Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
65. Cepet Isi


__ADS_3

"Sony!!!." suara Om Robet langsung memenuhi isi teras rumah begitu dia turun dari dalam mobil diikuti Tante Vio, istrinya.


"Bang!." Pak Sony ikut antusias menyambut kedatangan sang kakak.


Keduanya kemudian saling berpelukan untuk melepas rindu karna memang sudah sekian purnama tak pernah berjumpa. Bahkan pelukan itu begitu erat dan emosional.


"Mbak Vio!!." Bu Resti juga ikutan heboh ketika matanya menangkap sang kakak ipar.


"Res!." Begitu juga sama tante Vio, langsung memeluk posesif.


Ada rasa lega. Rasa bahagia dan rasa rindu yang bercampur jadi satu dihati 2 saudara ini.


"Gimana kabarnya mbak? seneng aku bisa ketemu sama mbak, waktu itu aku kesana pas Mbak sama Bang Robet lagi pergi, jadi kita gak bisa ketemu." kata Bu Resti sekaligus memberikan sebuah keluhan.


"Iya, haduh waktu itu aku sampai sebel sendiri karna kok ya pas banget kamu datangnya pas kita pada pergi liburan." sesal tante Vio.


"Sony, Sony, Sony." Om Robet memekikkan nama sang adik. Om Robet juga melakukan gerakan melepas dan memeluk Pak Sony agar bisa menatap wajahnya beberapa kali, seolah sedang gemas sekaligus tak menyangkah bisa benar - benar menjumpai sang adik lagi.


"Aku kangen sekali sama kamu Son. Berapa tahun kita gak ketemu."


"Alah, jangan bilang kangen. Aku tahu, abang cuma basa basi, Abang gak beneran kangen aslinya sama aku."


"Ya, jangan gitu dong Son, ini Abang serius memang kangen sama kamu."


"Apanya yang jangan gitu. Aku beberapa kali ke Australia sama Resti abang selalu gak ada. Selalu sibuk kerja yang terakhir malah ditinggal liburan. Dimintai kesini pun susahnya minta ampun. Ini juga abang datang paling juga karna terpaksa." Layaknya anak kecil yang sedang cari perhatian Pak Sony jadi merajuk.


"Hahaha udahlah Son, kemarin gak disengaja. Tanya Mbakmu kalau gak percaya. Kamu juga kenapa waktu ke Australia gak bilang - bilang dulu? terus ini, kamu sudah tua gak pantes kalau masih mau main ngambek - ngambekan segala. Ini aku sekarang sudah datang, dan kedatanganku ini secara tulus memang pengen ngunjungin kamu. Sekalian juga karna kemarin kita gak bisa datang ke acara pernikahannya Zidan. Jadi sekarang aku mau nebus." Dan layaknya sang kakak yang tak ingin adiknya terus ngambek Om Robet membujuk.


"Cih! untung. Sekarang beneran datang. Kalau Bang Robet gak datang lagi, pasti aku anggap kalau aku sekarang udah gak punya saudara. Dan lagi kalau mau nebus, jangan cuma sekedar datang. Kasih duit dan sama hadiah yang banyak dong, Bang."


"Ih, Papa, kok jadi anak kecil yang suka narget gitu sih Pa?." Bu Resti menimpal.


"Ya gak apa - apa Ma, sudah lama juga Bang Robet gak kasih uang jajan ke Papa, apa salahnya?." Beneran 'kan Pak Sony lagi kembali jadi adik kecil yang manja.


"Hahaha, oke - oke, itu bisa diatur. Nanti aku kasih hadiah sama uang saku, tapi bukan ke kamu ke anakmu saja."

__ADS_1


Setelah saling sapa dan melepas rindu pada sang adik. Sekarang Om Robet dan Tante Vio berpindah perhatian pada Zidan dan Caca,


"Zidan, Caca, kalian masih inget Om 'kan?." tanya Pak Robet yang arah matanya menatap keduanya.


"Ingatlah Om, meskipun lama gak ketemu." Jawab Zidan sambil bersalaman dan juga sedikit memberikan rangkulannya pada Om Robet. Yang mana setelahnya di ikuti oleh Caca.


"Zidan!." Tante Vio menyapa, dan ikut menyalami Zidan serta memeluknya juga. "Caca." Begitu juga dengan Caca, cuma kalau ke Caca ditambahi cipika cipiki.


"Ini?." Tante Vio tanya. Matanya terarah pada Siska.


"Istriku Tan." jawab Zidan.


"Oh, Hay..." sapa Tante Vio ramah.


"Tante." Dan Siska membalas sapaan itu, salaman juga dan saling cipika cipiki juga.


"Om." Sementara pada Om Robet cuma salaman aja.


"Oh, ini istri kamu Dan?." Om Robet mengulang pertanyaan.


"Iya, Om." Jawab Zidan.


"Iya dong tante, harus pinter. Masak cuma Om Robet aja yang pinter cari istri cantik." Ya secara tak langsung Zidan membalas pujian Tante Vio.


"Hahaha, ih, kamu ini tetep aja ya suka godain tante dari dulu." Sangking senangnya akan pujian Zidan Tante Vio sampai memukul lengan Zidan dengan dengan wajah yang memerah.


"Eh, udah dong yuk Pa, Bang Robet sama Mbak Vio biar masuk dulu. Kita ngobrolnya didalam saja." Tawar Bu Resti agar tak lama - lama berdiri di teras.


