
"Sis, bangun, ini udah jam setegah 4, sayang." Siska harus bangun sepagi ini karna perjalanan panjang yang harus dilaluinya untuk ke tempat kerja.
"Siska, ayo bangun, nak ..."
"Sis, Siska."
Itu adalah usaha pertama yang dilakukan Bu Irna untuk membangunkan Siska. Dengan lembut Bu Irna menggoyangkan tubuh sang anak yang persis seperti mayat hidup.
15 menit kemudian. Bu Irna kembali lagi ke kamar Siska. Dia melakukan usaha kedua membangunkan si Siska.
"Siska, udah jam 4 kurang seperempat lo, ayo bangun, kalau gak bangun nanti kamu telat kerjanya."
"Siska,"
"Sis, ayo bangun dong, nak."
"Siska, bangun sayang."
"Ehhmmmm ...!!!" cuma itu respon Siska. Tubuhnya malah miring memeluk guling dan kembali damai dalam tidurnya.
"Siska, Ayo dong sayang, cepet bangun, nanti kamu telat lo kerjanya." Dan lagi - lagi zonk. Bu Irna masih belum bisa membangunkan Siska dari tidurnya.
"Huft!!" Bu Irna menyerah. Dia memilih keluar lagi dari kamar Siska dan pergi ke dapur. Nanti kalau sudah jam 4 pas barulah dia akan membangunkan Siska lagi dengan cara yang kasar .
"Masih belum bangun tante?." Zidan baru saja keluar dari kamar mandi. Sepertinya sejak tadi Zidan sudah membantu Bu Irna didapur bahkan sengaja menyiapkan air hangat untuk mandinya Siska.
"Belum, dia emang gitu, kalau dibangunin susah banget."
"Em, padahal air hangatnya udah aku siapin. Kalau Siska gak bangun, nanti jadinya dingin lagi dong." Ada raut sedikit kecawa pada muka Zidan. Sayang sekali kalau bentuk perhatiannya ini tidak dirasakan Siska.
"Coba kamu yang bangunin, siapa tahu nanti Siska bisa bangun. Nanti dia 'kan otomatis kaget tuh kalau tiba - tiba ada kamu di kamarnya." Jelas saja saran Bu Irna ini membuat Zidan bersorak bahagia dihatinya. Dia dapat lampu hijau untuk masuk kedalam kamar Siska. Sungguh beruntung sekali dirinya.
"Tapi, apa gak apa - apa tante kalau saya masuk ke dalam kamarnya Siska?" Meskipun sedang bahagia tapi harus ditutupi dong, biar gak disangka mencuri kesempatan dalam kesempitan. Meskipun aslinya iya.
"Iya gak apa - apa, kamu bangunin deh Siska, biar ini masaknya tante yang ngelanjutin."
__ADS_1
"Em, ya udah tante, tapi saya permisi, ya."
"Iya, udah sana cepet bangunin."
Tak menyia - nyiakan kesempatan. Zidan pun naik kelantai atas. Kebetulan dilantai atas itu cuma ada kamar Siska dan 1 ruang keluarga dengan sofa yang memenuhinya.
Zidan menarik pedal pintu kamar Siska. Saat masuk dalam kamar, Zidan memperhatikan sekeliling kamar Siska lebih dulu. Kamar itu dipenuhi cat berwarna ungu, warna kesayangan Siska. Kamarnya juga terlihat rapi, mungkin karna sang pemilik jarang menempatinya. Disalah satu tembok diatas meja belajarnya. Terpajang banyak foto berukuran kecil. Itu foto kehidupan Siska, mulai saat masih kecil hingga akhirnya dewasa. Kamar ini, benar - benar menggambarkan kamar seorang cewek yang belum menikah.
Zidan duduk disamping ranjang Siska. Tangannya menyugar rambut Siska yang menutupi wajah. Sebuah gelak tawa kecil muncul diwajah Zidan. Ya bagaimana tak tertawa, selain ekspresi Siska yang lucu saat tidur. Cewek dihadapannya ini juga mengorok kecil. Melihat hal lucu didepan mata, jelas sifat jailnya muncul. Zidan dengan sengaja merekam Siska saat tertidur. Lumayan, dapat bahan buat godain Siska lagi nanti.
"Sis, bangun..." Zidan menggoyang tubuh Siska sedikit kasar.
"Sis, bangun ..." Lagi, goyangannya lebih kencang.
"Ehhmmmm!!!." Siska ngulet lagi, kali ini sambil menarik selimut dan kembali terlelap.
