
"Sebaiknya jangan berbicara denganku untuk saat ini," ucap Bridav
Bridav terus menoleh kearah Indi yang terus memperhatikannya.
"Kenapa, apa kau sedang sakit atau ...." ucap seorang wanita kemudian mengusap lembut keningnya
Bridav menatap lekat wanita itu.
Apa wanita itu tidak melihat jika Indi sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik?
Indi melongo beberapa saat, ia benar-benar tak mengerti kenapa perasaannya benar-benar tidak suka melihat wanita lain memperhatikan Bridav.
Kenapa aku begitu marah?, apa aku benar-benar menyukainya??
Melihat wajah Bridav yang terus menatapnya dengan rasa bersalah membuat Indi kemudian memutuskan untuk membantu pemuda itu.
Ia segera menghampirinya dan berdiri ditengah - tengah Aqila dan Bridav.
"Bukankah aku bilang dia sedang tidak enak badan, jadi tolong jangan ganggu dia," ujar Indi kemudian menggandeng lengan Bridav dan mengajaknya pergi.
Pria itu segera berlalu pergi meninggalkan Aqila membuat gadis itu terlihat sedih bercampur kesal.
Aqila yang merasa kesal mengetahui pria yang disukainya tidak memedulikannya, ia hampir bertengkar dengan Indi karena sudah berusaha membawa Bridav pergi. Meskipun ia tahu Pria itu juga tak menyukainya setidaknya ia ingin Bridav berpamitan kepadanya. Namun sikap dingin pemuda itu membuat Aqila semakin penasaran dengannya
Karena kesal dengan sikap Indi yang dinilai terlalu protektif terhadap Bridav membuat Aqila segera memanggil pengawal terlatihnya.
Ia memerintahkan kepada pengawal pribadinya itu untuk memberi pelajaran kepada Indi yang sudah mempermalukannya.
Seorang pria botak dengan tubuh sangat besar datang menghadang Indira. Ia menyeringai saat melihat sosok Indi yang kecil dan lemah.
Mengetahui Pengawal itu akan menyerangnya membuat Indi segera memasang kuda-kuda pertahanan.
Pria itu kemudian berusaha mendorong Indi agar menjauh dari Bridav. Pria itu begitu terkejut saat merasakan kekuatan yang besar dari seorang gadis mungil.
Indi hanya diam saat pria itu mengerahkan semua kekuatannya untuk mendorongnya. Sayangnya pertahanan Indi begitu kokoh sehingga ia tak bergeming sedikitpun.
Tentu saja hal itu membuat sang bodyguard marah. Ia meras dipermalukan oleh seorang gadis lemah hingga kembali menyerangnya.
Kali ini Indi hanya berusaha menangkis dan mengelak serangan dari pria itu.
Melihat Indi terus diserang oleh pengawal Aqila membuat tangan Bridav segera bersiap melumpuhkan pengawal itu. namun siapa sangka gerakan Indi yang begitu lincah mampu menangkis semua serangan pria tersebut.
Bridav di buat tak berdaya karena Indira yang lebih cepat darinya.
__ADS_1
Sang bodyguard terlihat kelelahan karena semua serangannya dengan mudah dipatahkan oleh Indira.
Indi kemudian maju mendekatinya, wanita itu menendang sang pengawal hingga ia langsung roboh hanya dengan satu kali tendangan.
"Ish, memalukan sekali, bagaimana ia bisa kalah dari gadis lemah itu!" gerutu Aqila
Aqila yang kesal sekaligus malu karena sang bodyguard telah di kalahkan oleh Indira segera menghampiri pria itu.
Aqila memarahi sang pengawal yang tidak berguna.
"Melawan gadis lemah saja tidak mampu, bagaimana kau bisa melindungi ku. Apa aku harus menghajarnya sendiri!" celetuk Aqila
Aqila lantas meminta pengawalnya untuk menghancurkan wajah protagonis wanita.
"Pokoknya aku gak mau tahu, kamu harus menghajar wajah sok cantiknya itu," imbuhnya
Pria itu kembali menghampiri Indi yang tampak tenang.
Indi menyunggingkan senyumnya saat melihat pria itu mengeratkan tangannya dan menatap nanar kearahnya.
Aqila memperhatikannya mereka dari kejauhan. Ia berharap kali ini sang bodyguard berhasil membuat Indi babak belur.