"Oh iya, ayo kita masuk. Dan, kamu bantuin ya bawah barang - barangnya Om Robet terus langsung taruh di kamar tamu." Perintah Pak Sony yang mana kemudian menggiring sang kakak dan kakak iparnya masuk dalam rumah.


Semua orang kemudian, duduk di ruang tengah. Masih bercengkrama melepas rindu dan juga bercerita tentang kehidupan masing - masing.


"Oh iya Om, Tan, gimana kabarnya Bang Eri? kok gak ikut sekalian kesini?." Zidan tanya tentang sepupunya, sudah sekitar 1 tahun lebih dia tak bertemu dengan Eri.


"Eri baik, dia lagi jadi suami siaga. Istrinya lagi hamil 7 bulan jadi gak bisa ditinggal kemana - mana. Sama juga pas kandungannya rewel gak bisa capek dikit." Yang jawab Tante Vio.

__ADS_1


"Wah, jadi istrinya Eri lagi hamil?." Pak Sony ikut antusias.


"Oh ya? wah kalau udah 8 bulan, bentar lagi bisa gendong cucu dong Mbak?." Dari nadanya saja Bu Resti juga antusias. Sepertinya dia dan Pak Sony sendiri juga sudah berharap segera punya cucu.


"Iya, udah Res, Son. Tinggal 1 bulan lagi lahiran. Aku sendiri udah gak sabar pengen cepet - cepet ketemu sama cucuku." Tante Vio terkikik sangking senangnya.


"Wah, seneng ya mbak? Ah, aku jadi iri mbak. Aku cuma bisa berharap semoga yang didepannya Mbak ini bisa cepet - cepet isi juga." kata Bu Resti sambil melirik ke Zidan dengan harapan tinggi.


"Iya seneng banget, Res. Hihihi. Gak nyangka Tuhan bisa kasih cepet keturunan buat Eri sekaligus buat kita juga. Ini juga sampai tiap hari aku udah bayang - bayangin lagi gendong cucu. Tinggal 2 bulan lagi, gak sabar aku." Ya lagi - lagi Tante Vio malah bikin Bu Resti iri.


"Kalau kamu pengen cepet juga Dan, Ya kamu harus bergerak cepat Dan. Kalau perlu tiap ada kesempatan diusahain buatnya. Itu Eri, pakai trik gitu. Akhirnya 3 bulan menikah istrinya langsung isi." Om Rebet bahkan ikut memberi wejangan.


"Ah, kalau dia susah Bang. Paling bisanya ya seminggu sekali. Itu pun kalau iya. Orang dia ini jauh - jauhan sama istrinya. Kemarin baru aja nikah, eh besoknya langsung ditinggal ke Jogja." Bu Resti mengeluh akan keadaan anaknya.


"Udah gak lagi Ma, sekarang kita udah gak jauh - jauhan. Mulai kemarin aku udah beneran pulang. Aku udah gak balik lagi ke Jogja, disana udah di urusin Egi. Jadi mama tenang aja secepatnya pasti dapat kabar positif. Tenang aja."


"Loh emang kenapa kok jauh - jauhan segala tinggalnya?." Tante Vio tanya.


"Ya karna kerjaannya Mbak. Dia dapat proyek pelebaran jalan di Jogja. Jadi ya begitu habis nikah besoknya udah langsung LDRan. Gak kasian sama istrinya ditinggalin sendirian. Bahkan sampai - sampai honeymoon aja juga belum berangkat - berangkat." Adu Bu Resti.


"Wah, hebat dong kamu Dan, bisnis kamu lancar dong kalau gitu?." Sekarang Om Robet berkomentar, bangga akan pencapaian keponakannya.


"Ya lumayan sih Om. Kemarin udah menang tender banyak juga. Ya doain ajalah Om semoga bisa semakin lancar."


"Iya kalau itu pasti Om doain. Tapi selain itu Om juga percaya sama kemampuannya kamu."


"Pa, kok mama punya ide ya? Tadi kan mereka bilang belum honeymoon 'kan ya?. Gimana Pa kalau kita datangin mereka ke Australia aja pas istrinya Eri lairan. Ya biar honeymoon sekaligus juga liat saudara sepupu baru sambil jengukin kita terus sekalian juga itung - itung sebagai hadiah pernikahannya mereka, gimana? Ya siapa tahu kalau suasananya berbeda bisa nyusulin Eri juga biar cepet isi." saran Tante Vio pada Om Robet.


"Ya boleh gak apa - apa. Papa sih setuju - setuju aja. Lagian Zidan kamu juga udah lama 'kan gak ke Australia?. Terakhir dulu sepertinya pas kamu masih SMA apa ya?." jawab Om Robet.


"Iya Om."


"Gimana kamu mau gak ke Australia?." Tanya Tante Vio.


"Ya kalau itu aku oke, oke aja. Tapi meskipun begitu aku tanya Siska dulu."

__ADS_1


"Kalau masalah istrimu biar tante yang tanya sama bujuk. Tante yakin, istrimu sendiri pastinya juga pengen cepet punya momongan. Jadi ya siap tahu kalau dibuat healing pikiran bisa tenang terus bisa cepet isi beneran." jawab Tante Vio.


Dibalik obrolan diruang tengah. Nyatanya Siska sedang bersandar di balik tembok. Entah kenapa wajahnya sekarang jadi gusar begitu juga matanya. Bahkan tangannya juga sampai meremat kencang pada nampan yang sejak tadi dibawahnya. Rasanya topik tentang momongan yang sejak tadi didengarnya itu masih terasa asing ditelinganya.


__ADS_2