Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
64. Perkara Baju Ganti


__ADS_3

Siska dan Caca sudah sibuk didapur. Mereka berdua membantu sang mama masak beberapa menu makanan untuk menyambut kedatangan Om Robet. Kalau kata si Caca Om Robet ini adalah kakak dari Papanya yang sudah lama gak ketemu. Dan mereka selama ini tinggal di Australia. Mangkannya itu Bu Resti jadi sedikit heboh pas denger kalau hari ini mereka bakalan datang berkunjung ke rumah.


"Ehem!." Zidan berdehem sambil menyenderkan diri di pintu dapur. Wajahnya terlihat masam dengan Mata memincing, menatap Siska dan Caca secara bergantian. Dia masih dendam pada 2 wanita dihadapannya karna tadi meninggalkannya di pinggir jalan.


Siska langsung senyum saat menengok ke arah Zidan. Tak ada rasa takut sedikit pun meskipun Zidan sedang mengeluarkan tatapan intimidasinya. "Udah datang?."


"Heee," Sementara Caca cuma bisa nyengir begitu melihat sang kakak.


"Eh, ini cobain. Aku sama Caca lagi bikin salad." Siska mendekat pada Zidan lalu menyuapkan sesendok salad ke mulut Zidan. "Gimana?."


"He'em, enak."


"Beneran? mau lagi gak?." tawar Siska sambil sedikit bergelantung manja. Sengaja biar Zidan gak marah lagi.


Zidan tersenyum smirk. Tahu maksud dari sikap sang istri.


"Maaaff..." Siska mengucapkan kata maaf dengan gaya manja dan menggemaskan. Yang sudah pasti dengan sikapnya itu Zidan jadi tak berkutik. Ya maklum memang pada dasarnya Zidan sudah tak marah pada Siska. Jadi saat Siska yang begini, dia malah merangkul istrinya itu tapi dengan tatapan masih ketus ke Caca.


"Udah dong ah, jangan gitu ke Caca. Kamu nakut - nakutina aja." kata Siska mencoba menghentikan sang suami agar tak bermuka masam lagi.


"Dia, mana takut sama aku, buktinya tadi berani bener ninggalin aku dipinggir jalan." kata Zidan masih saja tersenyum smirk pada sang adik.


"Dia gitu juga gara - gara kamu. Ngapain kamu tadi pakai acara suruh Caca nungguin kita begituan." ucap Siska sambil sedikit berbisik, sedikit malu soalnya kalau inget kelakuan mereka tadi pagi yang gak seharusnya gitu.


"Cih! sekarang kamu belahin adik kamu itu?." Zidan tak terima.


"Iya, aku belahin dia. Soalnya emang kamu yang salah. Kamu juga udah bikin aku malu didepan dia. Aku ngerasa jadi gak punya wibawa sama martabat ini didepan dia. Dia mandang kita kayak mandang pasangan yang suka mesum, tahu."


"Itu karna dia salah ngartiin aja. Kita ini bukan pasangan suka mesum, tapi pasangan itu yang romantis yang gak bisa dipisahin barang detikpun."


"Iya deh terserah kamu. Pokoknya yang pasti, aku minta jangan marah - marah sama Caca. Kamu harus inget tadi di mobil kamu udah janji mau bahagiain Caca hari ini. Jadi kamu harus konsisten sama janji kamu. Kalau enggak aku yang bakalan marah sama kamu, terus aku gak mau deket - deket sama kamu. Biar deh kita pisah ranjang sampai beberapa hari kedepan, kalau kamu masih mau marah - marah sama Caca." ancam Siska yang jelas bikin Zidan jadi gelagapan.


"Ya jangan dong sayang. M'asak sampai pisah ranjang?." protes Zidan. Dia mana bisa pisah ranjang lagi sama Siska. Bisa - bisa Zidan ngenes lagi tiap malamnya.

__ADS_1


"Ya mangkannya jangan jahat - jahat jadi kakak. Yang baik, ngalah ke adik. Pokoknya mulai sekarang aku minta kamu yang baik - baik sama Caca, jangan bahas masalah tadi. Apa lagi sampai mama sama papa tahu, atau kalau enggak kita pisah ranjang beneran!."


"Ck! Oke, oke."


"Gitu dong, kalau gini 'kan namanya suami aku. Ini kamu masih mau lagi gak?." Siska memuji juga sekalian menawari salad yang ada ditangannya lagi.


"He'em, suapin ya?." Layaknya anak kecil, sikap Zidan bahkan dibuat sangat manja pada istrinya.


Dan lagi - lagi Caca yang liat cuma bisa mendecak geli dengan kelakuan kedua orang hidapannya yang memang udah gak ada sungkan - sungkannya. Hueeek!.


