
Siska sekarang sudah duduk di depan meja rias. Tangannya dengan lincah mulai memoles seluruh wajahnya dengan beberapa macam skin care maupun make up agar penampilannya terlihat fres dan juga lebih cantik.
Malam ini, sesuai rencana. Akan ada pesta sweet seventeennya Caca yang akan dirayakan di cafe yang kemarin mereka booking.
Ditengah kesibukan Siska yang sedang bersolek. Dibelakangnya sang suami diam - diam memperhatikan sang istri sambil senyum - senyum gak jelas, sementara tangannya lagi sibuk membantu mengeringkan rambutnya.
"Zidan, yang bener dong. Kena wajah aku tahu anginnya, panas." Keluh Siska untuk kesekian kalinya.
"Hehehe, Iya maaf."
"Dari tadi maaf, maaf terus tapi kerjanya gak bener."
"Ya gimana? Bukannya gini 'kan cara ngeringinnya?." Zidan menunjukkan hairdyer yang ada ditangannya. Merasa apa yang dilakukannya itu sudah benar.
"Ih, yang bener! make upku jadi rusak entar. Gak beres - beres juga ini. Ini udah jam berapa juga, si Caca udah nungguin dari tadi."
"Udah tahu ditungguin Caca, tapi kenapa banyak banget yang mesti dipakai di muka kamu? Padahal kalau aku cukup pakai baju yang bagus, pakai minyak rambut, minyak wangi udah beres." Komentar Zidan terheran - heran. Rasanya apa yang dilakukan Siska ini sepertinya berlebihan.
"Ya tapi siapa tadi yang bikin lama?." Siska jelas tak terima. Kalau saja tadi Zidan gak ngajak perang - perangan dulu otomatis mereka gak akan lama.
"Iya, iya, aku yang salah, sekarang lanjutin dandannya katanya Caca udah nungguin." Zidan memilih mengalah dan tak kembali mendebatnya supaya Siska bisa cepat menyelesaikan dandanannya.
"Udah kering, mana sisirnya. Aku sisirin juga." kata Zidan meletakkan hairdyernya begitu tugasnya selesai.
"Gak usah, ayo kita berangkat aja. Aku bisa sisiran di mobil, ini si Caca udah WA lagi." ucap Siska yang mana meraih tali rambutnya dan mengikat rambutnya satu kebelakang.
Siska dan Zidan akhirnya berangkat ke cafe tempat acara partynya Caca. Sepersekian menit kemudian mereka akhirnya sampai di cafe tujuan.
"Eh, itu ada apa ya Dan? kok rame - rame?." Siska sedikit heran dengan pemandangan didepannya. Cafe itu tampak ramai dikerubungi orang, seperti sedang ada sesuatu yang tak biasa yang kemudian mendatangkan orang - orang sekitar untuk menonton.
"Gak tahu, ada yang keracunan kali." jawab Zidan asal, dimana matanya juga terarah pada cafe dengan tangan yang sibuk mematikan mesin mobil dan melepas seatbellnya.
Siska dan Zidan turun dari mobil. Tapi kemudian sudut mata Zidan terarah pada bagian samping cafe yang transparan karna tembok kacanya.
"Oh My God, Caca." Zidan memekik dan langsung berangsur masuk kedalam cafe dengan tergesah - gesah. Tadi dia melihat Caca dengan wajah ketakutan menyaksikan perkelahian dihadapannya. Bahkan adiknya itu sampai duduk tersungkur dilantai.
"Loh, Caca? Desta?." Begitu juga Siska. Dia juga langsung mengikuti sang suami.
"Ca!." Zidan meraih sang adik yang tampak berantakan karna tangisannya.
Mendengar suara sang kakak, Caca langsung mengadu. "Mas Zidan, tolongin, Mas Desta. Tolongin."
Zidan mengernyit karna tak paham dengan maksud adiknya itu. Desta? Ada Desta? terus buat apa dia harus membantu Desta?.
"Orang itu tadi megang , megang aku Mas! Orang yang mukul Mas Desta!." Ya karna Zidan tak segera bereaksi jadinya Caca pun ngadu lagi dengan gestur gusarnya.
"Ya Tuhan." Siska langsung memeluk sang adik agar tenang.
