
Sesi hajar - hajaran sudah selesai. Bu Irna sudah duduk disinggasananya di atas sofa dengan nafas tersenggal - senggal sambil menahan emosinya. Tangannya masih memegang raket nyamuk. Ya, siapa tahu dua tersangka yang kepergok mesum yang lagi duduk dilantai kembali mengusik emosinya.
"Mam, mama ini salah paham. Aku gak kayak yang mama pikirin. Masak mama gak percaya sih sama aku?." Siska memohon - mohon tangannya terus berusaha menyentuh tangan sang mama tapi selalu ditangkis oleh Bu Irna.
"Salah paham kamu bilang? tadi itu mama lihatnya jelas lo kalian ngapain. Tapi kamu masih bilang ini salah paham?."
"Ya memang mama salah paham. Kita ini gak ngapa - ngapain mam. Please mam, percaya sama aku mam."
"Yang kayak gitu kamu bilang gak ngapa - ngapain? Terus ngapa - ngapainnya kayak gimana? Itu tadi kalian ciuman sambil tiduran gitu. Zidan itu ada diatas kamu. Udah nindihin kamu. Itu dikit lagi seandainya mama gak ada, kalian pasti udah hilang akal terus melanjutkan hal yang enggak - enggak." Bu Irna ngomong pun sambil menahan malu.
"Mam, enggak mam, itu gak kayak yang mama pikirin. Kita gak sampai sejauh itu mam. Itu cuma ciuman biasa mam. Gak lebih. Ayo dong mam, jangan marah lagi." Siska sudah merengek - rengek memohon sang mama memaafkan.
"Astaga! cuma ciuman biasa yang kayak gitu? ckckc!! Sis, mama bukan anak kecil yang gak tahu tentang hal begituan. Mama ini lebih pengalaman. Jadi kalian jangan banyak alasan. Ngaku aja sama mama. Sudah berapa kali kalian melakukan hal yang gak senono gitu?"
"Mam, kita gak pernah gitu mam. Sumpah!."
"Gak usah sumpah - sumpah kamu ini sudah berbuat dosa, jangan nambah - nambahin dosa!."
"Mam, aku harus jelasin gimana biar mama percaya? Mam tadi itu mama salah paham. Tadi itu dia nih! yang tiba - tiba datang terus langsung cium aku. Kalau mama tahu aku itu berusaha menolak mam. Iya 'kan? ngomong lo jangan diem aja!." Siska melirik tajam pada Zidan yang sedari tadi cuma diam seperti orang dongong. Bikin Siska makin sebel.
"Gue harus mau ngomong apa? Itu tadi kita udah kepergok, harusnya kita minta maaf aja. Karna udah salah." kata Zidan dengan tampang polosnya.
"Ishh!!!!. Jelasin yang bener jangan sok polos napa!." Siska dongkol.
"Tante, saya minta maaf. Saya ngaku salah. Tadi saya beneran gak tau kalau ada tante dirumah. Itu tadi saya reflek tante, karna udah lama gak cium Siska, jadi saya kangen tante." kata Zidan yang entah kenapa penjelasannya jadi gini. Otomatis dong dia jadi dapat plototan mata dari Siska.
"Apa kamu bilang? lama? berarti selama ini kalian suka begitu? suka ciuman kayak gitu? sampai begitu?." Bu Irna naik pitam. Sepertinya Bu Irna mulai salah paham.
"Eh, enggak - enggak tante bukannya gitu maksud saya."
__ADS_1
"Kamu kurang ajar kamu!!. Kalian, ini benar - bener bikin malu. Masih pacaran udah begini! Udah berapa kali kalian ngelakuin hal terlarang kayak gitu? jangan - jangan sudah banyak kali!."
Bu Irna mulai ngamuk lagi. Dia kembali memukul Zidan dan Siska berganti.
"Aduh Mam, sakit mam! jangan pukul terus!!."
"Jangan pukul Siska tante, pukul saya aja. Yang salah saya. Saya yang suka maksa Siska soalnya." Si Zidan berusaha melindungi Siska lagi dari amukan Bu Irna dengan cara memeluk.
"Awas kamu minggir! kamu jangan ngelindungi dia. Kalau pun kamu paksa kalau dia menolak dengan tegas, ya gak bakalan kejadian."
Bu Irna mendorong tubuh Zidan. Hingga akhirnya Siska pun bisa Bu Irna pukul.
