Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
102. Nostalgia


__ADS_3

Siska baru saja sampai di apartemen. Tangannya baru saja menggapai saklar untuk menghidupkan seluruh lampu. Apartemen itu masih sepi dan gelap karna Zidan belum pulang. Sekarang masih jam 5 sore. Dan Zidan biasanya baru pulang jam 6 petang.


Siska meletakkan beberapa belanjaan di meja pantry. Rencananya sebentar lagi dia akan memasak beberapa menu sederhana untuk makan malam. Tapi sebelum itu, karna sudah sangat penasaran Siska pun memutuskan masuk kedalam kamar mandi untuk menjajal alat tespek yang tadi sengaja dibeli.


Siska menggigit bibir bawahnya, menanti dengan cemas hasil dari tespek ditangan. Secara perlahan sebaris garis merah mulai muncul dipermukaan. Masih satu garis. Belum ada dua. Siska pun masih setia menatap tespek tersebut.


Zonk. Sudah beberapa menit berlalu tapi masib 1 garis. Karna itu pun Siska pun langsung mendesah lemas.


"Negatif." Siska jelas kecewa.


Siska melempar tespeknya itu kedalam tong sampah dengan lemah. Langkahnya kemudian terlihat gontai keluar dari kamar mandi.


"Yang," Suara Zidan terdengar menyapa membuat Siska akhirnya mengangkat wajahnya yang lesu.


"Kenapa? sakit?."


Siska menggeleng. "Kok udah pulang?."


"Iya, kerjaan selesai cepet, jadi bisa pulang cepet, kamu kenapa kok lesu gini?." Zidan mengulur tangannya menyentuh ke kening Siska siapa tahu Siska lagi demam.


"Gak apa - apa kok. Kamu udah makan? Aku baru aja mau masak."


"Belum." Sambil jawab, Zidan juga sambil mencuri ciuman di kening Siska.


"Ya udah bentar ya aku masak dulu."


"Gak usah masak, aku pengen dinner diluar sama kamu."


"Emang mau dinner dimana?."


"Kamu maunya dimana?."


"Terserah sih, dimana aja. Di restaurant mahal, di cafe, di warung atau di emperan pinggir jalan semuanya oke."


"Oke, kita datangin semua tempat yang kamu sebutin." putus Zidan menelan saran dari Siska secara cuma - cuma.


"Yang bener aja!."


"Lah kata kamu semuanya oke? Ya berarti harus didatangin semuanya dong, tempat yang kamu sebutin tadi."


"Ish! itu pilihan, bukannya semuanya jadi datangi!."


"Ya emangnya kenapa kalau semuanya didatangin?." tanya Zidan, karna memang bukan masalah besar seandainya mereka benar - benar mendatangi semua tempat itu.


"Jangan aneh - aneh! gimana makannya nanti kalau kita datangin semua tempat itu? Emang perut kamu sanggup nampung semua makanan dari semua tempat yang kita datangin?."


"Kayaknya sanggup, soalnya aku lagi laper banget sekarang."


"Ya emangnya kenapa sih? 'Kan kita nanti bisa makan berat di warung, minum di cafe terus penutupnya di restaurant mahal, pas 'kan?."


Siska pun geleng - geleng. Matanya cuma langsung mengerling. Entah dari mana Zidan bisa punya ide seperti itu.


"Udah, jangan dipikir. Mending sekarang kita siap - siap bentar lagi udah malam, biar gak kemaleman kita berangkatnya." Dengan meletakkan kedua tangannya ke pundak Siska, Zidan mendorong ke arah kamar mandi. "Mandi bareng ya?" bisiknya kemudian yang jelas langsung dapat lirikan tajam dari Siska.


Kan?.


"Hahaha, kan biar cepet sayang."


"Adanya makin lama kalau mandinya bareng sama kamu!."

__ADS_1


Tapi Zidan mana peduli meskipun Siska sewot. Dia semakin gencar saja mendorong Siska kedalam kamar mandi dan kemudian menutup pintunya rapat. Karna Zidan tahu, sejatinya istrinya itu tak akan pernah bisa menolak keinginannya.


Sesi mandi bersama sudah selesai. Siska dan Zidan baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Mereka kemudian masuk ke dalam kamar untuk siap - siap.


