
"Kita harus segera menandatangani kontrak pernikahan," ucap Erfan, memecah keheningan kamar, masih dengan tatapannya lurus ke atas mengalihkan pandangan Dara.
Yang terdiam akibat hatinya yang gelisah, memikirkan bagaimana berdosanya dirinya, yang telah berani mempermainkan sakralnya sebuah pernikahan. Namun tak bisa juga di pungkiri, ada perasaan senang yang bersemayam di dalam hati karena masih bisa bertahan dengan cinta yang dia punya bersama dengan Dewa.
"Iya," lirihnya, seraya memejamkan matanya dalam, membayangkan sorot mata kedua orang tuanya yang kecewa, akibat perceraian dan juga status barunya nanti sebagai janda.
Dan Dewa, ya, Dewa, bagaimana dengan Dewa? apa kekasihnya itu masih mau mencintainya setelah menjanda?
"Ya Allah..." batin Dara, sama sekali tak bisa menerka dengan kehidupannya di masa depan, memancing keluarnya buliran bening di balik kelopak matanya masih terpejam.
"Aku mau tidur," ucap Erfan, segera membalikkan badannya, kembali tidur menyamping membelakangi istrinya yang masih terjebak dalam lamunan.
"Aku minta maaf Bu, Ayah, aku minta maaf, atas permainan pernikahan yang aku lakukan ini. Sungguh, aku ingin mempunyai pernikahan yang normal, aku juga ingin mengecap manisnya pernikahan, belajar jadi istri yang baik, bersanding dengan suami yang baik, bukan pernikahan seperti ini, pernikahan tanpa kaki, hingga membuat kami berdua lumpuh tidak bisa berjalan untuk menggapai pahala ibadah pernikahan akibat pernikahan yang telah kalian paksakan," batin Dara lagi, tak bisa lagi membendung air buliran bening yang tercipta menitikan air matanya.
****
Malam semakin larut, telah melewati waktu tengah malam, tepat di pukul satu dini hari.
Terlihat Dara masih tertidur nyenyak, memeluk guling kesayangannya bersarung ungu.
Pyarrrrrr
Suara benda jatuh, membangunkannya cepat, akibat rasa terkejutnya segera menggelengkan kepalanya pelan mencari kesadaran.
"Suara apa itu?" gumamnya pelan, masih memijit kepalanya yang terasa pusing mengedarkan pandangannya.
"Mas Erfan? Mana Mas Erfan?" gumamnya lagi, mencari keberadaan suaminya yang tak lagi ada di sampingnya membingungkannya.
"Apa jangan jangan?" imbuh Dara, kembali mengingat suara barang pecah yang membangunkannya, segera turun dari ranjangnya hendak mengecek keadaan di luar rumah sekalian mencari keberadaan suaminya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam dapur, terlihat Erfan, sedang memunguti piring yang tak sengaja di pecahkan nya di atas lantai, sebelum tersentak, menyadari keberadaan Ayah dan juga Ibu mertuanya yang keluar dari kamar mendekatinya.
“Maaf Yah, Bu, aku nggak sengaja menjatuhkan piringnya,“ kata Erfan, dengan perasannya yang tak enak telah menganggu tidur mertuanya
“Nggak papa Nak, sini biar ibu yang bereskan pecahan piringnya,“ jawab Bu Selfi hendak mengayunkan langkahnya, sebelum terdiam mendengar penolakan halus menantunya.
“Jangan Bu, Nggak usah, biar aku saja, aku bisa kok," tolak Erfan, sesaat sebelum mengalihkan pandangannya menatap istrinya yang telah berdiri memperhatikannya.
"Ibu sama Ayah istirahat saja," lanjut Erfan, masih berjongkok di atas lantai menganggukkan kepala mertuanya.
"Bantuin suami kamu Ra," titah Bu Selfi, kepada putrinya yang terdiam tak kunjung bergerak.
"Iya Bu," jawab Dara.
"Ayah tinggal istirahat ya Fan?" sahut Ayah Herman.
"Iya Yah," jawab Erfan, kembali memunguti pecahan beling di atas lantai, tak memperhatikan kepergian kedua mertuanya masuk ke dalam kamar.
“Hemm, ngapain kamu?" sewot Erfan.
"Bantuin kamu," jawab Dara, tak menghentikan gerakan tangannya tetap memunguti beling kaca membantu suaminya.
“Nggak perlu Ra! nggak usah repot repot, aku bisa sendiri,“ jawab Erfan, menepis tangan istrinya mengejutkan Dara dan...
“Ahhhh,“ rintih Erfan, akibat jarinya yang tergores pecahan piring yang di bawa istrinya mengibaskan tangannya cepat.
“Hah” pekik Erfan kesal, segera berdiri dari duduknya, hendak duduk di atas kursi meja makan menahan rasa perih di jari telunjuknya.
“Makanya Mas jangan angkuh, kalau ada yang mau bantu itu ya bilang saja terimakasih, bukan malah marah-marah,“ omel Dara seraya berdiri dari duduknya, sebelum mengayunkan langkahnya hendak mencari keberadaan kotak p3k yang tersimpan rapi di dalam laci almari di ruang tengah.
__ADS_1
"Sial!" umpat Erfan.
"Sini biar aku obati lukanya," kata Dara, sesaat setelah menemukan plester yang ada si dalam kotak p3k, sudah berdiri di depan Erfan.
Yang menghela nafas, menyembunyikan jarinya yang terluka, tak ingin di bantu menepis tangan istrinya.
“Hisssss," dengus Dara kesal, segera meraih paksa tangan Erfan untuk menempelkan plester di lukanya.
“Bisa nggak sih Mas hargai aku sedikit aja, jangan keras kepala,“ omel Dara membuat Erfan mendongak dan menatapnya kesal.
“Mas Erfan duduk aja disini, aku akan siapin makanannya,” ucap Dara berlalu.
Dara mengambil sate dan lontong yang sengaja ibunya simpan di kulkas untuk Erfan kalau di tengah malam suaminya itu merasa lapar.
Setelah selesai menghangatkan sate dan lontong, Dara kembali berjalan menghampiri Erfan. Dia memotong-motong lontong untuk dimasukkan ke dalam piring, sedangkan untuk sate Dara menaruhnya di atas piring kecil berserta sambal di sebelahnya.
“Ini Mas, makan dulu,“ kata Dara meletakkan makanan di depan Erfan.
“Mas Erfan mau minum apa?”
“Air putih.“
Dara segera mengambilkan segelas air putih untuk Erfan dan meletakkannya di atas meja makan, setelah merasa keperluan makan Erfan sudah selesai disiapkan, Dara segera membersihkan pecahan piring di lantai.
"Aku tinggal ke kamar ya Mas?" ucap Dara setelah membuang pecahan piring ke dalam sampah.
Erfan hanya menganggukkan kepala pelan untuk menjawab ucapan Dara.
Dara menghela nafas pelan sebelum melangkah pergi meninggalkan Erfan yang sedang makan di meja makan.
__ADS_1
_____________________________
Hai readers jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan FAVORIT ya, biar authornya lebih semangat Up.