
"Sis, kita belum nikah. Paling enggak biarin gue sentuh lo saat ini. Biar gue bisa tenang sewaktu di jogja." permohonan demi permohonan terus diluncurkan Zidan dengan mulut mautnya itu.
"Lo ini gak berubah, ya? suka memanfaatkan keadaan."
"Ya, gimana lagi, kesempatannya cuma hari ini. Jadi gue gak punya pilihan. Bentar lagi kita LDR, jadi please ijinin gue peluk lo aja deh, gak usah cium. Yang penting lo bolehin." Zidan memohon lagi. Bahkan sedikit merengek. Astaga!.
"Apaan si lo kenapa jadinya kayak anak kecil?."
"Demi dapat pelukan, jadi segala cara harus dilakuin 'kan?." Lagi - lagi. Dengan tampang yang susah ditolak sama Siska.
"Ish! cuma pelukan, gak lebih!." Siska mengingatkan, bahkan sampai mengacungkan telunjuknya dengan memincingkan matanya.
"Iya, siap."
Ijin udah dikantongi, jadi Zidan pun langsung menarik tubuh Siska dalam dekapannya dan memeluknya erat. Sebetulnya gak terlalu susah ngajak Siska skinskip, dibujuk gini aja buktinya Siska udah langsung iya aja. Cuma yang susah itu, membuat Siska 100% sadar kalau sebetulnya dia juga punya rasa padanya. Hati cewek ini, masih ada sedikit keraguan padanya. Jadi, Zidan pun harus berusaha lebih keras lagi.
"Sorry, karna kita harus menikah dengan cara seperti ini. Tapi meskipun begitu, gue bakalan jadikan lo wanita paling bahagia didunia ini." Zidan sengaja membuat jarak saat mengucapkan kalimat ini agar bisa bertatapan langsung dengan Siska.
"Maaf aja gak cukup!."
"Maka dari itu di akhir kalimat gue tadi, gue bilang mau jadiin lo wanita yang paling bahagia didunia ini."
"Ih! kayak lo beneran bisa ngelakuin itu!."
"Ya, kita buktikan aja nanti setelah kita nikah. Lo bakalan bahagia atau enggak. Tapi yang pasti lo pasti bakalan bahagia, karna rencana gue, gue mau jadiin lo seorang ratu."
"Hem, Lo, kalau ngomong emang pinter." Tapi jujur gombalannya Zidan ini emang topcer. Buktinya wajah Siska sekarang jadi memerah mendengar gombalannya itu.
"Gue, bukan cuma ngomong aja yang pinter, ciuman gue juga pinter."
"Kan?" Siska memincingkan matanya lagi. Tadi bilangnya cuma pelukan sekarang minta cium juga.
Eh, tapi si Zidan udah gila. Baru aja dikasih tatapan tajam, Dia malah tiba - tiba langsung menyambar bibirnya tanpa lagi dan aba - aba.
"Zidan!." Siska sedikit mendorong tubuh Zidan agar bisa protes.
"Please, nikmati ciuman kita kali ini. Gue bakalan cium lo dengan lembut dan penuh perasaan."
__ADS_1
Ah, kata - kata racunnya Zidan keluar lagi dibarengi tatapan sayunya. Siska 'kan jadi tak kuasa untuk menolak. Jadinya dia pun membalas tatapan sayu milik Zidan.
"Nikmati, oke?."
Dan, secara perlahan lelaki itu mulai mendekatkan wajahnya lagi dan menautkan kembali bibir mereka dengan lembut.
Oke, Siska pun memilih untuk jatuh pada pesona ciumannya si Zidan. Dia mulai memejamkan matanya dan melingkarkan tangannya keleher Zidan. Biarkan semua sensasi saat ciuman, keluar begitu saja seperti kata Zidan. Inget bentar lagi mereka LDR, jadi untuk sesaat terbius 'kan gak apa - apa.
Darah panas mulai menerjang keduanya. Hingga keduanya sudah tak kuasa menahan semuanya itu. Ciuman itu semakin menuntut, bunyi - bunyi mulai tercipta dari kecupan kedua bibir mereka. Dan lagi sensasi dari tubuh yang menempel sempurna membuatnya semakin luar biasa. Ini benar - benar gila rasanya, sepertinya Siska dan Zidan tidak akan puas kalau cuma ciumannya sampai di bibir.
Dan benar, tak ada harapan. Zidan sudah menurunkan ciumannya ke leher Siska. Bibirnya sudah menelusuri semua tulang lehernya dengan begitu khidmat. Keduanya sudah terbuai dalam gairah masing - masing. Semuanya sudah diujung, sampai satu pertanyaan terlontar dari bibir rakus Zidan.
"Sis, boleh gue bikin kissmark?." Suara Zidan terdengar berat dan nafasnya juga tersenggal - senggal.
"Enggak! gue timpuk lo!" Siska harus tetap waras buat hal ini, meskipun sebetulnya dia juga pengen karna sudah diselimuti gairah. Tapi, jangan sampai kejadian tempo hari terulang lagi. Gara - gara kissmark, kesehariannya jadi gak tenang.
"Bukan di leher, tapi ditempat yang gak terlihat."
