
Aqila merengek ingin ke rumah sakit. Sutradara berkata mungkin Indira dapat menyembuhkannya. Namun Aqila menolak. Wanita itu lebih memilih untuk berobat ke rumah sakit, daripada harus meminta bantuan dari Indira.
Melihat bekas luka di wajah Aqila semakin banyak membuat Reynold akhirnya membawa gadis itu ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, dokter memberitahunya bahwa wajahnya sudah tidak dapat disembuhkan. Manajer Aqila meminta pertanggungjawaban dari sutradara. Reynold kemudian mengajak Aqila menemui Indira.
Ia ingin kembali dan bertanya kepada gadis itu apakah Indi memiliki cara untuk menumbuhkannya atau tidak.
Setibanya di depan kamar Indira, Aqila langsung bersembunyi di belakang Reynold. Wanita itu tidak mau Indi sampai melihat wajahnya yang terlihat sangat buruk.
"Apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Indira
Reynold kemudian menarik Aqila dan memperlihatkan wajah gadis itu kepada Indira.
"Kenapa dengan wajahnya?" tanya Indi mengerutkan keningnya
"Sepertinya dia alergi?" jawab Reynold
"Tidak mungkin, aku yakin itu bukan alergi. Sebaiknya cepat bawa ia ke rumah sakit sebelum semakin parah," jawab Indi
"Kami sudah membawanya ke rumah sakit tapi mereka bilang tidak bisa mengobatinya, itulah kenapa aku membawa dia menemui mu" jawab Reynold
"Kenapa membawanya padaku, memangnya aku dokter?" jawab Indira
"Bukankah kau mengetahui obat-obatan herbal, aku yakin kau pasti tahu bagaimana cara menyembuhkan wajah Aqila?" tanya Reynold
Indi kemudian memeriksa wajah Aqila yang dipenuhi noda hitam.
"Hmm, bagaimana bisa artis secantik dirimu bisa memiliki noda hitam di wajah anda," jawab Indira
"Entahlah aku juga bingung. Jadi bagaimana apa kau bisa mengobatinya?" tanya Rey
"Hmm, aku akan mencoba membuatkan ramuan untuknya," jawab Indi
Akan tetapi pada saat bersamaan, gadis utu mengetahui oleh-oleh yang diberikan oleh Hasson telah raib dilahap habis oleh muridnya Lee.
Indi segera mencari pemuda itu untuk memberinya pelajaran.
Hasson yang mengetahui Indi begitu kesal karena kehilangan kuenya berusaha menghentikan gadis itu. Ia berkata masih memiliki kue itu. Ia begitu bangga saat tahu Indi begitu menginginkan kue pemberiannya. Ia bahkan rela untuk memberikan oleh-oleh yang akan diberikan kepada Bridav kepada Indira.
"Lalu bagaimana dengan Bridav, apa dia akan mendapatkan miliknya?" tanya Indi
"Tentu saja, aku akan memberikan ia oleh-oleh yang sama nanti malam," jawab Hasson
Mendengar jawaban Hasson Indi pun akhirnya mau menerima kue pemberian pria itu.
Namun siapa sangka jika Bridav yang tidak sengaja melihat keduanya terlihat begitu marah dan langsung meninggalkan tempat itu begitu Indi menyadari kehadirannya.
"Bridav!" seru gadis itu berusaha menyapanya
Namun Bridav tak menghiraukannya, ia tetap melangkah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Wah sepertinya ia sangat marah padaku?" ucap Indi merasa bersalah
Indi berlari mengejar pemuda itu.
*Grep!!
Indi langsung menarik pundak pria itu dan membalikkan badannya.
"Apa kau sudah mendapatkan milikmu?" tanya Indi
Pria itu tidak meladeni ucapan Indi dan langsung kembali ke kamar.
Indi terus mengekorinya dan bertanya, " Katakan padaku siapa yang sudah mengganggu mu sehingga membuat mu begitu marah?" tanya Indi
Bridav tetap diam dan cuek.
Tidak lama terdengar suara Reynold memanggil Indira.
Gadis itu segera bergegas keluar untuk menemui Reynold
"Bagaimana dengan obatnya, apa kau sudah membuatnya?" tanya Reynold begitu antusias
"Belum?" jawab Indi menyunggingkan senyumnya
"Astaga, cepatlah Indi buat obat itu. Apa kau tidak kasian dengan Aqila yang sudah kesakitan dan gatal-gatal?"