Hari sudah berganti malam. Katanya pesawat yang dinaikin Om Robet dan keluarga baru saja mendarat di Jakarta. Itu artinya 40 menit lagi mereka akan sampai dirumah ini. Jadinya Siska dan semua orang yang baru selesai masak dan yang lainnya kini mulai berlomba untuk membersihkan diri.


OMG! Siska membelalakkan matanya. Tangannya menjinjing baju ganti yang dibawah Zidan untuknya dari didalam paperbag. Bahkan Siska sampai tergelak.


"Zidan!." Siska melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi pada Zidan yang sedang asik berbaring di atas kasur. "Ini kamu yang bener aja, ini kenapa kamu bawah baju ini?." Sambil mengibaskan baju dres yang tadi pagi sempat dipakai oleh Siska.


"M, emangnya kenapa? kamu 'kan cantik kalau pakai baju itu."


"Terus karna menurut kamu cantik terus kamu suruh aku pakai ini ditengah - tengah acara keluarga kamu?, gitu mau kamu?."


"Kan? kamu? terus, aku sekarang kalau kayak gini aku pakai baju apa? masak aku gak ganti baju dari pagi? mana bajuku yang tadi udah bau masakan sama keringet, yang bener aja dong Zidan." Siska bahkan merajuk.


"Ya terus gimana? tapi yang, aku suka kamu pakai baju itu, aku pengen liat kamu pakai baju itu lagi. Jadi pakai ya sebentar aja." Ah bahkan sekarang Zidan sedang melingkarkan tangannya di pinggang Siska dan sedikit demi sedikit mendekatkan dirinya tanpa memberi sebuah solusi. "Wangi." puji Zidan mendengus di ceruk leher Siska.


"Ish! kamu jangan gila. ini udah jam berapa Om Robet bentar lagi pasti nyampek. Dan lagi disini ada banyak orang. Jadi please kamu jaga sikap kamu. Jangan kayak buaya lagi kelaparan terus bikin aku malu lagi." kata Siska mendorong Zidan agar menjauh darinya.


"Yang banyak orang diluar. Tapi kalau disini cuma ada kita berdua. Cukup kok, yang, kita masih ada waktu 40 menit."


"Zidan!." Siska memekik frustasi. Ini enaknya diapain makhluk satu ini biar pikirannya bisa kembali fitra gak aneh - aneh.


"Pakai itu dulu sebentar aja, nanti aku pinjamin bajunya Caca. Badan kamu sama Caca 'kan sama. Jadi gak usah khawatir."


"Terus kalau dalemannya gimana? ini kamu juga gak bawahin aku daleman."

__ADS_1


"Gak usah pakai." Bisik Zidan.


What? Siska tergelak. Dan satu umpatan serta cubitan berhasil meluncur dengan khidmat di perut Zidan.


"AARRRGGGHHHH!!!." Otomatis Zidan langsung memekik karna kesakitan.


"Kok nyubit sih?."


"Karna kamu pantes buat dicubit! pikiran kamu itu terlalu kotor. Kebanyakan hal - hal negatif yang gak peduli tempat, gak peduli ada siapa, gak peduli keadaan juga! gak sekalian kamu telanjangin aku aja! HAH??." Siska melolot kesal sambil terus melancarkan aksinya terus mencubiti sang suami bahkan memukulnya juga.


Bag big bug.


"Arrgghh!!."


Ya seolah sedang dejavu, Zidan melihat Siska yang sudah bertekat untuk menyakitinya. Kalau sudah gini, pastinya Siska gak akan membiarkan dirinya lolos begitu saja. Jadi dengan sekuat tenaga Zidan pun berusaha menghindari hajaran istrinya itu.


"Arrggghh! Siska, ini bisa dianggap KDRT loh. Kamu bisa aku laporin ke kantor polisi."


"Laporin kalau kamu berani, nanti aku balik laporin kamu juga karna kamu suka ngelecehin aku."


"Siska! aku suami kamu. Sadar Sis, sadar, baca doa." Ya barang kali Siska lagi kemasukan setan.


"Kamu yang baca doa! diotak kamu itu yang banyak setannya!."


"Sekarang udah pindah ke kamu setannya. Jadi ayo baca doa."


"ISH!."


Siska mendengus kesal. Dia menghentikan aksinya mencubit serta memukul Zidan.


"Pokoknya, mulai hari ini kamu dilarang sentuh aku, dilarang deket - deket sama aku sampai setan - setan diotak kamu itu ilang. Sampai kamu bisa sembuh dari penyakit mesum kamu yang gak tahu tempat!." ancam Siska dengan nada dan pandangan penuh tekad. Semoga dengan ini sang suami bisa mengontrol dirinya. Ya meskipun sebetulnya gak tega sih.


"Yah, kok jadi gitu?."

__ADS_1


"Cih!."


__ADS_2