Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
70. Negosiasi


__ADS_3

BRUUKKK!!.


Zidan jatuh terpental akibat Siska yang reflek mendorongnya karna terkejut dengan kehadiran Caca.


Aish! Lagi - lagi Siska meruntukin dirinya. Kenapa harus kepergok lagi dalam keadan seperti ini? mau bilang malu tapi kok ya sudah beberapa kali. Harusnya dia bisa belajar dari pengalaman bukan?.


"Aarrggghhh!!." Zidan meringis. Tangannya juga reflek mengelus punggungnya karna pertama kali menyentuh lantai. "Yang!."


Siska cuma meringis canggung dengan dagu bergerak seolah memberi tahu Zidan kalau ada Caca sedang berdiri bersendekap tangan dibelakangnya. Sambil cepat - cepat memakai kembali baju.


"Ckckckck! Mas Zidan sama Mbak Siska ini, gak bisa ya nahan dikit aja. Padahal udah tahu lagi ada aku. Aku yang liat malu tahu sama kelakuan kalian ini." Caca mendecak sambil geleng - geleng. Andai saja pelaku mesumnya orang lain, mungkin Caca sudah lapor Pak RT biar mereka langsung diarak ke balaidesa.


"Apaan sih lo Ca, pagi - pagi udah heboh aja." Zidan mah gak ambil pusing. Dia malah kembali ke sofa dan tidur lagi.


"Gak heboh gimana? sakit nih mata gue, udah berapa kali lo suguhin pemandangan vulgar terus."


"Di laci tuh ada obat mata. Coba lo tetesin siapa tahu sakitnya bisa ilang."


"Ish!." Caca mendengus kesal mendengar jawaban sang kakak yang menurutnya gak nyambung.


Sementara Siska cuma bisa tersenyum garing sambil terus garuk - garuk tengkuk. Bingung mau menanggapi Caca gimana. Mau minta maaf atau bersikap biasa aja seperti suaminya.


"Mbak, coba deh cek WA aku." Caca mulai melancarkan aksi balas dendamnya.


"WA?." Siska mengulang perkataan Caca. Agak heran juga kenapa Caca tiba - tiba kirim WA padahal 'kan kalau penting bisa langsung ngomong.


"Iya, coba deh Mbak di cek. Mbak Siska pasti suka." ucap Caca dengan senyum jailnya.


Karna ponsel Siska ada di dalam kamar, jadinya Siska pun melangkahkan kakinya lebih dulu kedalam kamar untuk mengambil ponselnya itu. Dan sesuai dugaan Caca, Siska langsung terkejut dibuatnya.


"Caca...." Siska langsung menghampiri Caca dengan wajah tak bisa dideskripsikan. Intinya kepalanya langsung berdenyut pusing karna video yang dikirimkan Caca.


"Hahahaha." Dan si tersangka langsung tertawa puas. "Suka gak mbak sama videonya?."


"Caca... hapus Ca!." Siska langsung frustasi dan sedikit merengek. Aslinya pengennya langsung marah ke Caca, tapi kalau dia marah kemungkinan besar mungkin Caca akan semakin susah untuk dibujuk.


"Zidan!!." Siska menggoyangkan tubuh suaminya. Suaminya ini juga harus liat video yang dikirim adiknya.


"Eeuuumm!!." Zidan mengerang, tak peduli.


"Ih! Zidan!." Siska jadi kesal. "Ca, hapus Ca! Kamu kenapa pakai ngerekam - ngerekam segala!?"


"Ih, jangan Mbak, itu emang sengaja aku rekanin buat Mbak biar Mbak Siska kalau kangen sama Mas Zidan, nanti bisa liat video itu. Apa lagi posisinya sama penampilannya juga pas 'kan?." Caca tersenyum jail.


"Caca! please Ca, pokoknya aku minta kamu hapus Ca. Kalau itu sampai tersebar gimana? Zidan!! Ih!."


"Apa sih yang, aku masih ngantuk." jawab Zidan setengah membuka matanya tak sadar akan apa yang sedang terjadi.


"Liat nih!!." Siska mengacungkan layar ponselnya langsung ke wajah suaminya.

__ADS_1


Zidan membelalakkan matanya meresapi video yang sedang terputar dalam layar ponsel milik istrinya. Bahkan tubuhnya juga reflek bangun dan langsung duduk di sofa


"Aiishh!!!." Zidan mengumpat. Memincing matanya pada Caca. Tapi meskipun lagi ditatap sinis, Caca mana takut dan malah tertawa terbahak - bahak.


