Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
56. Bibit pelakor


__ADS_3

Siska duduk dengan raut wajah lelah dijok samping kemudi. Rasanya badannya benar - benar terasa remuk dan tak bertenaga. Ditambahi juga rasa nyilu dipangkal pahanya saat dibuat gerak atau berjalan tadi. Ternyata inilah efek yang sebenarnya dari pergulatan panasnya mulai semalam. Pantas saja dulu Raya dan Feby memilih istirahat dan tak mau diganggu setelah pernikahan mereka. Ya memang ini yang lagi dirasain.


"Zidan, kayaknya aku gak jadi ikut deh. Tiba - tiba rasanya badanku jadi sakit semua." Siska mengeluh, rasanya pengen rebahan saja dan tidur.


"Jangan dong sayang, kalau kamu gak ikut aku jadinya nanti malah makan siangnya sama Bian berdua. Emang kamu mau?." Ya, jelas Siska tidak mau. Tapi masalahnya badannya ini sudah kehabisan tenaga. Apa lagi dia juga belum makan sedari pagi jadi semakin membuatnya jadi tak bertenaga lagi.


"Gak mau. Tapi, aku capek. Batalin aja deh acaranya, besok aja, masak gak bisa dibatalin." Siska merengek.


"Gak bisa yang, soalnya pemeriksaan dari BPKnya besok, kalau dibatalin malah takutnya nanti ada yang dijadikan temuan apa lagi waktu itu baru ada kecelakaan. Kamu sendirikan tahu gimana kalau BPK lagi meriksa, kamu kan kerja di kantor pemerintahan, jadi jelas paham."


Iya Siska jelas paham betul bagaimana saat ada pemeriksaan dari BPK. Kadang mereka harus lembur - lembur mengerjakan permintaan dadakan agar bisa lolos dan mendapat gelar wajar tanpa pengecualian.


"Biar gak capek, aku ambilin bantal ya. Kamu biar bisa tidur enak, gimana? atau kamu mau tidur di belakang?." tawar Zidan sambil menyugar rambut Siska yang ada dipelipis dengan sikap penuh perhatian.


"He'em aku mau bantal, tapi aku tidur disini aja." Diperlakukan penuh perhatian, jelas Siska tak menyia - nyiakannya. Dia malah bertingkah semakin manja.


"Oke, bentar aku ambil."


Sebagai bentuk cintanya pada Siska. Zidan kembali naik kelantai 12 apartemennya hanya untuk mengambilkan Siska bantal. Zidan sendiri juga harus sadar diri, istrinya lemas begitu juga karna dirinya yang terus menggagahinya semalaman.


Sepersekian menit kemudian, Zidan kembali dengan menenteng bantal ditangan dan kemudian ikut mengatur tata letak bantal tersebut agar Siska bisa tidur dengan nyaman sambil bersandar di kaca pintu mobil sampingnya.


Benar saja, disepanjang perjalanan Siska beneran tidur nyenyak tanpa memperdulikan Zidan lagi yang sibuk menyetir memperhatikan jalan sambil sesekali memperhatikan dirinya yang terlelap.


Mobil Zidan kemudian berhenti di sebuah ruko ditengah kota yang beberapa bulan ini dijadikannya kantor sementara saat pengerjaan proyek di Jogja.


Mobil Zidan padahal baru saja berhenti. Tapi dari arah pintu kantor terlihat Bian sudah berlari ke arah mobilnya. Sepertinya Bian sejak tadi sengaja duduk didepan untuk menunggu kedatangannya.


Ceklek.


Tanpa aba - aba, Bian tiba- tiba membuka pintu samping kemudi dimana Siska sedang duduk. Karena gerakan Bian yang sedikit terburu - buru itu, jadinya membuat Siska yang lagi tidur jadi terhuyung seakan pasti jatuh kalau saja Zidan tak menahan istrinya itu.

__ADS_1


"Oh My God!." Bian memekik dengan gayanya yang kemayu, dia kaget karna tiba - tiba sebuah bantal jatuh kekakinya. Sekaligus tak menyangkah akan keberadaan Siska yang sudah pasti adalah istrinya Zidan.


"Eeehhh!!." Siska juga tak kalah kaget karna tubuhnya yang secara spontan serasa akan terjerembab tadi. Bahkan Zidan juga memekik "Sayang!."


Untuk sejenak ketiganya lagi dirundung rasa keterkejutan dalam versi masing - masing. Hingga akhirnya Zidan melayangkan protesnya pada Bian.


"Bi, kok lo tiba - tiba buka pintunya sih? istri gue mau jatuh nih!."


"Ya gue mana tahu kalau ada orang! Lagian lo ngapain ngajak istri lo!." Bian jawab dengan nada ketus. Matanya juga langsung memindai Siska dari atas sampai bawah secara terang - terangan.


Mendengar Bian yang bersuara seperti itu. Siska otomatis mendongak. Oh, ini perempuan yang menelpon Zidan tadi?. Ckckck!. Diam - diam Siska mendecak sendiri didalam hati. Lihat saja cara Bian memandangnya. Sangat gak sopan. Seolah lagi menilai seluruh tubuhnya dan mengejek dengan tatapannya. Padahal tadi Siska sempat memberikan senyum terbaiknya buat menyapa. Auto nyesel deh Siska.


