
"Dewa!! Rehan!! Berhenti! jangan lari - lari terus!."
Siska memekik didalam ruang tengahnya. Ruangan itu lumayan luas dengan meja dan sofa ditengahnya. Mainan berserakan dimana - mana. Hingga tampak sangat berantakan dan tak teratur.
"Ayo dong sayang, sini. Jangan lari terus, Mama capek yang ngejar."
"Gak mau, kabboooorrrr ..."
Si Sulung Dewa yang berusia 4 tahun tak menggubris, terus berlarian diikuti si adik yang berusia 3 tahun. Kedua anak itu berlari riang. Mengisi ruang tengah yang tadinya sunyi dengan teriakan dan tawanya.
"Lehan, ejal kakak!." Dewa memerintah sang adik.
"Kejal... Abulll..." Dan Rehan menanggapi.
"Dewa, Rehan. Astaga. Berhenti dong."
Semakin dikejar. Dewa dan Rehan semakin berlari dan menghindar. Bahkan tangan jahilnya ikut - ikut. Tiba - tiba memungut mainan dari lantai dan melemparkannya ke sang Mama.
"Hahahahha..."
Ya, tak ada rasa bersalah dalam diri Dewa. Setelah melempar mainan tadi dan kena kaki Siska Dewa malah cekikikan dan kemudian kabur lagi. Sementara Rehan masih setia dengan sang kakak. Ikutan juga melempar asal.
"Ya Tuhan, Dewa!."
Siska melotot pada Dewa. Rasanya anak sulungnya itu selalu menguji kesabarannya. Ada saja tingkahnya yang bikin darah tinggi. Tapi atensinya tiba - tiba beralih pada bayi perempuan yang duduk tenang di karpet bulu.
"Oh My God!! Kayra!, No, no, no, no!."
Dengan gesit Siska merampas kelereng dari tangan Kayra. Bayi berumur 1,5 tahun itu hampir saja menelan klereng tersebut.
"Astaga Kayra, ini bukan makanan sayang, ini kelereng, gak boleh dimakan."
Kayra mana mengerti. Yang Kayra tahu, Siska sudah merampas mainan kesukaannya. Jadinya, dia pun menangis keras.
"Oeeekkkk!!!"
"Uhm, anak mama, cup, cup, cup, jangan nangis. Itu tadi kelereng sayang, gak boleh dimakan. Ini, main ini aja."
Siska mengganti kelereng tadi dengan mobil - mobilan yang secara acak dicomotnya dari lantai karna memang sudah tergeletak disana sedari tadi. Tapi Kayra tak mau dengan mobil - mobilan itu. Tangannya yang kecil menepis dan tangisnya masih berlanjut.
"Oh sayang, cup, cup, cup. Yuk gendong mama yuk." Siska mengangkat Kayra dan menggendongnya. Menenangkan anaknya yang tak kunjung berhenti menangis.
Buk!.
Bola kasti baru saja mengenai kepalanya. Dan untung itu kepalanya. Bukan kepala Kayra yang ada dalam gendongannya.
"Aaww!!."
Siska menoleh ke arah dua anak lelakinya.
__ADS_1
"Dewa!."
Dan pelakunya sudah pasti si anak sulung yang sibuk nyengir pada sang ibu.
"Mama bilang kan jangan lempar - lempar bola didalam rumah. Kalau ngenain adek gimana?." Omelnya kemudian.
"Dewa au adi pemain tenis Ma." Dewa jawab, yang jawabannya gak nyambung sama sekali.
"Lehan, si polisi, aku maling kamu polisi. Kabbooolll!!!." Lagi - lagi Dewa memprovokasi sang adik agar kembali berlari dan mengejarnya. Maksudnya main polisi - polisian.
Lelah. Iya. Siska pun menghembuskan nafas beratnya. Habis sudah tenaganya walau hanya sekedar mau marah. Apa lagi si Kayra yang ada di gendongannya tiba - tiba berontak minta turun dan kemudian ikut berlari mengejar kedua kakaknya dengan tawa diwajah.
Drama rempong pagi hari masih belum cukup sampai disana. Tak menunggu jedah lama tiba - tiba terdengar suara tangis dari kedua anaknya. Dan saat ditengok, sudah terjadi insiden perkelahian saling pukul dan saling lempar mainan. Sementara Kayra, malah kabur keluar rumah dan sudah berdiri ditrotoar jalan.
"Ya ampun anak Mama, kenapa berantem lagi?."
"Kayra!! Astaga!!."
Siska tak sanggup lagi. Meskipun mereka adalah anak - anaknya. Tapi ketika harus menjaga ketiga anaknya seorang diri. Mental Siska rasanya jadi sakit.
"Kamu dimana? Kenapa gak pulang - pulang, perasaan cuma beli bubur aja, kok lama banget?."
Siska langsung ngomel saat panggilannya diterima oleh Zidan.
"Ini udah sampai. Udah masuk gang."
Benar saja, tak butuh waktu 5 menit. Mobil yang dikendari Zidan masuk halaman rumah. Lelaki itu kemudian keluar dari dalam mobil dengan beberapa kantong plastik ditangan.
"Loh kenapa ini kok pada nangis?." Sesungguhnya Zidan tak terlalu kaget dengan sambutan tangis dari anak - anaknya ini. Karna pada dasar seperti inilah suasana rumah setiap harinya.
"Biasa, berantem. Kamu lama banget sih cuma beli bubur juga." Siska mendengus dengan muka masam, meraih kantong platik dari tangan Zidan.