"Hah? maksud lo?." Siska tercekat, dia mencoba meresapi kata - kata Zidan, ini bukan ditempat yang lagi dia pikirin kan?.
"Disini." Benar, Zidan menunjuk area dadanya secara terang - terangan membuat Siska yang udah tercekat semakin tercekat saja.
"Iya, gue emang udah gila gara - gara lo. Lo terlalu menarik, sampai bikin gue ingin lebih."
Zidan mulai membuka kancing baju batik milik Siska hingga belahan dada wanitanya itu menyembul keluar. Tak ingin lama - lama dan menyia - yiakannya, Zidan pun langsung menenggelamkan wajahnya disana.
"Zidan, ini bisa fatal. Lo jangan gila." Tapi itu cuma omongan Siska aja. Aslinya malah tangannya semakin menekan kepala Zidan kedalam dadanya. Benar - benar aneh.
Satu persatu kissmark dibuat diantara dada Siska yang masih terbungkus bra. Tangan Zidan juga mulai bekerja. yang satu menekan pinggang Siska sambil mengusap - usap. Yang satu mulai bergerilya membuka sisa kancing baju milik Siska hingga baju itu sepenuhnya terbuka. Tak cukup sampai disana, dengan gerakan lembut dan sensualnya, Zidan juga berhasil membuka pengait bra milik Siska.
"Zidan, jangan dibuka." Siska mencoba menghentikan tindakan Zidan yang hendak menelanjanginya.
"Please nikmati Sis, gue yakin lo juga suka."
Ini bener - benar sudah gila. Hanya dengan satu kalimat itu, Siska tak jadi melawan. Dia membiarkan Zidan melepas bajunya hingga akhirnya seluruh tubuh atasnya terekpos sempurna.
Tangan dan mulut Zidan mulai bermain - main diantara dadanya. Sensasinya benar - benar gila dan tak tertahankan. Siska sudah kehilangan akalnya. Sentuhan dari Zidan benar - benar membuat mabuk kepayang. Begitu pula dengan Zidan, sama - sama kehilangan akal sehatnya. Rasanya sudah lama sekali dia tak merasakan hal ini. Sebuah gairah yang memuncak dengan sensasi kenikmatan yang tiada tara. Bahkan dengan calon istrinya dulu, dia tak begitu terangsang. Hanya dengan Siska sepertinya dia jadi laki - laki brengsek.
__ADS_1
Disaat puncak gairah dan kenikmatan demi kenikmatan menerjang kedua insan ini. Eh, datanglah seorang pengganggu yang tak diinginkan. Tanpa mengetuk dan tanpa memberi aba - aba, si Caca tiba - tiba membuka pintu kamar Zidan.
"Mas Zidan!!!." suara riang itu, dari Caca begitu dia membuka pintu.
"Eh?." Siska dan Zidan langsung menoleh kearah pintu.
"Oh My God!." Caca langsung mengatupkan mulutnya. Pemandangan didepannya sungguh belum boleh dilihat olehnya yang masih berusia 16 tahun.
"Sorry, lanjutin. Gue gak akan bilang sama mama." Dan secara perlahan Caca menutup kembali pintu kamarnya.
"Zidan, Caca ngeliat kita?." Seketika Siska jadi lemas dan menutup wajahnya karna malu setengah mati.
"Iya." Zidan menelan ludahnya. Dia juga gak menyangkah kalau Caca bakalan langsung membuka pintunya. Aish! gara - gara Caca jadinya kegiatannya dan Siska jadi berhenti ditengah jalan.
"Ini semua gara - gara lo! gue jadinya malu tahu!." Dengan suara hendak menangis Siska mulai ngomel. Sumpah ini adalah momen paling memalukan dalam hidupnya.
"Sorry harusnya gue kunci pintunya biar gak ada yang ganggu." Ini Si Zidan bukannya malu tapi malah merasa terganggu.
"Uh, gila lo, bukannya menyesal udah kepergok mesum, lo malah ngomong mau ngunci pintu?." Siska yang tak habis pikir pun melayangkan pukulannya ke dada Zidan.
"Ya, gimana, lagi horny - hornynya terus ada yang gangguin, kan kesel gue jadinya."
"Iisshhh!!." Sekali lagi Siska melayangkan pukulannya.
"Dasar otak gak ada akhlak!." Lagi Siska memukul lagi hingga berkali - kali.
"Arrgghh!! Sis, kok jadi mukul."
"Gara - gara lo gue jadinya malu setengah mati. Gimana nih ngadepin si Caca? Dia liat gue naked lagi. Ishh!!." Siska terus memukuli Zidan demi melampiaskan rasa malunya.
"Arrggghhh! stop dong sayang, jangan mukul terus. Pakai baju dulu biar gue gak gagal fokus lagi."
"Aarrgghh! gila lo! dasar mesum!."
****
Mohon maaf padahal ini bulan puasa tapi malah ceritanya begini.
__ADS_1
Tapi gimana lagi, karna memang alurnya itu gini. Jadi mau menulis adegan yang lain malah jatuhnya mikir lagi. Jadi jangan sampai bayangi kelakuan mereka yang mesum ya, biar puasanya gak batal.
jangan lupa likenya, komennya, votenya sama hadiahnya.. dukungan para reader itu berarti banget lo ...