
Kertas perjanjian sudah ditandatangani oleh keduanya. Saat itu tangan Siska terulur mau menyimpan kembali surat perjanjian itu. Tapi gerakannya tiba - tiba terhenti karna Zidan yang lebih cepat meraih lembaran itu dan langsung mengangkatnya tinggi - tinggi.
"Sorry, gue lupa. Gue belum tanya sesuatu ke lo. Surat perjanjian ini dibikin secara sepihak sama lo. Dan ini jelas lebih menguntungkan lo dari pada gue. Jadi gimana kalau seandainya yang ngelanggar perjanjian ini itu lo sendiri bukan gue? harusnya kalau gitu, lo juga harus dapat hukuman dong." Yap, inilah alasan Zidan tadi tersenyum smirk. Bagaimana pun caranya, dia akan membalik keadaan. Enak aja buat surat perjanjian segala. Dikira menikah itu cuma mainan kali.
"Maksud lo?." Siska jelas gak paham apa maksudnya Zidan.
"Maksud gue, gue minta keadilan. Kita harus fair. Disini gue juga gak mau kalau lo sentuh - sentuh gue. Jadi, kalau gue melanggar ada konsekuensinya berarti lo juga sama. Karna disini seperti yang lo bilang tadi, selain lo yang rusak gue juga ikut rusak."
"Hah? kok bisa lo jadi ikut rusak? aneh!."
"Ya jelaslah Siska, gue juga rusak. Lo tahu gak sih? apa efeknya kalau lo sentuh gue? gue jadi terangsang, terus horny. Dan setelah gue horny, eh lo malah membatasi gue dengan dalil kita punya sebuah perjanjian. So sorry, gue gak mau kalau sampai itu terjadi. Itu sama aja lo nyiksa gue secara gak langsung. Udah mancing bikin gue tegang tapi malah lo tinggalin gitu aja, lo kira gue gak punya harga diri? Jadi, gue maunya lo juga sama, lo jangan sentuh gue juga." Sedikit agak vulgar gak apa - apa 'kan, yang penting Siska paham apa maksudnya.
"Lah itu kan salah lo sendiri yang gak bisa nahan, kenapa jadi nyalahin gue?." Siska tak terima dong, ini rusaknya beda tingkatan artiannya sama rusak miliknya. Kalu Siska nganggapnya dia kehilangan keperawanan, si Zidan malah karna udah ngehorny. Duh!.
"Ya karna lo jadi penyebabnya. Ya gue nyalahin lo lah, sama kayak lo yang nganggap gue sebagai penyebabnya lo jadi rusak."
Siska menyeringai, rupanya Zidan gak akan menyerah gitu aja kalau belum mendapat apa yang dia mau. "Lo ini aneh, surat perjanjian itu yang bikin gue biar kita punya batasan. Seharusnya lo itu paham, berarti gue sendiri pun juga gak akan sentuh lo."
"Belum tentu juga, gak ada jaminan."
"Apanya yang belum tentu? emang lo kira gue bikin ini tanpa perhitungan?. Eh, gue tau lo ya, lo tukang nyosor, belum jadi suami aja udah nyosor seenaknya, apa lagi entar udah jadi suami. Jelas, lo pasti menginginkan lebih!."
"Sama dong, gue juga tahu lo. Lo, meskipun dibibir bilang enggak, tapi sekalinya gue cium, lo juga udah terbuai. Jadi gue gak ingin itu terjadi, gue gak akan membiarkan lo menikmati diri gue lagi. Enak aja lo bisa sentuh gue seenaknya sedangkan gue enggak."
"Eh, emang yang mau sentuh lo itu siapa sih? Padahal gue udah jelas - jelas bilang kalau gue gak bakalan sentuh lo!." Siska mulai kesal guys.
__ADS_1
"Ya elo lah. Siapa lagi? terus mintanya sambil ngerengek - ngerengek kayak anak kecil. Cih!." Ini sengaja, Zidan pengen Siska ingat kejadian pas mabuk.
"Iishh!!! Kenapa bawah - bawah kejadian masa lalu, sih?." Jelas, Siska jadi semakin kesal, tapi malu juga kalau inget itu.
"Ya karna lo itu munafik. Lo bilang gak mau gue sentuh lo tapi aslinya lo juga suka, bahkan pengen."
"Eh, kok lo jadi kePDan gini sih?."
