
"Iisss... ati - ati, perih soalnya." Desta mendesis pelan ditengah rasa perih karna lukanya yang sedang diobati oleh Caca.
Tapi, karna desisan sakit itu, Caca jadi ragu - ragu kalau meneruskan olesan obatnya lagi. Rasanya, hatinya jadi takut kalau - kalau nanti Desta malah semakin kesakitan gara - gara dirinya. Apa lagi Desta adalah orang yang sudah menolongnya.
"Gak apa - apa kok Ca, pokoknya pelan - pelan kamu bisa lanjutin ngolesin obatnya." Desta yang peka dengan gestur Caca pun jadi tak enak hati dan memilih menenangkan.
"Maaf ya Mas, gara - gara aku Mas Desta jadi kayak gini." Bahkan untuk bicara pun suara Caca bergetar. Dan sekarang tangannya juga ikut bergetar begitu juga tubuhnya jadi gemetaran juga.
Sesungguhnya peristiwa tadi itu cukup membuatnya takut dan trauma. Bagaimana kalau Desta tadi terlambat menyelamatkannya, mungkin sekarang dia sudah berakhir dilecehkan orang tak dikenal, atau bahkan diperkosa juga. Membayangkan itu saja Caca sudah tak sanggup. Tapi melihat Desta yang bonyok Caca jadi tak enak hati dan merasa bersalah.
"Udah, gak apa - apa. Luka gini itu udah biasa. Jadi jangan terlalu dipikir."
Tapi Caca masih diam. Dan malah menunduk.
"Yang penting sekarang kamu gak apa - apa. Sekarang kamu aman. Gak akan ada yang ganggu lagi." Desta yang punya kepekaan tinggi lagi - lagi menenangkan Caca. Jujur saja melihat Caca yang seperti sekarang dia jadi tak tega.
"Yang tenang ya..."
Dan kali ini, Caca mengangguk pelan. Sudut matanya terlihat berkaca - kaca. Sungguh kalimat yang diucapkan Desta ini sebetulnya adalah kalimat yang ditunggu - tunggu dari tadi. Kalimat yang menenangkan bahwa semuanya sudah baik - baik saja. Karna sang kakak sendiri tadi malah sibuk memarahinya dan meruntukinya. Tak sekalipun juga Zidan memeluknya. Yang memeluknya cumalah sang Kakak ipar saja.
"Maaf ya, Mas, sama terima kasih..." Dengan setetes air mata Caca mengucapkan maaf sekaligus terima kasih pada Desta.
"He'em, gak apa - apa, ini cuma luka kecil jadi kamu jangan khawatir. Kamu jangan kepikiran lagi. Orang yang tadi ngelecehin kamu sudah dibawah polisi juga. Jadi aman."
Dari arah pintu, Datanglah Zidan dan Siska yang seperti baru saja mengurus masalah ganti rugi cafe dan juga laporan kepada kepolisian.
"Ca, ayo pulang." ajak Zidan pada Caca.
"Des, lo ikut kita aja ya? gue khawatir juga soalnya sama lo. Itu luka - luka lo kayaknya parah Des, kalau cuma di olesin obat dari minimarket kayaknya lama sembuhnya. Jadi mending kita kerumah sakit dulu ya terus entar setelah dari rumah sakit kita anterin kamu pulang." pintah Siska pada Desta. Tapi Siska bergerak ke Caca dan kembali memberikan rangkulan pada adik iparnya itu.
__ADS_1
"Gak usah Sis, gue gak apa - apa, ini cuma luka kecil besok juga udah sembuh, jadi lo tenang aja gak usah khawatir."
"Luka kecil gimana sih Des, itu jelas - jelas parah. Jadi please ayo kamu ikut kita aja. Nanti sekalian pulangnya biar kita anterin. Iya 'kan Dan?." Siska mengarahkan pandangnya pada Zidan yang berdiri disampingnya. Dengan sikapnya ini harusnya suaminya ini paham kalau dirinya perlu berterima kasih pada Desta karna sudah menyelamatkan Caca.
Zidan tak bereaksi. Bukannya dia tak mau berterima kasih. Tapi dirinya cuma merasa malu karna sebagai kakak rasanya sudah gagal melindungi adiknya dan malah orang lain yang bisa melindungi adiknya.
"Zidan," sambil mencolek perut Zidan Siska sedikit berbisik juga.
"M, iya, betul. Biarin kita bawah lo kerumah sakit dulu." Zidan ngomong dengan raut wajah datarnya.
"Gak usah, gue gak apa - apa. Ini cuma luka kecil Sis."
"Tapi Des, gue yang apa - apa, jadi please ikut kita ya? biarin kita ngurus lo juga."
"Kalau gue gampang, Sis. Gue bisa kerumah sakit sendiri besok. Sekarang mending kalian langsung pulang aja. Ini adik lo kayaknya yang lebih butuh istirahat sama ketenangan. Dia pasti syok karna kejadian tadi." lirik Desta pada Caca yang sedari tadi diam membisu dan tampak menunduk.
