
Pagi yang cerah Sutradara kemudian meminta semua orang untuk bersiap melakukan syuting di gunung. Hari ini ada beberapa syuting adegan Action yang harus dilakukan oleh Indira dan beberapa pemain utama dalam drama tersebut.
Kali ini Indi akan melakukan syuting adegan actio di gunung yang mana ia akan menyelamatkan sang jenderal. Indi menendang sebuah pintu dan sang Jenderal mengira jika ia adalah musuhnya yang datang untuk menyerangnya hingga ia langsung menghajarnya.
Namun saat bertarung Indi tiba-tiba terpeleset hingga ia jatuh dalam pelukan Sang Jenderal.
Karena syuting kali ini banyak melakukan adegan action sutradara sengaja mendatangkan Bridav sebagai pembimbing bela diri.
Ia bertugas untuk mengarahkan pemain untuk melakukan adegan action yang sesuai dengan script. Ia juga mengoreksi apa gerakan beladiri para artis sudah sesuai atau belum.
Arnold kemudian memberikan script naskah drama syuting hari ini. Ia juga memintanya untuk mengoreksi adegan beladiri pada scriptnya jika ada yang tidak sesuai.
Saat Bridav melihat adegan Indi jatuh dalam pelukan Rein, ia merasa tak rela dan hingga perlu untuk mengubah adegan dalam scene tersebut.
Saat Arnold meminta saran untuk beladiri dalam adegan yang baru saja diperagakan oleh Indi dan Rein, Bridav langsung menggelengkan kepalanya.
Lelaki itu kemudian menjelaskan jika adegan tersebut perlu diubah karena terlalu berlebihan.
"Tidak seharusnya protagonis wanita dalam scene itu jatuh dalam pelukan protagonis pria, nanti penonton akan merasa adegan ini terlalu lebay. Lebih baik kita rubah adegannya agar protagonis wanita terlihat dingin dan elegan seperti karakternya dalam film ini," jawab Bridav
Mendengar Bridav akan mengubah adegan tersebut Rein langsung menyerukan protes padanya.
Menurutnya adegan tersebut sudah sesuai dan bisa membangun chemistry antara pemeran utama pria dengan wanita, dan juga adegan itu sebagai awal mula benih-benih cinta tumbuh diantara kedua pemeran utama.
Rein terus bersikeras agar adegan itu tidak diubah apalagi dihapus. Tentu saja hal itu membuat ia dan Bridav terus berdebat. Arnold sedikit pusing mendengar kedua pria itu terus beradu argument.
Sementara itu Indi hanya berdiri disamping mereka melihat keduanya berdebat tanpa ikut campur karena ia sendiri tak begitu mengerti.
Ia kemudian mengambil sebuah apel yang tergeletak di sampingnya dan memakannya.
Suara nyaring Indi mengigit buah apel membuat perhatian semua orang tertuju kepadanya.
Semua orang menatap Indira dengan tatapan penuh tanda tanya.
Bukan hanya para crew saja yang kini menatapnya tapi juga Bridav dan Rein.
Menyadari kedua pria itu terus menatapnya, membuat Indi langsung bertanya kepada mereka dengan hati-hati.
"Apa kalian mau apel juga?" tanyanya menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Indira membuat kedua pria itu langsung tertawa. Bridav bertanya padanya apa apelnya masih ada??.
Indi langsung menggelengkan kepalanya, "Habis," .
Arnold yang sedang pusing karena alur drama pun langsung membahas ucapan Indi dengan melemparkan balasan sinis kepada Indira.
"Kalau sudah habis kenapa menawari mereka, php aja!" celetuk Arnold dengan nada kesal.
Bridav langsung menanggapi kemarahan Arnold, "Jangan terlalu galak kepadanya, ia masih terlalu muda untuk diajak serius," jawab Bridav
Arnold yang masih kesal seketika tertawa mendengar ucapan Bridav yang menyebutkan jika Indi masih kecil.
"Bagaimana mungkin anak kecil bisa sepandai dia, entah pria sial mana yang akan menjadi pasangan hidupnya kelak, semoga ia sabar menghadapi sikap polos sekaligus konyol Indira,"
Selanjutnya Bridav kembali mengajak Arnold untuk mendiskusikan kembali naskah drama.
