Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
9. Ketahuan Mama


__ADS_3

Siska mengacak - ngacak rambutnya frustasi. Saat itu dia sudah diatas kasur yang ada dalam kamarnya. Kakinya juga tak kalah heboh mengacak - ngacak selimut hingga berantakan tak beraturan.


"Aaarrrgggghhhhh!!! Zidan!! Gue gak bakalan maafin lo seumur hidup gue!!!!"


"ARRRRGGGHHHHHHH!!!!."


Siska sudah benar - benar gila. Amarahnya masih diujung kepala dan harus diledakkan bagaimanapun juga.


Ya semua itu karna kejadian tadi sehabis dia keceplosan jujur tentang Suci. Saat tiba - tiba sebuah telpon yang disangkahnya adalah telpon penyelamat hidupnya. Tapi nyatanya berbalik, telpon itu malah membawa bencana yang lebih dasyat dalam hidupnya.


Flashback.


Krrriinnngg!!!


Krriiiinnggg!!!


"Eh, hp gue bunyi." Siska berujar, sekaligus meminta agar Zidan segera melepaskan dirinya agar bisa menerima panggilan.


Zidan menerima permintaan Siska. Dia membuat sedikit jarak agar Siska bisa bergerak meraih ponsel yang sedari tadi ada disaku celana trainingnya.


"MAMA!!" nama itu terpampang dilayar hp Siska. Seketika Siska jadi panik dan membelalakkan matanya menatap Zidan. Kalau saja mamanya tahu malam ini ada lelaki rumahnya. Pasti akan kiamat hidupnya.


"Minggir, minggir!!." Secara spontan Siska memukul Zidan beberapa kali, meminta agar Zidan segera menyingkir. Karna ini bukanlah sembarang panggilan. Ini adalah panggilan videocall!.


"Lo diem jangan bersuara dan tetep disitu!."


Siska membaringkan tubuhnya di atas sofa. Setelah itu digeserlah ikon warna hijau di layar hpnya. "Hm, mam ... why?."


Dengar nada bicara Siska, dia lagi akting baru bangun tidur. Sedangkan Zidan yang sudah duduk disofa tertawa kecil mendengarnya.


"Udah tidur sayang?" Suara Bu Irna, mama Siska terdengar.


"Heem mam. Mama belum tidur?"


"Iya, ini mama juga mau tidur."


"Em, kalau mau tidur, kok malah telpon aku?"


"Iya tadi mama lupa mau ngasih tahu, dan baru keinget sekarang."

__ADS_1


"Hm, apa mam?"


"Besok selepas pulang kerja kamu ada acara gak? kamu bisa gak seumpama besok ikut mama? mama besok mau kerumahnya tante Gina."


"Ngapain mam? Kalau gak penting Siska males."


"Penting banget dong sayang, ini acaranya PDKT. Katanya, anaknya Tante Gina yang selama ini di Singapura besok bakal datang, dan kamu diminta secara khusus sama Tante Gina kerumahnya."


"Siapa ma? Dewa?" Siska langsung melonjak duduk. Tiba - tiba rasanya sudah tak perlu lagi harus berakting ngantuk.


"Eh, kamu kok jadi semangat gitu, seneng ya bisa ketemu sama Dewa lagi. Hihihi..." Bu Irna, mood banget pokoknya. Ekspresinya juga tak kalah semangat dari sang anak.


"Hahaha iyalah, siapa tahu bisa jodoh. Iya 'kan?"


Lain halnya dengan Siska yang mood baiknya kembali. Si Zidan malah semakin bermuka masam. Ada rasa cemburu dan tak suka ketika mendengar kalau Siska akan pergi menemui pria lain. Atas dasar rasa itulah tanpa pikir panjang, Zidan langsung merampas ponsel Siska dan mengarahkan wajahnya ke layar.


"Zidan!!!" Siska berusaha menghentikan Zidan tapi sayang usahanya sudah percuma. Selain menunjukkan wajahnya Zidan juga memamerkan suaranya.


"Selamat malam tante."


OH MY GOD. Zidan benar - benar melampaui pikiran Siska. Maunya dia apa? Hallo!.


"Lo, Sis, kamu sama siapa?" Bu Irna begitu tercengang. Tiba - tiba seorang lelaki muncul dihadapannya. Padahal ini sudah malam sekali. Membuat Bu Irna over thinking.


"Zidan!! lo beneran gila, ya!!."