"Caca sendiri akan jauh lebih baik kalau kamu mau kita bawah kerumah sakit Des. Atau paling enggak biarin kita anterin lo pulang ya?." Siska masih kekeh.
"Biar kita anterin Des." Berhasil, Zidan memberikan reaksinya.
"Beneran deh Des, kita gak enak banget sama lo. Lo udah nyelametin Caca jadi paling enggak kita harus bales kebaikan lo meskipun ini juga gak sepadan sama yang udah lo lakuin." Siska menambahi.
"Oke, Tapi masalahnya kalau kalian nganterin gue, entar mobil gue gimana?." tanya Desta.
"Nanti mobil lo bisa gue suruh ambil anak buah gue. Jadi ayo gue anter." Dan kali ini tanpa disuruh Zidan ikut bicara.
"Huft!." Desta menghembuskan nafas beratnya. "Oke." Dan akhirnya memutuskan untuk ikut.
Setelah bujuk membujuk Desta. Mereka semua akhirnya keluar dari dalam cafe menuju mobil Zidan yanh terparkir didepannya.
__ADS_1
"Des, kamu duduk didepan ya, biar aku duduk dibelakang sama Caca." Tanpa menunggu respon dari keduanya. Siska pun masuk kedalam mobil bersama Caca. Ya walaupun sebetulnya Zidan hendak menolak karna tak ingin bersampingan dengan Desta. Tapi nyatanya dia tahan karna melihat kondisi sang adik yang sepertinya sedang tak baik - baik saja.
Benar saja. Disepanjang perjalanan pulang, Caca menumpahkan tangisnya dalam pelukan Siska. Rasa takut, sedih, kalut dan semuanya dia tumpahkan saat itu juga ditengah tepukan menenangkan dari Siska di punggungnya. Membuat suasana sepanjang perjalanan jadi hening karna dirundung rasa iba dan tak tega hingga akhirnya, mobil Zidan pun berhenti di loby apartemen Desta.
"Sis, gue duluan. Dan, thank udah nganterin." pqmit Desta sebelum keluar dari dalam mobil pada Siska dan Zidan secara bersamaan.
"Mas Desta, terima kasih ya Mas, udah nyelametin aku. Aku beneran terima kasih." Caca menegakkan tubuhnya karna sedari tadi dia bersandar pada Siska untuk menangis.
"Iya, sama - sama. Kamu istirahat ya. Jangan dibikin trauma."
Dan Caca mengangguk.
"Des, aku juga makasih ya. Kalau gak ada kamu, aku gak tahu lagi nasibnya Caca gimana tadi. Jadi makasih, makasih banget." Siska ikut mengucapkan terima kasih.
"Iya sama - sama Sis, kalau gitu aku balik dulu." Desta kembali pamit, dan menatap Zidan barang sekejab juga.
Desta pun turun dari mobil. Tapi ternyata Zidan juga ikut turun, dan mengekori Desta.
"Desta." Zidan memanggil Desta dan kemudian berdiri dihadapannya. Sementara Desta menengok. Sesungguhnya dalam hati Desta inilah yang dia tunggu. Ucapan terima kasih dadi Zidan untuknya karna sudah menyelamatkan adiknya. Dan untuk kali ini Desta akan memanfaatkan momen ini.
"Gue juga, gue ucapin terima kasih. Thank lo mau bantu adik gue." Tebakan Desta benar, Zidan mengucapkan kata terima kasih padanya.
"Ternyata lo bisa juga bilang makasih ke gue. Gue kira cuma lo bisa cemburu buta."
"Gue tulus Des, kalau gak ada lo gue gak tahu lagi adik gue sekarang kayak apa."
Desta manggut manggut sambil tersenyum tipis tapi sedikit smirk. Desta sedang merasa diatas angin juga sebetulnya. "Ya, tapi emang lo harus bilang makasih sih ke gue. Oke gue terima ucapan terima kasih dari lo, tapi hal ini tetep gue anggep lo punya hutang budi ke gue."
"Ya, boleh. Memang harus lo anggep hutang budi. Jadi nanti lo tinggal bilang aja gue harus bantu apa ke lo. Pasti gue kabulin. Asalkan bukan untuk dekat sama Siska." Punya hutang budi boleh. Tapi kalau urusan dengan istrinya jelas Zidan harus memberikan batasan.
__ADS_1
"Ck! gue kira lo udah jinak. Ternyata lo sama aja tetep prosesif. Oke, gue anggap itu sebagai janjinya seorang lelaki. Nanti kalau gue butuh bantuan irang yang gue cari lebih du pastinya lo. Jadi lo siap - siap aja. Gue masuk dulu, jagain adik lo sama istri lo itu baik - baik jangan sampai hal kayak tadi terulamg lagi." pesan Desta yang kemudian memukul pundak Zidan layaknya seorang gentleman.