Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
104. Talking With Mom


__ADS_3

"Mau kemana?."


Suara Zidan terdengar tat kalah Siska sedang sibuk merangkul bantal dan gulingnya.


"Tidur sama mama."


"Em." Zidan ngangguk - ngangguk meskipun aslinya tak rela, tapi gak mungkin baginya menghentikan Siska yang ingin tidur sama sang ibu.


"Cuma malam ini aja, jadi gak perlu ngerasa kesepian." Siska tahu kalau sebenarnya Zidan tak rela ditinggal tidur sendirian.


Zidan mengurai senyum tipis. "Padahal aku gak ngomong apa - apa."


"Gak ngomong apa - apa tapi ekpresinya kecewa. Sini, peluk dulu."


Siska melingkarkan tangannya dipinggang Zidan. Mereka kemudian berpelukan erat.


"Cium dulu." Sedikit mendongak Siska juga minta sebuah kecupan.


Zidan lagi - lagi mengurai senyum tipis. Lalu melayangkan kecupannya ke bibir Siska dengan lembut. Padahal juga pisah ranjangnya cuma semalam. Tapi tingkah keduanya seolah akan berpisah dalam waktu lama.


"Sudah sana, temenin mama kamu."


"He'em, awas jangan ngambek."


"Iya, ngapain juga ngambek."


"Ya siapa tahu karna ditinggalin tidur sendirian, besoknya jadi ngambek."


"Emang aku kamu yang suka ngambek?."


"Perasaan juga sama aja." Sambil mengerucutkan bibirnya Siska melangkahkan kakinya keluar kamar.


Membuat Zidan jadi tertawa kecil karna gemas melihat ekspresi Siska yang seperti itu.


"Mam," Baru masuk kamar, Siska langsung memanggil sang ibu dan mendekatinya. Tampak saat itu Bu Irna lagi sibuk ganti baju.


"Loh mau apa kamu bawah bantal sama guling kesini?." Padahal Bu Irna sudah bisa menebak apa yang mau dilakukan Siska, tapi dia tetap bertanya.


"Tidur sama Mama."


"Terus Zidan gimana?."


"Ya tidur sendirilah."


"Kok ditinggal sendiri?."


Bu Irna baru saja selesai memakai bajunya. Dia kemudian berbaring dikasur dan menarik selimut sampai ke pinggang. Begitu juga dengan Siska yang ikut mengambil posisinya disamping Bu Irna.

__ADS_1


"Biarin aja deh Ma, tiap hari aku juga tidur sama dia. Sekarang pumpung ada Mama, aku pengen tidur sama Mama." Ucapnya kemudian memeluk sang ibu.


Bu Irna tersenyum, tahu kalau Siska ingin manja. Jadinya pun Bu Irna tak lagi keberatan dan malah semakin menarik lengan anaknya itu agar lebih erat memeluknya. Karna dirinya sendiri pun juga merasa sama, ingin memanjakan sang anak semata wajang yang sudah dia rindukan.


"Emang paling nyaman tidur sambil meluk Mama." Siska benar - benar merasakan kenyamanan. Aroma tubuh Bu Irna rasanya mebius tubuhnya. Rasa lelah dan capek serta mood - mood jeleknya jadi sirna begitu saja, dan berganti jadi rasa kantuk.


"Kamu ini udah menikah loh, Sis. Tapi masih aja suka manja sama Mama."


"Ya emangnya kenapa kalau aku manja meskipun udah menikah? Kan kalau sama mama ya tetep sama mama." Tak sedikitpun Siska merasa terusik akan statusnya yang sudah jadi istri orang. Baginya mama ya mama.


"Ya tapi harus dikurangi, sayang. Udah menikah itu artinya sebentar lagi kamu juga mau jadi Mama. Kalau udah jadi Mama, emang gak malu sama anak kamu? Mama sendiri juga udah gak mau manjain kamu lagi, lebih baik Mama manjain cucu Mama aja nanti."


"Sekarang 'kan masih belum punya anak Mam, jadi gak apa - apa dong kalau aku masih manja sama Mama."


"Terserah kamu ajalah." Bu Irna pasrah, tak menimpal lagi ucapan Siska, karna tahu omongan ini pasti tak akan berujung.


Suasana hening. Siska menikmati kenyamanannya berpelukan dengan sang ibu apalagi tangan Bu Irna juga bergerak mengusap lembut lengan tangannya.


"Mam, boleh tanya?." Siska memecah keheningan.


"Hm apa? Biasanya kalau udah gini biasanya pertanyaan kamu pasti berat."


"Dulu, kenapa Mama tiba - tiba minta aku menikah sama Zidan?."


"Kamu masih tanya kenapa?."


"Aduh!!." Satu pukulan lagi - lagi diterima Siska. Membuat Siska jadi mengurai jarak dengan Bu Irna.


"Kepergok ciuman sambil saling tindih itu kamu masih berani bilang gak logis alasannya?." Bu Irna lalu ngomel.


"Tapi aku serius Mam, kita gak ngapa - ngapain. Mama sampai sekarang udah salah paham tahu sama aku. Liat deh, sampai detik ini buktinya aku juga masih belum hamil." Siska yang tak terimapun membela diri.