"Pinter 'kan aku Mas. Aku bantuin bikin video syurnya. Biar gak mubazir, posisinya pumpung enak."


"Hapus!." Zidan menginterupsi.


"Ih, jangan ini tinggal editing aja terus habis itu aku kirim ke grup keluarga."


"Caca!!." Dan dua sejoli langsung memekik, sarunya dengan nada kesal, satunya dengan nada frustasi.


"Lo jangan macem - macem!." Zidan kali ini sudah melotot kesal.


"Siapa yang macem - macem sih? Orang cuma semacem doang. Dikirim ke grup keluarga. Pengen tahu reaksinya gimana."


"Ca, tolong Ca, hapus ya Ca, please Ca. Itu mbak Siska cuma pakai BH aja. Malu tahu Ca kalau sampai banyak yang liat, apa lagi para orangtua saudara juga."


"Gak akan malu mbak tenang aja. Buktinya ke aku aja Mbak gak malu. Jadi tenang aja, oke."


"Caca..." Siska memohon gusar.


"Ya udah kirim aja kalau berani." Eh, si Zidan malah nantangi.


"Zidan! kamu jangan gila!."


"Ya biarin dong yang, Caca itu cuma gertak. Gak mungkin berani dia ngirim ke grup."


"Ca, jangan dong Ca." Siska berbalik ke Caca. Dia disini yang paling frustasi. "Zidan! bujuk kek, jangan malah nantangin."


"Gak akan sayang. Mana berani dia."


Caca tersenyum smirk. Eh, Masnya ini nantangin beneran jadinya. "Oke, sebagai pemanasan, aku kirim ke mama dulu aja gimana?." Jari Caca langsung bermain di layar ponselnya.


"Caca!! jangan!!." Siska mengehentikan Caca mencoba merampas ponsel milik Caca. Ya, tapi dengan gerakan cepat Caca menghindar.


"Hahaha, eits! sorry ya mbak. Sebetulnya aku kasian sama mbak tapi gimana ya, Masku malah bikin emosi ini, jadi aku gak ada pilihan. Tinggal pencet tombol kirim ini." Caca malah lebih jail.


"Caca please deh Ca kamu jangan jail. Sumpah ini gak lucu banget." Siska merengek. "Zidan please kamu juga jangan mancing - mancing. Bujuk kek gimana kek."


"Kirim kalau berani, atau lo bakal tahu akibatnya. Gue bakal bilang ke mama kalau lo suka keluar seenaknya dari asrama. Gue juga bakal bilang soal lo yang diam - diam ngerayain ulangtahun di cafe. Tahu 'kan lo seandainya mama sama papa tahu soal ini?." Zidan mengancam Caca.


"Bilang aja, gak apa - apa. Palingan juga nanti yang dimarahin bukan cuma gue aja. Lo sama Mbak Siska pasti dimarahin juga. Mbak Siska yang nemenin gue keluar terus lo gak jagain gue sampai gue hampir diperkosa orang." Caca membuat pertahanan.


"Aish!." Yap Zidan jadi kalah telak. Ancamannya gak laku.


"Udah deh sekarang Mas Zidan nyerah aja. Sekarang hidup lo ini ada ditangan gue. Jadi gak usah lama - lama, ayo kita langsung ke intinya aja. Kita negosiasi." pintah Caca dengan gaya selangit, duduk di sofa seperti bigbos.


"Negosiasi?." Siska mengulang perkataan Caca. "Oke, kamu mau apa? uang? baju? tas? sepatu? Mbak beliin asal kamu mau hapus videonya." Siska ikut duduk, bahkan duduknya diujung sofa demi bisa dekat dengan sang adik membujuk, bernegosiasi seperti katanya.

__ADS_1


"Aku gak mau itu semua. baju, tas, sepatu sama ***** bengeknya aku udah punya banyak."


"Terus kamu mau apa?." tanya Siska lagi.


"Ada 2. Kalau Mas sama Mbak mau ngelakuin permintaanku, videonya aku hapus."


"Oke, ngomong. Asalkan gak aneh gue turutin meskipun gue gak iklas." Zidan menimpal.


"Gak masalah meskipun gak ikhlas yang penting mau."


"Oke, cepet bilang lo mau apa?." tanya Zidan lagi.


"Yang pertama, gue mau lo ngeluarin gue dari asrama."


"Itu mustahil, gak bisa! Papa sama Mama gak bakalan ngijinin." Zidan langsung menolak dengan tegas.


