
"Hiks... kayaknya aku gak mau pulang ke Indonesia lagi deh. Aku mau tinggal disini aja ya." Kalimat ini entah sudah keberapa kali diucapkan oleh Siska.
Ingat kejadian tadi saat mertuanya secara tidak sengaja malah melihat dirinya dalam kondisi yang tak seharusnya. Rasanya malunya udah maksimal sekali. Udah mencapai ubun - ubun paling ujung. Siap dikeluarkan dengan cara tidak hormat.
"Atau kalau enggak, kamu ceburin aku ke laut aja deh Dan, gak apa - apa. Aku rela. Sekarang aku kayaknya lebih baik mati aja dari pada harus ketemu sama mama. Hiks." Bagaimana nantinya dia akan berhadapan dengan mertuanya?.
"Hus, kamu ini kalau ngomong jangan aneh - aneh. Kalau kamu mati gimana? Aku jadi sendiri. Apa kamu mau aku jadi duda keren terus direbuti banyak wanita?."
"Ih, ya jangan dong. Enak aja jadi duda keren. Gak ikhlas aku!. Kamu boleh duda tapi yang jelek yang dekil aja. Jangan sampai laku lagi. Dengan lirikan sinisnya Siska berseloroh.
"Ya mangkannya itu, kamu jangan ngada - ada minta dicerubin ke laut segala."
"Ya habisnya, aku malu. Malu banget, malunya maksimal gak ketulungan kayak mau mati aja rasanya. Atau kalau gak jangan diceburin, aku cekek diri aku sendiri pakai syal ini gimana?." Dan untuk mewujudnya ucapannya Siska bahkan langsung mengaitkan syalnya secara kencang di lehernya.
"Eehh, ehh,, jangan gila kamu!." Zidan sekala itu jadi panik.
"Uhukk!! Uhuk!!!." Siska batuk - batuk karna hasil perbuatannya tadi. "Aduh, sakit ternyata gak sanggup aku ternyata buat mati."
"Ck!." Zidan mendecak kesal melihat Siska yang jadi aneh.
"Hiks!! terus gimana dong?." Siska ngerengek lagi sambil meratapi nasib dihadapannya.
"Ya gak gimana - gimana, jangan dipikir." jawab Zidan santai.
"Ish!!!."
"Udah ayo sekarang, kamu cepet pesen mau makan apa?." tanya Zidan, pasanya mereka sudah duduk di restaurant ini lumayan lama tapi sampai sekarang belum pesan - pesan juga.
"Aku mau tanya deh sama kamu. Kamu ini tadi udah tahu mama telpon kenapa telponnya mesti diarahin ke aku sampai aku masuk ke layar juga? apa kamu emang sengaja biar mama liat kita dalam posisi kayak tadi, lagi bugil gitu gak senono gitu? kamu mau pamer ya ke mama? gitu?." Siska mulai curiga dan juga melayangkan sejumlah turuhannya pada Zidan.
"Astaga yang, ngapain juga aku pamer hal yang kayak gitu ke mama? gak ada kerjaan apa. Hal kayak gitu itu khusus aku konsumsi sendiri aja jangan sampai orang lain tahu." Jelas Zidan menampik tuduhan yang dilayangkan Siska.
"Ya tapi kenapa itu layarnya tadi diarahinnya pas ke aku? sampai badanku sama badan kamu kelihatan kalau lagi telanjang? mana kamu ini banyak banget bikin kissmarknya, bingung aku nutupinnya. Untung aku bawah syal kalau enggak udah malu gara - gara ditatap banyak orang."
"Ya kamu tahu sendiri tadi kita sama - sama masih ngantuk dan gak sadar. Lagi pula tadi siapa yang suruh aku terima telponnya? orang kamu juga yang udah ngomel - ngomel minta telponnya cepet diangkat 'kan?." Zidan membela diri.
"Ish! udah ah aku kesel sama kamu! pokoknya kesel!!!." Siska pun seketika ngambek dan melengos tak mau menatap wajah suaminya lagi.
"Yang, udah dong yang, jangan dipikir. Lagian juga mama tadi juga gak marah. Mama malah seneng lo tadi. Terus minta biar kita bisa oleh - oleh cucu dari sini. Jadi udah jangan dipikir. Sekarang ayo cepet kamu mau makan apa? biar aku bisa cepet pesenin, gak enak ini kalau duduk - duduk kelamaan disini tapi gak pesen - pesen."
__ADS_1
"Ish!." Denger Zidan ngomong begitu Siska pun mendecak kesal lagi.Dan dengan gerakan malasnya Siska mulai membolak - balik buku menu dihadapannya.
Siska pun menyebutkan banyak beberapa menu untuk dipesan. Minumannya pun juga begitu. Sekaligus Siska langsung memesan 3 gelas minuman berbeda untuk dirinya sendiri.
"Ini kamu beneran mau makan sebanyak ini? kamu gak lagi kesambetkan?" Zidan yang heran dengan tingkah Siska pun tanya. Apa bisa Siska menghabiskan semua menu yang dipesan tadi.
