Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
69. Lagi - Lagi Caca


__ADS_3

Zidan mengetik paswod di gagang pintu apartemennya. Mereka bertiga kemudian masuk kedalam apartemen begitu pintunya terbuka. Khusus untuk hari ini dia memboyong sang adik untuk tinggal bersamanya untuk sementara. Karna setelah kejadian tadi tak mungkin dia membiarkan Caca sendirian di asramanya.


"Malam ini lo tidur disini, besok pagi Mas anterin ke asrama. Sekarang lo istirahat dulu." kata Zidan sesaat setelah semuanya berada di ruang tengah.


"Mas ..." Caca memanggil Zidan dengan wajahnya yang sendu.


"M." Dan Zidan menjawab dengan suara datarnya.


Caca secara perlahan mendekat pada Zidan. Tangannya terulur meraih pinggang sang kakak. Betapa Caca sekarang ingin memeluk Zidan dan kemudian menangis lagi di dada sang kakak. Caca tahu, sikap dingin kakaknya itu sebenarnya adalah karna rasa bersalahnya pada diri sendiri karna merasa tak becus menjaga dirinya. Jadi Caca tak ingin Zidan juga terus larut dalam perasaannya.


"Mas Zidan. Jangan marah ya .."


Zidan menghela nafas beratnya. Hatinya seolah melunak akibat perlakuan Caca padanya. Ya memang tak seharusnya dia malah dingin pada sang adik setelah apa yang sudah Caca alami. Tapi entah kenapa pikirannya jadi sempit karna merasa tak becus sebagai kakak.


"Mas Zidan gak marah ke lo. Mas Zidan cuma marah sama diri Mas sendiri karna udah biarin orang nyentuh lo." Zidan menjawab ucapan Caca dengan membalas pelukannya bahkan tangannya mengelus lembut rambut Caca sayang.


"Mulai sekarang gue gak mau ke cafe - cafe kayak gitu. Kalau gue ke sana gue nanti datang sama Mas, gue janji."


"Iya, gak apa - apa. Mas juga gak mau batasin lo. Tapi mulai sekarang lo sendiri juga harus jaga diri Ca, lo sudah besar, udah jadi wanita, lo cantik jadi pasti banyak yang suka lo. Jadi lo harus hati - hati. Kalau ada yang mencurigakan lo harus cepet lari, oke?."


"Iya Mas." Dan Caca mengangguk dalam dada Zidan.


"Ya, udah sekarang lo istirahat. Lo bisa tidur di kamar sama Mbak Siska. Nanti Mas bisa tidur di sofa."


Waktu terus berjalan. Dan sekarang sudah tengah malam. Siska yang menemani Caca tidur didalam kamar terbangun karna suara TV diruang tengah yang masih terdengar. Ini sudah jam 1 malam padahal, tapi suaminya itu ternyata belum tidur.


"Kamu belum tidur atau sudah tidur tapi kebangun?." tanya Siska yang kini sudah duduk disamping Zidan.


"Aku gak bisa tidur." jawab Zidan dengan tangan seolah langsung reflek menjulur untuk merangkul sang istri agar duduk bersadar di dadanya seperti biasanya.


"Kenapa? masih kepikiran Caca?."


Zidan tersenyum simpul.


"Gak perlu kepikiran lagi. Caca udah gak apa - apa. Dia udah baik - baik aja. Terus juga udah balik ceria. Bahkan tadi sebelum tidur dia udah curhat tentang temen - temennya, terus juga katanya kemarin baru aja ditembak cowok."


"Jadi Caca sekarang lagi pacaran?." Emosi Zidan jadi tersulut lagi dengar Caca yang ditembak cowok. Jiwa posesifnya sebagai kakak sepertinya lagi meraung - raung lagi.


"Ih, Zidan. Biasa aja kenapa sih tanggapannya. Jangan over protektif gitu."


