
"Hahaha!!!."
Seperti biasanya 2 sahabat laknatnya itu lagi ngetawain Siska. Saat ini mereka juga seperti biasanya lagi di warung di jam istirahat makan siang.
"Jadi, kemarin ceritanya lo kepergok gitu sama Mama? terus karna itu lo sama Zidan langsung mau dikawinin?." Raya ngomong dengan sisa tawa renyahnya yang serenyak krupuk. Huh!.
"Astaga Sis, ini pernikahan terlucu yang pernah gue denger." si Feby tak mau ngalah.
"Kan? kalian ini gak ada respek - respek ya sama temen, malah ngetawain!." Siska mengerlingkan matanya jengah dan juga melengos. Tahu gitu dia gak cerita.
"Ya gimana gak ketawa. Bisa - bisanya tiba - tiba langsung dikawinin. Dikira lo lagi hamil kali." Raya nyeletuk lagi.
"Takut hamil yang bener, soalnya udah gak perawan. Hahaha." Feby menambahi.
"Iishhh!!."
"Hahahahaha."
Ya puas - puasinlah yang ngeledek. Biar pada lega.
"Tapi Sis, gue penasaran nih. Seandainya nih, kemarin gak ada mama. Kira - kira ciumannya itu bisa lanjut ke sesi berikutnya gak?." Astaga ini si Feby keponya yang aneh - aneh jadinya.
"Ya pastilah Feb, udah rebahan juga. Mana bisa ditahan lagi kalau kayak gitu."
"Hahaha, eh, kenapa gue jadi bayangin lo begituan sama Zidan ya Sis."
"Astaga Feby! gila lo! pikiran lo jorok banget!." Siska tak habis pikir dengan jalan pikiran 2 cecunguk ini.
"Udah deh, terserah lo semua. Yang pasti, gue udah punya prinsip. Meskipun gue udah nikah sama Zidan, gue gak akan melepaskan kevirginan gue. Enak aja, dia udah jebak gue sampai nikah gini, terus masih mau gituin gue!. No! gue gak akan biarin itu terjadi."
"Hm, gaya lo gak mau. Padahal dipepet dikit juga udah langsung melayang gak bisa nolak." Raya lagi - lagi menimpali sambil mencebik.
"Eh, enggak ya, kali ini gue serius. Zidan gak akan gue biarin sentuh gue dengan muda. Gue bakalan bikin perhitungan sama dia. Gue bakalan buat perjanjian pernikahan, jadi dia gak akan bisa seenaknya ke gue." jawab Siska mantap sekali.
Yap, sesuai dengan perkataannya. Disaat jam pelayanan baru berakhir. Siska masih duduk serius didepan meja kerjanya. Jari lentiknya sedang menari - nari diatas keybord dengan senyum smirk di wajahnya. Tahu 'kan kalian apa yang lagi Siska lakuin.
Krriiinggg!! Kriiinnngggg!!.
Suara ponselnya berbunyi tepat saat mesin printer baru saja mengeluarkan hasil cetakan.
"Sis, gue udah didepan." Ya si Zidan telpon.
__ADS_1
"Heem, tunggu bentar, gue keluar."
Siska meraih kertas hasil cetakannya dan kemudian bergegas menyusul Zidan.
Mobil Zidan melesat melewati jalanan yang ramai. Sedikit macet karna memang jam ramai pulang kantor. Sekitar 40 menit perjalanan, mobil itu pun memasuki halaman sebuah rumah bertingkat disalah satu komplek perumahan mewah.
Inilah rumahnya Zidan. Rumah yang sekitar 10 tahun lalu terakhir dia datangi. Bentuknya masih sama hanya catnya saja yang berubah. Dan mungkin ada lagi, halaman depannya malah semakin asri kayaknya karna pohon mangga yang sengaja ditanam disana.
"Mam, kita datang." Zidan memberitahukan kedatangannya pada sang mama yang lagi sibuk di dapur.
"Eh, kalian udah datang?."
"Sore tante..." sapa Siska yang dibarengi dengan salaman, pelukan dan cipika cipiki dengan Bu Resti.
"Eh, sini - sini, ikut tante." Bu Resty langsung menggiring Siska ke dapur diitengah gumaman Zidan.
"Hem, main seret - seret aja."
"Eh, ini cobain. enak gak kira - kira?." Bu Resti ini lagi bikin kue nastar dan langsung menyuapi Siska begitu aja.
"Uhm, enak banget." Siska mengacungkan jempolnya.
"Heem." Jawab Siska mantap sambil mengangguk - angguk, membuat Bu Resti jadi tersenyum lebar.