Dan seketika untuk Zidan, dia langsung dilanda emosi. Kata - kata dipegang sudah jelas adalah senuah pelecehan. Jadi Zidan tak akan memaafkan hal itu dengan muda.
__ADS_1
Tak usah pikir panjang lagi. Zidan pun langsung mengambil ahli tempat kejadian dengan menarik lelaki hidung belang itu dan mengehmpaskannya ke kesamping.
Zidan melayangkan hantaman demi hantaman pada si pelaku pelecehan. Bahkan Zidan tak memberi sediikit kesempatan untuk lelaki itu sampai akhirnya sekarang si pelaku bonyok terkulai tak bertenaga.
Helaan nafas berat Zidan hembuskan setelah puas akan aksinya, Zidan bahkan sampai memanggil polisi agar lelaki hidung belang itu dihukum. Berani sekali dia menyentuh adiknya.
"Hm." Zidan menyodorkan sebotol air mineral ke Desta.
Mereka sekarang sudah duduk di ruangan tempat Caca menyelenggarakan pesta. Dan Desta dengan meringis kesakitan menerima air mineral itu.
"Lain kali kalau mau ngerayain ultah jangan di cafe - cafe kayak gini. Kamu hari ini beruntung, ada yang nyelamatin kamu. Kalau enggak kamu sudah gak selamat Ca!." Sebagai Kakak omelan ini sebetulnya tak seharusnya keluar setelah insiden tadi. Tapi bagaimana pun Zidan tetap harus mengingatkan sang adik.
"Udah dong ah, ini bukan salah cafenya tapi salah laki - laki tadi aja yang gak bener." Siska menghentikan omelan Zidan. "Des, kamu gak apa - apa 'kan Des?." tanya Siska beralih pada Desta dengan wajah sedikit khawatirnya.
"M." gumam Desta.
"Sini Des, luka kamu, aku olesin obat dulu." Siska yang sudah memegang kantong plastik obat langsung duduk disamping Desta. Tapi ya si Zidan langsung menarik istrinya, meskipun Desta sudah menyelamatkan adiknya bukan berarti dia membiarkan istrinya menyentuh orang lain.
"Ish, Zidan." Siska mencoba protes.
"Ca, lo obatin dia. Dia begitu 'kan karna lo." perintah sang kakak pada Caca membuat Desta mendecak tak percaya. Padahal Desta sudah rela membantu Caca tapi nyatanya Zidan masih saja tetap cemburu padanya.
Caca pun menurut. Dengan perasaan merasa bersalah Caca menggantikan Siska yang duduk di dekat Desta dan meraih obat dari tangan Siska juga. Caca saat itu masih tak bisa menghentikan tangisnya meskipun sikapnya seolah sedang biasa - biasa aja.
"Ca, ini tadi gimana ceritanya kok bisa kamu sampai di pegang - pegang orang itu?." tanya Siska yang penasaran dengan runtutan kejadiannya.
Caca baru saja masuk ke dalam cafe. Saat masuk wajahnya tampak bahagia dengan fokus pada layar ponsel yang sedang menunjukkan banyaknya pesan WA ucapan selamat ultah dari teman - temannya.
Ya karna itu, karna kebetulan juga arena ruangan VIP yang disewa Caca untuk party harus melewati sebuah lorong sempit. Jadi Caca secara tak sengaja jadi menabrak seseorang.
Bruk!.
"Eh. Maaf Mas." Secara reflek Caca langsung memekik meminta maaf. Tapi matanya langsung bersinar begitu mendapati lelaki yang ada dihadapannya,
"Loh?."
"Mas Desta ya? temennya Mbak Siska yang kemarin ya Mas?." Jelas Caca langsung menyapa. Dalam hatinya diam - diam mengagumi.
"Iya, kamu adiknya 'kan? siapa namanu?."
"Iya Mas, aku Caca Mas."
"Oh iya Caca. Oh iya Siska mana?."
"Mbak Siska bentar lagi datang Mas. Lagi dijalan katanya."
"Oh," Desta manggut - manggut. "Ngerayain disini ultahnya?."
"Iya Mas, disini. Diruangan yang itu." tunjuk Siska pada ruang disebelah pojok.
