
Esoknya,
"Astaga, Siska! kamu kok masih belum siap - siap sih?." Bu Irna memekik, langkahnya terlihat tak sabar memasuki kamar Siska di sore itu.
"Emangnya aku harus siap - siap gimana sih mam?." jawab Siska dengan sikap malas dan tak pedulinya.
"Ih! kamu jangan buat mama emosi lagi, ya? ayo cepet kamu ganti baju sama dandan yang cantik. Ini bentar lagi keburu keluarganya Zidan datang gimana?." Bu Irna menutup paksa laptop dihadapan Siska. Ini si Siska gimana coba, malah santai - santai nonton drakor sambil rebahan. Padahal 'kan dia bentar lagi mau lamaran.
"Ya biarin, datang ya datang aja. Emang siapa juga yang nyuruh kesini." kata Siska sekenanya.
Dan satu pukulan melayang lagi dilengan Siska.
"Arrggghhh!!!."
"Mama!! kenapa dari kemarin pukul aku terus? Lama - lama KDRT ih, mama ini!."
"Terserah! mau KDRT, mau apa pun itu yang pasti kamu sudah buat mama sakit hati! jadi sekarang jangan protes. Cepet kamu ganti baju. Awas kamu kalau sampai keluarganya Zidan datang tapi kamu masih acak - acakan. Mama gak akan maafin kamu!."
"Ih! Mama! kok malah ngancem sih?."
"Kenapa? kamu gak suka kalau mama ngancam kamu? Kamu ini, bukannya bersyukur, Zidan mau tanggungjawab. Eh, kamunya malah gak mau. Ayo cepet siap - siap yang bener, jangan sampai malu - maluin!."
"Biarin deh malu - maluin! aku juga gak butuh pertanggungjawabnya Zidan. Orang juga aku masih suci, masih perawan. Aku ini belum dinodai siapa - siapa, mam?. Jadi stop suruh aku nikah sama Zidan. Apa lagi, asal mama tahu, Zidan itu duda mam, dia baru aja cerai. Akta cerainya baru terbit seminggu lalu. Mama gak kasian apa sama aku? nanti apa kata orang tentangku?." Siska coba negosiasi, siapa tahu kalau mamanya tahu tentang Zidan yang baru cerai bisa berubah pikiran.
"Kamu kira mama gak tahu kalau Zidan pernah gagal nikah? Mama udah tahu. Zidan udah cerita semuanya. Dan terserah juga kamu ngomong apa. Mama tetep gak percaya sama kamu. Kejadian kemarin itu terlalu nyata buat mama. Sampai sekarang aja mama masih merinding kalau inget. Jadi, udah, pokoknya 15 menit lagi mama kesini lagi, kalau kamu gak siap - siap jangan harap kamu bisa panggil mama sama papa lagi." jawab Bu Irna, dikira dia gak tahu apa tentang Zidan.
"Ih! Mama!!."
Brakk!!
Bu Irna keluar dari kamar Siska. Terus juga sengaja menutup pintu kamar Siska dengan sedikit kasar. Biar, anaknya itu tahu kalau dia lagi gak mau bercanda.
"Aaarrrgggghhh!!!."
Siska teriak frustasi. Sumpah semuanya rasanya kayak mimpi. Masak cuma gara - gara ciuman dia menikah sama Zidan?. Gak masuk akal banget 'kan?. Iya sih, emang Siska juga berharap hubungannya dengan Zidan bisa punya status yang jelas. Tapi, kalau menikah? ini kejauhan rasanya. Aishh!! semuanya ini gara - gara Zidan sampai Mama dan Papanya jadi salah paham. Jadi, setelah lamaran selesai, Siska pastikan, akan membuat perhitungan yang tepat ke Zidan.
"Lah, gitu dong, kalau gini 'kan cantik. Coba dari tadi gini, mama gak 'kan perlu marah - marah." Bu Irna muji. Anaknya sudah cantik sekali, sudah memakai gaun warna putih selutut dan merias wajahnya dengan polesan make up.
__ADS_1
"Ih!."
"Ya, udah ayo turun. Itu Zidan sama orang tuanya sudah datang."