"Pokoknya intinya gue gak percaya sama lo. Dan gue juga gak mau rugi. Karna ini menyangkut harga diri gue. Lo kira gue gampangan apa bisa lo sentuh - sentuh, terus lo buat horny seenak lo."
"Ish!." Siska pun memincingkan matanya. Udah kesel sampai ubun - ubun.
"Udah deh, ayo biar ini cepet kelar. Kita sepakati perjanjian ini yang benar. Disini gue mau kalau lo yang ngelanggar, gue minta, lo harus nuruti semua permintaan gue, gimana?." Zidan dengan senyum smirknya.
"Ih! kok jadinya gitu?."
"Ya tapi 'kan gak harus juga gue nuruti semua permintaan lo, lo kira gue babu lo!."
"Ya terserah, lo mau apa enggak, tau gue robek aja ini perjanjiannya? terus gue aduin ke semua orang tua kita, biar mereka tahu apa yang udah lo perbuat gitu?." Zidan sedikit mengancam sambil tersenyum smirk lagi.
"Iih!! kok lo jadinya curang gini?."
"Sis, pilihannya cuma 2, lo iyain kesepakatan kita atau gue robek terus gue aduin?."
"Aaarrrggghhh!!!." Jelas dong Siska frustasi. Ini niatnya ingin menyelamatkan diri, eh jatuhnya malah semakin kejebak. Siska paham betul gimana sifatnya Zidan. Ini pasti ada sesuatu yang lagi direncanain salam otak kotornya Zidan.
__ADS_1
"Udah gak usah teriak gitu, harusnya kalau lo yakin sama diri lo, lo pilih opsi yang pertama dong. 'Kan katanya kita gak ada skinskip, otomatis lo gak bakalan nyentuh gue dong." Dan Zidan makin manas - manasi. Hoby banget emang dia buat Siska gini.
"Iisshhh!!." Siska memincingkan matanya. "Oke, deal! gue gak akan nyentuh lo juga!."
"Oke, good. Deal!."
Zidan akhirnya menurunkan kertas perjanjian yang sedari tadi diangkatnya tinggi - tinggi. Dia kemudian menambahi 1 poin seperti kesepakatan akhir. Jika Siska yang melanggar, maka Siska akan menuruti semua permintaan Zidan. Jelas, ini membuatnya puas. Jadi, tugasnya sekarang cuma satu, membuat Siska melanggar perjanjian ini sendiri. Dan itu harus dimulai dari sekarang.
"Tapi Sis, ini kan perjanjian pernikahan. Dan sekarang kita belum menikah. Jadi perjanjian ini belum berlaku 'kan?." Nada bicara Zidan sudah terdengar rendah. Dari sini Siska udah bisa menebak jalan pikiran Zidan.
"M, terus lo mau apa? asal lo tahu gue bisa baca jalan pikiran lo ya!." Udah pasti Zidan bakalan minta peluk atau cium 'kan? jadi gak perlu basa basi.
"Hahaha, emang apa sih yang ada di otak gue?." Tanpa sungkan, Zidan mencolek hidung Siska dengan gemas.
"Pikiran kotor sama mesum! pelukan, ciuman iya 'kan?."
"Hahaha, betul." Gak usah menampik karna emang ini yang lagi Zidan pikirkan."
"Tuh 'kan? dasar otak ngeres!!."
"Ngeresnya 'kan cuma sama lo, kalau ke orang lain gue gak ngeres. Jadi seharusnya lo bangga dong, udah bikin gue jadi nafsu sama horny ke lo. Karna itu artinya dimata gue lo itu menarik."
"Isshh!!." Siska melengos jengah, padahal dalam hatinya dia suka sekali dengan gombalan Zidan ini.
"Boleh ya, Sis, bentar aja. Gue 'kan bentar lagi udah mau terbang ke jogja, dan kita bakalan LDR selama 10 hari. Biar gue gak kangen. Jadi ijinin gue peluk sama cium lo sebentar aja."
__ADS_1
Ah, permohonan Zidan ini rasanya susah untuk ditolak sama Siska. Kata - kata sebentar lagi bakalan LDR disaat mau menikah, itu juga udah jadi racun untuknya. Tapi, kalau dia menerima permintaan Zidan, takutnya dia yang jadi kalah dalam kesepakatan. Jadi dia harus gimana dong? menerima atau menolak?.