"Makannya ngemper aja gimana? Aku kok tiba - tiba pengen sate yang ada di deket taman kota." Siska berbicara ditengah kesibukannya memoles make up diwajah. Matanya melirik sejenak ke Zidan yang juga sibuk menyesuaikan penampilannya dari cermin meja riasnya.


"Berarti gak jadi ke restaurant mahal, cafe sama warung dong ini?."


"Besok. Besok kalau kamu mau. Besok bisa kita datangi semua tempat itu. Sekarang aku pengen ngemper, lama aku gak makan sate di deket taman kota."


"Emang yang jual sate disana masih ada?."


"Masih."


"Oh ya?."


"He'em."


"Wah, panjang umur dong bapak - bapak yang jual sate itu. Padahal seingetku dulu dia 'kan juga udah tua."


"Ya, umur siapa yang tahu."


Mobil Zidan akhirnya bergerak menuju taman kota. Perjalanan malam ini tak membutuhkan waktu banyak. Cuma 15 menit berkendara mereka pun sampai ditempat.


"Pak sate ayamnya ya 2 porsi sama jeruk hangatnya 2." Zidan memesan dulu, sebelum akhirnya duduk disamping Siska yang sudah lebih dulu memilih meja kosong diatas alas tikar yang sengaja digelar pada trotoar jalan.


"Aku beneran gak nyangkah kalau sate ini masih ada." Zidan nyeletuk. Rasanya dirinya jadi nostalgia ke jaman SMA. Makan disini, duduk berdua, pacaran sama Siska.


"Kenapa? Kamu jadi inget masa - masa kita dulu?." Siska, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Zidan.


"He'em. Aku jadi inget dulu kita kalau pacaran makannya disini. Sebelum itu, keliling dulu ngitarin taman kota sambil gandengan tangan terus masuk dalam kamar mandi buat ciuman." Zidan terkekeh saat mengingatnya. Kalau dipikir - pikir mereka lucu juga dulu.


"Hehehe, emang itu 'kan kenyataannya?. Kita dulu pacarannya sederhana banget. Makannya selalu ngemper, kemana - mana naik motor, habis itu jalan - jalannya selalu kesini kan?. Kalau pengen ciuman pasti masuk dalam kamar mandi, habis itu keluar - keluar merah semua dada kamu." Zidan memutar kembali kisah mereka dulu, sambil sedikit menggoda Siska.


"Itu kamunya aja dulu yang gak mau keluar modal waktu pacaran sama aku. Kamu selalu ngajakin aku kesini dan jarang banget ngajakin aku ke cafe, mana selalu narik aku ke dalam kamar mandi lagi.


Ish!." Sementara Siska entah kenapa jadi sebal sendiri kalau ingat kisah mereka dulu. Kok bisa - bisanya dulu dia mau sama Zidan yang slengekan dan punya duit pas - pasan.


"Bukannya gak mau modal sayang, tapi dulu aku emang gak punya modal. Dulu uang saku yang dikasih mama kamu tahu sendiri berapa. Ngepres banget 'kan? Kalau mau ke cafe aku harus kumpulin dulu uang sakuku."


"Alesan. Padahal keluarga kamu juga bisa dibilang kaya. Kamunya aja yang pelit."


"Ck! Padahal dulu waktu pacaran dompetku juga kamu yang nyabotase. Kamu tahu isinya seberapa, tapi kenapa sekarang malah bilang aku alesan?." Skakmat. Siska lupa akan hal ini. Jadinya dia pun tertawa nyengir.


"Untung sekarang setelah jadi suami udah banyak duit. Jadi gak perlu lagi aku hidup sederhana sama kamu." kata Siska tanpa rasa bersalahnya.


"Ck! Sekarang aku udah pinter cari duit. Kamu gak usah khawatir, hidup kamu udah terjamin kemewahannya sampai nanti kamu tua jadi nenek - nenek."


"Bagus, emang harus gitu. Jadi suami harus kerja keras biar istrinya bahagia, hidup mewah. Jangan mokondo."


"Ish! Kamu kira aku siapa mau jadi mokondo, hah?." Zidan yang gemas akan jawaban Siska pun jadinya menekan hidung Siska.


"Awww!! Kamu Zidan suamiku tersayang." Sambil memincingkan mata Siska meminta Zidan melepaskan tangannya dari hidungnya.


