
Kerumunan sesi tangkap bunga pun bubar. Suara keluhan juga terdengar dimana - mana dari para tamu yang tadi sudah sangat berharap bisa menangkap buket bunganya tapi malah gagal.
"Ini udah gue tangkepin." Zidan menyerahkan buket bunganya ke Siska dengan senyum smirknya.
Siska tak bergeming. Dia malah menatap lekat pada Zidan. Apa maksud dari cowok itu sebenarnya.
"Ini, ambil, ini buat lo." Sekali lagi Zidan ngomong.
"Sorry, gue gak mau. Buat lo sendiri aja." tolak Siska dengan tegas.
"Buat gue atau buat lo juga sama aja sih sebetulnya. Toh akhirnya nanti kita juga bakalan nikah." celetuk Zidan dengan entengnya. Membuat Siska semakin menatapnya jengah.
"Ngimpi lo!."
"Hahaha. 'Kan semuanya berawal dari mimpi baru nanti diusahain biar jadi kenyataan."
"Cih!." Siska mendecak sambil geleng - geleng. Ya itulah Zidan kalau disuruh ngomong emang pinter.
"Bro..." Firman menyapa Zidan. Dia datang bersama Feby yang tangannya tertaut dilengannya. "Gue kira lo gak jadi dateng."
"Datenglah bro, masak lo nikah gue gak dateng."
"Ya siapa tahu, karna udah sibuk sama proyek baru. Jadi lupa ketemen sendiri."
"Hahaha, enggaklah, gak bakalan gue lupain."
"Woow, lo yang dapat bunganya Dan?." Feby tanya.
"Bukan, Siska." jawab Zidan, ini niatnya pengen menggoda Siska. Sementara Siska yang disebut langsung memberikan lirikan tajam dengan muka melengos. Dan itu, pastinya memancing yang lain untuk lebih meledek lagi.
"Cie, berhasil nih lo nangkep bunganya." Feby mencolek pinggang Siska.
"Lo percaya sama dia?."
"Percayalah, emang kenapa harus gak percaya? toh endingnya sama aja 'kan? Zidan atau lo yang dapat bunganya, kalian tetep bakalan nikah juga. Iya 'kan Dan?."
"Yap, betul." Zidan menyiyakan.
__ADS_1
"Ih! omongan lo mendahului Tuhan!."
"Hahaha, udah - udah yang, kasian Siska, jangan digodain terus." Firman menengangi. Diantara 2 orang itu paling tidak ada dia yang pikirannya waras. Tapi sayang, 2 orang udah disadarkan datang 2 orang lagi yang pastinya kalau ngeledek lebih parah.
"Weehhh, siapa nih yang dapat bunga?" Krisna datang, Dia langsung menyaut buket bunga itu dari tangan Zidan.
"Lo yang dapet bro? emang lo udah siap nikah lagi?." tanya Krisna. Ini pertanyaan sebetulnya sedikit sensitif untuk Zidan. Wajah Zidan tadi juga sejenak berubah datar. Tapi berusaha dia tutupi dengan senyum.
"Siaplah bro kalau nikahnya sama Siska." celetuk Zidan akhirnya. Yang mengundang tawa jail dari teman - temannya.
"Wee, beneran CLBK nih kalau gitu. Sis, gimana? mau gak lo nerima lamarannya Zidan?" ledek Krisna dengan merangkul Siska dipundaknya. "Terima Sis, dari pada jadi perawan tua. Tinggal lo nih disini belum kawin - kawin."
Astaga, si Krisna. Dia menyerang titik sensitif wanita berusia 28 tahun yang belum menikah. Otomatis Siska pun langsung menghempaskan tangan Krisna yang sedang merangkulnya dengan kasar.
"Ray, suami lo nih gak sopan tangannya!." Siska mengadu dengan wajah menatap masam ke Krisna tapi Raya malah ketawa dan tak menggubrisnya.
"Ya ampun Sis, gitu aja lo marah." Krisna malah semakin menimpali.
"Hati gue sakit goblok! lo ngatain gue perawan tua!." dengus Siska dengan gerakan tangan memukul Krisna, tapi malah dihadang Raya.
"Eits! jangan pukul - pukul suami gue." Si istri membela.
Tapi tenang, ada yang diam - diam juga tak terima. Zidan dengan tenang merangkul pundak Krisna. Meskipun bibirnya sedang tersenyum lebar tapi gerakan tangannya memijat pundak Krisna dengan kuat. Itu adalah sebuah peringatan darinya kalau dia juga tak suka Krisna dengan gampangnya memegang Siska.
Krisna mendesis kesakitan. Bahunya mengkeret berkat pijatan dari Zidan. Matanya juga menatap Zidan memohon ampun. Sepertinya Krisna paham dengan maksud Zidan. Jadinya dia pun mengkode memohon ampun pada Zidan. Sementara 1 lelaki lainnya sadar dengan 2 orang temannya itu. Firman tertawa kecil melihat tingkah Zidan dan Krisna. Ya, sebagai sesama lelaki, dia pastinya jeli dengan hal itu.