Tak ingin kalah dengan Bian yang sibuk meledek dengan pandangan matanya. Siska juga ikut - ikutan. Senyumnya langsung disimpan rapat. Oke, body Bian ini goals banget dan punya vibe seksi banget. Bokongnya semok dan dadanya besar. Ditambah bajunya yang super ketat dan seksi seolah memang sengaja ingin menonjolkan kelebihannya itu. Atau memang biar digodain lelaki gitu?. Ya, tapi meskipun punya body goals tapi wajahnya ya B aja. Gak cantik - cantik amat. Malah terkesan biasa aja kalau dibanding dengan dirinya. Jadi ya gak perlu khawatir, Zidan pasti gak doyan.


"Zidan, gue mau ngomong sama lo!." Bian mengalihkan pandangannya pada Zidan yang masih duduk di kursi kemudi. Meskipun diam - diam masih melirik sinis pada Siska.


"Ya udah ayo cepet masuk. Ngomong sambil jalan."


"Tapi gue mau ngomong berdua sama lo!."


"Gue mau ngomongnya berdua Zidan. Jadi cepet lo turun, atau kalau enggak gue pulang! gak usah tinjau lokasi." Disini Bian sebetulnya ingin menunjukkan pada Siska, meskipun Zidan punya istri tapi dia ada dalam kendalinya.


"Naik, atau gue laporin lo ke bokap lo! Biar sekalian lo pulang kalau emang lo mau pulang." Sayangnya jebakan betmannya si Bian tak mempan. Jadi Siska pun diam - diam yang memperhatikan keduanya jadi tertawa puas.


"Huh!." Bian mendengus kesal. Dia tahu kalau sedang ditertawakan Siska diam - diam.


Merasa tak terima karna sudah ditertawakan. Jadi Bian pun di sepanjang perjalanan berusaha mendominasi suasana. Dia terus saja mengoceh ini itu dengan sengaja menarik perhatian Zidan sekaligus menantang Siska untuk menunjukkan kalau dirinyalah yang lebih pantas bersanding dengan Zidan dari pada Siska.


Belum cukup sampai disana. Saat sudah distadion Bian juga langsung berlari ke samping Zidan. Menyeret suaminya itu kesana kemari dengan alasan harus memeriksa ini dan itu. Membuat Siska jadi tertinggal dibelakang keduanya. Rasanya, Siska seperti karyawan magang yang lagi menemani bosnya kerja sambil berkencan. Huh!.


"Zidan, makan yuk, gue udah laper." Bian dengan sikap manjanya mengajak Zidan makan siang. Sikapnya ini sumpah bikin Siska gedek setengah mati!.

__ADS_1


"Iya ayo, gue juga udah laper ini juga udah beres. Sayang, kamu mau makan apa?." Zidan menjawab pertanyaan Bian sekaligus tanya pada Siska.


Tapi ya belum sempet Siska jawab si rubah betina tiba - tiba jawab dulu.


"Aku mau makan didepan itu. Itu cafenya baru buka. Kita cobain, yuk." Kan? gak tahu malu banget emang.


"Gimana? kita makan disana ya?." Dan si Zidan malah mengiyakan kemauan Bian. Ckckck!.


"Terserah!." Dengan nada datar dan kesal tertahan Siska menjawab. Aslinya pengen teriak, Enggak! pulang aja!. Tapi sabar, jangan sampai di terlihat seperti istri tak pengertian dihadapan si rubah betina.


Menuruti kata Bian. Ketiga orang itu kemudian ke cafe yang dimaksud Bian. Saat itu, sebetulnya Zidan sudah merangkul lengan Siska mulai dari distadion tadi dan sudah membuat hati Siska setidaknya gak begitu kesal. Tapi, entah kenapa, saat memilih tempat duduk Siska dan Zidan jadi duduk berhadapan. Sementara Bian malah mengambil posisi disamping Zidan.


"Kamu mau makan apa?." Bian lagi - lagi memancing Zidan. Dia sengaja menggeser kursinya agar mepet ke Zidan sampai lengan Zidan menempel di dadanya. Mencuri kesempatan tanpa peduli pada Siska. .


Jujur saja, lihat mereka yang duduk berdampingan seperti itu, Siska jadi panas.


"Apa yang rekom dari cafe ini?." Dan Zidan malah gak peka. Dia malah menanggapi ucapan Bian. Astaga.


"Em, apa ya aku gak tahu. Ini 'kan baru aja launching kemarin. Jadi pilih aja deh yang menurut kamu enak." jawab Bian dengan nada lemah lembut yang dibuat - buat.


"Em, yang mana ya, menurut lo yang mana Bi? biasanya lo kalau masaah makanan gini pinter kalau milih."


"Kayaknya yang ini deh Dan, ini pasti enak."


"Oh ya?."


"He'em, atau yang ini. Sama yang ini juga kayaknya enak."


"Em, oke, aku pesennya ikut kamu."


Siska memperhatikan interaksi antara Zidan dan Bian. Tak usah dijelaskan lagi. Siska jelas sudah kesal, cemburu dan marah sampai ubun - ubun. Ini yang istrinya siapa? kenapa dia malah jadi orang asing diantara suami dan wanita lain?. Kenapa Zidan malah pesen sesuai seleranya Bian? Baru tadi pagi Siska mikir Zidan itu suami pengertian, tapi sekarang malah jadi suami gak peka?. Aiiishhh!!!.

__ADS_1


"Yang, kamu mau makan apa?." Dan setelah interaksinya bersama Bian, akhirnya Zidan menganggap kehadirannya dan tanya padanya. Tapi maaf Siska udah kadung kesal dan sudah tak bisa menahan lagi. Jadi autolah meledak emosinya.


"GUE MAU MAKAN LO!!!."


__ADS_2