"Ya usaha dong biar ngijinin. Soalnya kalau gue yang minta pastinya mama sama papa langsung gak mau. Lo gak kasian apa sama gue? udah besar harus tinggal di asrama yang ketat itu. Apa lagi asramanya harus belajar terus, gak bisa santai, gak privasi banget, sekamar harus 4 orang. Stres gue Mas, serius. Barang - barang gue dipakein juga sama temen - temen sesuka hati. Terus habis itu juga dirusakin. Gue gak suka. Gue benci. Gue pengen pulang kerumah, tidur dikamar gue tanpa mikir orang lain, tanpa khawatir barang gue dipakai orang. Sesek banget loh Mas gue kalau terus - terusan disana." pintah Caca sekaligus mengungkapkan isi hatinya.


"Ya gak bisa dong Ca, tujuannya papa sama mama naruh lo diasrama itu 'kan emang biar lo bisa punya waktu belajar lebih sama biar bisa bersosialisasi." terang Zidan.


"Ya tapi gue stres, gue malah gak bisa mikir. Nilai gue juga tambah anjlok. Jadi please keluarin gue dari asrama, gue pengen tinggal dirumah Mas." Pintah Caca, memohon padahal seharusnya 'kan pakai ancaman.


"Tapi kayaknya iya deh Dan, emang lebih baik Caca gak usah di asrama. Dia mending pulang aja. Siapa pun kalau ditekan jadinya malah depresi. Jadi jangan sampai Caca depresi." Siska mendukung Caca. Bukannya apa, memang selama ini Caca selalu curhat padanya jadi dia tahu seberapa stresnya Caca saat ini. Dan sebetulnya Zidan sendiri juga paham tentang ini, karna Siska yang cerita padanya.


"Oke, nanti gue usahain. Terus sekarang syarat kedua."


"Yang kedua. Cariin gue tempat magang."


"Tempat magang? buat apa? Bukannya banyak yang udah nawarin?" Zidan menatap aneh. Pasalnya seharusnya adiknya ini tinggal pilih saja mau magang dimana.


"Iya, tapi gue pengennya sekarang memanfaatkan previlige. Gue pengen magang leha - leha. Kira - kira meskipun gue cuma anak magang tapi orang segen yang mau nyuruh gue. Terus tetep dapat nilai bagus." kata Caca.


"Jangan aneh - aneh deh lo Ca, mana bisa gitu?."


"Gue gak aneh Mas, dan itu juga bisa kalau ada kekuatan orang dalam. Gue capek Mas. Gue gak pengen mikir. Di usia gue yang 17 tahun gue udah kuliah semester 5 padahal temen gue masih SMA. Gue juga capek jadi yang terbaik Mas. Jadi please juga biarin gue istirahat 3 bulan ini menikmati hidup gue sama masa muda gue. Gue pengen santai Mas. Tapi meskipun santai gue pengennya tetep dapet nilai bagus. Jadi please cariin gue tempat magang sesuai impian gue." pintah Caca lagi dengan wajah memohonnya lagi.


Ucapan Caca ini sepenuhnya tidak salah. Memang benar karna Caca ini anak pintar jadi mama dan papanya selalu berekspektasi tinggi padanya. Jadinya selama ini dia pun tak bisa santai, hidupnya selalu tentang belajar dan belajar, bahkan sampai ikut program akselerasi dimana masa SMA dia tempuh cuma dalam kurun waktu 1 tahun.


"Magang ditempat kerjanya Mbak Siska gimana?." tawar Siska.


"Gak mau. aku gak pengen punya pengalaman kerja di kantor pemerintahan soalnya aku gak mau jadi PNS. Gajinya kecil, naik pangkatnya juga lama." jawab Caca membuat Siska kicep. Sedikit tersinggung juga. Tapi kok ya apa yang dikatanya Caca bener.


"Ya udah di kantornya Mas aja kalau gitu."


"Gak mau juga. Nanti malah Mas suka nyuruh - nyuruh aku."


"Ck! susah banget sih lo jadi orang? gak bersyukur banget?." Zidan kesal lagi.


"Udah ah, jangan marah lagi." Siska mengingatkan Zidan. Gak selesai - selesai nanti urusannya.

__ADS_1


"Titipin aku di kantor suaminya Mbak Raya. Suaminya Mbak Raya 'kan manager, pasti enak kalau aku magang disitu." Dan Caca mengungkapkan keinginannya. Tujuannya ya, biar bisa dekat dengan Desta.


__ADS_2