Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
35. Mood maker


__ADS_3

Demi apapun Siska rasanya tak mau melangkahkan kakinya keluar dari kamar Zidan. Dia benar - benar malu setengah mati karna sudah kepergok berbuat mesum sama calon adik iparnya. Rasanya harga dirinya sudah hancur begitu juga kewibawanya. Padahal harusnya dia bisa membanggakan dirinya didepan adik iparnya itu.


Tapi mau gimana lagi, semuanya udah terjadi. Jadi Siska pun cuma bisa duduk canggung dan kikuk di meja makan. Apa lagi, senyuman jail Caca juga tak kunjung hilang sedari tadi saat menatapnya. Seandainya bisa, pengennya Siska langsung skip aja acara makan malam ini.


"Aduh!!." Jelas Caca mengadu, ini tangan Masnya gak ada akhlak tiba - tiba ngegeplak kepalanya saat melewatinya ketika mau duduk disebelah Siska.


"Ih! Mas Zidan!." Caca mendengus dengan muka masamnya.


"Kondisiin bibir lo! jangan sampai bikin istri gue mati gaya."


"Ih! GR, emang gue senyum gitu gara - gara kalian?."


"Good! kalau emang bukan."


"Ih!."


Caca bukanlah Caca kalau cuma karna geplakan dan peringatan dari Zidan jadi takut. Dia ini titisannya Zidan, yang tak akan berhenti sebelum keinginannya tercapai. Jadi ya sebelas dua belas dengan sang kakak yang pintar memanfaatkan keadaan. Siapa tahu bisa dapat uang jajan lebih. 'Kan lumayan.


"Mbak?." Target yang paling muda adalah Siska. Kalau Kakaknya sudah pasti susah untuk ditaklukkan.


"Hem, iya, he ..." Disapa Caca jelas Siska kikuk dan tersenyum kaku.


"Mbak, Mbak Siska ini mantan pacarnya Mas Zidan waktu SMA itu 'kan ya? yang sering kesini itu 'kan? terus suka nemenin aku main barbie sama masak - masakan itu 'kan?." Caca memberondong Siska dengan pertanyaan seputar masa lalu.


"He, iya. Betul."


"Oh, maaf ya mbak soalnya aku rada lupa - lupa inget. Maklum mbak dulu 'kan aku masih kecil banget. Tapi, sumpah Mbak Siska ini cantik banget, bodynya goals pantes mas zidan jadi clbk." Udah tersirat jelas dari kata - kata Caca kalau dia lagi nyepil kejadian tadi.


"Hah? hehehe, iya,." Siska tertawa canggung. Gak tau harus menanggapi gimana. Pokoknya pengennya kabur aja kalau bisa.


"Ca!." Melihat Siska yang sudah kikuk dan benar - benar mati gaya. Jelas Zidan langsung menghentikan Caca.


"Uhm, apaan sih mas, orang gue lagi ngomong sama mbak Siska."


"Tapi dari cara lo omong udah jelas kalau lo lagi godain dia."


"Hm, siapa juga yang lagi godain, orang perasaan kata - kata gue biasa aja, iya 'kan mbak?." Eh, si Caca malah melempar pertanyaan lagi pada Siska, jelaslah yang dimintai pasti iya - iya aja.

__ADS_1


"Hah? iya, he..."


"Ca, sekali lagi gue ingetin ya, jangan bikin istri gue mati gaya, kalau enggak gue kurangin jatah bulanan lo, ya!." Ini ancaman andalannya Zidan kalau Caca lagi aneh - aneh.


"Hm, emang bisa? kayaknya enggak deh. Lo malah harusnya kasih lebih. Rahasia lo ada ditangan gue. Atau kalau enggak, gue bakalan aduin apa yang terjadi dikamar tadi sama mama sama papa. Gimana?" Caca tersenyum jail. Khusus untuk kali ini, ancaman ini gak berlaku untuknya.


"Bagus kalau lo mau ngaduin, Siapa tahu mama sama papa malah nikahin kita besok." Zidan malah nantangin.


"Eh, kok gitu sih?." Siska protes. Gila aja kalau sampai Bu Resti sama Pak Sony tahu.


"Ya emang kenapa sih sayang, 'kan kalau nikahnya lebih cepet, lebih baik. Kita bisa cepet tinggal bareng. Nanti kita bisa mesra - mesraan tiap hari semau kita, tanpa ada yang ngelarang atau yang ganggu." Zidan berubah jadi genit.


"Ih!." Aslinya Siska ingin memaki, tapi masih ditahan, karna posisinya masih ada Caca.


"Huueekkk!!!." Sedangkan Caca jadi merasa mual.


"Mbak." Caca mengalihkan pandangannya ke Siska.


"Mbak Siska yakin mau nikah sama dia? Mbak kayaknya dia ini gak cinta deh mbak sama mbak, kayaknya dia cuma nafsu doang sama mbak." Caca menimpal lagi.


"Mbak, aku peringatin. Mbak Siska jangan terlalu percaya sama dia mbak. Dia ini sebenernya juga gak sekeren yang mbak Siska liat. Dia ini bukan cowok baik - baik, mbak. Aku berani jamin." Tapi Caca mana peduli.