Arnold pun setuju dan mengajaknya berdiskusi di tempat yang nyaman.
Akhirnya Arnold sepakat mengubah adegan film yang dianggap berlebihan. Ia mengatakan kepada Bridav bahwa adegan yang sudah diambil akan ia hapus dan buang.
Bridav merasa lega mendengarnya, kini ia tak perlu khawatir Indi akan melakukan adegan mesra dengan Rein lagi.
Saat Indira sedang menikmati makan siangnya ia terkejut ketika melihat Bridav masih ada di tempat itu.
Ia kemudian menghampirinya dan bertanya padanya, "Apa kau sengaja tinggal untuk makan siang?" tanya Indi
Bridav kembali tertawa mendengar pertanyaan polos dari Indi.
Ia menganggukkan kepalanya dan menjawab Iya, meskipun sebenarnya ia berada di tempat itu untuk merubah adegan dalam naskah drama.
Susan yang masih menyukai Bridav segera menghampiri pemuda itu saat tahu pemuda itu belum pulang.
Ia terus menatap lekat kearah Bridav dengan tatapan penuh kekaguman.
Rein yang menyadari jika Susan menyukai Bridav sengaja memprovokasi gadis itu untuk mendekati Bridav lebih agresif lagi. Ia bahkan sengaja menyuruh Susan untuk mewaspadai Indira.
"Kau tahu kan kalau Indi sebenarnya menyukai Bridav, aku harap kau mewaspadai Indi dan bisa bersaing dengannya jika kau benar-benar ingin merebut Bridav darinya," bisik Rein
Susan yang mulai menjaga semua tindakannya hanya menanggapi sinis ucapan Rein.
__ADS_1
"Menyukai seseorang itu sangat melelahkan, makanya aku lebih memilih menyukai 10 orang daripada mencinta satu orang," jawab Susan
Saat yang bersamaan ponsel Rein bergetar, ia kemudian melihat siapa yang menghubunginya. Saat Ia melihat sekilas nomor telepon orang yang menghubunginya ia segera mengambil nadi kotaknya dan menjauh dari Susan.
Seusai makan Indi kembali ke kamarnya karena syuting juga sudah selesai.
Malam semakin larut, namun Indi belum bisa memejamkan matanya.
Wanita itu kemudian memilih membaca buku agar ia bisa cepat mengantuk. Ketika matanya mulai mengantuk, sayup-sayup ia mendengar suara derap langkah kaki menuju ke kamarnya.
Wanita itu segera bersiaga didepan pintu, ia sengaja membuka kunci pintu kamarnya untuk menjebak si pelaku.
Indi segera merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya setelah membuka slot pintu kamarnya.
Sementara itu, seorang pria botak terlihat mengendap-endap didepan pintu kamar Indira.
Ia perlahan membuka pintu kamar tersebut. Senyumnya mengembang saat mengetahui pintu kamar itu tak terkunci.
Ia sengaja membuka pintu kamar itu dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Indira.
Ia kemudian masuk kedalam dengan langkah jinjit agar tak menimbulkan bunyi yang bisa terdengar oleh Indi.
Sementara itu Indi mulai waspada dan sudah memasang kuda-kuda. Ia sudah bersiap menyerang jika lelaki itu menyentuhnya.
Pria itu kemudian mulai mengendap-endap mendekati tempat tidur Indira. Ia mulai meraba kasur dimana Indi terbaring.
Indi segera maju dan menepuknya, namun pria kepala botak itu mengibaskan tangannya dan berkata, "jangan ganggu aku, aku sedang sibuk!" pekiknya dengan suara lantang
"Kau pikir siapa dirimu, berani mengusik jam istirahat ku!" sahut Indira
Lelaki itu tak menghiraukannya membuat Indira semakin geram.
"Baiklah karena kau sedang sibuk, sepertinya aku perlu mentraktir mu dengan bogem mentah agar kau tidak sibuk lagi!"
Seketika sebuah tinju keras mendarat di wajah lelaki itu.
*Buughhh!!!
.
__ADS_1