Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
27. Zidan vs Desta vs Siska


__ADS_3

Pertarungan perebutan saudari Siska dimulai. Sekarang Zidan dan Desta sedang saling menatap sinis. Satunya mengeluarkan aura sengatan listrik dan yang satunya mengeluarkan aura petir. Tinggal tunggu waktunya aja, buat saling menyambar dan terjadi kehebohan.


"Lo, lo mau ngapain kesini? Lo bukannya masih di Jogja?." Siska tanya dengan takut - takut, tapi juga lebih ke menahan malu sebetulnya. Sampai badannya sengaja sembunyi dibelakang tubuh kekarnya Desta.


"Dari mana aja lo? ini udah malam tapi kenapa baru pulang?." Zidan menimpali, tapi tatapannya tak teralihkan dari Desta. Sekarang dia lebih penasaran pada Desta dari pada rasa ingin menggoda Siska.


"Bukan urusan lo!."


Zidan menyeringai, tapi masih berusaha bersabar. "Gak usah menghindar, bukannya kita harus memperjelas status hubungan kita sekarang?."


"Hah? Ka, kayaknya hubungan kita udah jelas. Kita cuma sekedar mantan, gak lebih!." Siska disini jelas - jelas gugup. Ada perasaan suka ketika Zidan bilang akan memperjelas hubungan mereka lagi, tapi disisi lain dia terlalu gengsi dan malu untuk mengakui itu.


Mendengar jawaban Siska, Desta tersenyum mengejek.


"Gue emang mantan lo, tapi gue adalah mantan yang suka lo cium? gitukan maksud lo?." Zidan masih tak ingin kalah, dia juga melempar senyum ejekan.


"Lo, jangan ke GRan!."


"Tapi fakta ngomong gitu. Lo masih punya perasaan ke gue. Dan gue pun juga sama. Jadi ayo kita bicara jangan buang - buang waktu lagi." Zidan ingin mempertegas toturialnya, yang baginya Desta sudah tak punya kesempatan.


"Siapa sih yang punya perasaan ke lo? lo jangan halu, ya? kayaknya lo kenak jet leg deh habis perjalanan jauh." jawab Siska, lebih menempel ke Desta dengan gerakan tangan menyentuh lengan, lalu dia berbisik. "Des, geser dikit - dikit biar gue bisa kabur."


Desta tersenyum menang, jelas posisinya dan Siska yang dekat ini pasti membuat Zidan cemburu.


"Minggir! ini urusan gue sama Siska, jadi lo jangan ikut campur!." Ini sisi harimaunya Zidan keluar karna tadi dipancing.


"Sorry, gue gak bisa minggir karna Siska tadi bilangnya lo cuma mantan." Desta gak bergeming, dia malah memenuhi permintaan Siska dengan sikap sok coolnya. Bergeser sedikit demi sedikit kearah gerbang.


Zidan menyeringai, udah gak sabar dia. "Sis, lo masih mau memghindari gue, atau lo mau gue hajar dia?"


"Eh, kok gitu?." jelaslah Siska langsung kaget dengernya. Dia juga langsung berdiri tegak.


"Asal lo berani aja, silahkan!." Tantang Desta karna memang dia juga sudah menahan emosinya sedari tadi.


"Desta! kok diterima?."


"Gak apa - apa, ini masalah harga diri, Sis." jawab Desta.


Dan sudah tak ada harapan lagi, karna memang sedari tadi kedua lelaki itu pada nahan, jadinya pun adegan hajar - hajaran dimulai.


BUKK!!!


Zidan melayangkan tinjunya lebih dulu kearah pipi Desta.


BUKK!!!

__ADS_1


Desta membalas.


Sedangkan Siska heboh sendiri berteriak mencoba menghentikan.


"Zidan!!"


"Desta!!!."


"Berhenti!!!."


"AAHHH!!!"


"Jangan berkelahi!!! Zidan!! Desta!!!"


Apalah daya, seberapa pun Siska berteriak keduanya terus berkelahi. Saling menghajar, satu sama lain, gak ada yang mau ngalah.


Merasa tak ada pilihan lagi. Siska pun berlari kearah Zidan. Dia kemudian memeluk erat Zidan. Ya, siapa tahu dengan begini perkelahiannya bisa berakhir.


"Zidan, please berhenti. Gue mohon." Siska meminta dengan suara lirih dan memelasnya.


"Zidan."


"Tolong."


Siska semakin mengeratkan pelukannya. Pelukan Siska ini jelas membuat hati Zidan yang panas jadi terenyuh. Gerakan ajunan tangannya mulai berhenti begitu juga dengan Desta, karna tak menduga melihat adegan ini.


Karna Zidan sudah mulai tenang. Jadi Siska pun melepaskan pelukannya dan beralih pada Desta. "Lo gak apa - apa 'kan?"