Siska berjalan mengikuti sang mama turun kebawah. Entah kenapa kok jadinya dia malah gugup. Seharusnya kan gak boleh gini. Apa sebetulnya dia juga suka sama pernikahan dadakan ini?. Kalau iya, betapa plin plannya Siska.
"Siska, sayang." Bu Resti, mamanya Zidan bangkit dari duduknya. Dia memberi pelukan hangat pada Siska.
"Tante..." Siska pun langsung membalas pelukan hangat Bu Resti. Senang rasanya bisa bertemu lagi sama sosok ibu satu ini.
"Kita ketemu lagi, dan sekarang kamu beneran jadi mantunya tante. Tante seneng." Ada perasaan bahagia dan terharu dari tatapan Bu Resti disini.
"Iya tante, aku juga seneng bisa ketemu sama tante lagi."
"Kamu semakin cantik aja sayang, pantesan si Zidan keburu - buru nikah sama kamu." Bu Resti nyeletuk.
"Tante bisa aja, tante juga tambah cantik." Siska jawab, dengan mata yang diam - diam ngelirik sinis ke Zidan. Eh, tapi Zidan malah bales dengan senyum genit padanya. Buat Siksa malah mual.
"Ayo sini duduk disampingnya tante."
Siska nurut. Dia pun duduk disamping Bu Resti.
"Iya, Zidan dulu pernah bawah Siska kerumah beberapa kali pas pacaran. Mangkannya begitu kemarin dia bilang katanya mau ngelamar Siska mantan pacarnya, saya yang jadinya semangat sekaligus senang." jawab Bu Resti, yang tangannya menggenggam tangan Siska.
"Oh, iya, iya. Syukur kalau gitu."
Singkat cerita, cara lamaran sederhana ini pun berjalan lancar. Para orang tua sudah menetapkan tanggal pernikahan untuk Siska dan Zidan. Nanti kedua insan ini akan menikah 2 minggu lagi. Terlalu cepat sih memang, tapi karna sudah tak mau lama - lama membiarkan sang anak berbuat dosa terlalu lama, jadinya mereka memutuskannya begitu. Lebih cepat itu lebih baik.
Suasana diruang tamu kini sudah berganti santai. Para orang tua sedang ngobrol panjang lebar dan mulai akrab satu sama lain. Gelak tawa juga sering tersisip di bibir masing - masing. Disaat seperti ini, biasanya para anak sudah mulai diasingkan diantara obrolan mereka. Jadinya pun Siska pamit untuk masuk kedalam begitu juga Zidan yang memutuskan untuk mengikuti sang calon istri.
Satu pelukan hangat dilayangkan oleh Zidan dari belakang begitu keduanya sudah berada di kamar Siska. Aroma tubuh Siska yang wangi sudah membiusnya sedari tadi.
"Eh, apa - apaan sih lo!." Siska protes, yang sudah pasti gak akan didenger Zidan.
"Peluk calon istri."
"Lepas gak? gue teriak nih!."
__ADS_1
"Lucu kalau lo teriak, gue 'kan udah jadi calon suami lo." Zidan malah semakin mengeratkan pelukannya bahkan sambil menggoyang - goyangkan tubuh Siska. "Wangi, lo pakai parfum apa? gue suka rasanya parfum lo yang ini."
"Isshh!! lepas gak? jangan sampai mama sama papa liat kita gini."
"Gue kangen." jawab Zidan malah nyeleneh.
"Zidan!."
"Apa sayang..."
"Gue gak lagi bercanda!."
"Sama, aku juga gak lagi bercanda." Sekarang malah bilang aku, kamu.
"Lo, ini kesambet apaan sih?."
"Kesambet cintanya kamu."
"Zidan!."
"Apa sih sayang dari tadi pangil - panggil terus." Disini Zidan malah semakin menikmati setiap ocegah Siska yang ngegas.
"Gue hajar lagi lo entar!."
Dan seketika Zidan kicup. Dia langsung melepaskan pelukannya dengan wajah cemberut.
"Kalau itu aku nyerah. Ini lukaku belum sembuh."
"Cih!."
****
butuh saran nih, gimana sejauh ini novel yang aku buat.
Seru gak? menarik gak?
atau malah semakin membosankan?
__ADS_1
soalnya beberapa hari ini, aku terjebak dalam writer's block.
Please komen ya,