Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
55. Suami pengertian


__ADS_3

Pagi sudah menyingsing. Tapi kedua pengantin yang semalam habis memadu cinta masih tetap berada di atas kasur.


Posisi mereka masih saling berpelukan dengan Siska yang mengusel - nguselkan kepalanya di dada Zidan untuk lebih menemukan sebuah kenyamanan.


Zidan diam - diam tersenyum melihat tingkah sang istri yang terkesan manja itu. Rasanya gemas sekali sampai dia pun harus melayangkan beberapa ciuman di pucuk kepala Siska.


Belum cukup dengan ciuman, Zidan juga mengeratkan pelukannya agar rasa gemasnya itu bisa terurai. Ingatannya saat memadu kasih dengan Siska semalam membuatnya jadi bersemangat dan bahagia di pagi ini. Apa lagi kalau ingat juga cerita Krisna kemarin. Zidan jadi semakin gemas lagi.


Ya, dari Krisna, Zidan jadi tahu kalau Siska bohong padanya dulu saat malam pertama. Tapi setelah tahu alasannya, dia jadi geli sendiri. Mangkannya kemarin, Zidan dengan sengaja memancing Siska dengan pertanyaan apa dia lagi datang bulan lagi.


"Gimana, kamu puas gak yang?." tanya Zidan dengan rasa bangga karna sudah berhasil membobol harta paling berharga milik Siska.


Siska mengangguk. Wajahnya yang tersembunyi didalam dada Zidan sedang tersipu. Gak nyangkah juga kalau rasanya bisa senikmat itu.


"Kamu mau lagi?."


Pertanyaan Zidan ini membuat Siska mendongak. Mata Siska langsung memincing menatap Zidan dengan pandangan menyelidik. Ini jangan bilang kalau Zidan masih mau lanjut begituan lagi. Padahal mereka udah melakukan hal itu semalam suntuk dan juga baru aja selesai. Meskipun rasanya enak, tapi kalau keterusan bisa - bisa dia jadi pingsan karna kehabisan tenaga.


"Hehehe, iya, iya enggak, enggak. Kita tidur, oke?." Dengan cepat Zidan ngales. Pandangan Siska itu membuat Zidan ciut. Tangannya pun juga reflek mengelus - elus rambut Siska. Jangan sampai istrinya ini nanti malah ngamuk dan malah ngambek.


"Pokoknya sekarang tidur, aku udah capek banget, badanku remuk, tulangku rasanya mau copot." Siska kembali menurunkan pandangannya, dan mulai memejamkan matanya lagi, sambil mengulangi uselan kepalanya di dada Zidan. Yang entah kenapa Zidan malah semakin bangga lagi. Sukses besar dia bisa buat istrinya sampai tak bertenaga.


"Oke. Siap laksanakan bu bos. Sekarang kita tidur."


Sayup - sayup mata keduanya pun mulai merasa sangat mengantuk dan perlahan mulai terlelap juga.


Krriiiinnnnggggg!!!.


Kerriiiinnnngggg!!!.


Ponsel Zidan, bedering. Otomatis suaranya jadi membangunkan dirinya dan Siska. Seolah tak ingin terganggu dengan suara ponselnya. Siska pun mulet sambil sedikit mengerang di dada Zidan.

__ADS_1


"Sebentar." Dengan suara parau, Zidan mencoba meraih ponselnya yang tepat ada di atas bantalnya. Tapi ya Siska malah semakin mengeratkan pelukannya. Jadinya Zidan pun menerima panggilan itu tetap dalam posisi berpelukan.


"Hallo."


"Zidan, kamu dimana? kita jadi 'kan ke stadion hari ini?." Ini yang telpon namanya Bian. Dia adalah salah satu pegawai wanita Zidan yang punya jabatan sebagai project manager di perusahannya.


Dan karna mendengar suara yang telpon cewek. Siska pun langsung memasang telinganya untuk diam - diam nguping.


"Sorry Bi, lupa gak ngabarin. Aku hari ini gak bisa."


"Lah kok gak bisa? eh, aku udah dikantor lo ini. Udah tungguin kamu sedari tadi. Tega kamu kalau sampai gak jadi. Aku tadi juga sampai gak sarapan, terus sekarang juga udah masuk jam makan siang biar bisa makan sama kamu." Ocehan Bian ini jelas membuat Siska jadi mengernyitkan wajah. Ini cewek kok gini? maksa - maksa suaminya makan bareng, maksudnya apa coba? panggilan mereka juga aku kamu lagi.


"Istriku datang Bi, jadi kita tunda hari senin aja pengawasannya."


"Gak bisa dong Dan, kamu harus tetep profesional meskipun istri kamu datang. Kamu harus tetep kerja ada gak adanya istri kamu. Pokoknya aku gak peduli, sekarang cepet berangkat, aku tunggu kamu. Ayo kita ke stadion. Terus habis itu kita makan siang bareng karna aku udah laper banget. Atau kalau enggak aku bakalan resign sekarang juga." Ancam Bian, seperti biasanya kalau lagi pengen dengan Zidan. Dimana ancaman itu selalu membuat Zidan tak berkutik.