"Ya dia masih umur berapa udah mau pacaran? Enggak, pokoknya masih gak boleh, sebelum dia lulus kuliah dilarang pacaran - pacaran dulu." Bukan karna apa Zidan melarang, tapi karna rasa khawatir takut Caca diapa - apain orang lagi.

__ADS_1


"Ish! kenapa kamu jadi kolot gitu? Caca udah 17 tahun, Zidan. Dulu kita juga pacarannya pas umur segitu."


"Ya beda dong Sis, aku laki - laki Caca perempuan."


"Ya sama aja dong, kamu laki - laki kalau pacarannya gak sama perempuan gimana mau pacarannya? mau jeruk sama jeruk, gitu? udah deh, kamu ini kebiasaan kayaknya apa - apa pakai larang - larangan gak ke aku gak ke Caca. Hilangin deh perasaan kayak gitu. Risih tahu kalau kamu kayak gitu terus." Siska mulai ngomel.


"Ya ini 'kan demi kebaikannya Caca sama kamu sayang. Aku itu gak mau orang yang aku sayang sampai salah jalan. Aku harus mastiin kalian berdua tetap aman dalam jangkauan."


"Itu cuma alesan kamu aja. Aslinya kamu itu cemburu takut cinta sama perhatian kita jadi kebagi - bagi ke orang lain, iya 'kan?." Siska memberikan pincingan matanya, dengan raut wajah masam.


"Ya itu kamu tahu." Zidan nyengir gemas.


"Ish! Ya kalau ke aku Oke, aku bisa terima karna emang aku istri kamu. Tapi aku juga minta jangan semua orang dicemburui, kamu harus percaya sama aku. Aku gak akan aneh - aneh selama kamu juga gak aneh - aneh. Contohnya kayak ke Desta. Dia itu baik, kamu sekarang tahu sendiri, jadi aku minta kamu jangan suka cemburu lagi sama dia. Inget kalau bukan karna dia tadi Caca pasti udah diapa - apain sama orang gak bertanggungjawab."


"Ck! bahkan sekarang aku udah gak bisa nolak kehadiran dia." keluh Zidan, yang walaupun tak suka tapi tak bisa berbuat apa - apa.


"Kita cuma temenan Zidan, gak lebih."


"Iya, iya, iya." Ya siapa yang gak tahu kalau mereka berteman. Dan untungnya Zidan tadi sudah memberi batasan pada Desta. Jadi sekarang dia iya, iya aja.


"Terus kalau untuk Caca. Biarin dia deket sama siapa aja atau mau pacaran sama siapa aja, jangan bikin batasan sama dia. Takutnya nanti Caca malah jadi berontak terus nekat malah kamu yang susah sendiri. Jadi, nanti aku mau kamu cukup mantau aja dari jarak aman dan aku bisa jadi tempat curhatnya. Jadi kita sebagai kakak jadi tahu gimana kondisinya Caca. Apa dia lagi galau, lagi seneng, lagi sedih atau lagi apa pun itu kita tahu, oke?."


"Kamu wangi, aku suka." Dan akhirnya Zidan menjawab dengan kalimat yang gak nyambung. Tapi itu bukan tanpa alasan Zidan ngomongnya. Sesungguhnya aroma tubuh Siska dan ucapannya tadi itu membuat pikirannya jadi lebih tenang.


"Ih! aku ngomong panjang lebar tapi fokus kamu malah ke bau aku!." Siska protes, dia 'kan gak tahu kalau sudah membuat Zidan tenang.


Zidan tertawa kecil. "Iya, aku dengerin kok apa yang kamu omongin."


"Emang aku ngomong apa, coba kamu ulangi."


"Lagi ngomongin Caca 'kan?."


"Ish! tuh 'kan kamu gak dengerin!." Siska menimpal, bahkan sedikit menjauhkan tubuhnya untuk melirik tajam pada Zidan.


"Sssttt! Udah sini. Nanti Caca jadi bangun." Dan Zidan meraih lagi bahu Siska agar kembali menyandar padanya.


"Ish!." Meskipun mendesis kesal, Siska menurut dan malah menyamankan posisinya yang sedang bersandar di dada Zidan.