Ia begitu ingin mempermalukan Indi saat pengawalnya berhasil mengalahkannya.
Semua orang yang ada di pantai seketika memperhatikan keduanya.
Mereka mulai berbisik-bisik saat Bodyguard Aqila mulai menyerang Indira.
Banyak dari mereka yang mendukung Indira dan berharap wanita itu bisa mengalahkan pria botak itu.
Mereka yang sudah tahu kekuatan Indira begitu yakin Indi akan mengalahkan sang bodyguard hanya dengan waktu singkat.
Tak sedikit dari mereka yang mulai bertaruh untuk pertarungan keduanya.
Suasana Pantai menjadi riuh saat orang-orang mulai bersorak dan memanggil nama Indira untuk menyemangatinya.
"Indi, Indi, Indi!!"
Aqila yang melihat itu merasa semakin kesal, " Bagaimana mungkin mereka bisa mengenalnya, apa dia orang yang sangat terkenal hingga membuat banyak orang begitu mendukungnya!"
Aqila segera mengambil ponselnya dan mencari tahu tentang Indira dari ponsel pintarnya.
Matanya seketika membulat saat melihat sebuah adegan dimana Indi membawa 50 kg pedang dan menggerakkan pedangnya dengan begitu lincah.
__ADS_1
Ia semakin terperanjat saat melihat Indi yang sedang marah kemudian membelah semangka dengan menutup matanya.
*Buuughhh!!!
Saat gadis itu mengalihkan pandangannya kearah Indira, ia melihat sang bodyguardnya sudah terkapar di lantai.
"Tidak mungkin, bagaimana ia bisa mengalahkannya??" ucap Aqila begitu ketakutan
Indi menghampiri sang bodyguard dan menginjak kepalanya.
"Apa kau masih ingin melawanku lagi?" tanya Indi dengan wajah bengisnya membuat pria itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak berani melawan mu lagi suhu!" seru pria itu menelungkupkan tangannya memohon ampun
Melihat lawannya sudah tak berdaya dan menyerah membuat Indi langsung meninggalkannya.
"Yeay!!" semua orang yang menjagokan Indi langsung bersorak gembira saat mengetahui kemenangan gadis itu.
Aqila yang merasa malu Kate di pecundangi oleh Indi segera berlari menghampiri sang bodyguard. Setelah itu Ia membawa pengawalnya untuk meminta penjelasan.
"Bagaimana kau bisa kalah dari gadis itu!" tanya Aqila
"Dia itu bukan gadis biasa nona, aku yakin dia adalah seorang master beladiri yang sedang menyamar," terang sang bodyguard
"Yang benar saja, dari tubuhnya saja tidak menyakinkan begitu, bagaimana aku bisa percaya,"
"Kalau kau memperhatikan gerakannya, dia begitu gesit dan lincah. Bahkan satupun dari serangan ku yang mampu melukainya, ia begitu pandai mengelak dan menyerang balik dengan begitu cepat."
"Terserah padamu, yang jelas aku harus membuktikannya sendiri, " Aqila terus memperhatikan Indira yang sedang menikmati camilannya sambil memberikan klarifikasi kepada pihak keamanan pantai.
Kebetulan pada saat itu, Bridav sedang menjauh untuk mengangkat telepon.
Indi berkata pengawal Aqila-lah yang menyerang duluan, pihak sekuriti mempercayai keterangan Indi apalagi saat mendengar kesaksian para pengunjung lain yang membelanya.
Melihat Aqila menghampiri Indi membuat, Sang pengawal mendampinginya. Ia mengeluarkan pisau, namun pria tersebut tidak dapat menemukannya. Pria itu begitu terkejut saat melihat Indi menggenggam pisaunnya.
Rupanya Indi telah merebut pisaunya duluan. Pengawal itu langsung berkata ia tidak dapat menyinggung Indira dan tidak bisa membantu Aqila kali ini.
Ia juga berkata ingin menyembah Indira sebagai gurunya.
"Sebaiknya nona jangan cari gara-gara jika tak mau terluka," ucap pria itu
Indira yang mendengar ucapan sang bodyguard pun meminta uang pendaftaran pada sang pengawal dan membawanya ke sebuah ruangan.
__ADS_1
Wanita itu meminta sang pengawal untuk menutup pintu, jendela dan gorden.