"Aish! Bi, lo tuh ya, dikit - dikit ngancemnya gitu. Kesel gue lama - lama sama lo!." Zidan berubah kesel.


"Bian!. Lo jangan ngelunjak!."


"Bodo! pokoknya sekarang cepet berangkat. Aku tunggu sampai 15 menit, kalau kamu gak datang - datang, Aku berhenti!." Setelah ngamuk - ngamuk Bian mematikan telponnya begitu saja.


"Ck! dasar tempramennya!! huh!." Zidan mendecak, hatinya terbawa emosi jadi kesal pada Bian yang selalu seenaknya sendiri.


Ponsel kembali diletakkan diatas bantal oleh Zidan. Dia kemudian melonggarkan sedikit pelukannya agar bisa menatap Siska. "Yang, kayaknya kita harus bangun deh sekarang. Ini project managerku udah marah - marah. Hari ini aku lupa, kalau udah janjian sama dia buat ngevalusi stadion."


"Oh," Siska malah meng oh. Sebetulnya dalam hatinya pengen protes, mau ngelavuasi stadion apa mau makan siang bareng sama itu cewek?.


"Ayuk, mandi yuk."


"Ya mandi aja, yang mau pergi 'kan kamu." Dengan nada datar Siska menjawab. Hatinya terasa kesal karna cemburu sebetulnya

__ADS_1


"Kan kamu ikut aku, ya kamu juga harus mandi dong." Eh, ternyata Zidan ngajak.


"Emang aku boleh ikut? katanya tadi kamu mau ke stadion?." Sebetulnya Siska lagi basa - basi. Tak ingin menunjukkan rasa senangnya karna ternyata Zidan yang mengajaknya.


"Ya emangnya siapa yang ngelarang sih sayang, disini bosnya itu aku. Jadi terserah aku mau ngajak siapa aja. Lagian nanti kalau kamu aku tinggalin, kamu disini juga sama siapa. Mana tega aku biarin kamu sendirian disini." kata Zidan yang membuat hati Siska jadi menghangat. Padahal tadinya dia sudah negatif thinking karna suaminya mau makan siang dengan cewek lain tanpanya.


"Cih! ya siapa tahu beneran tega ninggalin aku, habis dapet perawanku terus ninggalin aku buat makan siang sama perempuan lain." Meskipun nyindir tapi tak ada nada kesal saat Siska ngomong ini. Bikin Zidan jadi gemas dibuatnya.


"Ish, ya mangkannya itu aku ajakin kamu. Biar kamu gak sedih. Soalnya aku tahu kamu pasti dalam hati penasaran 'kan sama Bian?."


"Enggak sih, biasa aja!." Siska gak ngaku.


"Hahaha, iya deh terserah. Yang penting sekarang ayo kita mandi. Nanti sekalian setelah habis dari kantor sama dari stadion kita langsung jalan - jalan disekitaran malioboro, katanya kamu tadi mau jalan - jalan." kata Zidan penuh pengertian.


Siska pun mengangguk - angguk sambil senyum - senyum. "Ya udah, oke. Ini karna kamu yang maksa aku jadinya mau." Siaka ngomong seolah tadi memang sedang dipaksa.


Sikap Siska yang sebaliknya membuat Zidan melayangkan kecupan gemasnya di bibir Siska. "Ini istrinya siapa ini. Makin hari makin cantik makin gemesin."


"Astaga Zidan, kamu lupa sama istri sendiri?." Siska memekik, menimpali ucapan Zidan.


"Hahaha."


Zidan bangun lebih dulu dan kemudian meletakkan tangannya diantara paha dan juga punggung Siska. Dia lagi bersiap untuk menggendong Siska ala bridal style menuju kamar mandi.


"Eh, kamu mau ngapain?." Siska menghentikan tindakan Zidan.


"Gendong kamu. 'Kan kita mau mandi. Siapa tahu kalau mandi bareng bisa buat aku jadi ingat sama istriku lagi." jawab Zidan yang sudah pasti punya maksud yang lain.


Siska yang sadar, kemudian layangkan pincingan matanya. "Kamu udah ditungguin, kalau kita mandi bareng bukannya tambah cepet tapi malah tambah lama jadinya." Sebetulnya Siska juga tak peduli meskipun Zidan sedang ditunggu, karna tiba - tiba saja gairahnya juga jadi muncul kembali. Cuma dia perlu mengingatkan Zidan. Ingin tahu juga, lebih penting dirinya ataukan wanita tadi.


"Emang kenapa meskipun udah ditungguin? bagiku sekarang kamu lebih penting." Dan tanpa aba - aba. Zidan pun langsung menggendong Siska menuju kamar mandi.

__ADS_1


Perlakuan suaminya ini jelas membuat Siska jadi tersipu bahagia. Ternyata apa yang sedang diharapkan dari suaminya ini langsung diwujudkannya. Maka dari itu, saat Zidan mulai menjamahnya lagi setelah sampai dikamar mandi. Siska pun memberi pelayanan terbaiknya dengan sengaja mendominasi permainan panas mereka sampai Zidan benar - benar puas.


__ADS_2