
Hujan deras turun mengguyur kota Jakarta. Rico dan Retno yang masih dalam perjalanan menuju ke sebuah taman kota buru-buru berlari untuk berteduh.
Retno kemudian mengeluarkan sebuah payung kecil dan memberikan kepada Rico untuk membawanya.
Karena payung mereka kecil, Rico sengaja mendekatkan dirinya dengan Retno. Keduanya tersenyum simpul saat beradu pandang. Rico bahkan tak canggung untuk menggandeng lengan Retno. Keduanya tampak terlihat begitu romantis.
Rico sengaja mencondongkan payungnya kearah Retno karena takut gadis itu akan kebasahan.
Gadis itu tersipu-sipu saat melihat Rico begitu perhatian padanya.
Tiba-tiba angin berhembus kencang membuat kain payung tersebut terbang ditiup angin. Retno pun basah bagaikan anak ayam yang kehujanan.
Mereka berlari hingga ke sebuah cafe. Rico segera membuka jacketnya dan memakaikannya kepada Retno, membuat gadis itu semakin terpesona dibuatnya.
Saat mereka hendak mencari meja, keduanya melihat Hasson.
Rico kemudian mengajak pasangannya untuk bergabung dengan Hasson.
"Apa kalian ada di sini karena terjebak hujan juga?" tanya Rico
"Tidak juga, kami memang sengaja memilih kafe sebagai tempat kita berkencan," jawab Hasson
Lelaki itu kemudian mempersilakan Rico dan Retno untuk bergabung dengannya.
Sementara itu Indira yang baru selesai makan terpaksa berdiri di depan kedai menunggu hujan Reda.
Melihat Indi yang gelisah menunggu hujan membuat Bridav mengajak gadis itu masuk kembali ke kedai.
"Sebaiknya kita masuk saja, lagipula aku yakin hujan seperti ini akan lama redanya," ujar Bridav
"Kalau kita hanya menunggu hujan, maka kita tidak bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan dalam challenge ini,"
"Lalu apa yang kau pikirkan?" tanya Bridav
Indi tersenyum saat melihat pasangan muda-mudi memakai payung menerobos derasnya hujan.
__ADS_1
Wanita itu kemudian melirik kearah gadis kecil yang mulai kedinginan.
Ia kemudian melepaskan cardigan yang dipakainya dan memakaikannya kepada gadis kecil itu.
"Aku mau pulang," ucap gadis kecil itu gusar
Ia terus teringat kucing peliharaannya yang masih ada di halaman rumahnya.
"Tunggu sebentar ya nak, kita tunggu hujan reda dulu," jawab sang Ibu
"Kasian Meong kalau kita tidak segera pulang Bu," jawab gadis itu
Ia kemudian mendekati Indira, "Kak Indi, aku menganggap mu sebagai seorang Wonder woman yang bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan siapapun yang membutuhkan pertolongan. Apa kau bisa menolong ku juga?" tanya gadis kecil itu
"Tentu saja, memangnya kamu mau aku berbuat apa?" tantang Indira
"Antar aku pulang," jawab gadis itu membuat Indi seketika terkekeh mendengarnya
"Hanya itu saja?"
"Ok, tunggu sebentar," jawab Indira
Indi segera berlari ke depan kedai kemudian mengambil sebuah payung tenda untuk melindungi mereka berempat dari hujan yang mengguyur.
"Dengan payung besar ini aku yakin kita semua tidak akan kehujanan," ucap Indi mengajak mereka segera bergabung dengannya
Ketiganya seketika tercengang mendengar ucapan Indira.
Tidak lama terdengar suara pemilik kedai berteriak memaki Indira yang sudah mengambil payung besar kedainya.
"Ayo cepat!" seru Indi
Wanita itu segera menarik lengan Bridav agar segera mendekatinya
Gadis kecil itupun segera mengajak ibunya untuk bergabung dengan Indira.
__ADS_1
Ketiganya kemudian berlari meninggalkan kejaran sang pemilik kedai.
Setelah berlarian cukup jauh mereka tiba di tepat Bridav memarkirkan mobilnya. Stelan ia mengantar gadis kecil dan ibunya pulang.
Gadis itu begitu senang saat bisa pulang tepat waktu dan berhasil memindahkan kucing kesayangannya sebelum hujan turun.
Dalam perjalanan pulang, Bridav mengatakan bahwa hubungannya dan ketua tim B hanya sebatas teman.
Indi salah paham dan mengira bahwa Bridav patah hati. Dan berusaha menghiburnya. Tentu saja Bridav menekankan bahwa dia tidak sedang patah hati.
Tengah malam, Indi semakin curiga saat melihat pasangannya tersebut merokok. Bridav yang tak pernah merokok membuat Indi mengira suasana hati pria tersebut sedang buruk.
"Kasian sekali, ia pasti sangat sedih,"
Indi kemudian mencari tahu bagaimana cara menghibur pria yang patah hati menggunakan ponselnya.
Wanita itu pun menuliskan sebuah puisi untuknya dan melemparkannya pada pria itu.
Indi mengintip dari balik jendela. Ia ingin memastikan apakah Bridav membaca puisinya atau tidak.
Ia juga ingin memastikan bagaimana perasaan pria itu setelah membaca puisinya.
"Apa dia akan baik-baik saja, atau semakin sedih?"
Indi berharap pria itu akan terhibur dan melupakan kesedihannya setelah membaca puisi darinya.
Sementara itu Bridav terlihat senyam-senyum sendiri saat membaca puisi dari Indi.
Ia tak mengira jika wanita itu bisa juga membuat puisi untuk menghiburnya.
"Kamu memang benar-benar multi talenta Indi, meksipun kadang kamu terlihat konyol dan suka berbuat sesuatu semaunya sendiri namun tetap saja kau adalah seorang yang peduli dengan orang lain," ucap Bridav
Pria itu kemudian menyimpan puisi itu dalam laci meja kamarnya..
Meskipun Indi salah mengira jika dirinya sedang patah hati karena putus cinta, namun Bridav tak mau mempermasalahkannya.
__ADS_1
Baginya perhatian Indi kepada itu sudah lebih dari cukup untuknya.