Desta tak menjawab. Jelas, dia masih menahan rasa kesalnya, apa lagi tadi Siska malah memeluk Zidan.


"Sorry ya, gara - gara gue wajah ganteng lo jadi bonyok." kata Siska sambil menyentuh muka Desta.


"Sis, kok lo malah ..." Zidan protes. Kenapa Siska jadi perhatian juga ke Desta?.


"Iissshhh!! bisa diem gak lo!." Siska memotong ucapan Zidan sambil melempar tatapan kesalnya.


"Des, ayo masuk ke dalam, gue obatin luka lo."


"Sis, lo-" Lagi - lagi Zidan yang mau melayangkan protesnya langsung di potong sama Siska.


"Ih!! lo tuh ya? ini juga gara - gara siapa dia bonyak begini? Lo gak bisa apa, ya? ngomongnya yang baik - baik? kesel gue sama lo!." Siska mulai ngomel.


"Gue, udah minta dia baik - baik, tapi dia yang gak mau minggir!."


"Dasar banyak alasan! emang dasarnya lo aja yang gak bisa nahan emosi. Udah sana pulang! kalau enggak gue tambahin nih luka di muka lo."

__ADS_1


"Kok lo malah marah ke gue sih?."


"Ya habisnya lo main pukul aja!. Udah sana pulang, atau kalau enggak gue pukul beneran nih lo!."


"Oke, tambahin aja, ayo! lo mau mukul gue dimana? gue gak apa - apa, asalkan gue masih bisa disini mastiin lo gak berduaan lagi sama dia." Si Zidan dengan kesal malah nantangin. Dia malah mengarahkan pipinya ke Siska untuk di pukul. Pikirnya Siska gak akan berani mukul dia.


Tapi itu 'kan cuma prasangkanya si Zidan. Kalau Siska mah beda. Dia langsung mengerahkan pukulannya ke pipi Zidan.


"Iiihhh!!! dasar sableng!!!."


PLAAKKK!!!


Satu pukulan keras mendarat di pipi Zidan. Kekuatan dari pukulannya menghasilkan darah segar yang mengalir dari bibir Zidan lagi. Bahkan si Desta aja sampai dongong ngeliat Siska.


"ARGGGHHHH!!."


"Fuih!!." Siska merasa lega.


"Rasain! dasar sok jagoan!"


"Aarrrgggghhhh!!! Sis, lo tega banget ke gue." Zidan meratapi dirinya. Dia benar - benar merasa dipermalukan oleh Siska di depan Desta.


"Bodo! lo juga tega mukul Desta padahal gue sama dia cuma temen. Dari dulu lo juga gak berubah, setiap kali gue deket sama cowok lo pasti langsung main hajar aja!. Sekarang lo rasain itu pembalasan dari gue!. Huh!." Siska memincingkan matanya. Berharap Zidan tak lagi seenaknya mukul orang.


"Yuk, Des masuk." Sambil melengos, Siska kemudian memapah Desta masuk dalam rumah meninggalkan Zidan yang kesakitan seorang diri.


Desta dan Siska kini duduk didepan teras kontrakan. Saat itu, seperti yang di katakan tadi. Siska mengobati luka Desta akibat pukulan dari Zidan.


"Sakit?." tanya Siska dengan wajah yang ikut meringis.


"Lumayan, perih."


"Sorry ya Des, ini gara - gara gue lo jadi kena pukul gini."


"Gak apa - apa, santai aja. Gue juga seneng kali, udah lama gak adu jotos." Ini kalimat penenang yang di keluarkan Desta.


Siska tersenyum. Kemudian mulutnya mencebik. "Hm, dasar, cowok kalau gak berantem atau tawuran bentar aja gak enak kayaknya, ya?."


"Ya, gimana ya... itu 'kan salah satu bukti kejantanan seorang lelaki."


"Hm, pinter lo kalau buat alesan."


"Oke, done!." Siska baru selesai mengibati luka Desta. Tapi obrolan keduanya masih berlanjut.


"Sis, lo tahu gak sih? kalau lo ini unik."

__ADS_1


"Maksud lo unik?."


"Ya unik cara lo bersikapnya. Contohnya kayak tadi. Gue kira waktu lo meluk Zidan, lo itu ada dipihaknya si Zidan. Tapi ternyata setelah itu, lo malah mukul dia dan sekarang malah ngobatin gue. Lo belajar dari mana sih sikap yang kayak gini? ajarin gue dong, biar gue gak gampang terintimidasi kayak lo. Keren nih teknik lo mengecoh lawan. Pertama - tama terbangkan lawan setinggi - tingginya terus habis itu hempaskan dengan keras. Hehehe." ucap Desta yang diakhiri dengan tawa kecilnya. Ini sebetulnya si Desta lagi terpesona sama Siska karna sudah membelanya.


__ADS_2