Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
59. Baikan


__ADS_3

Firman dan Feby kembali ke apartemennya. Saat menuju apartemennya itu, diam - diam Firman mengirim pesan pada Zidan. Ya, bagaimana pun Firman harus tetap membantu sahabatnya bukan?.


"Bro, lo harus pulang sekarang juga. Atau kalau enggak, Siska bakalan ngamuk lagi."


Pesannya terkirim. Dan di sebrang sana, Zidan langsung membacanya. Paham maksud Firman, otomatis mau tak mau, Zidan langsung mengemasi barang - barangnya dan berangkat pulang ke Jakarta.


****


Krriiinnngggg!


Krriiinnngggg!.


Suara ponsel Siska menggema. Saat itu Siska yang masih duduk termangu dengan wajah murung cuma melirik sejenak ke ponselnya. Tak ada niatan buat menerima panggilan itu. Hatinya rasanya masih terasa hampa karna memikirkan Zidan. Sampai membuatnya jadi malas buat sekedar ngomong atau bertelponan. Ya, maklum Siska 'kan gak tahu kalau Zidan sudah berangkat pulang untuk menyusulnya.


Krriiinggg!.


Kriingggg!.


Lagi, ponsel Siska berdering lagi. Ini sudah panggilan ketiga kalinya. Yang akhirnya meskipun malas Siska memilih untuk menerimanya.


"Iya, Ca ada apa?."


Yang telpon ternyata si Caca.


"Mbak Sis, besok kira - kira sibuk gak?."


"Besok? kayaknya enggak. Emang kenapa Ca?."


"Mbak temenin aku dong besok, aku mau belanja, aku besok lusa sweet seventeen mbak. Hihihi terus rencana mau bikin party kecil - kecilan sama temen - temenku, mau ya mbak?."


"Sweet seventeen? berarti lusa kamu ulang tahun?"


"Hehehe, iya mbak, pengen aku rayain. Jadi mau ya mbak nemenin aku belanja besok, please?." Nada bicara Caca bahkan terdengar memohon sekali.


"Oke deh, besok mbak temenin. Emang besok mau berangkat jam berapa?."

__ADS_1


"Pagi ya mbak, besok dari asrama aku langsung ke apartemennya mbak Siska. Soalnya acaranya padet, harus keliling toko sam cafe buat resevasi partynya Terus mbak minta tolong. Mbak, jangan bilang - bilang mama sama papa ya mbak, kalau aku mau bikin party. Please, soalnya pastinya gak bakalan di ijinin."


"Hehehe, iya, iya oke siap."


"Hehehe makasih mbakku yang cantik. Pokoknya the best deh Mbakku yang satu ini. Oke, aku tutup ya mbak. See U."


Siska geleng - geleng kepala melihat tingkah Caca. Ada - ada aja kelakuan adik iparnya ini. Tapi setelahnya, pikiran Siska kembali ke mood awal, murung dan suntuk.


Disaat seperti ini, sebetulnya dia butuh hiburan. Butuh suaminya cepat datang. Terus bisa manja - manja. Bisa peluk - peluk. Biar rasa kosong dalam hatinya bisa terisi. Karna sejujurnya dia masih rindu sama Zidan.


Tapi nyatanya. Beberapa jam sudah berlalu. Sekarang sudah hampir tengah malam tapi Zidannya belum juga datang. Padahal jika dihitung - hitung perjalanan dari Jakarta - Jogja dan bandara ke apartemen kira - kira hanya membutuhkan waktu sekitar 5 jaman. Tapi ini sudah 7 jam berlalu dan Zidan tak menampakkan batang hidungnya juga.


Siska mulai gusar, kecewa, sedih bercampur jadi satu. Pikiran dan hatinya mulai diselimuti pikiran - pikiran negatif. Kenapa Zidan tidak datang, apa memang sudah ingin berpisah dengannya? atau kata cinta dan sayangnya selama ini cuma omong kosong belaka? Kenapa sampai sekarang dia belum juga datang. Padahal Siska sangat berharap kalau Zidan bisa datang meskipun terlambat.


Tanpa terasa, pikiran kacaunya itu, membuatnya jadi meneteskan air mata untuk pertama kali. Hatinya rasanya sakit. Mengingat pernikahan mereka yang baru sebulan lalu, sudah harus LDRan, sudah harus berantem seperti ini, bahkan perawannya juga baru ilang kemarin. Terus sekarang tega banget Zidan langsung membuangnya gitu aja. Hingga sayup - sayup karna lelah sendiri, Siska pun jadi ketiduran di atas sofa.


