Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
46. D-Day


__ADS_3

Hari bahagia sudah tiba. Pernikahan Siska dan Zidan akhirnya di gelar. Senyum dan tawa bahagia menghiasi setiap isi gedung pernikahan. Ya, siapa yang menyangkah pernikahan tanpa rencana ini betulan terjadi. Pernikahan yang awalnya cuma seperti sebuah permainan kecil eh tapi malah jadi sesuatu yang mendebarkan bagi semua keluarga begitu pun juga kedua pengantinnya.


"Apaan sih lo senyum - senyum gak jelas dari tadi. Minggir sana, dari tadi orang mau kesini jadi balik arah terus tau." Siska menegur Zidan yang sudah sejak tadi berlutut dihadapannya dengan posisi tangan yang menompang kepala dengan lutut Siska sebagai penompang.


"Panggilnya jangan lo gue terus dong sayang. Ganti aku kamu gitu kenapa sih, kita ini udah nikah lo." Bukannya menyingkir Zidan malah fokus ke nada panggilan.


"Gak biasa, masih canggung rasanya kalau pakai aku kamu. Biarin sekenanya mulut gue aja kalau masalah itu. Jadi jangan terlalu nuntut, terus yang penting ini, sekarang lo minggir dulu." Siska mencoba membuat Zidan segera menyingkir dengan cara mendorong tangan Zidan, Tapi Zidannya bandel gak mau sama sekali.


"Zidan! lo jangan ngajak ribut dihari pernikahan, ya. Please deh, pindah sana atau duduk disamping sini aja. Jangan gini malu diliatin orang." Siska bahkan sampai memincingkan mata.


"Aku malah pengennya ribut sama kamu sekarang." Jawab Zidan masih juga sama tampang yang senyum - senyum gak jelas. Sangking bahagianya dia.


"Ish! lo tuh ya, ih!." Siska yang gregetan langsung aja menjitak kepala Zidan


"Argghh! malah jitak, tapi gak apa - apa. Ini jitakan sayang dari istri cantik." Sumpah, gombalnya Zidan ini bikin Siska jadi gemes sekaligus seneng aslinya.


"Lo ini! susah banget dibilangin. Kalau gak minggir gue kencengin lagi jitaknya, lo mau?."


"Jangan, sakit." Tapi ekspresinya malah seperti menginginkan jitakan yang sakit itu.


"Ish! lo kira gue gak bakalan berani jitak lo sampai sakit!. Ih!."


Satu tangan Siska kembali terangkat, tapi saat itu langsung di hentikan Zidan dengan cara menggenggamnya. Sumpah Zidan yang lagi seperti ini sebetulnya Siska itu suka. Tapi pandangan orang dari luar pintu yang sejak tadi memperhatikan bikin dia malu.


"Diem, entar jari lo sakit lagi kalau jitak kepala gue. Kepala gue gak beda jauh sama batu soalnya."


"Ish! coba liat, kita dialin orang dari tadi. Lo gak malu?." ucapan Siska ini membuat Zidan sejenak mengarahkan pandangnya ke arah pintu.


"Emangnya kenapa? mereka pasti maklum kali, kita 'kan pengantin baru."


Siska geleng - geleng. "Lo ini gak mau nyambut tamu ya? dimana - mana pengantin laki - laki itu kalau lagi nikahan ada didepan, nyambut tamunya bukannya disini terus, nempel sama pengantin wanitanya." Siska mengingatkan, pasalnya Zidan ini sejak sampai di gedung, dia terus aja nempel ke Siska.


"Kan udah ada papa sama mama kita, ada juga saudara yang lain. Ada juga Raya yang nyambut temen - temen kamu. Ada Egi sama Krisna yang nyambut temen - temenku. Mereka aja udah cukup kali."


"Ya tapi 'kan aneh Zidan, masak pengantin prianya gak ada!."


"Biarin aja kenapa sih? gue ini sekarang pengennya cuma liat istri gue yang cantik yang lagi pakai baju pengantin. Besok lo udah gak pakai baju ini. Jadi gue pengen puas - puasin liat lo sekarang."


"Huh, ya udah deh terserah lo. Tapi gue minta mending lo duduk disamping gue aja. Jangan kayak gini. Gak sakit apa lutut lo kalau gitu terus."


"Hehe, sakit sih sebetulnya. Tapi gak tahu kenapa kok gak berasa. Apa karna sangking bahagianya gue ya bisa nikah sama lo cewek yang paling gue sayang?." Zidan pun beranjak dan menggeser posisinya duduk disamping Siska, dengan tangan masih terus menggenggam jemari Siska.


"Udah deh, jangan gombal mulu. Capek gue dengernya." Ucapan yang selalu berbanding terbalik dengan hatinya. Aslinya mah sedari tadi Siska udah berbunga - bunga.


"Yang gombal siapa? Semua yang aku lakuin ini asli dari hati aku. Aku beneran bahagia bisa nikah sama kamu. Apa lagi sekarang gak ada perjanjian pernikahan. Rasanya, kamu tahu gak? ini semua kayak mimpi. Akhirnya kamu sekarang mau terima aku."

__ADS_1


"Hm!."


"Oh iya, kamu udah cek rekening belum? kemarin semua uang yang ada direkeningku udah aku pindahin semuanya ke rekening kamu."


Siska mengernyit. Dia masih gak ngeh.


"Coba cek."


Dengan pandangan tak percayanya Siska kemudian meraih ponsel yang sejak tadi nangkring disebelahnya. Dan benar saja, Zidan beneran mentransfer semua uang yang ada di dalam rekeningnya. Dan itu sekali lagi langsung membuat Siska jadi speechlees.