"Antri. Ayo tadi siapa yang mulai duluan?." Zidan mengarahkan atensinya pada kedua anak lelakinya.
"Lehan orong kakak Pa." Dewa mengadu dengan tanngisnya.
"Aak akal, ukul Ehan." Rehan tak mau kalah.
Sementara Kayra bergelantung ke kaki Zidan, anak perempuan itu tersenyum pada sang papa dan minta gendong.
Sambil menggendong Kayra. Zidan tetap mengarahkan atensinya pada Dewa dan Rehan dengan tegas. "Ayo sekarang saling maaf - maafan, Sama saudara gak boleh berantem."
"Gak mau! Yang salah Lehan bukan aku!." Dewa merajuk.
"Yang salah semuanya. Karna yang berantem semuanya. Jadi ayo maaf - maafan kalau enggak papa jadi marah." ucap Zidan tegas.
Dewa masih ogah - ogahan. Padahal Rehan sudah mendekat hendak memeluk sang kakak.
"Dewa, ayo kasih contoh yang baik sama adiknya." Zidan sekali lagi menginterupsi.
__ADS_1
"Dewa, mau papa marah?."
Mau tak mau. Dewa pun memeluk sang adik dan meminta maaf. "Maafin kakak."
"Maapin Eran."
Kedua anak kecil itu berpelukan dan saling memaafkan.
"Good boy. Ini baru anaknya papa. Nanti jangan berantem lagi." Zidan mengusap rambut Dewa sebagai pujian karna sang anak sudah melakukan hal yang baik. "Ayo sekarang pakai baju semua. Kenapa ini kok gak ada yang pakai baju? Minta baju sama mama sana."
Pagi pun tenang sejak sang papa datang. Dewa dan Rehan sudah anteng duduk di depan TV menikmati sarapan pagi. Sementara Kayra masih ada dalam gendongan Zidan.
"Baru tenang kalau ada kamu. Kamu itu kalau kemana - mana jangan lama - lama. Kalau aku harus jagain tiga anak dalam kondisi hamil besar gini itu gak sanggup. Mereka itu gak mau nurut sama aku. Dari tadi lari - lari, disuruh pakai baju gak mau. Mana lagi si Kayra mau makan kelereng. Itu kelerengnya Dewa sama Rehan mending dibuang aja. Jangan beliin mereka kelereng lagi. Bola - bola kasti itu juga mending di simpen aja atau dibuang sekalian. Mereka berdua kalau main anarkis soalnya, suka saling timpuk. Bahaya. Terus lagi depan rumah pasang pager aja deh, tadi Kayra mau kabur juga udah sampai trotoar jalan bikin aku jantungan aja." Sedari tadi Siska sudah emosi sendiri dengan tingkah anak - anaknyam jadinya sekarang dia mulai ngomel.
"Iya sayang, maaf ini tadi buburnya antri mangkannya lama." Dengan penuh pengertian Zidan menjawab lembut, bahkan tangannya langsung terurur pada perut sang istri yang membuncit.
"Sama satu lagi, pokoknya setelah ini aku udah gak mau hamil lagi. Aku gak mau punya anak lagi. Capek badanku sama pikiranku."
"Iya sayang, nanti setelah ini kita istirahat. Oke."
"Ish! Jangan bilang kamu masih pengen punya anak lagi?." Siska seketika memincingkan mata. Ucapan Zidan sungguh ambigu. Istirahat katanya.
"Kay, adeknya gerak - gerak Kay." Zidan mengalihkan pembicaraan. Tangan besarnya membimbing tangan kecil Kayra menyentuh perut sang mama untuk merasakan gerak bayi dalam perut.
"Yang!."
"Gerak 'kan Kay. Coba say hello sama adik." Zidan pura - pura tak dengar meskipun di protes.
"Ish!!!!."
Seutas senyum dan tawa kecil keluar dari bibir Zidan. Emang iya kok, Zidan masih pengen punya anak lagi. Targetnya adalah minimal 5 bersaudara. Hahaha.
"Kamu tahu gak sih sayang, kamu kalau lagi hamil itu cantiknya tumpah - tumpah. Mangkannya aku suka liat kamu hamil." Kata Zidan kemudian.
"Cantik tumpah - tumpah, cantik tumpah - tumpah!!! badanku ini yang tumpah - tumpah! Melebar sana melebar sini. Stretch mark dimana - mana!." Siska mendengus kesal.
"Karna itu kamu jadi kelihatan tambah cantik bikin aku tambah sayang sama kamu. Melebarnya badan kamu, sama munculnya stretch mark dibadan kamu adalah bukti nyata rasa tulus kamu ke aku. Aku jadi ngerasa disayang - sayang tahu gak."
"Ish! Kamu kalau ngomong emang pinter ."
"Karna itu kenyataannya sayang. Aku emang tambah sayang dan cinta sama kamu. Terima kasih atas perjuangan kamu. Kamu udah mau hamil dan melahirkan anak - anak yang lucu - lucu buatku." Mata Zidan melembut saat mengatakan ini. Lalu satu kecupan penuh kasih sayang berlabu di kening Siska. Dan Siska dapat merasakan ketulusan itu.
"Tapi tetep setelah ini aku gak mau punya anak lagi."
"Iya, iya, terserah kamu." Zidan sedikit mendengus. Ternyata istrinya itu tak mempan akan rayuan diam - diamnya. Tapi biarlah, masih ada sejuta cara nantinya kalau ingin punya anak lagi. Yang penting sekarang jangan mengusik macan tidur dulu.
...----------------...
...End...
__ADS_1