"Aku bantuin ya tan,"
"Jangan! kamu duduk aja. Tante gak mau nanti disangka mertua yang jahat. Masa anak mantunya baru datang dan berkunjung udah langsung disuruh kerja. Bisa - bisa Zidan nanti ngomel ke tante. Eh, tapi bentar, sekarang manggilnya jangan tante lagi, tapi mama, kamu 'kan sudah jadi anaknya mama sekarang. Oke?."
"Hehehe, iya ma." Siska menuruti, ada rasa bahagia tersendiri dihatinya karna perlakuan Bu Resti padanya.
"Ya udah kamu sekarang pindah aja diruang tengah atau kamu kintilin tuh si Zidan kemana. Nanti kalau udah siap kita makan bareng."
"Iya, ma."
Siska pun berjalan keruang tengah dengan mata yang memperhatikan sekeliling. Rumah ini benar - benar masih sama dan tak ada perubahan. Jadi rasanya Siska mengalami de javu, tak mengira kalau pada akhirnya dia akan kembali kesini lagi.
Puas dengan memperhatikan sekeliling. Sudut mata Siska kemudian menangkap sebuah pintu. Itu adalah kamar Zidan. Dulu meskipun dia kesini, Siska tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke kamar Zidan. Maka dari itu, untuk hari ini dia ingin masuk kedalam sana.
"AAHHH!!!."
Begitu pintunya dibuka, Siska langsung disuguhi pemandangan Zidan yang lagi ganti baju.
__ADS_1
"Apaan sih lo? pakai teriak segala. Yang buka pintu tanpa ngetuk lo, tapi yang kaget juga lo." kata Zidan dengan santainya, sambil meneruskan memakai kaosnya.
"Dikunci kek kalau mau ganti baju. Biar gak ngagetin."
"Kok jadi gue yang salah?."
Zidan sudah memakai kaosnya. Dan Siska pun berjalan masuk dengan perlahan.
Siska mulai memindai sekeliling kamar Zidan. Kamar Zidan ini, didesain nuansa bangunan setegah jadi dengan tembok bata merah tapi terlihat rapi. Benar - benar menggambarkan kamar seorang arsitek yang pro. Selain itu, ditemboknya juga banyak terpajang sketsa bangunan rumah, gedung, jembatan, dan lain - lain. Bahkan terdapat juga rumus - rumus atau apalah itu untuk perhitungan pondasi atau bobot gedung, yang Siska pun tak paham maksudnya.
"Bener - bener menghayati sebuah profesi, sampai kamar pun di model kayak bangunan ancur." Siska komen.
"Hm, orang kalau gak ngerti nilai sebuah arsitekur ngomongnya pasti gitu."
"Ya, ya, ya up to you lah."
Siska kemudian menghadap ke Zidan dan mengeluarkan lembaran yang tadi di cetak.
"Oh ya. Gue mau ngomong sama lo. Ini, tolong lo baca terus lo tanda tangani."
Zidan mengernyit. Ini maksudnya Siska apa, dari judulnya aja sudah membuat Zidan tak suka. Sebuah perjanjian pernikahan, yang intinya adalah larangan - larangan yang tidak boleh dilakukan selama mereka menikah. Bahkan skinskip tipis - tipis pun tak boleh.
"Bentar, lo dapat dari mana buat beginian? lo kebanyakan nonton drakor atau baca novel?. Ini serius lo, kita gak boleh skinskip meskipun cuma pegangan tangan? Sis, kita udah nikah, lo yang bener aja dong?."
"Ya karna kita udah nikah itu, jadi gue harus lebih menjaga diri. Gue gak mau ya, rusak gara - gara lo!."
"Terus ini lagi? lo tulis, kalau melanggar perjanjian maka lo mau ngajukan talak? maksud lo, ini lo mau cerai gitu sama gue?."
"Iya, gue bakal ceraiin lo kalau lo melanggar semua poin yang ada disitu. Jadi kalau lo gak mau itu terjadi, jangan coba - coba lo langgar semua ketentuan yang udah gue buat." ucap Siska begitu tegas.
"Lo serius sama ini?."
"Menurut lo gue lagi bercanda?."
"Lo yakin, lo bisa nahan diri dari gue?."
"Yakinlah! ah, udah deh cepet lo tandatangani!." Siska mulai tak sabar.
Zidan mendengus. Dia benar - benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Siska. Tapi kemudian, seutas pikiran jail terlintas diotaknya. Dikira hanya karna surat perjanjian ini dia jadinya takut apa. Siska, kamu salah paham.
"Oke, gue tandatangani." Zidan bergerak kemeja dan kemudian mengambil sebuah pulpen yang ada dilaci. Saat menandatangani itu, bibirnya tersenyum smirk. Ya, kita lihat saja, siapa yang bakal menang. Gitu pikirnya Zidan.
__ADS_1