"Zidan lo gila?."


"Udah biasa aja tuh muka. Gue tahu kalau lo pasti terharu sama tersentuh sama gue, sekarang." ucap Zidan dengan PDnya padahal mah yang ada dipikiran Siska dia malah merasa terbebani.


"Eh, lo jangan gila beneran!."


"Gila? ya enggaklah. Apanya yang gila? lo kan istri gue, dimana - mana yang ngatur keuangan itu kan istri, jadi ya sebagai suami yang baik gue percaya sama istri gue kalau dia pasti bakalan bisa ngatur keuangan itu dengan baik."


"Ya tapi gak perlu semuanya juga 'kan?. Lo tahu gue 'kan? gue ini gampang khilaf, entar kalau uang lo habis dalam semalam gimana? atau kalau enggak gue bawah kabur terus gue minta cerai gimana?."


"Ya tinggal gue laporin polisi aja, gitu aja kok repot." jawab Zidan enteng banget.


"Zidan! gue lagi gak bercanda!."


"Aku juga lagi gak bercanda, sayang."


"No, no, no. Keputusanku udah bulat, nanti setiap aku butuh uang aku yang bakalan minta ke kamu. Aku pengennya kamu yang ngatur keuangan. Ini perintah dari kepala keluarga jadi jangan dibantah, istri harus nurut sama suami!."


"Tapi, ini berlebihan. Gue gak mau!."


"Gak ada yang namanya berlebihan, sayang. Ini itu wajar, kita udah nikah. Emang apa susahnya nyimpen uang suami. Istri lain dikasih uang banyak pasti seneng kok kamu malah nolak sih?."


"Enggak, ini uang hasil kerja keras kamu selama ini. Kalau ada apa - apa, gue khilaf terus habis dalam hitungan menit kayak kemarin gimana? lo pasti nyalahin gue. Enggak deh gue gak mau."


"Sstttt! gak ada gak mau, gak mauan. Harus mau. Seandainya mau kamu buat belanja juga gak apa - apa. Asalkan kayak kata aku kemarin, pelan - pelan jangan pakai nafsu. Lo 'kan juga butuh seneng, butuh cantik, butuh pamer. Anggap aja ini latihan sebagai ibu rumah tangga yang baik. Oke?."


"Ya tapi 'kan -"


"Sttt!! kalau kamu masih bantah, aku cium kamu."


"Ya tapi-."


Cup.


Satu kecupan langsung mendarat.

__ADS_1


"Zidan!."


Cup.


Sekal lagi.


"Ih! banyak orang!."


Cup.


"Ish!."


Cup.


"Ish!!!." Karna udah gak bisa dibilangi, jadinya harus pakai kekerasan dong. Siska pun mengayunkan buket bunganya kekepala Zidan yang sedari tadi di genggam disalah satu tangannya.


"Arrgghhh!! Sis, buket bunganya rusak!."


"Lo, kalau belum kena hajar pasti gak bisa berhenti!."


"Aarrgghhh!! iya sorry, udah dong. Habisnya lo sih gue ngomong gak didengerin." Zidan ngomong sambil menghentikan gerakan Siska yang terus memukulnya.


"Siska, please berhenti! Entar gue luka gimana? bentar lagi acaranya dimulai."


"Huh!!!." Dengan sekali dengusan Siska pun menghentikan aksinya.


Zidan bernafas lega. Dia kemudian merapikan penampilannya agar rapi lagi. Kemudian menatap Siska sayang dengan senyuman diwajah.


Zidan mengelus rambut Siska seolah sedang mengelus hewan kesayangannya. "Sabar, sabar, tarik nafas yang dalam. Jangan emosi, ini hari pernikahan, gak boleh ngereog dulu entar cantik kamu hilang."


"Ish! lo kira gue kucing? awas ya berani cium - cium lagi, gue hajar lo lebih kejam dari pada ini!."


"Hehehe, iya - iya enggak Aku gak bakalan cium lagi sekarang. Ciumnya aku tahan sampai nanti malam." Belum juga rasa kesal Siska hilang, Zidan udah genit lagi.


"Ish! harusnya tadi yang gue pukul otak lo aja deh! biar ilang tuh pikiran ngeres!."


"Hahaha, jangan dong, inget, katanya mbak - mbak butik. Yang kayak gue ini lebih menantang."


"Ish!."


Disaat momen kebucinan lagi bersemayan dihati 2 pengantin. Ada satu langkah kaki seorang wanita yang datang mengganggu. Langkah kaki itu, terdengar begitu anggun dan elegan. Wajahnya juga langsung terpancar kecantikannya, sampai membuat Siska yang melihat jadi sedikit terpesona untuk beberapa saat. Bahkan Siska pun sampai sedikit insecure.


Beda dengan Siska yang langsung bisa merasakan auranya yang anggun dan elegan. Ekspresi wajah Zidan malah langsung mengeras dan berubah datar. Emosinya juga langsung tersulut bagai api yang baru disiram bensin. Asal kalian tahu saja. Wanita ini adalah mantan istrinya yang bernama Mega.


Mega tersenyum manis pada keduanya. Dia datang seorang diri saat itu. Dengan tanpa rasa bersalah dan juga tak tahu malu dia masuk dalam ruang pengantin menghampiri Zidan dan juga Siska.

__ADS_1


"Selamat ya, atas pernikahan kalian ..."


__ADS_2