"Enggak," jawab Indi membuat Reynold begitu kesal padanya
Keduanya begitu terkejut saat mendengar Bridav membanting pintu kamarnya.
"Apa dia sedang marah?" tanya Reynold
"Begitulah, sebenarnya aku tadi sedang berusaha menenangkannya," jawab Indi
"Memangnya dia marah kenapa?" tanya Reynold
"Entahlah, mungkin karena ia belum mendapatkan oleh-oleh dari Hasson?" jawan Indi membuat Bridav kembali membanting pintu kamarnya untuk kedua kalinya
Reynold langsung menjerit kecil saat mendengar suara pintu kamar Bridav yang kembali di banting.
"Sepertinya bukan karena itu Ndi," jawab Reynold memegangi pundak gadis itu
"Lalu kalau bukan karena itu, apa dong yang membuat dia begitu marah," tanya Indi begitu polos
Seketika Reynold langsung memukul-mukul dadanya, membuat Indi mencoba menebak apa yang terjadi dengan Bridav.
"Apa dia sakit jantung?" jawab Indi
"Bukan, dikit lagi...ayo tebak!" seru Reynold kembali memukul-mukul dadanya dengan raut wajah sedih
__ADS_1
"Memang gak mungkin sih kalau Bridav sakit jantung, lagian dia kan rajin olah raga makan-makanan sehat, istirahat cukup, jadi gak mungkin. Dekat dengan jantung...apa dia sakit hati?" jawab Indi
"Anda benar!" seru Reynold langsung mengacungkan jempolnya
"Kasian sekali, dia pasti sangat kesakitan. Kalau begitu aku harus membuatkan obat untuknya," ucap Indi
"Astoge Indi kamu itu benar-benar polos plus nyebelin!" ucap Reynold yang gemas melihat sikap polos Indira.
Pria itu kemudian mengikuti Indi menuju ke kamarnya.
"Tolong bilang kepada Bridav agar ia bertahan sebentar, aku pastikan akan membuatkan obat herbal untuk menyembuhkan sakitnya," ucap Indi
"Lalu bagaimana dengan Aqila?"
"Aku akan membuatkannya juga dengan satu syarat?" jawab Indi
"Spa syaratnya?"
"Bilang kepada gadis itu jangan menggoda Bridav dan kamu harus memastikan agar Bridav tidak marah padaku karena sudah menerima oleh-oleh dari Hasson yang seharusnya diberikan untuknya," bisik Indi
"Astaghfirullah, jadi itu penyebabnya. Baiklah kalau begitu deal!" jawab Reynold kemudian menjabat tangan Indi
Reynold segera meninggalkan kamar Indi menuju kemar Bridav. Sedangkan Indi segera menuju ke dapur untuk membuatkan obat herbal untuk Bridav dan Aqila.
Saat ia di dapur Hasson menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria itu
"Aku akan membuatkan obat untuk Bridav dan Aqila,"
"Apa Aqila sakit?" tanya Hasson penasaran
"Dia sakit parah, sampai seluruh wajahnya dipenuhi bintik-bintik hitam," jawab Indi membuat Hasson semakin panik
"Lalu kenapa mereka tidak membawanya ke rumah sakit?"
"Kata Reynold, dia sudah memeriksakan penyakit Aqila ke rumah sakit. Tapi dokter menolaknya karena penyakit itu tidak bisa di sembuhkan," bisik Indi membuat Hasson semakin ketakutan dengan Aqilla
Mendengar ucapan Indi yang berusaha membuat Hasson ill feel dengannya membuat Aqila kesal. Gadis itu kemudian sengaja menyiramkan minyak ke lantai saat melihat Indi akan keluar dari dapur.
Namun dengan kelincahan Indi membuat gadis itu selamat dan tak terjatuh meskipun berjalan di atas lantai yang licin. Melihat Indi berhasil selamat dari jebakannya membuat Aqila kesal dan segera bergegas masuk ke kamar tanpa mengingat minyak yang sudah ia tumpahkan di lantai.
Gadis itu tiba-tiba terpeleset dan jatuh telentang di lantai.
*Bughh,!!
"Aww!!" Melihat Aqila jatuh membuat Hasson bergegas menolongnya, namun pemuda itu juga jatuh terpeleset hingga tak bisa menolongnya.
Sementara itu Indi sengaja mengirimkan pesan kepada Bridav. Ia sengaja mengirimkan candaan garing yang meminta pria itu untuk meladeninya dan tidak marah lagi padanya.
__ADS_1
"Jangan marah lagi please," ucap Indi dalam pesannya dengan emot memohon