Acara pernikahan selesai digelar. Feby dan Firman baru saja pergi dengan mobil pengantin. Mereka rencananya akan pulang ke apartemennya dan kemudian langsung melanjutkan perjalanan ke Bali untuk honeymoon.
Sepeninggalan para pengantin. Semua orang juga sudah mulai berangsur meninggalkan gedung. Dan itu tak terkecuali Raya, Krisna, Siska dan Zidan.
"Ray, gue ikut lo ya ..." pintah Siska karna memang arah kontrakannya itu searah dengan rumah si Raya.
"Oke."
Krisna datang dengan mobilnya dan menghentikannya tepat dihadapan Raya dan Siska yang tengah berdiri di lobi. Raya membuka pintu depan mobil sedangkan Siska membuka pintu mobil kursi belakang. Tapi tiba - tiba Zidan muncul dan menghentikan gerakan tangan Siska.
Brakk!!
__ADS_1
Pintu belakang mobil tertutup lagi.
"Zidan!." pekik Siska.
"Bro, lo berangkat aja, biar Siska gue yang ngaterin." Zidan malah menunduk untuk bisa bicara dengan Krisna.
"Eh, enggak! dia sama kita. Gue gak percaya sama lo!." Raya yang nyaut tak setuju.
"Oke," saut Krisna tak mengidahkan Raya yang tadi bilang enggak.
"Yang? Kok malah oke sih? Dia ini bahaya lo." Raya protes sekaligus mengingatkan.
"Udah gak apa - apa. Biarin aja."
"Gak apa - apa gimana?."
"Sstt!! itu urusannya mereka. Kita jangan ikut - ikut."
Krisna pun menginjak pedal gasnya. Mobilnya pun melaju meninggalkan Zidan dan Siska yang masih di depan lobi gedung.
"Ayo, gue anter pulang." kata Zidan dengan gerakan menggandeng tangan Siska. Tapi Siska malah langsung menghalau.
"Gue bisa naik taksi." tolak Siska dengan kaki yang hendak melangkah. Tapi sekarang gantian Zidan yang menghentikan.
"Ada gue ngapain naik taksi."
"Ada lo atau enggak gue tetep naik taksi."
"Siska, kita itu butuh ngomong. Gue mau kita terusin obrolan kita yang terputus di depan toilet."
"Perasaan tadi waktu didepan toilet udah jelas deh, apa lagi yang perlu dibahas?."
"Belum, itu belum selesai. Karna lo salah paham ke gue. Lo ngira gue cuma main - main sama lo. Padahal seharusnya sejak gue datang ke kontrakan lo malem - malem cuma buat tanya tentang si Suci lo udah bisa tahu gimana perasaan gue ke lo sebenarnya."
"Lo kira gue dukun bisa tahu perasaan lo dengan muda? Zidan. Otak gue ini kecil, IQnya juga rendah, daya tangkapnya lola. Jadi kalau lo pakai bahasa kalbu otomatis gue gak paham. Yang gue paham, lo cuma mau ganggu gue. Bikin gue tensi setiap hari. Dan juga, seumpama lo bilang lo tertarik lagi ke gue atau lo jadi CLBK beneran ke gue, gue juga gak percaya. Karna gue yakin mungkin gue cuma lo anggep sebatas penghibur lo disaat hati lo ancur gara - gara dihianati sama calon istri lo!. Dan satu hal lagi. Inget, awal mula hubungan kita sekarang gimana, lo cuma mau bikin hidup gue menderita karna masalalu kita dulu." ucap Siska telak.
Zidan terdiam. Ucapan Siska ini ada benarnya. Awalnya Zidan memanglah hanya ingin sekedar bermain - main. Dan jujur saja memang Siska hanyalah sebuah pelampiasan atas perasaannya yang dihianati calon istrinya. Tapi, semua itu hanyalah awalnya saja bukan?.
__ADS_1
"Itu cuma awalnya. Namanya awal pasti ada akhirnya. Dan akhirnya emang gue kembali lo buat bertekuk lutut. Gue bukan seseorang yang gampang ciuman dengan orang. Gue bisa ciuman sama lo karna memang gue punya perasaan ke lo. Oke, sekarang mungkin lo masih ragu ke gue Sis, tapi nanti setelah gue kembali dari jogja, gue bakalan tunjukin ke lo gimana keseriusan gue. Ini, ini tolong lo simpan. Gue pastikan buket bunga itu nanti akan lo bawah dialtar." Zidan menyerahkan buket bunga tangkapannya tadi ke Siska. Itu adalah sebuah tanda kalau mulai sekarang dia akan serius mengejar Siska.