__ADS_1
"Des, come on." suara seorang lelaki dari arah depan tiba - tiba terdengar memanggil Desta.
"Iya, bro, bentar." jawab Desta. "Eh, aku kesana dulu ya, temenku udah manggil. Selamat ulangtahun ya. Salam buat Siska." pamit Desta sebelum meninggalkan Caca.
"Iya Mas."
Desta pun berjalan kedepan menghampiri para teman - temannya. Sementara Caca masih berdiri ditempat menatap Desta hingga Desta benar - benar tak terlihat.
"Uuummmppphhhh... Mas Desta." Dan kata itu langsung terlontar dari mulut Caca. Bahkan gesturnya langsung manja menempel pada tembok sangking senangnya. Anggap pertemuan keduanya bersama Desta adalah hadiah dari Tuhan yang dikirimkan padanya.
Merasa puas mengagumi Desta sendirian dilorong cafe. Caca kemudian berjalan lagi ke ruang partynya.
Pintu dibuka oleh Caca dengan antusias. Pada dasarnya dia sudah penasaran sekali akan penampakan ruangannya. Tapi sayang, saat itu ternyata Caca salah ruangan.
"Eh, maaf Om." Caca yang sadar akan kesalahannya otomatis langsung meminta maaf. Disofa sedang ada pria duduk sendirian.
"Loh, mau kemana kamu? masuk aja." Sepertinya orang tadi salah paham. Dia mengira kalau Caca adalah salah satu wanita yang sudah dibookingnya,
"Maaf Om, saya salah ruangan." Otomatis Caca langsung mundur.
Tapi siapa sangkah lelaki itu malah beranjak dan menghampiri Caca dan meraih pinggangnya.
"Gak usah alasan kamu. Aku tahu kamu dari tadi emang sengaja godain saya. Jadi ayo sekarang masuk aja, jangan malu - malu."
"Eh, Om, maaf Om. Om mau apa?. Saya bukan cewek bookingan Om, saya juga pengunjung yang lain." Caca berusaha menghindar, saat itu Caca juga sudah mulai panik.
"Gak usah malu, malu. Ayo duduk sini. Puasin saya." Lelaki itu bahkan menghempaskan Caca agar duduk disofa.
"Om, Om salah orang. Saya bukan cewek bookingan Om." Caca berusaha melepaskan diri, berusaha bangkit dari sofa. Tapi apa daya lelaki itu rupanya sudah diikuti nafsu bejatnya.
"Alah, kamu jangan alesan sama jual mahal. Entah kamu cewek bookingan atau bukan yang pasti aku sekarang sudah mau sama kamu. Jadi kamu sudah gak bisa lari lagi."
"Om, Om mau apa? Om jangan macem - macem!kalau enggak aku teriak. Kakakku juga bentar lagi datang!." Setengah mati Caca berusaha menghindar, ini si lelaki itu sudah mendekatkan dirinya hendak mencium Caca.
"AAAHHHHH!!!." Caca teriak sekencang mungkin dengan harapan semoga bisa ada yang datang.
"AAAAAHHHHH!!!."
"Minggir!!." Caca mulai panik. Lelaki itu bahkan sudah memeluknya dan hendak mencuri ciuman Caca.
Rasanya perasaan Caca sudah tak karu - karuan. Takut, panik, gusar dan juga tak tahu harus gimana. Yang jelas dia cuma bisa merontah walaupun rasanya percuma karna tenaganya yang berbeda dengan tenaga si lelaki. Dan juga teriakannya serasa percuma juga. Ini adalah room VIP jadi tak banyak yang akan datang, serta musik juga terdengar disepanjang koridor cafe.
"AAAHHHHHHH!!!."
"TOLONG!! TOLONG!!."
"MINGGIR DASAR BAJINGAN!!."
Beruntung, sang satria baja hitam akhirnya datang. Dia kemudian menyelamatkan Caca dengan gagah. Desta, datang tepat waktu. Si lelaki masih belum sempat mencium Caca. Dia hanya memeluk Caca saja membuat hati Caca lega tak karuan. Dan dengan tangis takutnya Caca pun melarikan diri untuk mencari bantuan untuk Desta.
__ADS_1