"Kamu kalau mama ngomong pasti dibantah terus. Bukan berarti kamu gak hamil terus kamu bisa jaga diri, Siska."


"Tapi aslinya emang aku bisa jaga diri, Mam. Sumpah deh Mam, waktu itu gak seperti yang mama liat. Waktu itu Zidan yang cium aku, aku udah protes biar dilepasi tapi dianya terus maksa. Jadinya aku gak bisa berkutik. Dan lagi waktu itu aku itu gak pacaran sama Zidan. Tapi tiba - tiba Mama malah minta aku menikah sama dia. Jadi waktu itu Mama yang malah ngejerumusin aku." Dengan nada merajuk Siska kembali membela diri.


"Jadi sekarang kamu mau bilang, kalau kamu gak mau menikah sama Zidan dan kamu merasa tidak bahagia setelah menikah sama Zidan?." Bu Irna menarik kesimpulan.


"Ya..., bukannya, gitu." Siska merasa tercekat tak bisa membalas ucapan Bu Irna, karna apa yang dirasakan adalah sebuah kebahagiaan setelah menikah dengan Zidan.


"Kok bingung, bahagia atau enggak, jangan bikin Mama bingung." Dari ekspresi Siska, Bu Irna sebetulnya sudah tahu kalau sang anak sebetulnya bahagia.


"Ya pokoknya gak logis aja caranya. Gampang banget mutusin nikah cuma gara - gara kepergok ciuman tanpa mempertimbangkan banyak hal." Tapi Siska gak mau ngaku dan tetep kekeh sama pikirannya.


Bu Irna mengurai senyum. Memanglah anaknya ini benar - benar keras kepala. Dan gak mau kalah sama sekali kalau ngomong.


"Sis, Mama nikahin kamu sama Zidan itu karna Mama gak mau kamu sama Zidan jadi kebablasan."

__ADS_1


"Aku gak mungkin kebablasan Mam."


"Yakin banget kamu kalau gak akan kebablasan? Mama tahu kamu Siska, kamu itu sudah kadung cinta sama Zidan. Dan Mama lihat Zidan juga begitu. Kata kamu dulu kalian masih belum resmi balikan 'kan waktu kalian Mama pergokin ciuman? Lah itu belum balikan tapi kamu udah begitu."


"Ih Mama sok tahu deh, kata siapa dulu aku cinta sama Zidan?."


"Kata mata sama hati kamu."


"Ih, Kayak cenayang aja tahu perasaan orang dari mata sama hati."


"Ya emang kenyataannya begitu. Itu yang kamu rasain. Kamu cinta sama Zidan belum bisa move on sepenuhnya. Sampai - sampai habis putus sama Zidan pun gak pernah sekalipun mama tahu kamu deket sama cowok. Kamu cuma cerita lagi pacaran sama ini sama itu, tapi gak serius. Jadi udah jangan protes lagi soal kenapa Mama nikahin kamu sama Zidan cepet - cepet. Soalnya Mama yakin ini yang terbaik buat kalian demi menjaga diri kalian dari pergaulan bebas."


"Ih, Mama." Siska rasanya ingin protes, tapi gak tahu harus protes bagaimana lagi. Apa yang dikatakan Bu Irna ini benar adanya. Ibunya sendiri padahal bisa melihat bagaimana perasaannya tapi kenapa dulu dia tidak bisa?.


"Lagian 'kan sekarang kamu juga bahagiakan menikah sama Zidan? Jadi sekarang apa lagi masalahnya?."


"Iya." Meskipun berat Siska memilih jujur dengan wajah yang ogah - ogahan.


"Nah kan, gitu kok masih dipikir."


"Tahu ah!." Meskipun sedang merajuk tapi Siska kembali memeluk Bu Irna. Hingga keduanya pun kembali dalam posisi saling berpelukan.


"Terus Mam,"


"Hm, apa lagi?." Bu Irna memotong ucapan Siska, mengantisipasi pertanyaan anaknya yang mungkin aneh lagi.


"Ih, Mama belum juga tanya, tapi udah dipotong lagi."


"Ya takutnya kamu tanya yang aneh - aneh lagi."


Siska diam - diam mendengus. Tapi setelahnya ekspresinya berubah serius meskipun tak terlihat oleh Bu Irna.


"Mam, kalau masalah cucu. Mama udah pengen gak punya Cucu?."


Bu Irna tersenyum mendengar pertanyaan Siska. "Ya pengen dong, siapa yang gak pengen punya cucu saat anaknya udah nikah?."


"Mama kecewa gak sama aku karna sampai sekarang aku belum bisa kasih Mama cucu?."


"Kenapa harus kecewa? Kamu menikah juga masih dapat beberapa bulan."


"Ya siapa tahu kecewa. Udah nungguin gak datang - datang."


"Kamu kenapa? Udah pengen punya anak, atau Zidannya yang udah gak sabar pengen punya anak?." Bukannya jawab Bu Irna malah bertanya.


"Feby udah hamil 3 bulan." Dan bukannya menjawab Siska malah cerita Feby.


"Terus kamu juga pengen? Atau kamu merasa insecure sama Feby yang dikasih momongan dulu?."

__ADS_1


"Dua - duanya."


__ADS_2