"Sakit tahu! Merah ini pasti." Sambil membalas dengan memukul lengaan Zidan. Siska memekik dengan nada merajuk.


Obrolan mereka terjedah karna si penjual sate menyajikan sate dan air minumnya ke atas meja. Dan setelahnya mereka berdua pun menyantap satenya itu.


"Yang," Siska kembali bersuara.

__ADS_1


"Hem." Zidan menjawab.


"Tadi aku coba pakai tespek." Siska memilih untuk bercerita pada Zidan. Kalimatnya ini sengaja juga di ucapkan dengan hati - hati.


"Tespek?." Maksud istrinya ini alat tes kehamilan kah?.


"Itu, yang buat ngecek hamil atau enggak."


"Heem terus? Kalau gitu gimana hasilnya?." Zidan sekarang menghentikan sejenak makannya untuk menatap Siska yang wajahnya tampak kecewa sekigus sedih. Dan dari ekspresinya saja Zidan bisa tahu.


"Negatif, maaf ya ..."


Zidan menyunggingkan senyum lembutnya. Tangannya kemudian bergerak mengusap pucuk kepala Siska.


"Yang, jangan buru - buru. Santai aja dan jangan lagi merasa bersalah, oke?."


"Tapi kan-." Ucapan Siska terpotong.


"Sstt! Pernikahan kita masih panjang. Masih banyak waktu dan gak akan ketinggalan buat kita. Jadi santai aja, gak usah buru - buru. Lagian juga kebeneran kalau hasilnya masih negatif. Soalnya aku masih punya rencana lain buat kita. Kalau tiba - tiba kamu hamil bisa hancur rencanaku."


"Emang apa rencana kamu?."


"Pergi bulan madu lagi habis itu bikin rumah buat kita."


Siska menatap lekat Zidan meminta penjelasan akan ucapannya. Dan Zidan yang paham arti tatapan Siska pun langsung menjelaskan.


"Bulan madu kita dulu hancur karna kita berantem. Jadi aku gak puas. Apa lagi kamu juga masih punya utang ke aku. Katanya kamu mau godain aku. Tapi sampai sekarang belum kamu lakuin. Jadi aku kan kepikiran."


"Astaga. Jadi karna itu?." Siska secara otomatis langsung berkelakar.


"Bentar belum selesai aku ngomongnya yang, kamu jangan potong dulu."


"Oke lanjutin."


"Terus kalau rumah. Aku punya rencana mau beli tanah terus kita bangun rumah impian kita. Aku pengen kamu yang nentuin lokasinya dimana sama nanti desain rumahnya seperti apa. Baru setelah itu, setelah kita punya rumah yang nyaman dan layak untuk kita, untuk anak - anak kita, kalau kamu mau, kita bisa ke dokter untuk program hamil, gimana kamu mau gak?." Dan ternyata inilah isi otak kepala Zidan.


Siska pun tersenyum lembut. Dia kemudian juga mengangguk setuju.


"Oke, kalau gitu, jadi kapan kamu mau godain aku?." Ingat Zidan sengaja menggoda Siska, padahal baru saja Siska merasa tersentuh dengan rencana masa depannya.


"Ish! Kamu ya, baru aja suasananya serius, tapi sekarang malah mesum lagi."


"Jangan nunggu kita honeymoon lagi, kelamaan. Kamu pasti susah minta cuti lagi."


"Janjinya kan pas honeymoon. Jadi ya harus pas honeymoon dong."


"Nanti malam ya? Kita mampir mall sebentar buat beli seragam seksi, ya yang?."


"Astaga, padahal tadi di kamar mandi udah lo yang? Belum puas kamu?." Siska mengerjapkan matanya tak percaya. Suaminya ini gak ada puas - puasnya perasaan.


"Tadi ya tadi nanti ya nanti. Kalau masalah puas, gak akan ada puasnya."


Siska geleng - geleng. Sedikit kesal dengan Zidan. Tapi juga senang sebetulnya. Aneh kan? Tapi ya emang seperti itu hatinya. Enggak - enggak tapi mau.


"Gimana? Kita ke mall ya?."


"Terserah!."


Dan Zidan pun tertawa. Sekali lagi dia berhasil menggoda Siska.

__ADS_1


__ADS_2