
Cengkling.
1 pesan baru saja masuk saat Siska baru saja duduk di kursi kemudi.
"Hati - hati jangan ngebut."
Cengkling.
1 pesan kembali masuk bersama foto narais si Zidan yang lagi mecucu dengan caption :
"Emmuuchhh!!."
Sontak Siska tertawa kecil. "Astaga..."
Tapi meskipun begitu Siska malah memilih sebuah emoji marah dan memaki sebagai balasannya. Sungguh berbanding terbalik antara bibir yang tersenyum dengan jari yang mengetik.
"Hem, masih aja jutek, tapi cantik sih, aku jadi sayang dan sekarang udah kangen." Balas Zidan lagi.
"Hm, udah ah gue mau pulang. Keburu malam."
"Oke, sayang, ati - ati. Habis berkemas langsung pulang apartemen, oke?." Sekali lagi Zidan mengingatkan Siska dalam pesan WAnya.
"Iya, bawel!."
Yap, setelah mengirim pesan tersebut. Siska pun menginjak pedal mobilnya menyusuri jalanan kota yang sudah lumayan renggang dan tak seramai tadi saat berangkat. Jadi cuma butuh 30menit saja dijalan sampai akhirnya Sisak tiba di kontrakan.
"Pak Wahyu..."
Kebetulan sekali bukan, saat Siska sampai Pak Wahyu sedang mencuci mobilnya didepan halaman rumahnya. Jadinya 'kan Siska bisa langsung membuktikan omongan Zidan tentang Pak Wahyu.
"Eh, Dek. Baru pulang?." Pak Wahyu berhenti sejenak dari kegiatannya untuk membalas sapaan Siska.
"Iya pak."
"Oh iya."
"Oh iya Pak, saya mau ngucapin terima kasih sama bapak, saya denger katanya Pak Wahyu sama ibu selama ini yang jagain kita - kita, ya?." ucap Siska basa basi, karna gak mungkin 'kan langsung tanya Pak Wahyu beneran dibayar atau enggak sama Zidan.
"Oh, Iya sama - sama. Tapi sebetulnya saya jagain juga gak gratis dek, saya dikasih uang." Dari ucapan Pak Wahyu ini sudah membuktikan kalau Zidan ternyata gak bohong. Ternyata mantan pacarnya itu selama ini diam - diam perhatian juga. Sweet banget 'kan.
"Iya Pak, tapi meskipun begitu saya harus terima kasih sama bapak. Soalnya mulai besok rencananya saya udah mau pindah pak. Jadi sekalian juga mau pamit sama bapak. Bentar lagi saya sama Pak Wahyu sekeluarga udah jarang ketemu."
__ADS_1
"Oh iya, mau nikah ya bentar lagi? Kemarin Dek Zidan cerita, kalau katanya kalian mau nikah. Bapak doain semoga langgeng sampai kakek nekek. Ya, tapi meskipun begitu, bapak jangan dilupain. Nanti kalau ada waktu ya mampirlah, silahturami ke bapak sama ibu."
"Iya pak kalau itu pasti. Oh iya, nanti waktu resepsi bapak datang ya? Ini undangannya masih belum jadi, jadi saya ngundangnya lisan aja deh pak."
"Oh oke oke, bapak pasti datang. Hari senin 2 minggu lagi kan ya?."
"Iya Pak. Betul. Ya udah ya pak saya masuk dulu, soalnya saya harus kemas - kemas juga."
Setelah ngobrol panjang lebar sama Pak Wahyu. Siska pun masuk kedalam rumah. Dia kemudian langsung mengemasi beberapa baju miliknya kedalam koper seperti saran Zidan tadi.
Siska memutuskan untuk tinggal di apartemen Zidan mulai malam ini. Karna memang sepertinya ini merupakan pilihan yang terbaik saat ini. Selain karna semakin yakin setelah tahu fakta tentang Pak Wahyu. Kemudian Zidan yang juga lagi di luar kota. Siska sendiri juga menemukan fakta lain saat melewati pos ronda tadi.
Ternyata selama ini di pos ronda itu bukanlah di pakai untuk para warga yang hendak ronda menjaga lingkungan. Tapi ternyata malah dipakai para preman untuk judi terus minum bareng. Apa lagi salah satu preman yang ada disana, sepertinya memang selalu mengawasi rumahnya dengan tatapan nafsu dan menjijikkan atau mungkin pikiran jahat yang lain. Kalau ingat itu, Siska jadi bergidik sendiri.
Siska menyeret kopernya memasuki apartemen Zidan. Dia bisa masuk dengan muda menggunakan paswod tanggal lahirnya yang diberikan Zidan dulu. Hal pertama yang dilakukan Siska jelas menghidupkan semua lampu - lampunya. Dan setelah itu langsung menuju kamar membongkar barang - barangnya dalam koper dan bergegas membersihkan diri.
"Fuih!."
Segar rasanya selepas mandi. Sekarang waktu Siska membaringkan tubuhnya diatas kasur. Eh, tapi tiba - tiba ucapan Caca terngiang di otaknya.