"Sis, bangun, kalau gak bangun gue cium lo."
"Ehhhmmm!!!." Respon Siska sama saja. Dibawah alam bawah sadarnya dia mengira sedang mimpi mendengar suara Zidan.
"Sis, cepet bangun, gue cium beneran lo, kalau gak bangun - bangun." Sekali lagi Zidan menggoyangkan tubuh Siska. Dan Siska masih saja mengira kalau dia lagi ngimpi.
"Siska!!" Dari nadanya saja Zidan sudah tak sabar. Astaga, ini Siska beneran kalau tidur persis kayak orang mati. Pantesan mamanya pasrah.
"Ehmmmm!!! apaan sih ma, Siska masih ngantuk." Ya akhirnya Siska merespon, tapi ngiranya sang mama yang sedang bangunin. Dan setelahnya balik lagi tidur.
"Sis, bangun gak lo, gue cium beneran nih."
Sudahlah tak ada respon lagi. Siska masih dengan damainya ngorok lagi.
Cup.
Jangan salahkan Zidan kalau dia benar - benar mencium Siska saat itu. Zidan sudah bilang berkali - kali kalau dia akan mencium Siska kalau Siska gak bangun - bangun.
Siska merasa bibirnya sedang dihisap. Lumayan dalam dan sedikit lama tapi lembut. Otomatis 'kan karna itu, Siska akhirnya bangun.
__ADS_1
"Aaarrrrgggghhhh!!!!." Rasa terkejut membuat refleknya jadi bagus. Tadi Siska mendorong Zidan sangat kuat sampai Zidan jatuh tersungkur ke lantai.
BRAKK!!!
"Aaarrrgggghhh!!!" Yang ini pekikan sakit dari Zidan karna tulang belakangnya yang terhempas duluan ke lantai.
"Lo, ngapain disini? tadi itu lo ngapain? Lo mau ngapain gue? Lo sengaja masuk ke kamar gue?." suara Siska terdengar blepotan, selain terkejut dia juga jadi takut. Badannya langsung ditutupi selimut takut Zidan betulan macam - macam.
"Aiiishhh!! lo kalau gak pakai cara kasar gak bisa ya?." Ya karna memang setiap kali dengan Siska, Zidan selalu terluka dan kesakitan.
"Lo, ngapain lo disini, jawab!!!"
"Aduh, gue cuma bangunin lo, tuh liat jamnya udah jam berapa!." Dengan menahan sakit Zidan menjawab pertanyaan Siska.
Siska melirik jam di dinding. Memang sudah jam 4 lebih 20 menit. Seharusnya dia memang sudah bangun.
"Tapi tadi lo ngapain? kenapa lo ada diatas gue? lo punya pikiran kotor 'kan lo ke gue?" Siska masih menuntut penjelasan, karna menurutnya itu yang paling penting.
"Tadi, gue 'kan udah bilang, kalau gue bakal cium lo kalau lo gak bangun. Dan karna lo gak bangun - bangun ya udah gue cium." jelas Zidan dengan raut tanpa rasa bersalah dan senyumnya yang jail.
Astaga!! lagi? Zidan meledakkan emosi Siska.
"Aaarrrrggghhh!!!" Siska berteriak frustasi. Itu tadi teriakannya cukup kenceng, otomatis akan terdengar sampai lantai bawah. Bahkan Zidan sampai melonjak ketakutan.
"Dasar lo, orang gila!!! pergi lo dari sini!!!!."
"Sorry, sorry, iya gue pergi, tapi lo tahu gak? bibir lo itu bikin candu, gue gak bisa nahan." Zidan mengatakan hal itu sembari mundur perlahan dengan gerakan takut - takutnya.
"Aaarrrggghhhh!!!!" WHAT? candu katanya? Oh My God!! Zidan, lo kesamber setan vulgar dari mana? kenapa mulut lo cabul banget, sih???.
"Keluar lo dari kamar gue!! keluar!!! Gue benci sama lo!!!! benci!!! aaarrrgggghhhh!!!."
Siska kembali ngereog. Dia mulai melempar semua bantal dan guling ke arah Zidan. Dan Zidan dengan cekatan menghindar.
"Lo, cepet turun, gue tadi udah siapin air hangat buat lo mandi." Dan BRAKK! Zidan berhasil kabur. Dia menutup pintu kamar Siska dari luar, meninggalkan Siska yang emosinya masih memuncak.
__ADS_1
*******
ckckck!! suka mencuri kesempatan dalam kesempitan sih sama Siska, jadinya aku kan bikin kamu di gebugin lagi ...