Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
93. Demi Kata Maaf


__ADS_3

Siska meletakkan beberapa belanjaan diatas meja pantry. Tadi selepas pertemuannya dengan Raya dan Feby. Siska sempat membeli beberapa kebutuhan dapur yang rencananya akan dia pergunakan untuk menyiapkan makan malam dan juga sarapan besok untuk Zidan. Karna mulai saat ini juga, Siska sudah memantapkan diri untuk berjuang mendapatkan maaf dari Zidan.


Siska melirik jam di dinding. Masih jam 4 sore yang artinya dia masih punya waktu 2 jam lagi sampai waktu biasanya Zidan pulang.


Semua isi belanjaan dalam kantong plastik dikeluarkan Siska. Dan setelahnya Siska juga mengeluarkan ponselnya. Dia berniat menghubungi Bu Resti buat tanya - tanya enaknya bahan - bahannya ini dimasak apa biar Zidan suka.


"Hallo Mama."


"Hem, ada apa sayang?."


"Ma, sibuk gak? Siska mau tanya - tanyanya nih."


"Enggak, kenapa mama lagi santai aja kok liat drakor."


"Ma, aku ini mau masak, cuma kok jadinya bingung mau masak apa. Niatnya mau bikin capcay, tapi malah lupa gak beli wortel sama brokoli, terus cuma ada sawi sama ayam aja."


"Ya kalau gitu, ditumis aja itu sawinya. Terus ayamnya di masak pakai bumbu rujak. Zidan juga suka meskipun cuma gitu."


"Em, gitu ya?." Siska manggut - manggut.


"Iya, bisa 'kan kamu numis sawi sama bikin ayam rujaknya?."


"Kalau tumis sawinya sih aku bisa. Tapi kalau ayam bumbu rujaknya, aku agak ragu. Belum pernah masak." Habis manggut - manggut sekarang nyengir.


"Ya udah kalau gitu, mama bimbing. Pakai videocall aja gimana biar gampang?."


"He'em boleh Ma."


Dan akhirnya dengan bimbingan Bu Resti, Siska pun sibuk memasak. Sibuk juga tanya ini itu, harus dipotong gimana, langsung dicampur atau gimana, garamnya seberapa, gulanya seberapa. Intinya sibuk aja tapi juga sambil bercanda, menikmati momen memasak dengan bimbingan langsung dari sang mertua. Sampai akhirnya 1,5 jam kemudian semua masakan sudah siap disajikan dan Siska menutup panggilannya.


"Fuih ... akhirnya ..." Siska menatap lega sekaligus takjub hasil karyanya hari ini.


"Sekarang tinggal mandi. Mandi yang wangi."


Dan Siska pun beranjak dari pantry, tak lupa pula menutupi semua makanan yang ada diatas meja. Lalu masuk kedalam kamar mandi.


Sepersekian menit kemudian. Siska yang sudah selesai mandi duduk diatas meja riasnya. Tangannya dengan gesit mulai mengaplikasikan beberapa produk kecantikan diwajahnya.

__ADS_1


Sudah beberapa minggu ini dia gak begitu memperhatikan penampilannya gara - gara berantem dengan Zidan. Jadinya ya Siska harus rela kalau ada beberapa jerawat muncul akhirnya. Tapi untung saja cuma beberapa jerawat, bukan wajahnya yang berubah jadi kusam.


Selesai dengan urusan wajah dan badan. Siska pun membuka handuk yang melilit di rambutnya. Gerakannya berhenti sebentar. Di otaknya sekarang lagi nimbang - ninbang. Mau dikeringin atau enggak ini rambut. Karna pengennya sekarang Siska tampil cantik sekaligus seksi didepan Zidan demi totalitasnya mendapat maaf.


"Keringing enggak?."


"Kalau gak dikeringin bajunya jadi basah entar baunya gak enak? kalau di keringin kok kurang gimana gitu ya?."


"Ish! keringin aja deh, biar gak bau. Masih ada banyak jalan buat memikat hati suami." Putus Siska kemudian, yang lebih mementingkan bau yang segar dari pada rambut yang basah.


Suara hairdryer sudah mengisi seluruh kamar. Yang sepersekian menit kemudian membuat rambut Siska kering.


