
Indira berjalan mendekati kamar Bridav. Beberapa kali ia mengetuk pintu kamar itu namun tak ada jawaban. Ia kemudian mencoba manarik engsel pintu kamar itu. Mengetahui pintunya tak terkunci Indi kemudian membuka pintunya dan masuk kedalam kamar.
"Kenapa sepi sekali, apa dia tidak ada di kamarnya?"
Ia perlahan memasuki kamar Bridav dengan nasi kotak di tangannya.
Mengetahui ruangan itu sepi Indi kemudian memutuskan untuk memakan nasi kotaknya lebih dahulu. Setelah selesai makan ia baru berencana untuk mencari Bridav lagi.
Sementara itu, Rein memilih untuk makan di kamarnya. Masalah tadi siang membuat moodnya semakin memburuk, sehingga ia lebih memilih menyendiri daripada bergabung dengan rekan-rekannya.
"Kenapa Arnold begitu arogan, memangnya hanya dia satu-satunya sutradara yang memiliki film bagus. Kalau saja bukan karena warisan itu aku juga tidak mau bergabung dengan kru drama ini!" celoteh Rein
Merasa tak berselera makan ia kemudian menghempaskan nasi kotaknya keatas meja makan.
Sejak kembali dari lokasi syuting, Rein terus menghubungi nomor ponsel pria misterius, namun sayangnya tidak ada yang mengangkat.
"Sial, bagaimana mungkin baj*ngan itu mengabaikan panggilan ku setelah menerima uang satu milyar dariku!" gerutu Rein
Ia kembali menghubungi pria itu berharap ia akan mengangkat teleponnya.
Lagi-lagi telponnya di reject oleh si penerima telpon Karena kesal tak ada respon Rein pun melemparkan nasi kotaknya ke lantai kamarnya.
"Dasar anj*ng, kau pikir aku tidak bisa menemukan apa. Jangan pikir kau bisa lari setelah membawa uang satu milyar ku!" gerutu Rein.
Rein kemudian menghubungi agennya. Ia meminta lelaki itu segera datang menemuinya.
Setibanya di lokasi syuting, sang Agen langsung menuju kamar Rein menginap.
Rein kemudian menatap lekat kearah sang Agen. Rein menghampiri sang agen dan memberikan sebuah alamat pria misterius kepadanya.
"Ini adalah alamat orang yang sudah menerima uang satu milyar dariku," ucap Rein memberikan selembar kartu nama kepada sang Agen
Tak lupa ia juga minta agar sang agen turun gunung untuk mencari orang yang dimaksudnya.
"Aku harap kau bisa menemukannya hidup ataupun mati," imbuhnya
__ADS_1
"Memangnya siapa dia, dan kenapa kau begitu ingin menangkapnya?" selidik sang Agen
"Dia adalah seorang Pembunuh bayaran, aku sudah memberinya uang sejumlah satu milyar, namun sampai sekarang dia bahkan belum melapor kepada ku tentang pekerjaannya, apa dia berhasil atau tidak aku tidak dalam menjalankan tugasnya. Bahkan ia tak pernah mengangkat panggilan dariku. Itulah alasan ku kenapa aku ingin kau mencarinya," terang Rein
"Baik, aku yakin bisa menemukan lelaki itu!! jawab sag Agen
Sang Agen menyanggupinya dan segera bergegas meninggalkan tempat itu.
Rein berharap kali ini misinya akan berhasil. Lelaki itu kemudian mengantar sang Agen sampai ke bibir pintu kamarnya.
Sang Agen kemudian memeriksa kembali kartu nama yang diberikan oleh Rein.
Saat sudah memastikan semuanya siap, Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan kamar Rein untuk menjalankan perintahnya.
Sementara itu, saat Rein yang hendak masuk kamarnya melihat Susan sedang VC (Video Call) dengan seorang lelaki.
Melihat Susan sedang melakukan video call membuat Rein langsung mendekati wanita itu. Ia kemudian menarik lengannya dan mengajaknya untuk masuk kedalam kamarnya.