"Oh iya, tapi tadi kamu gak ngomong yang aneh - aneh 'kan sama Desta?." Siska yang ingat saat Zidan menyusul Desta keluar, jadi penasaran dengan apa yang dikatakan Zidan.


"Emang aku mau ngomong apa?."

__ADS_1


"Ya siapa tahu, mau ngajakin dia berantem lagi."


Zidan tergelak kecil. "Kamu kira aku premen yang dikit - dikit suka berantem?."


"Ya, siapa tahu emang beneran preman, cuma lagi pura - pura jadi arsitek."


Zidan tergelak lagi. "Kalau aku jadi preman kamu mana mau sama aku."


"Ya mau aja, asal kamu kaya banyak duit."


"Cih! dasar cewek matre!."


"Emang! dikira hidup itu gak butuh duit. Jadi harus matrelah kalau enggak ngenes hidup ini gara - gara gak bisa menikmati hidup." jawab Siska enteng.


"Menikmati hidup itu gak harus sama uang sayang. Kadang kumpul bersama orang yang disayang itu jauh lebih bahagia." Zidan masih mencoba mendebat.


"Yang bener itu, harus seimbang. Kumpul sama keluarga terus banyak duit juga"


Obrolan keduanya pun terus berlanjut. Ya obrolannya ngelantur sampai mana - mana. Yang tadinya bahas apa eh sampainya dimana. Hingga akhirnya, keduanya tak sadar jadi tertidur.


Dan Paginya. Terjadilah sebuah dejavu dalam hidup Caca.


Caca terbangun dari tidurnya. Sebetulnya matanya masih sangat mengantuk, tapi karna rasa ingin buang air kecil yang teramat. Mau tak mau Caca jadinya bangun dan berangkat ke kamar mandi.


Dengan mata yang masih setengah memejam. Caca masuk kedalam kamar mandi tanpa memperdulikan sekitar. Begitu juga saat selesai dari dalam kamar mandi. Sebetulnya dia masih tak kuat membuka matanya lebar. Tapi saat melihat pemandangan didepannya yang tak biasa, Caca pun secara otomatis langsung membelalakkan matanya. Dan untung saja matanya itu tak sampai copot.


"Oh My God!."


Mbak Siska dan Mas Zidannya lagi tidur berpelukan diatas sofa, tapi keduanya sedang telanjang dada. Eh, bukan. Siska cuma memakai branya. Tapi meskipun begitu bagi Caca sama saja Siska telanjang dada.


Serasa tak pantas untuk dilihat. Caca pun memilih untuk masuk kembali kedalam kamar. Ish! rasanya Caca jadi malu sendiri dengan kelakuan kedua kakaknya ini. Kenapa jadinya mereka ini suka mesum disembarang tempat tanpa peduli dengan kehadirannya?.


"Huhhh!!." Caca jadi kesal sendiri dibuatnya. Harusnya semalam dia tak perlu mau untuk menginap di apartemen kakaknya. Kalau ujung - ujungnya matanya disuguhi adegan mesum lagi.


"Huhhhh!!!."


Pikiran Caca dibalik, rasanya dia harus membuat kedua kakaknya jadi jerah. Maka dari itu Caca pun meraih ponselnya dan membalik langkah kakinya.


Caca dengan senyum smirk bercampur jailnya, mulai merekam kedua kakaknya yang lagi tidur berpelukan dengan telanjang dada. Pelan - pelan tapi pasti. Caca berhasil merekamnya tanpa membangunkan keduanya.


"Mas Zidan!! Mbak Siska!!." Yap, Caca memekik membangunkan keduanya. Sudut bibirnya terangkat tersenyum smirk. Mari buat keduanya malu sampai akar - akarnya. Kalau bisa, sampai kartu kredit unlimited jadi miliknya. Ingat, Caca udah punya kartu As yang siap dijadikan senjata andalan. Hahahah

__ADS_1


__ADS_2