"Hah?." Siska sedikit tercekat mendengar Caca yang ngomongnya begitu serius dan meyakinkan.


"Eh, kok lo jadi ngomongnya gitu?." Zidan jelas dong jadi kesal.


"Mbak, sini deh aku kasih tahu." Caca mencondongkan badannya demi membisiki sesuatu pada Siska, jadinya Siska pun nurut saja.


"Eh, lo mau ngomong apa Ca? lo jangan aneh - aneh deh Ca." Zidan jadi ngeri sendiri melihat Caca seperti ini. Ini anak sepertinya akan ngomong yang aneh - aneh sama Siska.


Entah apa yang dibisikkan Caca pada Siska, yang pasti Siska sedang berusaha menahan ekspresi tawanya.


"Eh, jangan ketawa!." seru Caca menghentikan Siska dan kemudian membisikkan lagi sesuatu dimana Siska manggut - manggut aja.


"Eh, lo ngomong apa Ca? lo jangan aneh - aneh Ca, gue kurangin beneran jatah bulanan lo entar!." Zidan semakin gusar.


"Nanti setelah makan, aku kasih tahu Mbak rahasia yang lainnya Mbak, Oke?."

__ADS_1


"Oke," Siska mengiyakan dengan semangat sambil melihat Zidan dengan tatapan mengejek.


"Eh, kenapa lo liatin gue gitu? dia ngomong apa? dia pasti udah ngomong yang aneh - aneh 'kan sama lo? Dan jangan sampai gara - gara omongannya dia kita jadi gagal nikah?." Si Zidan jadi nething.


"Ya, itu sih tergantung lo. Kalau lo baik - baik ke gue, ya bisa gue pertimbangi buat terus nikah sama lo. Tapi kalau enggak, mungkin gue bakalan kabur pas hari H." Jawab Siska dengan senyum smirk sekaligus jailnya.


"Bagus mbak aku dukung kalau mbak Siska mau kabur. Kalau perlu aku temenin." Caca malah memperkeruh keadaan.


"Lo percaya sama omongannya Caca?."


"Emang Caca ngomong apa? kamu gak ngomong apa - apakan ya Ca?."


"Iya, orang gue gak ngomong apa - apa. Weeekk!!."


"Oh, jadi kalian berdua sekarang udah kerjasama buat jailin aku, gitu?."


"Mbak, gak usah didengerin, kita makan aja, itu mama sama papa udah kesini. Anggap aja disebelah mbak lagi gak ada orang." Dan Siska pun mengangguk nurut, sambil melempar tatapn mengejeknya lagi.


Jalinan keakraban Caca dan Siska terus berlanjut. Sekarang mereka sudah duduk bersama lagi selepas makan malam keluarga. Siska yang awalnya terlihat canggung dan kikuk pada Caca, sekarang malah jadi akrab dan nyaman sekali didekatnya. Gadis remaja itu, benar - benar mood maker sekali untuk Siska. Rahasia - rahasia tentang Zidan yang dibongkar Caca untuknya, sukses membuat Siska jadi ngakak dan kadang tersipu malu. Sampai - sampai meskipun ada Zidan disebelahnya Siska pun tak peduli. Malah kadang sengaja bersikap lebih jutek dari biasanya demi menggoda sang calon suami.


Tapi sesi obrolan ini harus segera berakhir mengingat Zidan yang harus segera terbang ke jogja malam ini. Jadinya mereka berdua pun pamit pada semua keluarga untuk meninggalkan rumah sesegera mungkin.


"Mas, lo gak mau terima kasih ke gue? gue 'kan udah bikin istri lo bahagia dan nyaman tadi." Sebelum Zidan masuk mobil si Caca langsung nodong Zidan. Tujuannya biar dapat uang dong.


"Yang bener itu, lo bikin dia cuek ke gue, dodol!." Zidan mendorong pelan kening Caca dengan nada gemas bercampur sedikit kesal.


"Tapi gak menutup fakta kalau dia jadi lebih rileks dan nyaman disamping gue. Dan percaya deh Mas, tadi gue udah bisikin sesuatu ke Mbak Siska. Gue jamin deh, Mbak Siska pasti bakalan tambah cinta sama lo. Jadi lo gak bakalan rugi, meskipun ngeluarin beberapa lembar gambarnya pak karno sama pak hatta ke gue, sumpah." Caca mulai merayu. Segala stok akal bulus dikeluarkan olehnya kali ini.


Zidan tersenyum simpul. Si Caca kalau ada maunya pasti akan melakukan segala cara.


"Percaya deh Mas sama gue. Gue ini adik lo, gue gak bakalan ngancurin hidup lo yang udah hancur itu."


"Aishh! lo ini niatnya minta duit tapi kenapa malah ngeledek? lo itu mau duit gak sih sebenernya?."


"Ya maulah tapi kenyataannya gitu. Emang hidup lo pernah hancur, jadi sekarang gue gak akan membiarkan lo hancur lagi, gue dukung lo meskipun lo tukang mesum."


"Aishhh!!." Dasar bocah kalau ngomong, gak ada akhlak. Jadinya karna sudah tak mau lama - lama berdebat dengan Caca, Zidan pun mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu. Ya, sontak aja Caca teriak kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2