"Aduh! mam, sakit mam! Aarrghh! udah mam. Ampun Mam. Jangan mukul lagi. Aduh!!."
"Tante jangan pukul Siska tante, dia gak salah. Saya yang salah. Saya aja yang tante pukul. Jangan Siska. Kasian dia, nanti dia kesakitan." Zidan berusaha melindungi Siska lagi.
"Kamu juga sama aja, berani - beraninya kamu menyentuh anak saya padahal kalian belum menikah. Kamu, tanggung jawab kamu. Pokoknya kamu harus tanggung jawab!."
"Aaarrrggghhh!!!." Zidan memekik kesakitan.
"Huft!!!." Bu Irna mengeluarkan nafas kasarnya. Dia mencoba lebih tenang lagi. Sebelum bicara lagi dengan Siska dan Zidan.
Bu Irna duduk kembali di sofa. Emosinya sudah kembali normal setelah memukuli Siska dan Zidan.
"Sekarang, karna kalian udah sejauh ini. Jadi mama minta kalian mempertanggungjawabkan perbuatan kalian."
"Gimana caranya tan, kalau mau tanggungjawab?." tanya Zidan.
"Ya kamu nikahi anak saya!." Bu Irna memekik. Masak gitu aja Zidan gak ngerti.
__ADS_1
"MAMA!!." Siska langsung syok, ini mamanya apa - apan malah bawah - bawah pernikahan.
"Nikah tante? emang saya boleh menikahi Siska?." Lain dengan Zidan, dia malah semangat. Ini bagaikan ketiban durian runtuh baginya.
"Ya harus! kamu harus tanggungjawab! Kamu sudah apa - apain anak saya! Jadi kamu gak bisa lepas dari tanggung jawab." jawab Bu Irna tegas.
"Mama! kok mama malah mutusin secara sepihak gini sih?." Siska protes, tapi tak ada yang menggubrisnya.
"Iya tante, saya pasti tanggungjawab. Jadi, terus kapan saya bisa nikahi Siska? atau saya bilang ke mama sama papa dulu, buat segera nemuin tante sama Om buat ngelamar Siska secara resmi?."
"Mama!! kok jadinya kayak gini sih? aku gak mau mam nikah sama dia!."
"Gak bisa! kamu udah gak perawan! mana ada orang yang mau sama kamu. Dan dia juga harus tanggungjawab sama perbuatannya. Jadi kamu harus terima. Lagian dia juga pacar kamu kan?."
"Mam, Zidan bukan siapa - siapa ku. Aku juga masih perawan mam. Kita gak pernah ngelakuin itu. Zidan please lo bilang ke mama. Kalau kita gak ada apa - apa dan kita gak pernah melakukan apa yang mama pikirin. Gue yakin lo juga gak mau kan nikah sama gue?." Siska udah beneran frustasi.
"Kata siapa kita gak pernah ngelakuin itu? kita udah ngelakuin itu berkali - kali. lo bahkan juga pernah nginep di apartemen gue. Dan dengan senang hati, gue mau jadi suami lo." Si Zidan malah tersenyum nakal, sekalian juga menjebak Siska biar gak bisa kabur lagi.
"Iisshhh!! lo gila lo!! mama, please ma jangan bawah - bawah pernikahan. Apa lagi sama dia. Mama ..." Siska ngerengek.
"Udah kamu jangan banyak ngomong. si Zidan sudah mau tanggungjawab, bukannya bersyukur kamu malah mengeluh. pokoknya mama mau bilang ke papamu biar kamu sama Zidan segera di nikahkan. jangan sampai kamu jadinya hamil duluan!."
"Mama, please mam!."
"Terima kasih tante. saya beneran ucapin terima kasih. Saya pastikan saya bakalan jagain siska dengan baik. bentar ya tante saya telpon mama sama papa dulu, buat ngomongin bisanya kapan mereka mau nemuin tante sama om buat ngelamar Siska. Tapi saya usahakan besok mama sama papa sudah berkunjung kesana."
"Iya sudah sana telpon."
Siska pun langsung terduduk lemas. Wajahnya terlihat sedang tertawa getir. Mimpi apa dia semalam, bisa - bisanya dia menikah dengan Zidan dengan cara seperti ini.
__ADS_1
****
Pasrah ajalah Sis, kamu itu jodohnya Zidan...