ini ya! sengaja ngerjain aku? Hah?."

__ADS_1


__ADS_2