
"Baiklah karena kau sedang sibuk, sepertinya aku perlu mentraktir mu dengan bogem mentah agar kau tidak sibuk lagi!"
Pria besar itu terperanjat, jelas-jelas ia masuk seorang diri, namun ia mendengar seseorang mengajaknya berbicara.
"Sepertinya aku , bagaimana mungkin aku mendengar seseorang berbicara padaku??" tukas pria itu
Dalam waktu kurang dari satu menit, pukulan Indi segera melesat menghujam tubuh lelaki botak itu seperti tebasan air hujan..
*Bruugghhh!!!
Seketika pria itu tumbang dan jatuh ke lantai. Indi yang melihat lelaki itu roboh segera mendekati pria itu dan menarik kerah bajunya.
"Katakan padaku siapa yang menyuruh mu masuk kedalam kamarku!' tanya Indi dengan raut wajah kesalnya
Pria itu membelalak saat melihat sosok Indi dengan wajah bengis menatapnya tajam.
Meskipun rasa takut mulai melanda dalam diri pria itu, namun ia hanya diam tanpa menghiraukan ucapan Indira.
Melihat lelaki itu tak merespon ucapnya, Indi kembali melepaskan pukulannya ke wajah Lelaki itu hingga ia mencoba membuka mulutnya.
Saat ia hendak mengatakan sesuatu tiba-tiba pria itu seperti menahan sesuatu hingga akhirnya mengurungkan niatnya, merasa dipermainkan oleh lelaki itu kembali menghajarnya.
"Ampun!" seru lelaki itu meminta Indi berhenti memukulinya
Suara teriakan pria itu membuat beberapa orang terbangun dan mendatangi kamar Indi.
Melihat banyak orang yang datang mengerumuninya pria itu semakin ketakutan
"Baiklah aku akan katakan siapa yang sudah menyuruhku tapi berhentilah memukuliku!" seru lelaki itu
Namun Indi tak menghiraukan ucapannya dan terus memukulinya.
"Arrghhh, sakit tahu!" seru Lelaki itu terus mengerang kesakitan
Dikarenakan suara raungan pria besar ini, banyak orang di tim kru yang terbangun. Kini semakin banyak orang-orang yang berdatangan ke kamar Indi.
Sutradara dan juga Bridav berlari ke depan pintu kamar Indira. Wanita itu berkata bahwa orang ini mengendap-endap di kamarnya tengah malam, entah apa yang ingin dilakukannya. Sutradara bertanya pada pria itu apakah ia seorang paparazzi, pria itu berkata ia adalah seorang pembunuh.
__ADS_1
Indi tersenyum sinis saat mendengar jika lelaki itu adalah seorang pembunuh.
"Yang benar saja mana ada pembunuh bayaran sebodoh dirimu. Kau bahkan tak memiliki keahlian beladiri yang mumpuni, bagaimana aku bisa percaya!" celetuk Indira
Arnold kembali menginterogasi lelaki itu. Ia lantas bertanya padanya siapa yang mengutusnya kemari. Pria besar itu tahu ia sudah tidak bisa mengelak lagi, ia pun menjawab ia menerima pekerjaan ini dari internet. Karena ia berjarak dekat dengan lokasi misi, ia pun menerima tugas ini. Ini adalah kali pertamanya menjadi pembunuh, sebelumnya ia adalah pembunuh babi.
Tentu saja mendengar ucapan pria itu semua orang langsung menertawakannya.
Berbeda dengan yang lainnya yang langsung percaya dengan lelaki itu, Indi tak langsung mempercayai ucapan pria itu.
Ia kembali berniat untuk menginterogasinya agar ia segera mengaku siapa yang menyuruhnya memasuki kamarnya.
Indi terlihat mengerutkan alisnya dan bertanya siapa yang mengirim misi ini, ia meminta pria itu memperlihatkan website misi tersebut.
Pria besar itu mengeluarkan ponselnya, kembali Indi mendaratkan 1 tinjuan dan menghancurkan ponsel itu.
Pria itu begitu kesal saat mendapati ponselnya jatuh dan pecah.