Sekarang yang tersisa adalah baju. Matanya lagi - lagi bingung, harus pakai baju yang seperti apa. Baju yang terbuka? atau baju yang sedikit tertutup? atau baju yang biasanya aja? pakai piyama tidur panjangnya atau kaos oblong beserta triningnya?. Tapi karna ini adalah misinya untuk mendapatkan maaf. Harusnya pakai pakaian terbuka 'kan?. Jadinya dengan cepat tangan Siska pun menyambar gaun tidur sejengkal diatas lutut dengan tali singlet tipis.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 malam. Siska sudah duduk di sofa ruang tengah. Rambutnya sudah digelung acak - acakan seolah sudah siap jadi istri sholeha katanya.


Gugup pasti, takut juga sudah pasti. Bahkan tangan Siska sudah berkeringat. Takut Zidan malah tambah marah padanya dan semakin menjauhinya kalau Siska bersikap seolah gak ada apa - apa.


15 menit berjalan. Siska yang tak melepaskan matanya ke arah pintu. Zidan belum pulang juga.


30 menit kemudian. Masih sama saja, tak ada tanda - tanda pintu dibuka dari luar.


2 jam kemudian. Wajah Siska sudah sedih tapi dia masih setia duduk disofa. Perutnya juga mulai lapar, tapi berusaha ditahan dan memilih tetap menunggu Zidan.


3 jam kemudian. Rasanya hatinya sedang dicubit. Sedih, kecewa dan juga mulai gusar.


4 jam kemudian. Helaian nafas kekecewaan dan kesedihan sudah numpuk. Sudah jam 10 malam, tapi Zidan tak kunjung pulang. Ngabari juga tidak. Entah kemana perginya suaminya itu. Siska tak tahu. Akhirnya Siska pun pasrah, dan air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.


Lelah menangis sendiri. Siska pun meraih ponselnya sambil menghapus air matanya. Dia harus mencari tahu keberadaan Zidan. Dan pilihannya jatuh ke Egi yang kemungkinan tahunya lebih banyak.


"Hallo Egi," kata Siska yang berusaha sebiasa mungkin saat menelpon.


"Oh, iya Mbak, ada apa ya?."


"Zidan hari ini lembur ya?."


"Iya mbak Mas Zidan masih lembur di kantor. Lagi persiapan mega proyek jalur lintas selatan." ungkap Egi yang diingat Siska kalau gak salah adalah salah satu proyek besar. Dan dari ucapan Egi ini bisa disimpulkan kalau Zidan berhasil dapat proyeknya itu? wow ... seketika perasaan Siska jadi bangga pada suaminya ini.

__ADS_1


"Jadi kalian berhasil menang Gi?."


"Iya mbak, tadi pagi di umumin terus kita dapat, emang Mas Zidan belum cerita ya mbak?."


"Belum Gi."


"Oh, mungkin buat surprise nanti mbak kalau udah pulang. Aduh aku jadi bocorin ini dah gimana dah."


"Hee, gak apa - apa Gi, aku gak akan bilang - bilang kok. Terus Gi, kira - kira itu lemburnya masih lama gak ya?."


"Kalau aku udah pulang mbak, kalau Mas Zidan aku kurang paham. Soalnya pas pulang tadi Mas Zidan masih di kantor. Gak coba Mbak Siska hubungi aja langsung?."


"Tadi udah telpon tapi gak di angkat."


"Oh."


"Ya ydah ya Gi, thank infonya."


"Iya mbak sama - sama."


"Ya udah aku matiin telponnya, salam ke istri kamu ya Gi."


"Iya mbak, nanti aku sampaiin."


Panggilan pun terputus. Ada rasa lega setelah dengar kabar dari Egi. Ada rasa bangga dan senang juga karna Zidan berhasil mendapat proyek besar. Tapi ada rasa khawatir juga karna Zidan belum juga pulang dan masih lembur sampai jam segini.


Siska pun kembali mengangkat ponselnya. Dan layarnya pun menampilkan aplikasi WA dimana nomor Zidan sebagai tampilan utamanya.


Tut.


Tut.


Tut.


Siska menghubungi nomor Zidan untuk pertama kali setelah 2 minggu lebih hubungannya dingin.


Tak ada jawaban. Siska pun langsung mengetik pesan untuk suaminya itu.

__ADS_1


"Kamu dimana? kamu kapan pulang, yang."


Dan untuk pertama kalinya juga Siska memanggil Zidan dengan panggilan sayang seperti dulu saat mereka pacaran.


__ADS_2