****


Pagi sudah datang menjelang. Aroma parfum seseorang begitu menyengat dihidung Siska saat dia baru saja bangun. Perutnya juga terasa berat akibat pelukan dari seseorang yang ada dibelakangnya. Tak perlu dijelaskan lagi, pelakunya pastilah Zidan. Gak mungkin yang lain.


"Kapan kamu datang?." Siska langsung menodong Zidan dengan pincingan mata. Nadanya juga masih terdengar ngambek tapi sebenarnya hatinya lega karna Zidan akhirnya beneran pulang. Apalagi sekarang dia bangunnya juga sudah diatas kasur bukan disofa lagi.


"Semalam, jam 1. Pesawatnya kemarin delay sampai 3 jam lebih. Sampai capek aku yang nungguin." jawab Zidan sekaligus menjelaskan tentang keterlambatannya datang.


"Terus kenapa kamu kok pulang?."


"Ya, karna kamu pulang, jadi aku ikut pulang. Aku mana tega ngelepasin kamu yang lagi marah ke aku gitu aja." jawab Zidan dengan tatapan teduhnya seolah menjelaskan kalau dia sayang sama Siska.


"Ngapain juga kamu ikut aku pulang. Bukannya disana sudah enak ada Bian yang nemenin kamu sambil tarik - tarik sama nempel - nempel." Meskipun udah tau arti dari tatapannya Siska tetep nyindir.


"Yang, Bian cuma bisa narik - narik sama nempel - nempel tapi gak berefek sama aku. Beda sama kamu, yang sekalinya di tarik sama di nempel, aku langsung bereaksi."


"Isshhh!." Siska langsung melayangkan pukulannya didada Zidan. Gemas akan gombalannya.


"Hehehe. Udah dong jangan marah lagi. aku pulang karna aku sayang sama kamu. Masak kamu masih gak ngerti. Padahal aku udah jelasin dan tunjukin semuanya ke kamu."

__ADS_1


"Iya, emang aku gak ngerti. Emang aku yang paling gak pengertian! yang pengertian cuma bian!." Siska jadi ngambek lagi bahkan bibirnya sekarang manyun. Tapi bagi Zidan Siska yang seperti ini malah jadi menggemaskan dan membuatnya jadi melayangkan sebuah kecupan di kening Siska.


Cup.


Ciumannya lembut dan sedikit lama.


"Ih!." Dapat ciuman dikening, Siska malah memincingkan mata.


Zidan tertawa. Dan sekali lagi mendaratkan kecupannya yang sekarang di pipi.


"Ish! Awas kamu ketemu sama orang model Bian lagi. Aku gak akan maafin kamu pokoknya!." ancam Siska tapi tak terdengar semenakutkan kemarin.


"Hahaha, Iya, sayangku. Siap. Sekarang, jangan marah lagi, ya. Janji aku gak akan gitu lagi. suwer." kata Zidan sambil nyengir dan mengangkat kedua tangannya membentuk huruf V.


"Yang teges jadi orang, inget kamu udah punya istri. Kalau kamu gak suka aku deket - deket sama cowok kamu juga sama, aku gak suka kamu deket - deket sama cewek."


"Iya, iya, sayangku. iya. Udah jangan marah - marah lagi. Mending sekarang kita romantis - romatisan aja. Aku masih kangen nih sama kamu, kemarin kita belum selesai 'kan sebetulnya ...." Ini tangan nakal Zidan mulai membuka kancing baju tidur milik Siska.


"Stop! kamu mau ngapain!." Siska menghentikan tindakan Zidan yang mulai melucuti bajunya. Siska masih gak mood kalau harus begituan dengan perasaan yang baru saja lega.


"Mau ngapain lagi, bikinin cucu mama sama papa 'kan?." Kata Zidan sambil sedikit mendorong tangan Siska yang memegang erat bajunya agar dia bisa kembali membuka kancing - kancing itu.


"Ih, kamu ini baru datang pikirannya langsung begitu. Enggak, aku gak mau. Kamu harus dihukum dulu. Kamu harus masak dulu buat sarapan. Kalau enggak, gak ada acara geprek - geprekan kayak gini." Ancam Siska sambil bangkit dan menepis kasar tangan nakal Zidan.


"Hm, dasar pelit!." Zidan memasang wajah merajuk sekaligus cemberut.


"Emang! ayo cepet sekarang bangun, masak sana. Ini udah pagi. Aku mandi dulu." Siska pun beranjak dari dalam kamar untuk mandi.


"Dasar pelit!."


"Bodo!."


"Pelit!."


"Biarin!."

__ADS_1


Dan ejekan itu berhenti saat Siska sudah benar - benar tak terlihat dari matanya. Zidan juga langsung tertawa kecil. Rasanya lega, karna Siska sudah tak marah lagi padanya.


__ADS_2