"Beneran, pokoknya gara - gara kejadian tadi aku pengen makan yang banyak biar stresku ilang. Jadi turutin aja deh, lagian juga gak akan ngabisin uang kamu sampai berpuluh - puluh juta juga." titah Siska dengan sikap kesalnya.
Zidan pun geleng - geleng. Iya mengiyakan saja.Dan kemudian berjalan ke meja pesanan untuk meletakkan pesanannya. Dan yang tak lama kemudian makanan yang dipesan pun akhirnya datang dan memenuhi meja.
"Ckckckc! pelan - pelan kalau makan, kayak gak pernah aku kasih makan aja." Zidan mendecak, pasalnya Siska yang lagi makan dihadapannya udah kayak orang kelaparan tujuh hari tujuh malam yang belum dikasih makan sama sekali.
"Jangan peduliin aku, kamu makan aja deh yang tenang."
Dan sekali lagi Zidan cuma bisa menghembuskan nafasnya pasrah akan kelakuan Siska.
"Tapi tadi itu kenapa mama kok telpon? mama mau ngomong apa?." Meskipun sedang malu, tapi Siska tetap tak bisa tak peduli dengan mama mertuanya. Rasanya takut aja ada sesuatu yang penting yang mau disampaikan.
"Gak tau, tadi 'kan telponnya tiba - tiba dimatiin."
"Ya udah kalau gitu coba kamu telpon balik sekarang, siapa tahu ada yang penting." pintah Siska membuat Zidan seketika melaynhkan tatapan herannya.
"Udah deh, cepetan. Takutnya tadi itu penting." seru Siska lagi.
"Tapi kamu gak apa - apa 'kan? kamu seriuskan? soalnya tadi kamu sampai mau bunuh diri segala karn malu." tanya Zidan mengingatkan ucapan Siska tadi.
"Malunya udah aku umpetin dimakanan ini. Jadinya sekarang udah gak malu lagi. Jadi ayo cepetan telpon balik mamanya."
Zidan pun menyiyai ucapan Siska. Dan kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi sang mama lewat video call.
Tut ...
Tut ...
Hanya butuh 2 kali tut, Bu Resti pun menerima panggilan tersebut.
"Dan," sapa Bu Resti lebih dulu.
"Ma..."
__ADS_1
"Hey, iya kamu lagi ngapain?." tanya Bu Resti seolah penasaran dengan aktifitas sang anak. Jangan sampai malah seperti tadi pagi.
"Lagi sarapan sekaligus makan siang di restaurant Ma." jawab Zidan mengarahkan camera ponselnya ke arah wajah Siska.
"Hey, Siska mantunya mama tersayang."
"Hee... Ma." Siska langsung nyengir dong disapa sang mertua.
"Lagi makan apa? kamu baik - baikkan? gak kecapekan kan? jangan sampai kecapekaan ya, itu malah gak baik soalnya kalau kamunya kecapekan." Ya sudah bisa dipastikan kalau nasehat Bu Resti ini mengarah kemana.
"Heh, iya ma, enggak kok." Dengan senyuman canggungnya Siska jawab.
"Ma, Mama tadi telpon aku ada apa?." Tak mau Siska lama - lama kikuk berhadapan dengan Bu Resti Zidan mengembalikan kamera ponselnya pada dirinya.
"Oh, itu tadi si Caca yang bingung. Mau tanya dia 'kan hari ini masuk magang di perusahaan temen kamu itu. Tapi kayaknya udah teratasi deh anaknya udah berangkat terus sampai sekarang gak ada ngeluh tuh sama mama."
"Oh, aku kirain kenapa atau ada sesuatu yang serius."
"Enggak kok. Tapi coba kamu hubungin temen kamu, gimana adikmu magangnya disana. Mama soalnya kepikiran juga, anak umur segitu udah masuk dunia kerja takutnya dia nanti malah syok."
"Iya ma, nanti aku coba tanyain ke Krisna deh ma gimana - gimananya."
"He'e jangan lupa."
"Ya udah ya ma, aku sama Siska lanjutin dulu makannya. Mama sehat - sehat disana. 2 hari lagi kita pulang. Doain semoga bisa dapat kabar bahagia nanti."
"Ya kalau itu pasti dong sayang. Kamu jaga Siska baik - baik. Jangan digempur terus mantu mama itu biar gak capek - capek." pesan Bu Resti.
"Iya ma, siap. Oke aku matiin ma telponnya. Bye.."
"Hm, bye, Siska Bye sayang..."
"Iya ma, bye ..."
Panggilan pun terputus.
"Cuma masalah Caca aja ternyata." kata Zidan setelah ponselnya diletakkan diatas meja.
"Iya, nanti kamu coba tanya Krisna, Caca gimana. Jangan lupa minta kerunganan beban kerja juga, kasian Caca masih kecil udah harus tahu dunia kerja." Siska ikut mengingatkan sang suami.
__ADS_1
"Iya bentar lagi aku tanya Krisna. Sekarang kita makan dulu dengan tenang."