"Koper!!!."
"Mbak, mau tahu satu fakta gak?." Ucapan Caca tadi, saat mereka duduk berdua di sofa ruang tengah.
"Fakta apa?."
"Fakta tentang Mas Zidan dulu."
"Dulu? maksudnya waktu pacaran sama mbak dulu?."
"Iya, aku jamin, Mbak Siska gak bakalan nyangkah."
"Oh ya? emang apa?."
"Mbak, Mas Zidan itu sampai sekarang masih nyimpen barang - barang yang Mbak Siska kasih lo."
"Oh ya? masak sih? ngapain emang kok disimpen?."
"Iya, suwer, aku gak bohong. Mas Zidan beneran masih nyimpen barang - barang kalian sampai sekarang."
"Masak sih? terus buat apa dia nyimpen barang - barang itu?."
__ADS_1
"Kayaknya mau dijadikan kenangan terindah mbak."
"Eh, masak iya? gak mungkinlah Ca."
"Ih, Mbak Siska kok gak percaya."
"Iya, gak masuk akal soalnya."
"Suwer deh, itu beneran pasti mau dijadikan kenangan terindah sama dia."
"Hem, masak iya? Eh, tapi Ca, kamu tahu gak sih. Masmu itu dulu waktu pacaran sama mbak, barang - barang yang udah dia kasih ke mbak diminta lagi lo, Ca. Terus dari semuanya itu cuma satu yang dia iklasin, hodie. Jadi apa karna itu dia nyimpen barang - barang kita karna mikirnya sayang kalau dibuang karna udah beli mahal - mahal?."
"Eh, enggak kok mbak, gak gitu. Aku jamin karna emang nganggepnya pengen jadikan momen kebersamaan sama Mbak Siska jadi sesuatu yang berharga."
"Eh enggaklah gak mungkin."
"Ih, Mbak kok gak percaya. Ini beneran. Mas Zidan itu kayaknya gak bisa ngelupain Mbak dengan sungguh - sungguh. Orang dulu nih ya, aku pernah secara gak sengaja minjem kemeja kotak - kotaknya dia langsung marah - marah ke aku sampai aku dimaki - maki. Terus dia bilang, katanya kemeja itu barang paling berharga buat dia. Habis itu langsung disimpen rapi dalam koper bareng barang - barang lain kayak gelang couple, gantungan kunci, bunga terus hodie juga, terus banyak deh kalau gak salah."
"Em, iya, kita emang sempet punya couple sama semua barang - barang itu."
"Bener berarti 'kan? soalnya aku rada inget didalam kotak itu juga banyak foto - fotonya Mbak Siska juga."
"Eh, masak sih? terus kenapa Zidan nyimpen barang - barang waktu kita pacaran? Padahal dia kemarin udah nikah 'kan? terus dia gak mikirin gitu perasaan calon istrinya gimana kalau tahu?."
"Em, kalau itu, aku gak tahu mbak, cuma kalau menurutku si Mas Zidan gak beneran cinta sama Mbak Mega. Dia cuma kasian aja sama Mbak Mega karna emang waktu Oma sakit sampai beliau meninggal Mbak Mega yang ngerawat sama kasih perhatian lebih. Eh, tapi dibalik sikapnya yang lemah lembut sayang oma, gak tahunya malah kepincut sama si Goldi sampai hamil. Eh, udah deh jangan ngomongi si Mega sama Goldi, gedek aku kalau inget!. Mbak Sis, yang pasti, dihatinya Mas Zidan kayaknya masih terukir jelas namanya Mbak Siska. Dia gak bener - bener ngelupain mbak kayaknya. Jadi mbak, nanti kalau mbak pengen buktiin itu, coba deh mbak cari di lemari atau dimana gitu di apartemennya mas Zidan, kalau kesana. Terus mbak priksa, kalau gak salah warna kopernya itu silver. Karna aku pernah liat, Mas Zidan yang menyeret koper itu buat dibawah pergi kesana biar gak aku recoki lagi."
Dan karna obrolan mereka itulah, mangkannya Siska sekarang dengan gencarnya mencari koper yang Caca maksud. Dan sepertinya dewi fortuna sedang manis - manisnya ke Siska. Jadinya tak begitu sulit untuk menemukan koper yang dimaksud.
Koper itu dibaringkan Siska diatas kasur. Tapi tatapannya berubah sedikit bingung karna koper tersebut bersandi.
"Huft, sandinya apa ya??."
Dan karna memang dewi fortuna lagi manis, jadi tak sesulit itu buat membuka kopernya.
"Astaga..."
Eh, kopernya juga pakai tanggal lahir Siska.
"Oh My God."
Koper dibuka. Siska membelalakkan mata. Serius, isi koper itu memang benar peninggalan mereka saat pacaran. Dan semua itu, disimpan rapi sama Zidan. Ini maksudnya apa coba? Benarkah Zidan gak bisa melupakannya?.
__ADS_1