"Eh, ini kalian lagi ngapain? Kalian lagi berduaan? ini udah malam, kalian gak lagi aneh - aneh 'kan? Siska, jawab mama! kamu lagi ngapain? kamu tadi bilang lagi tidur! kamu tidur sama dia? Kamu udah gak waras Sis? kamu jangan bikin mama marah! Siska, mana Siska cepet kasih hpnya sama Siska!!!" Sudah bisa dipastikan kalau Bu Irna pasti murka.


"Tante, nanti kalau ketemu bisa saya jelaskan, tapi sebelumnya saya minta maaf, telponnya saya tutup dulu. Nanti kalau tante minta pertanggungjawaban sama saya, saya siap dan saya pastikan akan benar - benar bertanggungjawab, jadi tante gak perlu khawatir."


"Ishh!! Zidan! bangsat!!!"


"Eh, kamu ngomong apa? kamu udah ngapain sama anak saya? kalau ada apa - apa sama anak saya, kamu tanggungjawab!."


"Iya tante, tante tenang aja, pasti nanti saya tanggungjawab, besok saya akan kerumah tante buat berkunjung sekaligus minta maaf yang benar, tapi mohon maaf tante, telponnya gak bisa lama - lama, karna masih ada masalah yang harus kita selesaikan dulu. Mohon maaf ya tante, saya matikan telponnya, selamat malam tante."


Sambungan telpon mati. Dan sekujur tubuh Siska seolah tak bertulang dan berangsur terduduk lemas di sofa dengan wajah dan tatapan kosong. Itu, tadi padahal ibunya, tapi Zidan dengan beraninya malah nekat. Benar - benar membuat speechlees yang teramat sangat.


"Lo, sekarang udah gak bisa kabur lagi. Mulai sekarang lo adalah MILIK GUE!." ucap Zidan sarkas. Mengklaim kepemilikan atas Siska.

__ADS_1


"AARRRRGGGHHHHHH!!!!! SHITTT!!!!."


Kalau tadi Zidan dengan sarkas mengklaim Siska adalah miliknya. Kali ini Siska murka dengan lebih sarkas.


"FU** YOU!!!!"


"DASAR BANGSAT!!!"


"DASAR ORANG STRES!!!"


"DASAR PSIKOPAT!!!"


"BAJINGAN LO!!!"


"ANJI** LO!!!!"


Semua itu meluncur bebas dari mulut Siska tanpa di filter. Selain ucapan - ucapan kotor, barang - barang disekitarnya juga tak luput dari tangannya. Satu demi satu barang - barang itu dilempar kearah Zidan. Menunjukkan kalau Siska tidak main - main.


"Oh My God Siska, sadar, Sis, sadar. Hancur rumah lo kalau kayak gini caranya." Zidan sibuk menghindar dan berlari memutari ruang tamu karna Siska terus mengejarnya.


"Sini lo jangan kabur! bangsat! gue gundulin rambut lo malam ini! gak akan gue biarin lo keluar dari rumah gue! gue pastiin lo mati sini malam ini!!!!"


"Astaga Sis, lo jangan gila, tadi gue cuma bercanda! lo jangan ngamuk!"


Beberapa saat kejar - kejaran dengan Siska yang terus melemparkan barang disekitarnya. Akhirnya, Siska dapat meraih kra kemeja Zidan.


Siska menarik sekuat tenaga kemeja Zidan tadi. Kemeja itu sampai sobek dan Zidan sedikit terpental kebelakang. Tak ingin menyia - nyiakan kesempatan yang datang, Siska langsung menendang selangka**** Zidan dengan keras.


BRUUUKK!!!


Tepat sasaran, kena adiknya Zidan.


"AARRRRRGGGGHHHHHHH!!!!."


Mata Zidan membelalak. Wajahnya seketika berubah merah padam sampai telinga. Seluruh jiwanya langsung tak bertenaga seperti kesetrum listrik dalam tegangan tinggi. Silahkan bayangkan sendiri rasa sakit yang ditimbulkan. Pastinya, sakit banget sampai mau mati.


"Argghhhh, Siska, lo, gila lo, tendang, adik gue!" rintih Zidan dengan tubuh tersungkur menahan rasa sakit.


"Huft! Mantap!" Siska tersenyum smirk. Puas rasanya bisa balas dendam pada Zidan.

__ADS_1


"Arrrgggghhh!!."


"Itu balasan buat lo yang udah ngacoin hidup gue! dan lain kali, kalau lo masih terus seenaknya ke gue, bukan cuma tendangan aja yang melayang, pisau dapur juga bakalan melayang, gue sunat lo sampai buntung!!!."


__ADS_2