"Kenapa kau menghancurkan ponselku!" teriak lelaki itu dengan wajah kesal
Indi kembali menarik kerah baju pria itu, "Kalau kau tidak ingin bernasib sama dengan ponsel itu maka katakanlah siapa yang sudah menyuruhmu, atau aku akan merontokkan semua gigimu!" ancam Indira
Dasar bodoh, bagaimana bisa ia mengirimkan seorang jagal bukannya seorang pembunuh bayaran?.
Indi membawa ponsel yang rusak itu ke kamarnya dan mengeluarkan laptop pribadinya. Ia mencoba mencari tahu sendiri kebenaran yang disembunyikan oleh pria itu.
Indi kemudian menyambungkan kabel data dari ponsel itu ke laptopnya untuk mengimpor data dari ponsel tersebut.
Setelah selesai Ia pun mengembalikan ponsel itu pada sang pria besar. Jika melaporkan hal ini pada polisi, mereka butuh waktu 2 jam hingga polisi tiba.
Karena tidak sabar Indi memilih menyelesaikan kasus ini sendiri. Alhasil ia tidak melaporkan hal ini pada polisi, ia meminta orang untuk mengurung pria besar ini.
"Lebih baik aku menyelesaikan masalah ini sendiri, aku yakin bisa mengungkapkan siapa dalang dari kasus ini," ujar Indi
Ia kemudian kembali ke kamarnya.
Indi kembali mendengus kesal saat mendapati tempat tidurnya rusak karena pria itu.
__ADS_1
"Aish sialan, ternyata bedebag itu merusak tempat tidurku!" umpat Indira
Mendengar Indi terus mengumpat di kamarnya, assisten sutradara segera menghampiri gadis itu dan berkata bahwa masih ada sebuah ranjang lagi di kamarnya.
"Kalau kau membutuhkan ranjang baru ambilah di kamarku," ucapnya lirih.
Belum selesai pria itu menyelesaikan ucapannya, Indira langsung berlari ke kamar Bridav.
Ia meminta pemuda itu untuk membantunya mencari tahu informasi tentang pria itu dari data yang sudah ia ambil dari ponselnya.
Melihat Indi meminta bantuan kepada Bridav membuat Rein menggertakkan giginya.
Ada rasa iri dan cemburu saat melihat gadis itu begitu dekat dengannya.
Sebenarnya apa kekurangan ku jika dibandingkan dengan Bridav?, kami sama-sama tampan, bahkan kami juga memiliki tubuh yang sama atletis, tapi kenapa ia bahkan menolak ku saat memintanya duduk di kakinya. Tapi ia malah langsung menuruti perkataan sepupunya yang memintanya untuk bermalam di kamarnya.
Ia terus mengumpat Indi di dalam kamarnya, sesekali ia keluar untuk melihat apa Indi keluar dari kamar itu atau tetap bermalam bersamanya.
Rasanya seperti kepalanya hendak meledak saat mendapati kenyataan jika Indi benar-benar tak keluar dari kamar Bridav.
Rasanya Rein ingin sekali mendobrak pintu kamar itu dan melihat apa yang sedang mereka lakukan.
Kenapa aku jadi seperti ini, apa aku sudah gila karena gadis itu??
Rein benar-benar tidak menyangka jika penolakan Indi akan membuatnya menjadi tergila-gila dengan wanita itu.
Ia segera berlari masuk kedalam kamarnya saat mendengar pintu kamar Bridav di buka.
Karena penasaran ia mengintip dari balik tirai kamarnya untuk melihat siapa yang keluar dari kamar itu.
Tak berapa lama, Indira segera keluar dari kamar protagonis pria dengan menggotong sebuah kasur.
Rein membelakakan matanya saat melihat Indi keluar dari kamar itu membawa sebuah kasur.
Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya hingga berkali-kali mengucek matanya.
Yang benar saja, apa dia juga menolaknya??
__ADS_1
Seketika Rein tertawa terbahak-bahak membayangkan Indi menolak Bridav dab lebih memilih meninggalkannya sambil membawa kasur miliknya.