Awalnya ia berencana untuk meminta tolong padanya agar ia mau membersihkan kamarnya dari nasi kotak yang berserakan di kamarnya.
"Bagaimana, apa kau mau membantuku menghafal dialog untuk besok pagi?" tanya Rein
Susan mengangguk setuju dan mengikutinya masuk ke kamarnya.
Saat Susan mulai masuki kamarnya, perempuan itu seketika menghentikan langkahnya saat melihat banyak nasi berserakan di lantai kamar tersebut.
"Astaga, kenapa kamarmu kotor sekali!" pekik Susan
"Ah iya, aku tadi tidak sengaja menumpahkan makananku ke lantai. Ngomong-ngomong apa kamu bersedia membantu ku membersihkan tempat ini?. Kebetulan aku tidak bisa menyapu jadi kau bisa kan menolongku membersihkan nasi ini?" tanya Rein
"Baiklah aku setuju membantu mu," jawab Susan mengangguk setuju
Rein kemudian menyodorkan sebuah sapu Kepada wanita itu.
"Tolong, bantu aku membersihkan sampah ini. Maaf aku tidak bisa menemani mu karena kebetulan aku harus pergi dari sini karena suatu hal, aku janji akan segera kembali begitu urusanku selesai," ujar Rein segera memberikan sapu di tangannya kepada Susan.
__ADS_1
Susan hanya termangu saat melihat pemuda itu meninggalkan kamarnya.
Melihat banyaknya nasi yang berserakan di kamar itu membuat
Susan yang merasa jijik langsung berlari meninggalkan kamar itu dengan perut mual dan mulut yang serasa ingin muntah.
Ia kemudian membuang sapu di tangannya dan langsung bergegas pergi meninggalkan kamar Rein.
Sejenak Ia berpikir untuk menghubungi Rein dan memberitahu apa yang terjadi, "Apa aku harus memberitahukannya dahulu sebelum pulang," ucap Susan perlahan berjalan mendekati Rein yang membelakanginya.
Namun Susan langsung mengurungkan niatnya saat mulai membayangkan kemarahan Rein saat tahu jika ia masih ada di depan kamarnya dan belum membersihkan lantai kamar sesuai perintahnya.
"Peduli amat dengan dia, lebih baik aku pergi saja. Lagipula percuma saja menolong orang sepertinya," ucap Susan segera bergegas pergi meninggalkan kamar Rein
Sementara itu Indi sudah berada di kamar Bridav. Ia kemudian memanggil nama pemuda itu untuk memberitahukan kedatangannya namun tak ada sahutan. Ia kemudian mencari keberadaan pemuda itu, namun sayangnya Indi tak menemukannya.
Indi mengedarkan pandangannya mencari ke sekelilingnya, namun tetap saja ia tak menemukan pemuda itu.
"Apa dia sedang pergi?" Indi kemudian duduk sejenak untuk menunggu pemuda itu di kamarnya.
Saat ia hendak pergi meninggalkan kamar itu, ia mendengar suara seseorang di kamar mandi.
Indi mengira ada seseorang yang memasuki kamar Bridav dan bersembunyi di kamar mandi.
Ia pun berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk melihat siapa yang ada di sana.
Ia sengaja berjalan jinjit agar orang itu tak mendengar langkah kakinya.
Bunyi suara kran dan gemericik air membuat Bridav tak bisa mendengar kedatangan Indi di kamarnya. Ia sedang asyik mandi sehingga tak menyadari kedatangan wanita itu yang sudah hampir tiba di depan pintu kamar mandi.
"Aku yakin dia masih di dalam," ucap Indira
Indi kemudian mendorong pintu kamar mandi tersebut dan melangkah masuk. Tidak ada orang di sana. Terdengar suara guyuran air dari toilet. Suara air langsung berhenti setelah orang di toilet mendengar adanya suara langkah kaki. Setelah itu, indira melihat Beidav yang keluar dari toilet dengan bagian bawah tubuh yang terbalut handuk serta bagian atas tubuh yang telanjang.
__ADS_1